Perjalanan Ini

Dan dia membangunkan kami dari tidur lelap saban menjelang pagi. Kedua tangannya bergerak naik turun, mungkin pikirnya ia punya sayap yang bisa kepakkan. Mungkin dalam tidur ia masih bermimpi terbang. Atau berenang?

Segala puji untuk Gusti Allah yang menyelipkan rasa senang di hati manusia pada anak-anak. Hanya memandang wajah anak yang tertidur pulas saja, sudah ada perasaan yang begitu damai. Ada perasaan yang menentramkan.

Saya ingat saat mendengar tangisnya untuk pertama kali. Sehabis subuh, itu adalah suara tangis yang indah. Sedikit lelah, mungkin. Setelah dari jam 12 malam menunggunya. Tapi tentu kau tahu bahwa itu adalah tangis yang dinantikan selama berbulan-bulan lamanya.

Aku jadi ingat saat aku lahir tiga dekade yang lalu. Tentu aku tak punya ingatan saat masih bayi. Aku cuma mereka-reka dari cerita Mamak, ibuku.

Tidak seperti anakku, aku tidak lahir di rumah sakit. Yah, pada jaman itu bayi lahir di rumah adalah hal yang biasa.

Menjelang pukul dua malam, di tempat tidur rumah dan dengan bantuan seorang dukun bayi; aku terlahir ke dunia.

Kata Mamak, aku lahir dengan usus yang terlilit di leherku. Istilahnya adalah “kalung usus.” Kata orang-orang, dan aku baru paham artinya saat ini, beruntung waktu itu aku masih hidup. Ya, biasanya bayi yang “kalung usus” itu harus di operasi sesar karena punya resiko tercekik saat keluar. Tapi, alhamdulillah, aku lahir dengan sehat dan selamat.

Sebuah kelahiran adalah ujung sebuah penantian.

Beberapa waktu sebelum anakku lahir, kami menanti dengan harap-harap cemas. Berharap karena akan ada satu ruang hati yang terisi setelah ia ditinggal pergi Bapak. Cemas karena ini adalah kelahiran pertama yang kami hadapi.

Ada banyak persiapan dan tentu saja; kegelisahan. Mulai dari mempersiapkan pernak pernik baju, yang kemudian membuat saya membatin; ternyata baju bayi itu mahal juga ya. Mempersiapkan almari, yang anakku belum lahir saja sudah terisi penuh dengan baju-bajunya.

Dan juga gelisah. Gelisah apakah nanti kami bisa menjadi orang tua yang baik untuknya.

Aku pikir, mungkin, semua orang tua akan berpikiran sama. Tak pernah ada orang tua yang benar-benar yakin bahwa ia telah bisa menjadi orang tua yang baik. Bahkan guru-guru sekalipun, atau pakar parenting sekalipun.

Menjadi orang tua, bagiku, adalah sebuah misteri yang tak pernah kita tahu bagaimana ujung akhirnya. Atau, katakanlah, ia serupa perjalanan panjang.

Maka sebuah kelahiran juga merupakan awal dari perjalanan.

Dan seperti kata guru saya, ibarat perjalanan jauh kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di depan. Kita hanya bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, namun tetap kita tidak pernah tahu bagaimana ujungnya. Maka jangan lupa “titipkan” saja anak-anak kita pada Kanjeng Nabi dan Gusti Allah.

Melihat si kecil bangun dari tidur, ngolet, dengan mata yang masih kriyap kriyip. Lalu melihatnya tersenyum padaku adalah kebahagiaan kecil di pagi hari. “Nak, mari kita tempuh perjalanan ini bersama-sama. Saling menguatkan, saling menjaga, dan saling mendoakan.”

Desain tanpa judul (2) (1) (1) (1)

Zaza Tidur

Malam hari dengan kehadiran Zaza membuat suasana rumah menjadi berubah. Biasanya saya tidur menjelang pukul 11 atau 12 malam. Sebelumnya saya habiskan untuk membaca buku.
 
Tapi kini situasi berubah setelah negara api menyerang. Zaza yang punya jam tidur lain dari orang dewasa membuat Papah-Mamahnya mesti menyesuaikan diri.
 
Kalau biasanya pagi hari orang bangun dan bekerja, Zaza malah tidur. Lalu di malam hari orang pada tidur, eh Zaza malah melek. Ya, cuma melek aja sih. Sesekali merengek dan nangis, tapi tidak bekerja.
 
Alhasil, kami berdua -seperti Papah Mamah muda pada umumnya- harus giliran jaga ronda untuk menjaga Zaza.
 
Nah, kami bersepakat. Agar jadwal jaga dan istirahat bisa lebih teratur. Biasanya saya jaga pertama, istri saya jaga gelombang kedua.
 
Jam jaga pertama itu dari bada isya hingga jam 12 malam. Jam jaga kedua, setelahnya.
 
Maka jam-jam segini, saya terjaga. Melihat Zaza masih bobok sambil fesbukan, sedangkan istri saya biarkan tidur lelap. Nanti gantian.
 
Kenapa saya ambil jatah jaga pertama?
 
Pertama, karena memang saya belum ngantuk. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah.
 
Kedua, kalau Zaza bangun biasanya ia lapar, dan tugas saya cuma tinggal membangunkan istri. Setelah itu saya lanjut tidur karena Zaza sudah ada yang jagain. Dan jam jaga sudah selesai.
 
Begitulah. 😀