Pelajaran Sukses dari “Stolen”

Pelajaran Sukses dari “Stolen”

Dalam “Stolen” Nicholas Cage adalah seorang perampok bank paling handal. Awal kisah dimulai dengan sebuah van yang berisi empat orang, termasuk Cage didalamnya. Di luar FBI telah berjaga-jaga. Menunggu Cage dan gerombolannya saat merampok sebuah toko permata.

Waktunya pun tiba. Musik jazz yang sedari tadi diputar dimatikan. Cage bersama seorang rekannya bergerak masuk ke dalam sebuah gedung, sedang temannya –seorang cewek- membawa mobil menuju lokasi jalur pelarian.

FBI bereaksi cepat. Dengan segera mereka menggerebek toko permata tersebut. Sampai dititik ini kita akan melihat aksi para polisi yang sigap dan taktis. Kamera lalu bergeser, memperlihatkan aksi Cage dan rekannya dalam membongkar brangkas dan mencuri bertumpuk-tumpuk dollar. Dan di sisi ini kita akan tertipu, ya sama dengan para polisi yang kemudian bertampang mlongo, ternyata lokasi yang digrebek dengan aksi perampokan berbeda. Cage tidak merampok permata, tapi merampok bank!

***

Dari film-film itu, seperti juga “Man on A Ledge”, kita belajar tentang kesuksesan sebuah misi. Pertama soal waktu. Dalam setiap film perampokan, para pemerannya selalu berpacu dengan waktu. Dan tidak hanya soal kecepatan, tapi juga soal ketepatan. Meleset satu detik saja bisa jadi kegagalan misi taruhannya.

Kedua adalah fokus. Fokus pada target yang telah ditetapkan. Tidak tergoda untuk melakukan hal-hal lain. Dalam “Stolen”, rekan Cage sempat tergoda tumpukan batangan emas. Namun kefokusan pada satu target yang menentukan keberhasilan. Bukan godaan lainnya, walaupun nilainya lebih besar. Tanpa fokus yang jelas kita bisa kehilangan target.

Ketiga adalah kedisiplinan. Masing-masing orang diberikan sebuah tugas dan tanggung jawab. Setiap orang dalam tim harus disiplin sesuai tugas. Tanpa kedisplinan sebuah misi tak akan berhasil. Sebuah target tak bisa diraih. Disiplin adalah harga mati dalam sebuah usaha, apa pun itu.

Itulah tiga faktor yang berperan. Walaupun sebenarnya ketika bicara tentang kesuksesan ada banyak faktor yang saling berkait. Tak cukup hanya soal waktu, fokus dan juga kedisplinan. Namun ketiga hal ini aapabila tidak ada, maka bisa dipastikan bahwa sebuah misi hanya akan menemui kegagalan.

Salam Sukses,

Awal, Tengah dan Akhir

Saya teringat SMS kawan beberapa waktu lalu. Tulisnya, “Muhammad II, pernah gagal dalam menaklukkan pemberontakan. Akibatnya, ia dihukum oleh ayahnya menyepi. Waktu hukuman itu ia gunakan untuk belajar berbagai strategi perang, dan akhirnya Muhammad II-lah yang berhasil mewujudkan cita-cita umat islam ratusan abad. Gelarnya al-Fatih. Sang pembebas Konstatinopel. Bahkan, al-fatih saja pernah gagal.”

Kalimat itu begitu terasa dalam benak saya akhir-akhir ini. Ya, mengingatkan cerita kehidupan saya yang juga dipenuhi, tidak hanya satu kegagalan.

Gagal menjadi juara kelas saat SMP ataupun SMA. Gagal meraih juara lomba karya tulis. Gagal meenjadi ketua organisasi. Gagal bertahan di tempat kerja. Gagal mencapai target, dan lainnya.Kegagalan selalu membayangi hidup ini, baik saya ataupun anda. Kegagalan itu bak dua sisi mata uang, ada bersama keberhasilan.

Kadang, ada sesuatu yang kita terka gagal, justru merupakan awal dari keberhasilan. Contohnya, Steve Jobs. Pendiri Apple Inc. Awalnya gagal di Microsoft, lantas berhasil mendirikan Apple. Atau seperti al-Fatih. Gagal mengatasi pemberontak, lalu berhasil merebut Konstatinopel.

Maka, barangkali kegagaglan kita adalah awal dari kesuksesan. Baca lebih lanjut