Germinal

screenshot_2017-01-08-13-29-50_1

Emile Zola tahu bagaimana rasanya menjadi buruh. Karena itu ia bisa bercerita dengan baik tentang kehidupan Etienne Lantier. Tentang pekerja tambang batu bara yang bangun sebelum matahari terbit, turun ke penambangan, dan baru pulang setelah matahari tenggelam. Tapi hasilnya tak pernah membuat perut kenyang.

Tapi kehidupan Etienne tak hanya soal itu. Pun soalremb masalah kesehatan karena menghirup debu tambang setiap hari, tentang bahaya yang begitu dekat dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa.

Zola, seorang pengarang Prancis menceritakan tentang Etienne dalam Germinal, terbit pertama tahun 1884.

Kisahnya tentang Etienne, seorang pemuda yang hampir putus asa. Datang ke sebuah tambang batu bara yang ada di distrik Montsou, Prancis. Ia lalu bertemu dengan keluarga Maheu yang telah bekerja sebagai pekerja tambah sampai beberapa generasi dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di tambang.

Awal-awal cerita berisi tentang gambaran kehidupan para pekerja tambang. Ditulis oleh Zola dengan gaya naturalis, kita bisa melihat dari lewat mata Etienne  betapa kerasnya pekerjaan mereka, bahayanya, dinamika masyarakat lingkungan pertambangan, dan gaya hidup buruh serta borjuis.

Awal memuncaknya konflik ketika ada kecelakaan tambang yang nyaris mematikan para pekerja. Juga karena “penyesuaian upah” yang merugikan. Tentu Etienne, yang dalam cerita sebagai anak muda tampan, berpendidikan, dan suka membaca, bersama Maheu mulai memprovokasi untuk memberontak.

Caranya; mogok. Mogok, kata Tan Malaka, adalah senjata tertajam kaum pekerja.

“Bersatulah kalian! Tambang batu bara ini milik kalian, milik kalian semua, yang sejak seabad yang lalu telah membayarnya dengan begitu banyak darah dan penderitaan..” kata Etienne.

Keberanian para pekerja untuk menuntut ameliorasi upah dianggap sebagai suatu pencapaian aspirasi yang tinggi oleh pihak La Compagnie, nama perusahaan itu. Tapi La Compagnie bergeming. Dengan dalih sedang berada dalam masa sulit, perusahaan bertekad tidak akan memenuhi tuntutan Etienne dan kawan-kawan.

“Perusahaan adalah pembawa kebahagiaan bagi pegawai-pegawainya, kalian semua keliru bila mengancamnya. Tahun ini perusahaan telah mengeluarkan dana sebesar 300.000 franc untuk membangun barak- barak pekerja, belum lagi masalah pensiun, jatah batubara, dan obatobatan yang diberikan olehnya …”

Pemogokan jalan terus. Walau dengan semangat dan harapan yang makin menipis. Sebuah kutipan menggambarkan dengan jelas bahwa menganggur dan lapar adalah kombinasi yang mengerikan bagi para pekerja.

“…Tetapi sekarang semua sumber keuangan sudah menipis, para penambang tidak memiliki uang lagi untuk menyokong pemogokan, dan kelaparan mulai datang mengancam … Sejak hari Sabtu, banyak keluarga pergi tidur tanpa makan malam. Menghadapi hari-hari menakutkan yang akan mereka lalui, tak sepatah keluhan pun terdengar …”

Apakah usaha Etienne berhasil?

Tampaknya bukan persoalan itu yang penting. Emile Zola hanya ingin menggambarkan usaha perubahan masyarakat yang dikehendaki oleh golongan tertentu untuk mendobrak sebuah hegemoni. Pertentangan antar kelas adalah tema utama dalam novel ini.

Seperti kata Tadie, Germinal adalah refleksi sosial tentang eksistensi kaum borjuis dan kaum proletar dalam struktur masyarakat Prancis. Ia juga mengatakan bahwa novel itu menggambarkan penderitaan kaum buruh yang pada saatnya akan meletuskan konflik pertentangan antara borjuis (kapital atau modal) dengan proletar (buruh dengan pekerjaannya).

Judul novel ini diambil dari nama bulan ketujuh dalam sistem penanggalan Republikan yang dipakai pasca Revolusi Prancis 1789 untuk menggantikan penanggalan Gregorian. Bulan itu mengacu pada awal musim semi (antara bulan Maret dan April). Bagi masyarakat Eropa, musim semi adalah penanda lahirnya kembali dunia, karena pada musim ini dedaunan yang sebelumnya menguning dan berguguran, bersemi kembali.

Germinal adalah metafora bagi sebuah kelahiran, kebangkitan dan revolusi. 

.

.

Sumber gambar seko golek neng google.

Mana Pencurinya?

Mana Pencurinya?

Mung copas, tapi kok menarik…xixixii…

Sewaktu perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank: “Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu.” Semua orang di bank menunduk dengan tenang. Ini yang disebut “Konsep Merubah Pikiran” Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya “Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!” Ini yang disebut “Professional” fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan S2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan SD): “Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat.” Perampok yang lebih tua bilang “Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!” Ini yang disebut “Pengalaman.” Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: “Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank”.

Ini yang disebut “Sambil Berenang Minum Air.” Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: “Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan.”

Ini yang disebut “Membunuh Kebosanan” Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain “Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!”

Ini yang disebut “Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas.”

Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut “Mengambil kesempatan.” Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional disini?

Dunia Berdetak Kencang

Sosialisme, kata Marx, bukan lahir dari mulut pujangga yang mau memperbahurui dunia, tapi suatu kejadian sejarah yang tak dapat dielakkan. Yang lahir akibat dari pertentangan dua kelas yang dilahirkan sejarah, yaitu; kelas borjuis dan kelas proletariat.

Tujuan sosialisme bukanlah membuat suatu kontruksi masyarakat dalam suatu sistem yang selesai bentuknya, melainkan menyelidiki suatu perkembangan sejarah yang menimbulkan dua kelas yang bertentangan, dan kemudian mempelajari timbulnya faktor itu dari pangkuan ekonomi masyarakat. Itulah yang akan dijadikan senjata untuk melenyapkan pertentangan itu.

Mungkin inilah yang terjadi dalam dunia ekonomi global saat ini. Suramnya ekonomi Eropa dan dunia menyebabkan demonstrasi mengalir deras. Bak banjir di musim kemarau.

Ribuan orang Amerika, yang sangat kapitalistik, mulai tumbuh kesadarannya. Mulai mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi. “99% kekayaan dinikmati oleh 1% jumlah penduduk,” begitu bunyi spanduk yang disuarakan. Mempertanyakan kecurangan swasta yang sedemikian besar. Negara-negara maju yang jarang terjadi demonstrasi -misalnya; Amerika, Israel, Yunani- mulai sesak oleh demonstran.

Tuntutan pun hampir seragam: meminta keadilan ekonomi, kesejahteraan, penyediaan lapangan kerja, dan juga menentang privatisasi. Ini sepertinya merupakan titik balik dari trend kapitalisme global; semangat privatisasi berlebihan, lunturnya peran publik, dan turunnya anggaran publik yang selama ini dipromosikan oleh Bank Dunia, IMF, WTO. Baca lebih lanjut