Namanya Siapa Sih?

Sekitar semester tiga atau empat saya mengenal Sayyid Quthb. Sosok yang lahir di Mausyah, dataran tinggi Mesir pada tanggal 9 Oktober 2906 ini merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan Ikhwanul Muslim. Tentu saya mengenalnya dari buku yang ia tulis. Buku pertama yang saya baca adalah Ma’alim fi ath-Thariq atau dalam versi terjemahan berjudul Petunjuk Jalan.

Sebenarnya yang paling memukau adalah tafsir Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Namun sayangnya untuk karyanya yang ini, saya hanya mampu membaca dua jilid saja. Itu pun dua jilid terakhir. Bukan karena apa, tapi mengumpulkan lebih dari dua puluh jilid terasa berat -sekali lagi- di kantong waktu itu. Artinya saya sebenarnya cuma membaca 3 buah buku yang ia tulis saja. Tidak lebih.

Selain dari buku-bukunya, dalam beberapa kajian yang saya ikuti sewaktu dahulu kala, (ngene-ngene yo mbiyen rajin melu kajian-lah), juga beberapa kali dibahas soal Sayyid Quthb. Dan yang paling menarik bahasannya adalah perkenalan Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, dengan Sayyid Quthb.

Konon kabarnya (saya nyari referensinya belum nemu soalnya, kalau ada yang tahu detil kisahnya bisa di share, tapi sudah saya konfirmasi ke Ustadz Romi Siska Putra kok..), awalnya Sayyid Quthb ini sering menulis yang isinya sering kontra dengan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin (IM). Beberapa pengurus IM berusaha untuk menyerang balik. Tapi Hasan al-Banna menyarankan sebaliknya. Tidak perlu. Menurut firasatnya, orang ini -Sayyid Quthb- kelak akan menjadi orang penting dalam gerakan islam. Dan firasatnya itu benar.

Kisah lain, dulu Mohammad Natsir pernah diminta komentarnya soal buku-buku roman. Tulisan Natsir dimuat dalam buku Capita Selecta, “Pemandangan Tentang “Buku-Buku Roman” ditulis pada tanggal 1 Januari 1940.

Menurut Natsir, bacaan bisa memberikan manfaat ataupun mudharat. Sebuah roman tidak bisa dilihat dari sudut pandang kesenian semata, tapi juga harus mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya. Intinya, Natsir berpesan begini, “Seni atau tidak seni, tetapi apa jang memberi mudharat kepada kebatinan kaumku, atau jang lebih banjak mudharatnja dari manfaatnja, harus aku tolak sebagai barang jang berbahaja !” Saya kutipkan sesuai yang tertulis.

Nah, beberapa waktu lalu ramai di beranda fesbuk saya ini perbincangan soal anak SMA asal Banyuwangi. Yang menulis tentang warisan itu. Itu memang bukan roman. Cuma sebuah status saja.Tapi status itu mengalir deras ke berbagai penjuru jagad maya. Viral. Ramai diperbincangkan. Engangement-nya besar. Tidak perlu pakai Fb-Ads.

Sudah banyak yang membicarakannya, dari yang memuji sampai yang membully. Dari yang membenarkan isinya sampai yang menyalahkan. Dari yang berteori soal konspirasi sampai yang menyepelekan. Duh, media sosial memang kadang sadis.

Yang kontra “warisan” akan ramai-ramai membenarkan ide dan gagasannya. Yang mendukung “warisan” akan ramai-ramai memberikan fasilitas dan apa pun itu untuk mendukung dan menjadikannya simbol dari ide dan gagasannya. Yah, sejatinya medsos itu mayoritas isinya juga cuma pro dan kontra aja kok. Pertarungan pengaruh.

Lantas apa hubungannya dengan cerita Sayyid Quthb atau Natsir diatas? Ya, jelas tidak ada. Dan tidak perlu dihubung-hubungkan. Mungkin cerita saya diatas bisa memberikan perspektif lain untuk menyikapi anak SMA asal Banyuwangi itu.

Namanya siapa sih? 

Bob Dylan

Yang saya tahu tentang Bob Dylan adalah lagu Knocking On Heaven Door yang saya dengar karena dinyanyikan ulang oleh Guns and Roses. Lalu saya cari di Google siapa penciptanya, ketemulah Bob Dylan.
 
Selain itu saya tak banyak tahu tentang Bob Dylan ini. Namun sejarah sudah mencatatkan namanya sebagai seorang penyanyi legendaris.
 
Apakah Bob Dylan kompeten dalam bermusik?
 
“Bob Dylan adalah seorang musisi yang tidak kompeten,” kata Seth Godin dalam bukunya small is the new big.
 
Orang-orang yang kompeten adalah orang-orang yang paling dicari. Tetapi Seth Godin justru memandangnya berbeda.
 
“Orang-orang yang kompeten mempunyai proses teratur dan dapat diandalkan untuk memecahkan seperangkat masalah tertentu. Mereka memecahkan masalah selalu dengan cara yang sama, setiap saat. Hal itulah yang membuat mereka dapat diandalkan. Hal itulah yang membuat mereka kompeten,” katanya.
 
“Sekarang resepsionis tidak dapat menghilangkan pesan-pesan Anda, karena pesan itu akan masuk ke kotak suara. Pekerja di jalur perakitan tidak dapat menjatuhkan satu pun perkakas, karena perkakas itu menempel di mesin. Telemarkerter yang mengganggu makan malam Anda tidak akan mengganggu berlebihan karena apa yang mereka katakan telah tertulis dan diatur dengan sangat hati-hati.”
 
Namun Godin memandang kompetensi dengan berbeda. Menurut Godin orang-orang kompeten adalah orang-orang yang menolak perubahan. Ini karena perubahan mengancam mereka menjadi kurang kompeten. Dan orang-orang yang kompeten senang menjadi kompeten. Itulah jati diri mereka, dan terkadang hanya itu yang mereka punyai.
 
“Tidak heran jika mereka tidak ingin menggoyangkan perahu,” kata Godin. “Saya rasa orang-orang yang tidak kompeten di sekitar kita adalah bintang yang sedang dalam proses pembuatan. Bukan orang-orangnya yang tidak kompeten karena mereka tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. Tidak, yang saya maksudkan adalah orang-orang yang punya pilihan untuk menjadi kompeten, namun memilih untuk mencoba sesuatu yang baru.”
 
Tapi dunia tetap membutuhkan orang-orang kompeten, dan itu jumlahnya mayoritas. Tidak semua orang harus menjadi kreatif. Tidak semua orang harus berada di puncak, kebanyakan di lembah dan di kaki bukit.
 
Karena setiap perubahan besar di dunia ini, kata Arnold Toynbee, selalu dilakukan oleh para “creative minority.” Orang-orang yang jumlah sedikit, yang tidak kompeten, mempengaruhi orang-orang yang jumlahnya lebih besar. Membuat dunia dengan warna yang berbeda.

Pokemon Go

POKEMON GO
 
Kenapa Pokemon Go ini begitu populer saat ini? Mungkin karena ini menarik kembali kenangan masa lalu dari generasi seusia ane.
 
Kenangan bahwa dulu saban Minggu tertib menghadap layar televisi lalu dengan khusyuk menafsirkan kata-kata, “Pika..pi…Pika..pika…pikaaachuuuu…..!!!”
 
Atau mungkin karena permainan ini menawarkan something new and different dibandingkan game lainnya. Menawarkan pendekatan baru; augmented reality.
 
Walau sebenarnya gak baru-baru amat sih. Yah, tapi seperti halnya Apel kroak, yang jane tidak menawarkan sesuatu yang baru juga, tapi seolah-olah apa yang dibawakan oleh Apel Kroak dalam tiap produknya itu: new. Seolah-olah orang “baru kepikiran.”
 
Tahu apa itu Augmented Reality?
 
Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekedar menambahkan atau melengkapi kenyataan.
 
Walau sebenarnya setahu saya ada pula permainan lain yang menggunakan teknologi AR. (Ah, jadi kepikiran gawe game golek hantu lho.. :v Kwakakaka… kayamen wes ono ya?)
 
Pokemon makin membuat kita saat berjalan-jalan lebih tertib untuk memantengi smartphone. Begitu ada drrtt..drrtt.. notifikasi ada monster Pokemon, tiba-tiba saja kita akan berhenti untuk sekadar menangkapnya.
 
Atau ia juga membuat kita memiliki perspektif lain saat mengunjungi suatu tempat. Bukan lagi cuma di foto dan di uplot, itu mainstream bero, tapi juga bertanya: monster Pokemon apa yang ada disini?
 
Seru? Bagi yang sudah memainkannya, akan berkata,”Ya, ini seru juga! Teringat dulu saat masih bercita-cita punya Pokebol dan ada Pikachu di pundak.”
 
Maka, Pokemon Go mungkin memadukan dua hal itu: kenangan memori gen Y dan something new and different (walau gak baru-baru amat lho…)
 
(Bergaya) Pengamat Media

Jilbab Halal

Jilbab Halal

Beberapa waktu terakhir ini dunia media sosial digemparkan dengan marketing salah satu produsen jilbab. Yang membuat gempar, produsen jilbab tersebut mengklaim bahwa jilbabnya dalah jilbab pertama yang mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Dan itu memang benar.

Tidak percaya? Coba saja cek pakaianmu, apakah di situ ada label sertifikasi halal MUI? Tidak ada kan?

Ada sekian banyak komentar mengenai hal itu, ada yang positif, negatif bahkan guyonan. Ada yang mengkritik produsen jilbabnya, seolah-olah hanya produsen jilbab itu yang pakaiannya halal dan layak dipakai oleh setiap muslim dan muslimah. Pakaian yang lain tidak dikatakan haram, namun ia hanya mempertanyakan, “sudah halalkah jilbab yang kau pakai?” Kampanye ini cerdik. Seolah-olah bertanya namun jawaban yang di inginkan adalah,”ini lho. jilbab kami sudah halal MUI.”

Ada juga yang malah makin mendapatkan amunisi untuk mencela MUI. Bahwa MUI tidak boleh sembarangan mengeluarkan fatwa halal haram. Bahwa MUI sudah terlewat batas. Bahwa MUI ternyata hanya membisniskan halal haram. Bahwa MUI tidak boleh ikut campur dalam urusan bisnis. Walah dalah, ets, nanti dulu. Bagi yang berkomentar begini, sebentar, sebentar. Jangan sampai terjebak pada upaya untuk mendelegitimasi MUI. Bagaimanapun juga MUI adalah wadah para ulama. Dan para ulama adalah pewaris nabi. Ingat itu, Bro!

Apalagi yang sampai menegaskan bahwa agama tidak perlu dibawa ke ranah bisnis. Hemm, bukankah agama islam ini mengatur seluk beluk kehidupan manusia, termasuk didalamnya adalah berbisnis. Jualan barang haram tentu saja tidak boleh kan? Berjualan tidak boleh menipu kan? Itu aturan agama juga tho.

Ada juga yang nyinyir terhadap kampanye ini. Dibuatlah berbagai macam meme dan komentar menyerang sang produsen jilbab. “Sempakmu sudah halal belum?” begitu kalimat dalam salah satu meme. Hehe, lucu juga ya? Di era media sosial begini, salah sedikit saja bisa jadi langsung ramai dan heboh. Lalu dibuat lucu-lucuan. Tidak apa. Fenomena wajar.

Lalu, komentar saya?

MUI mengeluarkan sertifikasi halal itu benar, karena ada yang mengajukan, yaitu produsen jilbabnya. Produsen jilbab mengklaim dan mengkampanyekan bahwa jilbab yang ia produksi merupakan produk pertama yang mendapatkan sertifikasi halal MUI, itu juga benar. Lha wong, memang faktanya begitu? Namun bisa jadi langkah marketing itu kurang bijak.

Kalau saya yang jadi produsen jilbab itu, saya cuma berkata, “yang penting omset dan profitnya naik, Bro!”

Hehehe… komentarnya sudah kayak orang kapitalis belum?

Kebun Bunga

 

Kebun Bunga

Di era media sosial yang merajai kehidupan sehari-hari kita, satu lembar foto bisa berarti musibah, bisa juga menjadi berkah. Karena banyak diperbincangkan maka sesuatu bisa menjadi terkenal, dan lebih tepatnya; membuat penasaran.

Itulah yang terjadi pada kebun bunga. Di halaman seorang penduduk Gunung Kidul. Satu foto yang menampilkan bunga-bunga bermekaran membuat mata-mata lelah dengan pemandangan gedung-gedung menjulang berbondong-bondong datang. Alasannya bukan sekadar menikmati keindahan, namun saya kira lebih pada aspek penasaran.

Orang-orang itu datang ternyata tak cukup hanya melihat, mereka juga mengabadikan. Menjepret momen dan membaginya dengan media sosial. Ya, medsos membuat kita menjadi kecanduan untuk berbagi. Apa-apa ingin kita bagi. Upload. Bahkan hal-hal yang remeh temeh.

Kebun bunga tak cukup dinikmati dalam pandangan, namun wajib ‘ain diabadikan lewat gadget.

Padahal sejatinya yang abadi adalah yang ada dalam kenangan, bukan dalam telepon genggam.

Selanjutnya yang viral adalah hujatan. Rusaknya kebun bunga memunculkan banyak hujatan kepada para manusia gumunan itu. Celakanya, satu dua diantaranya malah cuek. Seolah-olah dia tidak bersalah. Seolah-olah kebun bunga itu dibuat untuk dirinya sendiri. Seolah-olah setelah berfoto ditempat publik adalah kebebasan sebebas-bebasnya.

Tabiat manusia itu benci dengan kesombongan dan kesongongan, maka panenlah ia dengan bullyan. Cacian atas sikapnya. Sungguh kasihan.