30 Jam

Tiba-tiba siang ini saya jadi kepikiran; berapa waktu yang saya habiskan bersama keluarga dan berapa waktu yang habis hanya untuk bekerja.

Mari dihitung.

Saya berangkat jam 7.30, karena kantor masuk jam 8.00. Ini saya lakukan agar tidak terlambat masuk kantor. Karena terlambat sama dengan pemotongan jumlah uang yang diterima di akhir bulan. Lalu sibuk di kantor sampai jam 16.

8 jam saya habiskan di kantor.

Itu pun tak lantas sudah selesai. Biasanya saya lalu melanjutkan untuk ngopi-ngopi dulu barang sebentar. Yah, mungkin sampai jam 9 malam. Kalaupun pulang sore, atau pulang jam 4 sore. Sampai di rumah pun baru jam 17.00. Sejam perjalanan pulang. Maklum Jogja ini rasanya makin macet saja tiap hari.

Katakanlah saya sudah di rumah jam 17. Maka biasanya jam 21 sudah mengantuk. Tidur sampai pagi.

Jadi berapa jam yang saya sediakan untuk keluarga? Untuk istri? Untuk ibu? Untuk keponakan yang sekarang baru lucu-lucunya? Untuk anak kelak?

Tanpa perlu di hitung pun sudah kelihatan, bahwa waktu yang kita habiskan diluar selalu saja lebih banyak dari yang kita habiskan di dalam.

Katanya, seorang istri saat ada acara dengan temannya, ia akan melibatkan suaminya untuk ikut serta, karena bagi istri kebahagiannya tak akan lengkap tanpa suami disisinya. Tapi hal berbeda dengan para suami.

Saya jadi merenung, betapa amat sedikit waktu yang saya habiskan bersama istri saya dalam satu hari. Padahal kalau dipikir-pikir istri adalah orang yang bakal menjadi teman hidup sampai kelak wafat, bahkan hingga akhirat.

Setiap orang di dunia ini sebenarnya punya jatah waktu yang sama; 24 jam. Tapi ada orang-orang yang dalam 24 jam itu dia bisa mencari uang, bekerja, melayani istri dan anak, hingga menyelamatkan dunia.

Kenapa kita tidak bisa?

Manajemen waktu yang burukkah? Kurang besarnya gaji? Kerjaan yang numpuk? Atau apa?

Saya juga tidak tahu, karena saya belum bisa melakoninya dengan baik. Masih saja saya terlampau asyik di luar, hingga kadang pulang larut malam. Masih saja saya terlampau asyik dengan dunia sendiri, dan tidak tahu kesulitan yang sedang dihadapi istri saya.

Saya memang belum bisa menjadi suami yang baik. Tentu saja!

Saya selalu bilang pada istri, kalau perjalanan kita masih sangat panjang. Dan jalan yang ada di depan pun tak akan selamanya mulus. Yang namanya jalan, apalagi di Jawa Tengah, pastilah banyak gronjalan. Banyak jalan berlubang. Naik turun. Bangjo yang lama. Macet. Ada pejabat lewat, dan lainnya.

Kembali ke pertanyaan saya di atas, pertanyaan yang sebenarnya saya tujukan pada diri sendiri, kenapa kita tidak bisa meluangkan waktu yang lebih banyak untuk istri, untuk keluarga?

Apa perlu kita minta pada Doraemon untuk memberi alat yang bisa mengatur waktu 30 jam dalam sehari?

 

WhatsApp Image 2017-11-08 at 14.03.38.jpeg

Rumah Baru

rumah adalah sebuah tempat surga

rumah adalah sebuah tempat surga

*ini tulisan lama saya, namun ternyata belum saya upload di blog. Silahkan….:)

Rumah Baru
: untuk ruang yang disebut rumah.

Panas ! Panas sekali. Mungkin inilah rasanya ayam goreng atau pun kue-kue yang dikukus dalam oven. Huuff…Aku berjalan tergesa-gesa untuk segera tiba di ‘rumah’. Setelah berada dalam ruang kuliah yang menjelma menjadi oven selama 100 menit, aku ingin kembali pulang. Menyejukkan diri pada ruang 6 kali 3 meter.

Kawan,
Kalaulah kuliah, amanah atau apa pun itu kita anggap sebagai sebuah medan perjuangan, maka perjuangan sejauh apa pun harus punya tempat kembali. Rumah itulah tempat kembali kita. Rumah itulah oase dalam perjalanan panjang kita. Walaupun sebanarnya suhu udara di dalam rumah itu sama dengan suhu di luar rumah, tapi entah kenapa rumah selalu terasa menyejukkan. Walaupun keadaan yang ada di dalam rumah pun jauh dari unsur kerapian, selalu saja rumah terasa nyaman.

Kawan,
Tidaklah penting apakah rumah kita terbuat dari lantai emas atau karpet butut. Tidaklah penting apakah rumah kita itu memiliki Air Conditioner atau kipas angin. Bahkan tidak penting pula apakah rumah kita itu luas atau sempit. Karena pada dasarnya rumah hanyalah kisah tentang bagaimana kita menjadi. Maka sejatinya rumah bukanlah sekedar bangunan fisik saja, tetapi rumah ialah bangunan makna. Tidak hanya terdiri dari karpet, komputer, loker, stumpuk buku ataupun pajangan ‘rekor Indonesia’ semata, tetapi juga terdiri dari orang-orang dimana kita bergaul, bertukar pikiran, berinteraksi, bercanda bertengkar dan berbagi rasa bersama penghuni lainnya. Rumah ialah kepribadian kita. Dari rumahlah kita menggoreskan cerita tentang bagaimana kita membentuk diri.

Kawan,
Rumahlah tempat kita bermula dan tempat kita kembali. Separo perjalanan akan senantiasa kita habiskan di rumah. Maka haruslah timbul kesadaran dalam diri kita bahwa rumah mempunyai kekuatan tak ternilai. Layaknya mata air yang memberikan kita kesegaran dan kesejukan. Dan tahukah engkau, kawan, bahwa tidak ada yang lebih gersang dari hidup yang tak menemukan semangat dari rumah. Sungguh sangat menyedihkan bagi orang-orang yang mendapati rumahnya sebagai ‘rumah angker’. Rumah harus mampu memberikan sebuah alasan mengapa kita harus tetap hidup dan bergerak menuntaskan tugas-tugas kita. Kita harus menemukan itu di dalam rumah, karena percayalah kawan, selain di rumah kita tidak akan pernah menemukannya di tempat lain.

Kawan,
Hanya di rumahlah kita bisa jujur terhadap diri sendiri. Hanya di rumahlah kita menampilkan kita yang apa adanya. Karena sering kali kita menjaga image dan citra yang terkadang harus dibayar mahal pada saat berada di luar rumah. Maka nilai kejujuran kita diawali dari bagaimana kehadiran orang-orang yang ada di rumah itu sendiri. Sudah semestinya tak akan pernah ada rasa keterasingan di dalam rumah. Semua hadir sepenuh jiwa dan raga dengan penuh keberterimaan. Tak ada yang merasa ksesepian. Tawa adalah hiasan, dan kalupun ada pertengkaran kecil, itu hanyalah sebuah pajangan. Semua larut dalam nuansa kebersamaan dan keikhlasan. Di rumahlah kita harus merasa dekat dan menemukan hidup yang lebih nyata. Sebab ada kepedulian yang berbalas ketaatan. Ada pemberian yang menambah penghargaan. Dan ada kesabaran yang berbuah kesabaran pula.

Kawan,
Menemukan semangat hidup kembali dari rumah adalah sebuah keniscayaan. Sudah seharusnya rumah menjadi tempat kita ‘mencharge’ energi kita yang hilang. Rumahlah tempat kita menemukan cara untuk senantiasa bersyukur. Rumahlah yang membentuk kita, sekaligus kitalah yang membentuk rumah.

Ahhh, kawan…entah mengapa siang ini walaupun sudah berada di dalam rumah, masih saja tetap terasa panas. Kipas angin sudah dinyalakan, jendela-jendela pun telah dibuka. Tapi tetap saja terasa gerah. Ah, seandainya membentuk rumah itu semudah membentuk kata, maka kesejukan itu pun tanpa diundang akan datang menghampiri.

Semoga ada yang berkenan membelikan es krim dan bersama membentuk rumah itu menjadi ‘baiti jannati’.

Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega.
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian. (Subagyo Sastrowardoyo)

-Jumat, 26 maret 2010. Ruang kerja, ruang tidur, tempat merenung. 23.59 wib.dari berbagai sumber

Episode Rantau Jaya #Galau (bagian 2)

Episode Rantau Jaya #Galau (bagian 2)

Emosi..emosi….dan luruhnya..


Pembicaraan biasanya lantas beralih pada hal-hal lainnya. Pada kesalahan-kesalahan kecil yang akan terus menjadi bahan ejekan. Misalnya saat Pongki –sebut saja begitu, bukan nama asli- berencana menginap. Sebenarnya ia sudah berdomisili di Solo, menuntut ilmu di sana.

Ceritanya, malam itu ia turun dari bus sekitar jam 21.30. Jogja sehabis diguyur hujan. Tanah-tanahnya masih basah, udara pun menjadi lebih dingin dari biasanya. Pongki turun di jalan solo, dengan berjalan kaki sekitar 200 meter ia telah sampai di kontrakan.

Namun apa hendak dikata. Dengan badan yang kecapekan sehabis badminton sorenya, dengan hawa yang dingin, ia mendapati kontrakan yang kosong melompong!!

Kunci rumah yang biasanya ditaruh diatas teralis pintu pun tak ada. Penghuni satu-satunya yang ada –karena yang lain sedang mudik-, sebut saja Item, hilang entah dimana. Bukan karena ia tidak terlihat karena di malam hari, tapi ia memang benar-benar raib. Tumben sekali ia tak berada di kontrakan. Padahal biasanya pada jam-jam seperti itu ia selalu stand by di depan televisi ataupun lap top. Handphonenya tak bisa dihubungi. Berkali-kali ditelpon hanya jawaban operator saja yang terdengar, “nomor telepon yang Anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi.Baca lebih lanjut

Episode Rantau Jaya #Galau (bagian 1)

Episode Rantau Jaya #Galau

Bila dilihat dari luar orang akan langsung bisa menebak bahwa rumah itu ialah kontrakan para mahasiswa. Jemuran yang menggantung di depan rumah, teras yang kotor oleh pasir, atau sandal-sandal yang tak terbengkalai di depan pintu masuk. Mereka bagai bercerita bahwa penghuninya tak sering berada di rumah. Seringkali pulang malam karena aktivitas kampus, misalnya kuliah, atau mengurusi organisasi kampus. Tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar pula. Karena bisa jadi mereka memang malas untuk membersihkannya.

Kalau kamu masuk ke rumah itu, jangan kaget bila tidak menjumpai perabot-perabot seperti meja dan kursi tamu. Yang ada hanyalah karpet usang, rak-rak yang menempel ditembok yang tak muat lagi diisi buku. Akhirnya sebagian buku hanya ditumpuk hingga bergunung. Sebagian malah tergeletak di sembarang tempat. Di atas printer, kasur bahkan diatas piring, sebagai tanda bahwa penghuninya punya kebiasaan “susah meletakkan barang kembali pada tempatnya.”

Ruang itu sudah seperti perpustakaan pribadi. Segala macam jenis buku ada, mulai dari politik, filsafat, motivasi, pernikahan hingga novel. Buku-buku itu beberapa masih terlihat baru, sampulnya masih mengkilat dan baunya masih bau toko.

Melihat buku-buku itu kita akan dibawa pada sebuah kesan bahwa penghuninya seorang intelek. Seorang yang pintar dengan raihan IPK cumlaude. Tentu saja itu tak sepenuhnya benar, minimal kalau dilihat dari raihan IPK. Tak satupun penghuni rumah itu yang mendapat gelar cumlaude atau dengan pujian. Rata-rata hanyalah 3,3 saja. Baca lebih lanjut