Lebih Banyak Pegang Gadget Daripada Tangan Istri

Guyonan itu sangat tepat. Sudah tahu kan yang saya maksud?

Itu lho, guyonan yang mengatakan kalau sedang berjalan-jalan di mall sama istri, peganglah tangannya. Ini akan tampak romantis tapi juga bisa menghemat. Karena saat istri mau belok ke toko, kita bisa mengaturnya.

Tapi, itu hanya sekadar guyonan. Faktanya?

Setelah melalui berbagai rangkaian uji coba, riset dan observasi ternyata tak banyak pria yang menggandeng tangan istrinya saat jalan-jalan.

Perilaku kita saat ini, lebih banyak memegang gadget daripada tangan istri. Saya sendiri mungkin melakukannya. Bukan mungkin, tapi memang iya.

Kalau saya ingat-ingat, istri saya yang lebih sering menggandeng lengan saya saat kami jalan-jalan. Bukan telapak tangan, tapi di lengan. Sedang jari-jari saya sibuk membalas pesan-pesan WA atau sesekali ngecek update status di media sosial.

Bukannya saya tak suka menggandengnya. Tapi entah kenapa selalu ada dorongan untuk pegang gadget.

Padahal yang lebih perlu banyak dielus-elus itu kan tangan istri bukan?

Tangan yang selalu menyiapkan susu coklat tiap pagi. Tangan yang jadi kasar karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Pernah suatu waktu istri saya agak cemburu pada tangan saya. Katanya, telapak tangan saya halus banget serta punya jari-jari yang lentik dan cantik. Berkali-kali saya katakan padanya kalau jari ini adalah tanda bahwa saya jarang nyuci pakaian. Tidak pernah dipakai macul di sawah. Ia tertawa.

Saya lebih suka menggengam tangannya dengan cara saling menggengam telapak. Bukan dengan cara saling mengaitkan jari jemari. Bagi saya, cara tersebut terasa lebih kuat. Juga lebih mesra.

Katanya, memegang tangan istri itu bisa menggugurkan dosa. Katanya lho ini..

Ada sebuah hadits yang mengatakan demikian. Lengkapnya bunyinya adalah “Apabila seorang suami memanang istrinya dan istrinya memandang suaminya maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan rahmat (kasih sayang). Dan jika suami memegang tangan istrinya maka dosa keduanya akan berguguran dari celah jari-jarinya.”

Tentu ini jadi makin menambah alasan untuk lebih sering memegang tangan istri selain lebih mesra dan hemat. Eh, tapi setelah saya cek dan ricek lebih lanjut, ternyata status hadits di atas adalah hadits yang palsu. Walaupun isinya nampak bagus, tapi itu adalah hadits palsu. Walau sebenarnya tanpa itu pun menyenangkan istri tentu akan dinilai ibadah apabila diniatkan sebagai ibadah.

Kalau saya pikir-pikir kembali, mencoba hitung-hitung waktu dalam sehari, ternyata saya itu menghabiskan 11 jam lebih untuk pegang gadget. Termasuk dalam hitungan adalah laptop dan smartphone ya.

Rinciannya begini.

Dimulai dari bangun tidur, pertama langsung pegang hape. Cek dan ricek whatsApp dan notifikasi medsos. Habis 15 menit.

Lalu setelah sholat sambil dzikir. Total aja deh lima waktu, kira-kira habis 15 menit juga. (Eh, dzikiran sambil hape-an? Loh, gimana tho.. bahkan sambil nafas dan gerak aja kita harusnya diiringi dengan dzikirullah.. Hehehe.. wes wangun tho alasannya..)

Setelah itu pasa di kantor. Karena tuntutan pekerjaan harus pakai laptop, alhasil ngelus-ngelus dan nekan-nekan keyboard bisa menghabiskan waktu sampai 8 jam. Busyet deh..

Lalu pulang ke rumah. Istirahat sambil leyeh-leyeh. Yang dipegang? Ya, smartphone itu lagi. Terakhir saat mau tidur, 30 menit pasti di selipkan untuk nonton youtube. Tidak mau kalah sama anak-anak usia balita yang saban mau tidur di stelkan youtube sama ibunya.

Totalnya adalah 11 jam lebih 15 menit!

Bandingkan dengan jumlah jam untuk memegang tangan istri. Emm.. berapa menit?

Tentu ada banyak alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Tuntutan pekerjaan, atau yang lain. Ya, saya tahu. Bahkan setelah menulis ini pun saya yakin diri saya juga tak lantas bisa mengubah kebiasaan candu gadget ini kok.

Tapi minimal kita jadi tahu, bahwa ada tangan yang lebih layak untuk diperhatikan dengan lebih banyak waktu.

Risalah Jomblo (bag. 2)

# Paling enak mainin hati jomblo itu ya seperti mancing mania. Pasang umpan, setelah disambar lalu tarik. Terus tarik sampai dapat. Senang. Adrenalin meningkat. Nah, setelah didapat baru dilepas lagi ke laut. Begitulah :\

# Melihat teman dan sahabat menikah adalah sebuah kebahagiaan bagi para jomblo. Ia turut bahagia ketika menghadiri pernikahannya. Yah, walaupun yang dinikahi adalah yang sang jomblo harap-harapkan. Tapi ia tetap tampil bahagia, dengan hati yang menggelora memendam kecewa.

# Yang lebih menyesakkan adalah ketika sahabat sendiri kemudian pamer-pamer foto mesra dengan pasangan. Tiap kali buka recent updates BBM, ada DP kawan yang mesra. Tiap kali ngetwit, nemu TL yang lagi berduaan. Bikin ngiri aja.

# Bagi jomblo, pelajaran paling yang ia kuasai adalah pelajaran yang berhubungan dengan menghafal. Ini karena para jomblo itu punya ingatan kuat. Kisah-kisah patah hati masa lalu pun masih ia ingat hingga membuatnya sulit move on.

# Hari menyesakkan bagi para jomblo bukanlah malam minggu. Karena di hari itu para jomblo punya alasan untuk nonton bola. Tapi hari yang menyesakkan bagi jomblo adalah hari dimana ia berkumpul dengan kawan-kawannya dan masing-masing sudah bawa pasangannya. *jadibatu*

# Jomblo itu orang yang kuat. Karena ia mampu bertahan tiap kali dibully soal kejombloannya. :/

# buay bercandaan aja, jangan terlampau serius yah…,:-)