Meniti Tali

Meniti Tali

Aku tulis sajak cintaku ini
Karena tak bisa ku bisikkan kepadamu.
Rindu mengarungi senin, selasa, rabu
Dan seluruh minggu.
Menetes bagaikan air liur langit
Yang menjadi bintang-bintang.

(Rendra, 2003)

Seperti yang diungkapkan Rendra, bahwa rindu ini tak bisa kubisikkan padamu. Rindu ini mengarungi hari demi hari, berkecamuk dalam dada.

Setelah sekian lama, siapa yang bisa menyangka bahwa pada akhirnya aku akan sendirian disini? Menghadapi dilema kehidupan yang terus saja menerpa. Siapa yang menyangka aku akan menantang badai ini seorang diri?

Akhirnya aku tahu, bahwa aku seperti orang yang sedang meniti tali. Berada dalam bahaya yang ternyata hanya ku buat sendiri. Siapakah yang bisa menyangka baik ataupun buruk dari setitik peristiwa dalam perjalanan hidup seseorang? Ah, bukankah cinta masa lalu bukanlah hal yang mesti disesali untuk esok hari.

Ya, aku hanyalah seorang pria yang berjalan meniti tali.

Saat berada di atas tali itulah jantungku berdegup kencang. Aku tutup mataku, berusaha menghilangkan rasa takut. Ku penuhi yakinku dengan terus menghitung harapan agar bisa sampai di ujung tali, padamu.

Aku terus berjalan pada tali itu. Mengacuhkan rasa takut dan kuatir. Namun semakin ku paksa hati untuk menerima semua kenyataan ini, hasilnya malah makin jauh aku pada kebenaran yang mesti ku terima.

Tapi bukankah aku mesti harus tetap berjalan? Meniti tali ini dengan segenap jiwa. Melalui jalan ini yang mesti ku terima dengan lapang dada.

Aku mesti berjalan terus. Karena jika aku tak terus berjalan, aku justru akan terjatuh.

I have to keep walking
To keep me from falling down, yeah..

*tafsir sak karepe dewe dari lagu Man On a Wire – The Script.

Cek lagunya disini. https://www.youtube.com/watch?v=QV62YRpIeUA

Photograph

Mencintai kadang bisa menyakitkan, kau tahu itu. Namun bilamana dan bagaimana bila yang ku tahu hanya mencintai? Saat itu terasa sesak dan menyakitkan, maka aku hanya menegaskan diri bahwa itulah yang membuatku merasa hidup.

Maka kita akan mengenang cinta dalam selembar foto. Membuat memori kenangan itu hanya untuk kita. Hanya kita yang tahu dan mengerti. Dalam selembar foto dimana mata itu tak pernah tertutup. Dalam selembar foto dimana tak ada hati yang patah. Dan dalam selembar foto yang abadi.

Dan dalam selembar foto itu kau bisa membawanya kemana saja. Bisa kau simpan dalam kantong, atau kau selipkan dalam buku yang kau baca. Membuatmu selalu merasa dekat, hingga tak kan pernah kau merasa kesepian.

Dan bila suatu saat sesekali kau menyakitiku. Tak apa, itu hanyalah sebuah kata. Aku tetap tak akan membiarkanmu pergi. Tunggulah aku di rumah.

Di dalam selembar foto,

Dear, Aulia

Dear Aulia,

Dia, iya dia. Yang tiap postingan di media sosial selalu aku cermati. Aku kepo-in. Hanya sekadar untuk menuntaskan keingintahuanku: bagaimana keadaannya?

Aku selalu berteman dengan rindu yang cukup tertuntaskan hanya dengan mengetahui apa yang sedang dilakukannya kini. Tak berani aku bertegur sapa. Bukan karena aku pengecut tapi tak ingin aku membuka kembali ruang luka dalam hatinya.

Tahukah dia tentang tingkahku? Atau jangan-jangan dia juga sedang melakukan hal yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saja menghantuiku, Aulia.

Seringkali aku membayangkan: aku dan dia saling mencuri tahu. Aku dan dia berada dalam ruang yang berbeda dan hanya ada satu pintu. Masing-masing, aku dan dia, saling bergantian mengintip dari lubang kunci. Saling penasaran, saling memendam rindu dan harap, tanpa pernah ada diantara aku dan dia yang berani membuka pintu kembali.

Aku tak berani membuka pintu itu.

Kau Tahu

Aku, ya aku, yang kini duduk di dekat jendela. Sambil mendengarkan musik sendu, dan menikmati sinar matahari sembari dibelai lembut semilir angin.

Kamu, ya Kamu, yang kini entah dimana. Yang kini entah sedang bersama siapa.

Kamu tahu, aku tak lagi peduli seberapa sering kau menyakiti hatiku. Seberapa sering sikapmu yang -entah kenapa aku tak pernah bisa menduganya- membuatku selalu bingung sendiri.

Kau tahu yang aku pedulikan hanyalah seberapa besar cintaku padamu. Sebut saja aku tak logis. Boleh. Namun justru inilah hal yang paling logis. Seperti setetes air yang pelan-pelan melubangi sebuah batu keras.

Yang aku tahu, hanyalah seberapa besar aku mencintaimu. Itu saja.

Rindu Majalah Tarbawi

koleksi majalah tarbawiMajalah tarbawi sudah lama tak hadir menyapa. Rindu kesejukannya. 

Pertama kali saya mengenal Majalah Tarbawi adalah sewaktu duduk di semester tiga. Bermula saat sedang berada di sekretariat Unit Kerohanian Islam di kampus, saya melihat tergeletak Majalah Tarbawi. Saya baca, dan saya langsung tertarik dengan isi dan gaya penulisan majalah ini.

Seperti slogannya, Menuju Kesalehan Pribadi dan Umat, Tarbawi hadir bagaikan sebuah oase yang memberikan inspirasi kebijaksanaan hidup. Dibalut dengan kalimat-kalimat sederhana namun bermakna.

Membaca Tarbawi saya mendapatkan nasehat dan pencerahan yang tdisampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, sejuk, mengalir, tapi mengena tepat di akal dan dada.

Dari perjumpaan singkat itu saya lantas memutuskan untuk berlangganan majalah ini. Saya lebih memilih untuk membeli langsung di penjual majalah, tidak berlangganan bulanan. Ini karena saya tidak yakin terhadap kondisi keuangan. Namun dua pekan sekali saya selalu berusaha menyisihkan uang.

Alhasil di rumah kini ada setumpuk koleksi Majalah Tarbawi. Tidak cukup banyak tapi melihatnya bertumpuk diantara deretan buku-buku lain sudah membuat saya senang.

Kini saya tahu bahwa majalah ini sudah tidak terbit lagi. Berkali-kali saya menanyakan ke penjual majalah langganan, tidak pernah saya dapati. Bahkan si penjual pun berkata, “saya tanya agennya saja malah agennya juga tidak tahu kapan terbitnya, Mas.”

Kecewa. Pun penjual mungkin sebal juga, saban dua pekan terakhir saya datangi hanya untuk bertanya.

Saya berharap majalah ini segera terbit lagi. Sayang, majalah sebagus ini harus menghembuskan nafas terbitnya. Umat masih membutuhkan pemaknaan hidup yang dihadirkan oleh Tarbawi.

Rindu rasanya membaca kembali Tarbawi. Majalah Tarbawi yang lama pun sudah saya bolak-balik, berulang-ulang dibaca. Namun hati tetap membutuhkan sesuatu yang baru dari Tarbawi. Sesekali untuk mengobati kerinduan saya mengunjungi situsnya, dan selalu kecewa mendapati situs yang tidak lagi up date.

Semoga Tarbawi bisa segera bangkit lagi. Menjadi lebih bermakna.