Sajak Rindu

Kapan terakhir kita bertemu?

 

Aku kira kita telah melalui berjuta-juta menit tanpa pernah

bisa aku memandang ke dalam bola matamu,

Hanya pada dinding kamar,

 

Kapan terakhir kita saling merindu?

Setiap jutaan menit yang telah kita lalui itu; ada rindu

yang diam-diam disimpan

Tentang Ani

Tentang Ani

: Ini secuil kenangan tentangmu, tak ada yang hilang dalam perpisahan

Namanya Ani. Lengkapnya bukan Ani Yudhoyono, tapi Ani Yuliani. Dinamai begitu karena ia lahir di bulan Juli. Bulan ini. Tanggal satu tempo hari usianya genap 25 tahun.

Rasanya sekian lama aku tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Terakhir kali ia berulang tahun, aku sempat memberinya sebuah bingkisan kecil. Ini terjadi dulu. Dahulu sekali. Beberapa ratus ribu menit yang lalu.

Aku termasuk orang yang sulit menggambarkan wajah seseorang. Makanya aku hanya bisa bilang kalau Ani berwajah cukup manis. Manisnya seperti apa, aku tak bisa menjelaskannya lebih lanjut. Tapi ingin aku tegaskan bahwa ia bukan manis seperti gula jawa. Karena kulitnya termasuk putih, walaupun tidak seputih bintang iklan Ponds Institute.

Aku mengenal Ani seingatku tahun 2004. Sudah berlalu sepuluh tahun.

Saat itu kami berlima, yaitu Heru, Jati, Aku, Ani dan Kunti bersama-sama mengajar TPA di masjid yang baru berdiri. Di dekat rumahku, hanya sekitar 500 meter dari rumah. Walaupun dalam batas administratif sudah beda RT/RW.

Selama beberapa tahun aku selalu melewatkan Ramadhan bersamanya. Mengajar TPA di masjid Muttaqiin. Saban sore.

Ani termasuk orang yang disukai anak-anak. Mungkin karena dia keibuan. Tapi bukankah semua wanita itu keibuan?

Tiap kali datang maka anak-anak akan mengerubutinya, seperi gula yang dengan sekejap mengundang semut-semut. Karena itulah Ani juga selalu menjadi tempat penampung anak-anak yang nangis saat TPA. Karena aku kadang kala sebel momong anak yang suka nangis. Lebih enak bermain-main dengan anak-anak yang tersenyum.

“Sama mbak Ani ya,” kataku, sambil menggendong bocah berumur dua tahun yang nangis sehabis dinakali. Anak-anak memang begitu. Bermain berlari-larian di dalam masjid, lantas tiba-tiba nangis. Habis itu lari-larian lagi. Anak kecil mudah nangis tapi juga mudah tertawa.

Saat seperti ini, ia selalu cemberut. Menggembungkan kedua pipinya. Di momen seperti ini aku hanya tertawa. Tak mempedulikan reaksinya. Dan ia pun tak banyak protes.

Sakit

Lama tak bertemu dengannya. Hingga suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia sakit. Kena flek paru-paru. Katanya karena sering kena angin malam.

Dari sini aku mengambil kesimpulan bahwa angin malam itu tidak sehat. Tidak hanya sekali ini saja aku mendapati teman yang sakit gara-gara keseringan diterjang angin malam.

Baiklah. Maka angin malam sebaiknya memang dihindari. Kalau terpaksa pulang malam, kini biasakan memakai jaket tebal dan kalau perlu rompi anti peluru. Karena peluru saja tidak tembus apalagi cuma angin.

Mungkin sekitar setahun lebih yang lalu. Lebihnya mungkin hingga banyak bulan. Saat menengoknya bersama anak-anak TPA, aku hampir tak percaya saat melihatnya. Ani terlihat kurus. Amat kurus. Tak lagi gembul. Wajahnya pucat. Namun saat kami datang ia masih berusaha menunjukkan keceriaannya.

“Gak apa-apa kok, Mas. Ini cuma harus minum obat mulu,” katanya.

Saat itu tiba.

Beberapa hari yang lalu. Sebuah pesan singkat membuyarkan pagiku. “Innalillahi telah meninggal teman seperjuangan kita, Ani Yuliani.” Begitu pesannya.

Aku tak percaya. Kaget.

Bagaimana bisa? Pikirku. Ku coba balas pesan singkat itu, menanyakan apakah kabar itu hanya senda gurau atau serius? Atau jangan-jangan Ani yang dimaksud adalah orang berbeda?

Tidak mungkin, batinku. Hanya ada satu nama Ani Yuliani diantara teman-temanku.

Masih ragu. Masih tak percaya. Ku coba telpon teman yang mengirimiku pesan itu; tak diangkat. Hingga kepastian kabar itu aku tegaskan saat mendengar suara yang akrab di telingaku mengumumkannya lewat TOA masjid. Suara itu adalah suara takmir masjid Muttaqiin. Aku hafal betul.

Begitulah, Ani ternyata telah dipanggil oleh Allah saat bulan Ramadhan ini. Tak sempat dan tak bisa lagi aku melewatkan takbir keliling bersamanya. Tak bisa lagi anak-anak yang dulu kami ajar dan kini tengah beranjak remaja, menggodamu lagi. Bermanja denganmu.

Ada baiknya mati muda dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktunya, kata Subagyo Sastrowardoyo dalam sajaknya. Aku sering membaca sajak itu, tapi tak ku sangka aku akan menuliskannya untuk Ani.

Lihat, tak ada batas antara kita.

Aku masih terikat kepada dunia

karena janji karena kenangan

Kematian hanyalah selaput gagasan yang gampang diseberangi

Tak ada yang hilang, Ani. Engkau tak hilang. Sungguh. Engkau masih hidup dalam kenangan, dalam foto-foto buram -yang celakanya aku tak menyimpannya satu pun. Semua ada di komputer masjid yang telah reot.

Tak ada yang hilang dalam perpisahan,

Ani,

Entah bagaimana aku harus menuliskan tentangmu.

Apakah aku juga harus menuliskan tentang kaset Kelly Clarkson “because of you” yang kau berikan padaku yang sampai sekarang masih rapi tersimpan?

Apakah aku juga harus menuliskan tentang lampion takbiran yang kita buat bersama?

Apakah aku juga harus menuliskan tentang hari-hari dimana kita semua menjadi petugas cleaning service masjid?

Ani,

Aku tak menangis saat mendengar kabar kematianmu. Namun saat menuliskan tentangmu ini, entah kenapa perlahan air menetes dari kedua bola mataku.

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, dan menerima segala amal baikmu. Semoga keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Ani, ini semua tentangmu.

Ketika daun jauh, tak ada titik darah

tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan

dan mengaduh pedih

 

Mlati, rumahku, 16 Juli 2014,

dan engkau pergi tanggal 13 Juli 2014.

Peran Kotak Sampah

Peran Kotak Sampah

Kotak sampah. Ia ada di pojokan ruangan. Bahasa jawanya “ndepis” disana. Ukuran diameternya 30 cm, tinggi 50 cm. Warnanya hijau. Dulu cerah, seiring waktu jadi kusam. Mungkin lupa pakai pemutih kulit yang bisa membuat tetap cerah di usia 40 tahun.

Isi kotak sampah macam-macam. Karena orang juga membuang macam-macam. Ada kertas, bungkus permen, sedotan, kulit pisang, dan lainnya dan masalah. Tiap orang lewat, ada sesuatu untuk dibuang, orang mencari kotak sampah. Yang dibuang tentu yang jelek-jelek saja, yang bagus-bagus tentu saja disimpan sendiri. Bisa disimpan di kantong, dalam tas atau dalam hati. Atau bahkan diberikan pada orang lain.

Misalnya kita sedang menggambar pada sebuah kertas ukuran A3. Gambar yang indah. Sebuah pemandangan. Saat tanpa sengaja gambarnya tercoret, kita remas-remas kertasnya lalu dibuang ke kotak sampah. Saat tak sengaja ketumpahan kopi, kita remas-remas kertasnya dibuang ke kotak sampah. Namun setelah gambarnya jadi, tidak mungkin dibuang ke kotak sampah. Gambarnya disimpan. Dipigura kalau perlu. Diberi pita. Lalu diberikan pada orang lain. Diberikan pada kotak sampah? Tentu saja tidak.

Kata orang dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Setiap kita diberi satu peranan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura. Maka ada juga peran jadi kotak sampah. Yang selalu ada dipojokan ruangan. Dicari orang ketika dibutuhkan. Saat tidak dibutuhkan ia dilupakan.

Setiap orang butuh kotak sampah. Karena tidak semua hal bisa ia simpan sendiri. Setiap orang harus memilih dan memilah apa yang mesti disimpan, apa yang mesti dibuang. Termasuk gejolak hati. Setiap orang tak bisa menyimpan segala gejolak hati terus menerus. Maka ia butuh kotak sampah untuk membuang sebagiannya. Bahasa kerennya ia butuh tempat mencurahkan sebagian isi hatinya. Disingkat curhat.

Tapi setelah itu tak ada yang peduli dengan kotak sampah. Yah, sesekali memang perlu ditengok. Sesekali saja, tidak sering kali. Sesekali kalau ada situasi mendesak dan penting sangat. Misalnya kotak sampahnya jatuh dan rusak. Itu pun kalau tahu info dari media mainstream. Dimuat di Koran Kompas dan diliput Metro mini, eh Metro Tipi.

Di panggung sandiwara ini ada peran sebagai kotak sampah. Kamu?

Saya jadi pohon.

Menantimu

*aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas

di pucuk kemarau yang mulai gundul itu

Aku kembali duduk dibawah pohon randu ini. Cuaca sedang panas membakar, tak ada petani yang terlihat di hamparan padi yang mulai menguning. Tapi panas tak terasa di sini, sayang. Dibawah pohon rindang randu ini. Kemarilah, ku tunggu kau disini. Menikmati semilir angin, segarnya udara dan kantuk yang tiba-tiba menggelayuti.

berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu 

yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas 

Sekian waktu aku menunggu. Selalu, dalam tiap hari yang pelan-pelan ku lewati dengan kerinduan. Aku catat. Biar tak lupa. Nanti ku ceritakan padamu saat kita bertemu. Aku selalu mengenang matamu yang berbinar saat ku ceritakan soal sekuntum mawar yang mulai mekar. Katamu, kau selalu suka dengan bunga-bunga. Selalu berkata ingin membuat satu taman kecil di halaman rumah. Aku tersenyum.

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu

musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku

Waktu seperti aliran air, ia hanya mengalir ke satu arah tak bisa kembali lagi. Berapa musim aku menantimu? Hingga bening-bening air selalu bermunculan di sudut mata.

kudengar berulang suara gelombang udara memecah

nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

Jangan patahkan harapanku. Manusia hidup dengan harapan. Kegelisahanku hati saat menantimu tak bisa ku bendung. Seperti arus samudera yang bergejolak keras, menerpa dinding hati yang semakin menipis.

telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi

ditengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti

Langit telah berwarna jingga. Burung-burung telah terlihat terbang kembali ke sarang. Dan engkau belum datang. Apakah engkau tersesat? Aku kira kau tak akan lupa tempat ini. Bukankah randu alas ini adalah tempat yang selalu kita kunjungi.

barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana

dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

 

 

 

*sajak Aku Tengah Menantimu dari Sapardi Djoko Damono.