Tikus yang Menuntun Unta

Tikus yang Menuntun Unta

Suatu hari, seekor tikus menemukan seutas tali di tanah. Ketika ia menengok ke belakang, ternyata itu adalah tali seekor unta yang gagah. Tikus itu lalu membawa tali itu pergi. Alangkah kagetnya, saat ia menengok ke belakang ternyata unta yang besar itu terus saja mengikuti tikus kemanana pun ia pergi.

Kemana pun tikus pergi, maka sang unta selalu mengikutinya. Hingga hal ini berlangsung lama dan membuat tikus kemudian berpikir, “Wah, si Unta ini pasti takut denganku. Kemana pun ku tarik tali ini, ia selalu menurut dan mengikutiku. Alangkah hebatnya aku ini.”

Dan berjalanlah si tikus dengan pongahnya. Teman-temannya yang binatang yang tikus temui selalu merasa kagum, karena si tikus kecil mampu mengendalikan unta yang ukurannya sangat besar. Jauh lebih besar darinya.

Hingga pada suatu saat, si tikus kecil tiba di pinggiran sungai yang tak terlalu dalam. Si tikus bingung. Walaupun tidak terlalu dalam, tapi sungai itu sudah bisa membuatnya tenggelam.

Melihat hal itu, si unta hanya tersenyum. Ternyata selama ini ia mengikuti tikus bukan karena ia menurut ataupun takut padanya. Kebetulan saja arah perjalanan unta itu sama dengan si tikus.

“Ada apa? Pasti menyeberangi sungai yang kecil ini bukan masalah bagimu kan, tikus? Bukankah selama ini kamu memimpin perjalanan, apalagi airnya dangkal,” kata si unta pada tikus.

“Hah?!” tikus kaget mendengarnya.

“Bagimu sungai itu dangkal, tapi aku pasti tenggelam. Maafkan atas kesombonganku selama ini.”

Unta yang baik hati pun merasa iba. Apalagi si tikus sudah menyadari kekeliruannya.

“Naiklah ke punukku, mari kita menyeberang bersama,” kata si unta.

***

Maka, jangan terlalu terpesona pada “tokoh” pemimpin yang tampil di depan. Bisa jadi pemimpin sejati ada dibalik layar.

Perhatikanlah! Ketika ada masalah: pemimpin sejatilah yang akan menyelesaikan masalah tanpa menyombongkan diri.

Diadaptasi dari renungan sufi Jalaluddin Rumi

Nb. bukan tentang presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo.

Menteri Selalu Dipolitisasi

Politik adalah arena persaingan. Persaingan untuk mendapatkan sebuah kekuasaan. Politik tak semata ada dalam sebuah lembaga. Entah itu eksekutif, legislatif bahkan yudikatif. Tapi politik yang sebenarnya berada di luar lembaga itu. Lembaga-lembaga hanyalah sebuah “arena” yang diperebutkan. Termasuk jabatan menteri.

Menteri adalah jabatan politis, sama dengan jabatan sebagai Presiden. Bedanya, menteri itu bukan dipilih rakyat, tapi dipilih oleh presiden. Kewenangan yang ada dalam konstitusi mengatur demikian.

Tapi Presiden pun sebenarnya terikat oleh partai. Bukankah ia bisa menduduki posisinya juga berkat “jasa” partai pendukung? Presiden tak semata dipilih rakyat, tapi juga dipilih oleh konstituen partai. Baca lebih lanjut