Kartu

Sejak Jokowi mengenalkan Kartu-kartunya pada pilgub DKI lalu, kartu lalu dibawa-bawa dalam setiap pemilihan. Pemilu 2014, Jokowi membawanya dalam bentuk Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan lainnya.

Nah, kini kartu-kartu juga dibawa oleh cagub DKI. Ahok dengan KJP yang merupakan program sewaktu Jokowi masih jadi gubernur. AHY membawa Kartu Jakarta Satu, dan Anies dengan KJP Plus.

Kartu adalah senjata. Bagi rakyat ataupun bagi calon. Masyarakat tentu amat senang menerima kartu-kartu itu. Dengannya seolah-olah masyarakat punya “senjata” untuk menodong pemerintah atau layanan publik.

“Ini lho, aku bawa kartu. Cepat dilayani! Oi, Rumah Sakit,” begitu mungkin alam pikir bawah sadar masyarakat yang selama ini “tak bisa apa-apa.”

Kartu adalah barang nyata. Bisa dipegang. Bisa digunakan. Dan sakti. Walaupun kesaktiannya perlu diteliti, tapi asumsi saya, masyarakat merasa bahwa kartu yang mereka pegang itu “sakti.”

Nah, baiknya bagi calon2 pilkada saat ini bisa meniru pola itu. Tak mesti kartu daerah pintar atau kartu daerah sehat, tapi memberikan sebuah “senjata” pada rakyat yang bisa ia gunakan saat berhadapan dengan “pelayan publik” yang tak ramah.

Pola ini bisa digunakan. Masyarakat tentu lebih suka “memegang” barang nyata daripada memegang komitmen yang abstrak.

Yang penting jangan dibagikan kartu poker godhong waru, lha mengko nek menang kabeh..

demikian analisa pengamat politik partikelir. Sekian.

Debat Jakarta

Akan ramai. Pilkada sebentar lagi, debat mulai digelar di televisi. Semua bersaing untuk mengkampanyekan ide. Program dan janji.

Saling sikut, saling serang antar calon. Hal ini wajar, dan itu bagus bagi perkembangan wacana kita.

Melihat sepintas, Agus berapi-api. Pidatonya berbeda style dengan ayahandanya yang kalem. Analisanya saya kira umum. Saya lihat referensinya menyebut-nyebut negara lain.

Basuki cenderung mengkampanyekan hal-hal yang sudah ia lakukan. Dan itu wajar, karena dia petahana. Pamer prestasi dan keberhasilan. Sah-sah saja. Siapa pun petahana harusnya juga begitu.

Anies, mempesona retorikanya. Sepintas segmen dua, punch line-nya menohok. “Ada ikan, ada kail tapi kalau gak ada kolam. Maka kami ingin memastikan ada kolamnya itu dulu,” katanya.

Tapi, semua analisa dan program yang disampikan Agus, Basuki, Anies bahkan Sandi dan Djarot sekalipun akan tetap Keok bila berhadapan dengan perkataan Ibu Silvy.

Saat Ibu Silvy sudah bicara, maka rontok semua alasan-alasan yang disampaikan yang lain. Tidak ada alasan yang akan didengar dan diperhatikan. Kenapa? Karena wanita selalu benar.