Pendidikan Bukanlah Pabrik

Pendidikan adalah investasi peradaban. Dalam setiap perkembangan manusia pendidikan selalu memegang peranan vital dalam tiap sendi kehidupan. Selain itu, dalam konteks pembangunan ekonomi, pendidikan merupakan investasi yang amat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Lantas bagaimana pendidikan di Indonesia? Negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia ini menurut peringkat Programme for International Student Assessment (PISA), yang dikeluarkan pada 3 Desember 2013 lalu, Indonesia menempati peringkat nomor dua dari bawah. PISA adalah tes yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada anak umur 15 (lima belas) tahun di lebih 60 (enam puluh) negara sejak tahun 1997. Hasil dari tes PISA digunakan sebagai bahan analisis dan rekomendasi pengambilan kebijakan tertentu, terutama dalam bidang pendidikan.‬ Inilah hasil dari pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, yakni pendidikan yang tidak mengasah dengan baik kemampuan nalar anak didik dalam matematika, membaca, dan sains, ketiga hal inilah yang diuji oleh PISA.

Secara statistik, nilai rata-rata matematika siswa Indonesia (375) tidak berbeda daripada Qatar dan Kolombia yang memiliki nilai rata-rata lebih tinggi (376), ataupun Peru (368) yang ada di urutan terbawah. Untuk sains, nilai rata-rata siswa Indonesia (382) tidak berbeda secara signifikan dari Qatar (384) dan Peru (372), yang lagi-lagi berada di urutan terbawah. Sementara untuk membaca, nilai rata-rata siswa Indonesia (396) tidak berbeda secara signifikan dari Tunisia, Kolombia, Jordania, dan Malaysia yang memiliki nilai rata-rata lebih tinggi ataupun Argentina, Albania, Kazakhstan, Qatar, dan Peru yang memiliki nilai lebih rendah. Adapun nilai rata-rata negara-negara OECD dalam matematika, sains, dan membaca berturut-turut 494, 501, dan 496. 

Mayoritas siswa Indonesia belum mencapai level 2 untuk matematika (75,7%) dan sains (66,6%). Yang memprihatinkan, 42,3% siswa bahkan belum mencapai level kecakapan terendah (level 1)  untuk matematika dan 24,7% untuk sains.  Dalam kecakapan membaca, 55,2% siswa Indonesia belum berhasil mencapai level 2 dan masih ada 4,1% yang belum mencapai level terendah (level 1b).

Namun, banyak juga para pengamat yang menilai bahwa kebijakan PISA ini tak mesti harus dituruti. Pendidikan bukanlah semata factor perangkingan, tapi mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak didik. Praktek ini mirip dengan Ujian Nasional yang kini telah diputuskan untuk ditiadakan bagi anak SD mulai tahun depan. Tapi rangking PISA pun tak bisa dipandang remeh, minimal perangkingan itu bisa digunakan sebagai otokritik dan evaluasi atas pendidikan Indonesia.

Pendidikan bukan pabrik

Baca lebih lanjut

Pengabdian Anatoly Kasparov

Namanya Anatoly Karparov Putu Abdullah. Nama yang cukup asing untuk telinga masyarakat Yogya. “Nama Anatoly Kasparov merupakan gabungan dari nama Anatoly Karpov dan Gary Kasparov. Waktu itu, beliau kagum dengan dua grand master catur dunia tersebut,” begitu ujarnya ketika ditanya soal nama.

Ia lahir sekitar 25 tahun yang lalu di daerah karst Yogya, Gunung kidul. Tinggti 175 cm dengan berat badan lebih dari 1 kwintal. Dengan komposisi itu ia termasuk orang gendut. Ia menghabiskan separuh pendidikannya di tempat itu. Daerah yang menurut beberapa orang termasuk daerah “ndeso.”

Saat ini ia menempuh studi sarjana di kampus pendidikan Yogya, UNY. Dan telah memasuki semester 12 (katanya pekan depan ia akan menempuh ujian skripsi). Baca lebih lanjut