Amalkan pancasila, Gotong royong

Mantan Presiden Republik Indonesia, megawati Soekarnoputri, sangat menyayangkan generasi muda saat ini terjebak pada pikiran pragmatis dan individualis. Padahal budaya bangsa Indonesia ialah gotong royong, dan ini merupakan inti sari Pancasila yang digali oleh ayahnya, Bung Karno.

“Masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong, bukan individualisme,” kata Presiden wanita pertama Indonesia ini pada Presedential Lecture dalam peringatan Dies Natalis ke 53 Universitas Janabadra, kamis (9/6).

Megawati menilai gotong royong mulai luntur seiring dengan turunnya pamor Pancasila sebagai ideology bangsa. “Pancasila mengalami pasang surut, karena selama ini Pancasila sering dikesampingkan dalam pelajaran di sekolah,” katanya.

Padahal, menurutnya, ideologi adalah pondasi yang melatarbelakangi seluruh kehidupan berbangsa. Pancasila harus hadir dalam setiap sanubari, bukan di teori. “Banyak anak pintar tapi implementasinya tidak sejalan dengan jati diri bangsa. Tidak sesuai pancasila,” kata Mega, dan disambut tepuk tangan ratusan hadirin. Baca lebih lanjut

Tak Hanya Merayakan Pancasila

Pemerintah telah menetapkan tanggal 1 juni sebagai hari lahirnya Pancasila. 66 tahun lalu ideologi negara mulai menemukan rumusannya. Tetapi apakah selama 66 tahun -terutama oleh para pemimpin kita- Pancasila telah benar-benar diterapkan sebagai sebuah ideologi?

Beberapa puluh tahun lalu Pancasila hanya digunakan sebagai alat politik semata. Akibatnya kini publik mengalami trauma persepsi terhadap Pancasila. Alhasil, Pancasila pun pelan-pelan mulai dilupakan. Kalaupun mengingat Pancasila, itu pun sebatas perayaan seremonial setahun sekali.

Pancasila adalah ideologi. Ia yang mendasari segala kebijakan yang akan diambil oleh para pemimpin kita. Pancasila mesti hadir dalam setiap kebijakan yang diambil. Namun, sekarang publik malah makin merasakan bahwa ruh Pancasila meredup dalam setiap kebijakan ataupun perundang-undangan yang dibuat.

Tindak kejahatan korupsi yang dilakukan para pejabat merupakan pembelotan atas sila kedua. Penguasaan sumber daya alam strategis oleh asing dirasakan sebagai pengkhianatan terhadap sila kelima. Praktek demokrasi yang bergandengan dengan money politic bertolak belakang dengan substansi sila keempat. Serta banyak lagi penyimpangan Pancasila dalam berbagai kebijakan pemerintah. Baca lebih lanjut