Jejak Pram di Pataba

jejak pram di pataba

jejak pram di pataba

Rumah seluas sekitar 350 meter persegi itu nampak biasa saja. Sekilas, rumah itu seperti tak terawat. Walaupun halamannya nampak bersih. Temboknya di cat putih, dengan warna hijau di kusen pintu dan jendelanya, dirangkul luar pagar setinggi kurang lebih 1,5 meter yang mengelilinginya. Pepohonan rindang mengelilingi rumah tersebut. Itulah salah satu jejak Pramoedya Ananta Toer, pahlawan sastra Indonesia.

Sepintas lalu, orang tak mungkin menyangka, rumah yang terletak di jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora itu merupakan tempat tinggal salah satu sastrawan revolusioner Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Rumah itu masih dipertahankan bentuk aslinya oleh penghuninya, sebagai kenangan sekaligus sejarah.

“Bagian utama rumah ini, sebelah kanan, Saya bikin semacam museum Pram. Barang-barang Pram, foto atau lukisan wajah Pram ada di sana. Sedangkan samping kiri ini, saya jadikan perpustakaan,” ujar Soesilo Toer, adik kandung Pram yang kini menempati rumah itu bersama istrinya, pada Lingkarberita.com beberapa pekan lalu.

Pataba

Perpustakaan yang dimaksud Soesilo Toer bukanlah seperti perpustakaan yang sering dijumpai di kampus-kampus ataupun sekolah. Dengan rak-rak tinggi yang berjajar rapi dan dilengkapi pendingin ruangan. Perpustakaan ini hanyalah sebuah ruang tamu yang telah direnovasi. Rak-rak untuk menata koleksi buku-buku pun ditaruh ala kadarnya. Selain berisi buku karangan Pram, ada juga buku sejarah, filsafat, novel, politik, majalah, koran bahkan ada juga buku berbahasa Belanda dan Inggris.

Dindingnya ditempeli berbagai foto tokoh-tokoh pergerakan dunia, seperti Mao, dan juga karikatur Pram dan Soesilo sendiri. “Saya tempel poster tokoh-tokoh pergerakan untuk memberikan inspirasi semangat juang dan hidup mereka,” tutur Soesilo ketika ditanya mengenai banyaknya pajangan di dindingnya.

Perpustakaan itu diberi nama PATABA. Awalnya singkatan dari Pramodya Ananta Toer Anak Blora, tapi karena yang datang tidak hanya dari Blora, maka singkatannya diubah jadi “Perpustakaan Anak Semua Bangsa”. Ditujukan untuk semua orang yang ingin mendalami perjalanan sejarah hidup Pram, dan semua orang yang ingin belajar. Yang menarik, di pintu masuk rumah itu ada papan bertuliskan “Bacalah Bukan Bakarlah.” Itu sindiran atas banyaknya buku-buku yang dibakar penguasa represif tempo lalu.

Pataba, jelas Soesilo, tak hanya dikenal oleh kalangan dalam negeri, tapi juga bergema hingga luar negeri. “Beberapa waktu lalu ada kelompok mahasiswa yang mengadakan acara syukuran di sini. Ada juga kunjungan dari orang Belgia, Jepang, dan lainnya. Malah beberapa pernah menginap di kamar Pram yang ada di sebelah ruangan,” katanya. “Mungkin mau ketemu arwah Pram,” tambahnya sembari tertawa.

Pram memang dikenal luas oleh dunia. Karya-karyanya berkali-kali meraih penghargaan internasional, diantaranya ialah The PEN Freedom-to-write Award pada tahun 1988, Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, dan berbagai penghargaan lain. Hingga akhir hidupnya, Pram adalah satu-satunya wakil Indonesia yang berkali-kali masuk kandidat penerima Nobel Sastra.

Berkarya

Orang-orang besar bukanlah orang yang “waras.” Demikian pesan Soesilo Toer. “Banyak tokoh besar yang  tahan menderita, misalnya tokoh bangsa yang sering disiksa penjajah tapi tak mau menyerah. Edan kan! Disiksa apa pun mereka tetap pada prinsipnya. Pram juga begitu.

Waktu itu ia pernah di penjara. Ia berbuat salah lantas dihukum. Digebuki. “Tuhan, kalau saya masih dibutuhkan beri saya hidup. Kalau tidak, cabut nyawaku,” kata Pram ditirukan Soesilo. Akhirnya dari sana Pram menghasilkan karya. “Karya besarnya, tetralogi Pulau Buru, justru lahir di penjara,” tuturnya.

“Pram itu tidak lulus sekolah, tapi ia seringkali diundang oleh berbagai perguruan tinggi untuk ceramah,” ungkap Soesilo. Ini berarti, lanjutnya, bukan sekolah yang menjadi kunci sukses seseorang tapi semangat dan tekad hidupnya. Ia pun mengaku punya gelar ijazah dari luar negeri tapi tak pernah ia gunakan. Bagi Soesilo, gelar hanyalah sebatas tulisan di atas kertas. “Yang penting punya ilmu pengetahuan dan berkarya, bukan semata gelar,” katanya.

“Pram sampai menjelang akhir hidupnya pun tetap ingin terus bekerja. Berkarya,” lanjutnya. Dan karya-karya itu bisa dilihat dari jejaknya di Pataba.

Tulisan ini dimuat juga di Lingkar Berita

Menjernihkan Kembali

Pengantar

Menjernihkan Kembali

 

Sebuah ungkapan yang mulai terasa bagai utopia bagi sebagian orang.

Ada sebuah ungkapan yang mengandung optimisme. Sebuah harapan. Diteriakkan oleh seorang pejuang: Bung Karno. Yang masa mudanya dihabiskan demi sebuah kemerdekaan bangsa dan negara. Ungkapan itu -yang kini menjadi slogan, seringkali dikutip dalam iklan- ialah: “beri aku sepuluh pemuda maka akan aku goncang dunia!”

Kini ia terasa bagai utopia ketika dibenturkan dengan realitas yang terjadi. Sebelumnya kita patut bertanya; pemuda seperti apakah yang dimaksud Bung Karno itu? Yang dengan sepuluh orang saja ia dapat mengguncang dunia?

Itulah kenapa sebagian orang lalu mulai ragu. Bersebab harapan yang ia sandingkan dalam bahu seorang pemuda tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ketika gambaran ideal pelajar adalah duduk di ruang kelas, dengan buku catatan, dan memperhatikan guru yang sedang menerangkan, ternyata yang didapati adalah pelajar yang memegang rantai, dijalanan, sambil lempar batu. Tawuran antar sekolah itu memang mengguncang dunia, terutama dunia pendidikan.

Segera kejadian itu pun jadi berita besar, juga jadi pertanyaan. Para pelajar bukanlah “preman” tapi ia bisa tiba-tiba “beringas,” tega menghajar teman sendiri. Semua orang terhenyak, semua gelisah, tapi tetap saja kita kehilangan nalar akal sehat: mengapa itu bisa terjadi?

Tawuran pun hanya secuil kasus yang seringkali menimpa pelajar. Selain itu banyak lagi kejadian yang bisa dikelompokkan sebagai kenakalan remaja, misalnya saja mabuk, penyalahgunaan narkoba, dan lainnya. Yang jelas kasus itu bukanlah yang pertama.

Karena itulah kemudian sebagian orang menjadi pesimis. Mereka bertanya, “bagaimana masa depan bangsa ini kelak bila ditangan pelajar dan pemuda yang hobi tawuran?” Lalu bermekarlah bibit pesimisme, dan ungkapan bung Karno jadi semakin jauh dari alam realitas. Ungkapan itu hanya bisa jadi hanya sebuah legenda. Bukan lagi sebuah laku heroik.

Hari itu, pertengahan Oktober 2012 yang cerah, gambaran pelajar negatif seperti diatas tak saya dapati. Seratus lebih pelajar -yang merupakan leader disekolahnya masing-masing- dari sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan gambaran pelajar yang penuh gelora. Penuh semangat untuk berprestasi. Memandang mata mereka saya langsung jatuh cinta. Karena di mata-mata mereka, yang berbinar-binar itu, memancar harapan.

Oktober itu saya melihat bahwa para pelajar itu ‘menggunakan sayapnya’ bukan ‘melata di tanah.’ Ya, mungkin mereka tak tahu bait dalam sajak Rumi namun bagi saya mereka betul-betul memahami frasa bait itu: “Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak dalam hidup?”

Saya membayangkan merekalah yang dimaksud oleh Bung Karno, anak-anak muda yang punya idealisme untuk memperbaiki tidak hanya diri sendiri, tapi juga sekolah dan masyarakat. Mereka yang tak terjebak dalam lumpur alkohol. Mereka yang tak berpikir tentang masalah-masalah pribadi yang sepele, tapi mereka berpikir jauh lebih besar. Misalnya saja tentang mengatasi kenakalan pelajar. Dan mereka pun tak luput untuk berbagi apa saja; inspirasi, ide, cerita, dan pengalaman, kepada siapa saja.

Setiap gerakan kebangkitan selalu bermula dari tanda, kata Yudi Latif. Belenggu citra negatif pelajar yang tercoreng harus dibangkitkan. Dan itu harus dengan tanda. Tanda baru yang menjadi pembeda, pengarah antara masa lalu dan masa depan. Kata, bahasa, dan sastra adalah rumah tanda. Seperti istilah Martin Heidegger, “Language is the house of being.” Maka buku ini kemudian lahir untuk menandakan kebangkitan pelajar itu.

Di buku inilah inspirasi, ide, cerita dan pengalaman para pelajar terpilih itu dirajut. Dikumpulkan dan diikat dalam satu kesatuan. Buku kecil dengan judul “Percik Gagasan Generasi Muda Unggulan” ini menampilkan curhatan hati mereka sebagai perwujudan kehormatan pelajar. Seperti dalam ungkapan Debita ab erudite quoque libris reverential (kehormatan orang terpelajar berasal dari buku).

Buku ini dimaksudkan menghilangkan stigma negatif pelajar dan anak muda. Stigma itulah yang membuat “keruh” pandangan sebagian orang terhadap para pelajar. Stigma itu kecil dan hitam, tapi noda itu bisa mengkeruhkan seluruhnya. Maka ia perlu dijernihkan kembali, ditekankan bahwa masih banyak anak-anak muda yang berkontribusi positif bagi negeri ini.

Buku ini sengaja tidak dibuat dengan bab-bab yang rapi. Tidak pula diklasifikasikan berdasar jenis tulisan. Tidak! Buku ini seperti saluran air yang mengalirkan ‘air apa saja’ yang bersumber dari kepala pelajar itu. Ada yang berupa artikel, pengalaman pribadi, motivasi bahkan cerita pendek. Buku ini sudah selayaknya dinikmati dengan hati jernih. Jauh dari prasangka-prasangka buruk tentang pelajar. Maka kita akan mendapatkan sebuah bibit awal keyakinan pada ungkapan Bung Karno itu.

Akhirnya saya ingin mengutip kata Pramoedya Ananta Toer untuk mengakhiri pengantar ini. Sebuah pesan dalam salah satu novelnya, “Tahu kenapa aku suka kau, Nak? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari.”

Selamat membaca!

Menjadi Pahlawan

Menjadi Pahlawan

Hari ini, 10 Nvember, bangsa ini merayakannya sebagai hari pahlawan. Upacara, ucapan selamat hingga iklan televisi dengan penampilan tokoh-tokoh politik mewarnai hari ini. Di dunia maya, di sosial media pun ramai orang bicara tentang hari ini. Hari ini semua orang menjadi sangat peduli tentang pahlawan.

Tapi siapakah pahlawan itu? Atau apakah pahlawan itu?

Saya lantas membayangkan 67 tahun lalu. Sebuah hari yang menjadi tonggak ‘hari pahlawan’ ini. Ketika para pemuda Surabaya yang naik darah melihat bendera Belanda berkibar di atas hotel Yamato. Kemerdekaan yang terasa masih menggelora dalam darah terasa dihina dengan dikibarkannya bendera merah-putih-biru tanpa ijin. Padahal telah ada intruksi resmi dari pemerintah untuk mengibarkan bendera merah putih diseluruh daerah.

Ketegangan pun terjadi. Pergolakan tak bisa dihindari. Perkelahian yang akhirnya menewaskan Ploegman –tentara Belanda yang memerintahkan pengibaran bendera Belanda di hotel Yamato- berlangsung sengit. Lalu mereka –pemuda-pemuda Surabaya- merengsek masuk ke hotel. Naik terus hingga atap. Memanjat tiang, lalu merobek warna biru bendera itu. Berkibarlah merah putih.

Apakah mereka pahlawan? Orang-orang yang kita tahu ceritanya tapi tak mengenal nama mereka.

Dalm arti formal tentu saja mereka bukanlah pahlawan, dan ribuan orang bernasib sama dengan mereka. Pahlawan adalah orang yang mendapat tanda jasa, medali, atau sertifikat, yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itulah, dari banyaknya pertempuran merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini, dari ribuan pemuda yang tewas, hanya sedikit yang kita ketahui dan mendapat gelar ‘resmi’ sebagai Pahlawan Nasional.

***

Adakah pahlawan saat ini? Di zaman ciyus-miapah ini? Di era pencitraan lebih utama dari perbuatan?  Zaman dahulu, tahun-tahun awal kemerdekaan ketika anak-anak kecil ditanya, “Siapakah pahlawan bagi mereka?”

Dengan tegas dan lantang tentu mereka akan menjawab, “Bapakku yang pergi berperang melawan Belanda!”
Lalu ketika pertanyaan yang sama diajukan pada anak-anak sekarang, apa kira-kira jawab mereka? “Pahlawan itu ya Spiderman, Batman, atau Transformer,” bisa jadi begitu jawab mereka.

Saat ini kita akan sulit mendefinisikan arti pahlawan. Karena kita terlalu sukar menemukannya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah, anak-anak akan mencarinya di imajinasi. Di film-film dan buku cerita.

Maka semenjak hari pahlawan ini lalu ada orang yang member makna baru. Yang mengartikan pahlawan adalah mereka yang berkorban untuk kepentingan banyak orang. Pahlawan adalah seorang pemulung yang berkurban waktu hari raya idul adha.
Pahlawan adalah guru. Yang rela mengajar demi pengabdian bukan semata penggajian. Sehingga ia meraih dan memaknai betul gelar “pahlawan tanpa tanda jasa.” Ada pula yang menyebut pahlawan adalah orang tua. Dan macam lainnya.

Mengutip kalimat Goenawan Mohammad bahwa “mungkin ‘pahlawan’ hanya kontruksi politik di negeri yang ingin menghalalkan sebuah sejarah. Pada akhirnya ia memang tokoh ‘kekal’ yang dipoles.” Tapi tindakan kepahlawanan, masih kata Goenawan, tak bisa hanya dilihat sebagai pose. Laku mereka menunjukkan, tindakan yang heroik bisa terjadi: kerelaan jadi tumbal buat orang banyak.

Maka kita akan melihat Spiderman yang selalu menyembunyikan identitasnya agar tak diketahui khalayak. Kita sebut pahlawan, bahkan pahlawan super. Kita tak menyebut seorang tokoh politik yang sering gembar gembor di media tentang lakunya -yang sudah menjadi kewajibannya- sebagai pahlawan bangsa ini.

Kembali pada tanya saya diatas “siapakah pahlawan itu? Atau apakah pahlawan itu?”

Sesungguhnya pahlawan adalah gelar yang diberikan oleh orang lain. Selalu seperti itu. Hanya orang bodoh saja yang menjuluki dirinya sendiri sebagai pahlawan. Dari hal ini maka logikanya sederhana, perbuatan kita kepada orang itulah yang menentukan sebutan kita dari orang tersebut.

Bisa jadi kita diberi gelar ‘pembohong’ karena seringkali berdusta. ‘Sombong’ karena terlampau berbangga diri. Atau bisa jadi ‘pahlawan’ karena dianggap telah menyelamatkan hidup. Maka sejatinya pahlawan telah ada dalam tiap-tiap diri kita. Ia membutuhkan laku heroik –dalam kalimat Goenawan Mohammad- untuk muncul dan menggelora.

Bukan lagi ‘siapa atau apa?’ Tapi siapkah kita ‘menjadi pahlawan?’

Salam pahlawan,

Yuk, Ziarah ke Makam Dokter yang Pahlawan

Namanya Gangsar Sujihartono. Usianya telah menginjak kepala lima. Telah belasan tahun ayah tiga anak ini berprofesi sebagai juru kunci Taman Makam Pahlawan (TMP) dr. Wahidin Soedirohusodo. “Saya hanya menggantikan simbah yang dulu juga menjadi juru kunci makam,” ceritanya kepada Lingkar Berita beberapa waktu lalu.

TMP dr. Wahidin Soedirohusodo terletak di pinggir jalan raya Magelang Km. 7,3. Berada di desa Mlati, Sleman Yogyakarta. Lokasinya terhitung strategis karena terletak di pinggir jalan raya. Luas TMP ini kira-kira seukuran dengan sebuah lapangan sepak bola. Terdiri atas tiga bagian; paling selatan, merupakan makam pejuang yang gugur saat zaman kemerdekaan. Bagian tengah, merupakan kompleks makam dr. Wahidin beserta keluarga, serta sisi utara merupakan kompleks makam umum. Di makam inilah, cucu beliau yang juga merupakan pelukis terkenal Indonesia, yaitu Basuki Abdullah disemayamkan.

Di area ini, di sebelah utara halaman depan tempat biasanya dilangsungkan berbagai upacara peringatan, terdapat sebuah bangunan tempat menyimpan foto dan lukisan dr. Wahidin. Bangunan itu sekarang telah difungsikan untuk kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Memang hampir tidak ada sama sekali benda peninggalan dr. Wahidin yang disimpan di area TMP.

Di bagian dalam, makam dr. Wahidin bersanding dengan makam istrinya. Batu nisannya terbuat dari marmer, dengan ukiran aksara jawa yang menjelaskan tentang data singkat, di samping kanan, kiri serta bagian depan. Kedua nisannya dipagari besi setinggi sekitar 1,5 m yang mengelilinginya. Di sekitarnya, ada makam para keluarga hingga cucu dr. Wahidin.

dr. Wahidin memang dilahirkan di desa Mlati pada tanggal 7 Januari 1852 dan wafat pada 26 Mei 1917, pada usia 65 tahun. Sesudah menyelesaikan Europeesche Lagere School (SD untuk orang Belanda), ia melanjutkan studinya pada Sekolah Dokter Jawa (Inlandsch Geneeskundige) di Jakarta. Baca lebih lanjut