Nasionalisme (Semu) Indonesia

Nasionalisme adalah sesuatu yang ajaib sekaligus ironis. Di satu sisi ia bisa menyatukan jutaan orang yang tak terikat hubungan darah, dan kemudian bergabung dan bersatu membentuk sebuah negara yang memimpikan kemakmuran. Di sisi lain, atas nama nasionalisme pula ada banyak darah bertumpahan. Nasionalisme, bagi masyarakat lokal suatu berkat, tapi bagi kekuasaan universal suatu laknat.[1]

Awal sejarah peradaban manusia dahulu tak mengenal nasionalisme. Kesetiaan seseorang dahulu bukan terletak pada Negara, tapi pada bentuk-bentuk kekuasaan sosial, organisasi, atau raja feudal serta kesatuan ideologi. Misalnya saja suku, kerajaan, atau golongan keagamaan. Namun dalam rentang waktu seratus tahun terakhir, tidak ada satu ruang sosial pun di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, mungkin jalur sejarah manusia akan berbeda sama sekali

Definisi

Nasionalisme berasal dari kata latio dari bahasa latin yang kemudian diadopsi menjadi nation, yang artinya bangsa atau tanah air. Dalam bahasa Inggris kemudian diartikan sebagai “sekelompok orang yang dikenal atau diidentifikasi sebagai entitas berdasarkan aspek sejarah, bahsa, atau etnis yang dimiliki oleh mereka.” Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan nasionalisme sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; politik untuk membela pemerintahan sendiri; sifat kenasionalan.

Banyak ahli berbeda pendapat tentang definisi nasionalisme. Bennedict Anderson, dalam Imagined Communities, menyebutkan bahwa nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan. Komunitas ini dikatakan sebagai imagined communities sebab tidak mungkin seluruh warga dalam suatu komunitas dapat saling mengenal, saling berbicara, dan saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka bayangkan. Baca lebih lanjut

Nasionalisme dan Sengketa Perbatasan

Saya ingin sedikit berbagi kepada pembaca budiman. Tulisan ini karya Farid Gaban, seorang jurnalis, dan saya dapatkan di milis jurnalisme. Ulasannya menarik dan patut kita renungkan.. Dalam kondisi Indonesia sekarang..

***
Nasionalisme dan Sengketa Perbatasan

Sengketa (pulau/perbatasan) adalah klaim dan kontra-klaim. Kita mengklaimmemiliki wilayah tertentu dan negara lain mengklaim memilikinya pula.Ketika orang mengatakan suatu pulau pernah kita miliki, itu sebenarnya klaim sepihak kita atas pulau tersebut. Negara lain, termasuk Malaysia, juga punya klaim.

Indonesia dan Malaysia itu negeri baru (dalam konteks sejarah, 60 tahun itu pendek). Dan dua-duanya adalah negeri bekas jajahan. Jajahan Belanda dan Inggris. Tidak hanya sekarang, dulu Belanda dan Inggris juga banyak bersengketa tentang wilayah jajahan. Baca lebih lanjut