Saitama & Murakami

Rata-rata manga Jepang yang bertema “hero” memang seputar tentang seorang pahlawan yang bisa melampaui batasan dirinya untuk menjadi lebih kuat.

Kalau diperhatikan, sebagian besar berkisah tentang orang-orang biasa yang kadang diremehkan, di lecehkan, dan ditindas. Lalu dengan kerja kerasnya, dengan semangat yang pantang menyerah, ia mampu melampaui ‘limit’ dan menjadi super duper kuat yang mampu mengalahkan musuh.

Mungkin ini ada kaitannya dengan karakter atau budaya orang Jepang. Bukan mungkin, tapi pastinya ada.

Maka sebagian besar orang Jepang, kalau dilihat dari manga-nya, lebih percaya pada kerja keras daripada bakat.

Tapi bukan berarti orang Jepang, menurut saya, tidak percaya pada bakat.

Ada beberapa tokoh manga terkenal yang memang diciptakan punya bakat sejak lahir. Sebut saja, Uchiha Sasuke. Tapi pesan pentingnya bukan pada seberapa besar bakatmu, namun seberapa keras perjuanganmu untuk menjadi hebat.

Saya jadi teringat dengan tulisan Murakami di bukunya What I Talk..

Sebenarnya buku itu bercerita tentang bagaimana ia menjalani kehidupan sebagai pelari. Namun ada juga beberapa bab yang menceritakan tentang bagaimana ia menjalani kehidupan sebagai penulis.

Dan mungkin hal itu berlaku juga buat pekerjaan-pekerjaan lain, yang secara umum bisa jadi merupakan budaya kerja orang Jepang.

“Jika saya ditanya apa hal berikutnya yang penting dimiliki oleh seorang novelis, itu juga mudah: fokus-kemampuan untuk mengumpulkan seluruh bakatmu yang terbatas pada apapun yang sedang kau kerjakan. Tanpa itu, kau takkan mampu untuk menyelesaikan apapun,” katanya.

Murakami biasanya bekerja selama tiga sampai empat jam setiap pagi hari. Ia akan duduk di hadapan meja dan fokus pada apa yang sedang ia tulis.

Terlihat gampang namun sebenarnya sangat sulit.

Fokus dan duduk diam mengerjakan sesuatu selama berjam-jam tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi bila dilakukan setiap hari.

“Kau tahu, bahkan seorang novelis paling berbakat dan memiliki banyak ide keren sekalipun takkan bisa menulis apapun, jika misalnya, dia sedang tersiksa akan sesuatu. Siksaan dan pikiran-pikiran lain itu menghalau konsentrasi. Itulah yang saya maksud ketika saya berkata bahwa tanpa fokus kau takkan bisa menyelesaikan apapun,” kata Murakami.

Tapi fokus saja ternyata tidak cukup.

Jika ingin sukses perlu juga ketahanan diri. Presistensi.

Ketahanan diri, kata Murakami, jika berkonsentrasi pada proses ibarat menahan napas, maka ketahanan diri adalah seni mengembuskan napas secara sangat perlahan pada saat yang sama dengan menyimpan udara dalam paru-parumu. Jika kau tak bisa menemukan keseimbangan antara keduanya, sulit bagimu untuk menulis novel secara profesional dalam waktu yang panjang.

Saya pernah menonton sebuah video di Youtube tentang seorang pembuat sushi di Jepang. Katanya pembuat sushi legendaris. Saat membuat sushi Ia melakukannya dengan penuh fokus dan ketahanan diri yang mungkin kalau kita yang melakukkannya, satu jam sudah bosan.

Mungkin itu yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi. Dan juga loyal. Tambahkan kata “bisa dibayar murah, jujur, disiplin, rajin, tidak perhitungan” maka itulah dambaan para pebisnis saat ini di Indonesia dalam mencari pekerja.

Maka ketika Saitama ditanya apa yang menjadi rahasia kekuatannya, ia hanya menjawab dengan enteng.

“10.000 kali push up, 10.000 kali sit up, 10.000 kali squat, dan 10Km lari. Setiap hari. Tanpa pernah terputus satu kali pun. Selama tiga tahun.”

Saitama kuat bukan karena latihan dasar itu, tapi karena ia sudah bisa melewati batasan dirinya. Dengan penuh fokus dan presisten. Dan itulah yang membuatnya menjadi pahlawan terkuat. Yang mengalahkan musuh dan monster hanya dengan satu kali pukulan.

 

 

1Q84

Saya mengenal Haruki Murakami lewat Maudy Ayunda. Ya, Maudy Ayunda yang itu. Yang bergigi kelinci, rambut hitam lurus, senyumnya menawan, sekolah di Oxford, suaranya saat menyanyikan lagu perahu kertas membuat terpesona dan memilih nomor dua waktu pilkada.

Saya mengenalnya sebagai seorang wanita yang lucu, penuh keceriaan, usil, kadang konyol namun manis. Itu saat saya melihatnya sebagai Kugy di film Perahu Kertas. Kalau lihat dari raut wajahnya, saya rasa mungkin karakter nyata dia tak jauh berbeda.

Perkenalan saya denngan Murakami bukan dalam arti saya ketemu Maudy, lalu dia bilang pada saya, “Mas, kenalin ini salah satu penulis favorit aku,” katanya. Bukan dalam arti begitu, saya cuma mengenal Murakami lewat postingan di IG Maudy. Waktu itu dia mengupload foto sedang membaca 1Q84, buku karangan Murakami. (Iya, saya follow akun IG-nya Maudy, terus kenapa?)

Sebagai fans yang baik dan benar, tentu saya penasaran. Kenapa Maudy membaca buku itu? Apa isinya? Apakah menarik?

Saya lalu mencari tahu buku-buku Murakami. Terutama 1Q84 itu. Namun saya tak lantas tertarik untuk membelinya. Bukan apa-apa, hanya saja ternyata buku itu terdiri dari tiga jilid. Duh, langsung beli tiga jilid cukup memberatkan di kantong.

Karena itulah buku pertama yang saya baca adalah Dengarlah Nyanyian Angin. Bukunya tipis. Isinya? Ternyata saya tidak begitu paham.

Membaca karya Murakami memang harus bersiap dengan membaca alur yang lambat, penuh simbol dan kadang -bagi saya- tidak jelas maksud ceritanya itu apa. Selanjutnya saya mencoba untuk membaca novelnya yang lebih tebal; Norwegian Wood. Dan dari membaca buku inilah kemudian saya menyukai lagu Norwegian Woodnya The Beatles.

Memang banyak karya Murakami yang mengambil judul dari lagu The Beatles. Selain Norwegian Wood itu ada juga cerpen yang berjudul Yesterday.

Setelah buku itu, saya membeli What I Talk About When I Talk About Running. Nah, di buku ini saya bisa mencerna tulisan Murakami dengan lebih enak. Buku ini bercerita tentang hobi Murakami mengikuti marathon. Tapi sebenarnya di buku itu Murakami berkisah tentang dirinya. Tentang keputusannya untuk menjadi seorang penulis novel. Tentang kehidupan dan berbagai pemikirannya. Yah, lebih mirip biografi mininya Murakami.

Yang berikutnya, sebelum memutuskan membaca Dunia Kafka, saya terlebih dahulu membaca cerpen Murakami yang bisa saya dapatkan via online. Salah satu cerpennya yang menarik menurut saya adalah Dia yang Sempurna. Saya baca di situs fiksi lotus.

Penerjemahannya sangat bagus. Inti ceritanya pun sebenarnya sederhana. Tentang seorang laki-laki yang melihat seorang wanita yang begitu sempurna di sebuah stasiun. Silahkan baca sendiri, bisa dicari di google, cerpen ini adalah sebuah kisah cinta yang muram dan penuh ironi.

Tapi memang, hampir sebagian besar karya Murakami adalah kisah cinta yang muram. Termasuk dalam 1Q84. Yang dibaca Maudy Ayunda sejak lama itu. Baru bisa saya selesaikan akhir-akhir ini. Tiga jilid.

Dan sepertinya ini adalah novel terakhir yang bisa saya baca dari Murakami, soalnya belum ada lagi bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bukan berarti saya tidak punya karyanya yang berbahasa Inggris, saya punya file Sputnik Sweetheart. Namun setelah membaca satu paragaraf, saya menyerah untuk melanjutkannya.

1Q84 sebenarnya adalah kisah cinta sederhana. Antara Tengo dan Aomame. Namun Murakami membuat kisah cinta yang sederhana itu sedemikian rumit, panjang dan melelahkan. Intinya adalah Tengo dan Aomame adalah dua orang yang jatuh cinta saat kecil, dan cinta itu memberikan harapan pada keduanya selama 20 tahun untuk saling mencari.

“Jika kamu dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati, bahkan untuk satu orang, itulah keselamatan dalam hidup. Meskipun kamu tidak dapat bersama dengannya,” kata Aomame yang dalam cerita itu harus melalui berbagai kerumitan, sampai harus tersesat kedalam dunia paralel yang mempunyai dua rembulan.

Novel ini memang panjang -hampir seribu halaman- dan berjalan lambat. Kalau kata Eka Kurniawan,1Q84 seperti mie rebus yang kelewat lama dimasak. Kematangan. Akhirnya malah lembek.

“Sebagai karya yang sangat panjang, itu seperti menonton pertunjukan orkestra selama beberapa jam. Di beberapa bagian, saya lebih senang jika bisa tidur,” katanya. “Kisah mengenai Aomame dan Tengo yang saling mencari, anggaplah sebagai bingkai yang menyedihkan, untuk ruang begitu banyak kisah yang berkelap-kelip di dalamnya. Bingkainya menjadi tidak penting..”

Tapi walau begitu, entah mengapa saya tertarik terus untuk membacanya. Menghabiskannya sampai halaman terakhir.

Oh, iya, menurut saya kutipan yang paling menarik datang dari Ushikawa, bukan tokoh utama, “Pengetahuan dan kemampuan hanyalah alat, bukan untuk dipamerkan..”