Yutub

Selama ini saya mengamati bahwa target iklan-iklan adalah orang-orang yang usianya 23 tahun ke atas. Tipe usia yang kira-kira sudah punya duit.
 
Tapi beberapa hari terakhir saya baru sadar bahwa sebenarnya ada satu lagi target yang lebih potensial.
 
Yaitu anak-anak usia 2-10 tahun.
 
Asumsi ini saya dapatkan setelah mendapati perilaku yang tak biasa pada diri ponakan saya, Arjun. Usianya bulan Maret besok genap 3 tahun.
 
Ia sama seperti anak-anak balita yang lain, suka makan es krim. Terkadang ia akan merajuk pada saya atau ibunya. Minta diajak ke “gelato;” cafe es krim ala Italia yang mahal itu tuh. Tapi rajukannya biasanya selesai dengan pengalihan isu main “bego.”
 
“Bego” itu truk mainan. Aslinya dilafazkan back hoe, cuma kebanyakan kita menyebutnya “bego.”
 
Tapi beberapa hari terakhir rasanya permintaan es krimnya kok jadi tidak wajar. Kemarin siang ia ngamuk. Minta es krim di alpamart. Segala bujuk rayu dan pengalihan isu tidak mempan.
 
Ya, sudahlah.
 
Daripada melihat Arjun yang lucu dan pintar itu kena marah ibunya, terpaksa saya meladeni keinginannya.
 
Ya, saya tahu.
 
Terkadang tindakan saya ini salah. Berdasarkan tulisan-tulisan parenting di fanspage dokter anak, harusnya kita tidak menuruti semua keinginan anak. Apalagi kalau dia memakai cara ngamuk untuk menuntut orang-orang memenuhi keinginannya.
 
Tapi ya tahu sendirilah.
 
Saya antar ia ke alpamart. Saya wanti-wanti untuk cuma membeli satu es krim saja. Ia menolak. Ia acungkan lima jari ke muka saya. “Segini,” katanya.
 
“Oke,” kata saya. Saya berpikir bakal bisa membujuknya untuk membeli satu saja.
 
Ternyata pikiran saya meleset.
 
Begitu sampai alpamart ia langsung menuju kotak Walls terkutuk itu. Dan dengan tangan mungilnya ia ambil 5 paddlepop. Langsung!! Gak cuma itu, ia pun sudah bisa milih es yang rainbow!!
 
Tobyaat..
 
Lebih tobyaat lagi, sesampainya di rumah Arjun makan semua es krimnya itu sendirian.
 
“Gak boleh. Ndak belbagi,” katanya sambil mendekap es krimnya.
 
Saya kemudian berpikir darimana Arjun belajar bertingkah begitu?
 
Jawaban itu hadir saat saya melihatnya sedang main handphone ibunya. Biasanya ia cuma melihat mobil, truk, atau film tayo. Tapi saat itu ia sedang nonton “review es krim yang dilakukan anak-anak.”
 
Woo, lha ini akar masalahnya. Anak-anak di video itu saya lihat juga memborong paddlepop dan jenisnya juga rainbow. Es yang warna warni.
 
Woalah, bul Arjun niru yutub.
 
Seperti yang kita tahu bahwa anak-anak balita saat ini akrab sekali dengan gadget. Wabilkhusus nonton yutub. Dan behaviour anak-anak saat menonton yutub itu diulang-ulang. Dan kemudian menirukannya.
 
Tentu inilah salah satu alasan yang membuat viewer video “cuma makan es krim doang” bisa ditonton jutaan kali. Dan video yang begini tidak cuma ada satu lho, tapi banyak.
 
Jutaan kali Bos…!!
 
Bayangkan bila 50% saja anak-anak yang nonton itu lalu merengek-rengek minta es krim. Gak cuma satu lagi, tapi langsung mborong!
 
Maka kalau kita bisa ngiklan langsung pada anak-anak balita, mungkin hasilnya akan lebih powerfull. Karena “daya paksa” anak-anak ke orang tuanya umumnya lebih kuat dan lebih menghasilkan.
 
Saya tidak tahu apakah hal ini bisa dieksploitasi lebih lanjut. Dicoba dengan berbagai produk ataupun jasa. Mungkin Anda bisa mencobanya, atau barangkali sudah mencoba?
 
Mungkin juga banyak orang yang sudah tahu hal yang saya omongin di atas.
 
Ya, memang tidak ada yang baru dibawah kolong langit. Tapi, jujur saja, saya sendiri baru “ngeh” tadi siang.
 
Dan kalau Anda juga baru “ngeh” setelah membaca tulisan ini, lalu mencobanya dan berhasil memperoleh profit yang gede, naah, kudu bayar royalti ke ane tuh. 😀
 
Atau pengen konsultasi lebih lanjut gimana cara memanfaatkan behaviour anak-anak balita? Ya, kalau yang itu premium thoo.. Wakakaka 😀

Di Zaman NOW, Politik Mustahil Dimenangkan Tanpa Propaganda Media Sosial

“Kalau kamu mengabaikan sosmed, kamu tidak mungkin menang,” kata Jurnalis David Patrikarako.

Mau memenangkan perang, katanya, kamu harus membuat propaganda di media sosial. Tak bisa cuma hanya bermodal angkatan senjata yang kuat.

Lihat saja Israel. Ia menang melawan pejuang Hamas di lapangan, tapi kalah dalam perang. Israel selalu saja dibully dunia internasional dan gagal menggiring opini publik.

Bandingkan narasi yang digunakan Israel dan Palestina.

Israel mengatakan bahwa ia adalah negara demokrasi, berdaulat dan sedang melawan teroris. Sedangkan di sisi lain, Palestina menyatakan bahwa mereka adalah orang tertindas di tanah airnya sendiri yang sedang diserang penjajah dan “premannya” dunia.

Hasilnya?

Video tentara Israel yang menembaki warga Palestina, memukul anak kecil, dan perjuangan anak-anak yang hanya membawa batu selalu viral di media sosial. Selalu memancing simpati dunia.

Hasilnya?

Klaim Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Palestina, langsung kalah di mata dunia internasional.

“…narasi Farah (anak Palestina yang rajin ngetwit tentang perang di Palestina) akan selalu lebih kuat karena dia menderita dan dia masih anak-anak. Militer Israel tidak akan bisa mengalahkannya dengan cara apapun. Mereka tidak akan bisa membenarkan kematian anak-anak dalam pertempuran.

Ini sesuai pepatah kuno jurnalisme: siapa yang berdarah, akan memimpin. Israel nyatanya tidak berdarah karena unggul di darat, laut, maupun udara sementara warga Palestina hanya melawan dengan lemparan batu,“ kata David Patrikarako.

Dalam politik hal yang sama terjadi.

Siapa yang terkesan dizalimi, apalagi oleh penguasa, dan berhasil memancing opini publik akan mendapatkan dukungan yang besar. Sudah tahu kan contohnya di negeri ini?

Tapi tak hanya itu, arus opini di media sosial pun bisa mempengaruhi kebijakan politik. Misalnya saja soal blokir memblokir yang dibatalkan hanya gara-gara mendapat respon penolakan dari media sosial yang besar.

Dulu news maker selalu digaungkan oleh media-media besar, tapi kini berbagai situs web dan akun influencer yang dikelola individu muncul dan turut mengatur arus opini publik.

Maka tidak bisa dibantah bahwa kekuatan berpindah tangan dari institusi seperti pemerintah dan perusahaan media besar, beralih ke individu dan jaringan sipil.

Karena itu setiap orang yang berkepentingan dengan “membesarkan daya pengaruhnya” tak bisa melakukannya dengan mengesampingkan media sosial.

Untuk memenangkan politik, terutama di ajang pemilihan umum, rumusnya sama; dari awalnya tertarik, suka, dan kemudian memutuskan memilih. Selanjutnya adalah membuat mereka ikut “bergerak.” Mengadvokasi pilihannya.

Dan melakukan rekayasa ada strateginya. Tidak bisa mengalir begitu saja. Tujuannya apa? Narasinya apa? Kemasannya bagaimana? Distribusinya di kanal medsos mana? Itu perlu diatur. Diriset dengan memahami perilaku netizen.

“An effective social media campaign is based on the psychology of social behaviors not the current technology,” kata Dr. Pamela Rutledge.

Percayalah, kalau semua pihak yang terlibat dalam perpolitikan negeri ini menggunakan strategi dan segala sumber daya yang ia miliki, termasuk untuk merekayasa opini di media sosial. Merekayasa, bukan sekadar mengikuti isu bak “air mengalir.” Kalau cuma mengikuti “air mengalir” bisa jadi malah terbawa hingga selokan. Dan tidak tahu, bahwa isu yang ada adalah taktik pihak lawan sebelah.

—- –

Tentu saja tulisan ini cuma hasil ngutip wawancara David Patrikarako yang dimuat di vice.com. Dan diubah seperlunya serta ditambah-tambahi dikit.

 

1a18878

Namanya Siapa Sih?

Sekitar semester tiga atau empat saya mengenal Sayyid Quthb. Sosok yang lahir di Mausyah, dataran tinggi Mesir pada tanggal 9 Oktober 2906 ini merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan Ikhwanul Muslim. Tentu saya mengenalnya dari buku yang ia tulis. Buku pertama yang saya baca adalah Ma’alim fi ath-Thariq atau dalam versi terjemahan berjudul Petunjuk Jalan.

Sebenarnya yang paling memukau adalah tafsir Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Namun sayangnya untuk karyanya yang ini, saya hanya mampu membaca dua jilid saja. Itu pun dua jilid terakhir. Bukan karena apa, tapi mengumpulkan lebih dari dua puluh jilid terasa berat -sekali lagi- di kantong waktu itu. Artinya saya sebenarnya cuma membaca 3 buah buku yang ia tulis saja. Tidak lebih.

Selain dari buku-bukunya, dalam beberapa kajian yang saya ikuti sewaktu dahulu kala, (ngene-ngene yo mbiyen rajin melu kajian-lah), juga beberapa kali dibahas soal Sayyid Quthb. Dan yang paling menarik bahasannya adalah perkenalan Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, dengan Sayyid Quthb.

Konon kabarnya (saya nyari referensinya belum nemu soalnya, kalau ada yang tahu detil kisahnya bisa di share, tapi sudah saya konfirmasi ke Ustadz Romi Siska Putra kok..), awalnya Sayyid Quthb ini sering menulis yang isinya sering kontra dengan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin (IM). Beberapa pengurus IM berusaha untuk menyerang balik. Tapi Hasan al-Banna menyarankan sebaliknya. Tidak perlu. Menurut firasatnya, orang ini -Sayyid Quthb- kelak akan menjadi orang penting dalam gerakan islam. Dan firasatnya itu benar.

Kisah lain, dulu Mohammad Natsir pernah diminta komentarnya soal buku-buku roman. Tulisan Natsir dimuat dalam buku Capita Selecta, “Pemandangan Tentang “Buku-Buku Roman” ditulis pada tanggal 1 Januari 1940.

Menurut Natsir, bacaan bisa memberikan manfaat ataupun mudharat. Sebuah roman tidak bisa dilihat dari sudut pandang kesenian semata, tapi juga harus mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya. Intinya, Natsir berpesan begini, “Seni atau tidak seni, tetapi apa jang memberi mudharat kepada kebatinan kaumku, atau jang lebih banjak mudharatnja dari manfaatnja, harus aku tolak sebagai barang jang berbahaja !” Saya kutipkan sesuai yang tertulis.

Nah, beberapa waktu lalu ramai di beranda fesbuk saya ini perbincangan soal anak SMA asal Banyuwangi. Yang menulis tentang warisan itu. Itu memang bukan roman. Cuma sebuah status saja.Tapi status itu mengalir deras ke berbagai penjuru jagad maya. Viral. Ramai diperbincangkan. Engangement-nya besar. Tidak perlu pakai Fb-Ads.

Sudah banyak yang membicarakannya, dari yang memuji sampai yang membully. Dari yang membenarkan isinya sampai yang menyalahkan. Dari yang berteori soal konspirasi sampai yang menyepelekan. Duh, media sosial memang kadang sadis.

Yang kontra “warisan” akan ramai-ramai membenarkan ide dan gagasannya. Yang mendukung “warisan” akan ramai-ramai memberikan fasilitas dan apa pun itu untuk mendukung dan menjadikannya simbol dari ide dan gagasannya. Yah, sejatinya medsos itu mayoritas isinya juga cuma pro dan kontra aja kok. Pertarungan pengaruh.

Lantas apa hubungannya dengan cerita Sayyid Quthb atau Natsir diatas? Ya, jelas tidak ada. Dan tidak perlu dihubung-hubungkan. Mungkin cerita saya diatas bisa memberikan perspektif lain untuk menyikapi anak SMA asal Banyuwangi itu.

Namanya siapa sih? 

Hoax

Cukup bagus gerakan melawan hoax. Ditengah tsunami hoax via media sosial yang makin merajelela. Ditengah kepungan berbagai berita dan kabar yang bikin resah dan sebal. Ditengah gatelnya para jempol-jempol tukang asal share.

Hoax perlu dilawan, karena ia mendistorsi kebenaran.

Tapi apa jadinya bila gerakan melawan hoax ini justru membuat fakta menjadi hoax..?

Kalau sudah seperti ini makin sulit membedakan mana yang benar-benar “benar” dan mana yang hoax. Karena masing-masing punya daya magis dan daya tariknya masing-masing.

Apakah ini pertanda akhir jaman? Dajjal sudah makin dekat kemunculannya…?

“Dajjal juga membawa air dan api. Apa yang kita lihat sebagai api, ternyata air. Sedang yang kita lihat seperti air, ternyata api.”

Pokemon Go

POKEMON GO
 
Kenapa Pokemon Go ini begitu populer saat ini? Mungkin karena ini menarik kembali kenangan masa lalu dari generasi seusia ane.
 
Kenangan bahwa dulu saban Minggu tertib menghadap layar televisi lalu dengan khusyuk menafsirkan kata-kata, “Pika..pi…Pika..pika…pikaaachuuuu…..!!!”
 
Atau mungkin karena permainan ini menawarkan something new and different dibandingkan game lainnya. Menawarkan pendekatan baru; augmented reality.
 
Walau sebenarnya gak baru-baru amat sih. Yah, tapi seperti halnya Apel kroak, yang jane tidak menawarkan sesuatu yang baru juga, tapi seolah-olah apa yang dibawakan oleh Apel Kroak dalam tiap produknya itu: new. Seolah-olah orang “baru kepikiran.”
 
Tahu apa itu Augmented Reality?
 
Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekedar menambahkan atau melengkapi kenyataan.
 
Walau sebenarnya setahu saya ada pula permainan lain yang menggunakan teknologi AR. (Ah, jadi kepikiran gawe game golek hantu lho.. :v Kwakakaka… kayamen wes ono ya?)
 
Pokemon makin membuat kita saat berjalan-jalan lebih tertib untuk memantengi smartphone. Begitu ada drrtt..drrtt.. notifikasi ada monster Pokemon, tiba-tiba saja kita akan berhenti untuk sekadar menangkapnya.
 
Atau ia juga membuat kita memiliki perspektif lain saat mengunjungi suatu tempat. Bukan lagi cuma di foto dan di uplot, itu mainstream bero, tapi juga bertanya: monster Pokemon apa yang ada disini?
 
Seru? Bagi yang sudah memainkannya, akan berkata,”Ya, ini seru juga! Teringat dulu saat masih bercita-cita punya Pokebol dan ada Pikachu di pundak.”
 
Maka, Pokemon Go mungkin memadukan dua hal itu: kenangan memori gen Y dan something new and different (walau gak baru-baru amat lho…)
 
(Bergaya) Pengamat Media