Fiksi

Adalah pada masa Khalifah Al-Ma’mun peristiwa ini terjadi. Saat itu ada pandangan yang dianut oleh Khalifah, yang kemudian memaksakan kepada para ulama dan rakyatnya, bahwa Al-Quran adalah mahkluk.

Konsekuensi bagi para ulama yang menentang pernyataan itu adalah dibunuh. Nah, sejarah mencatat bahwa ketika itu kebanyakan ulama memandang bahwa mereka berada dalam keadaan udzur yang menyebabkan mereka bebas untuk memilih sikap untuk pura-pura menyetujui atau menentangnya.

Adapun Imam Ahmad bi Hanbal dan Muhammad bin Nuh rahimahumallah, memilih sikap untuk tetap mengucapkan, “Al-Quran Kalamullah yang diturunkan dan bukan mahkluk.” Karena keyakinan itu kemudian Imam Ahmad mendapatkan cobaan dan ujian yang datang dari Khalifah.

Namun Imam Ahmad tak gentar. Kalau kata ustadz, seandainya ketika itu Imam Ahmad rahimahullah mengatakan “Al-Qur’an itu makhluk”, walaupun sambil brdiplomasi atau karena terpaksa, maka semua manusia akan mengatakan “Al-Qur’an itu makhluk”, akan tetapi beliau tegar dan istiqamah mengucapkan “Al-Qur’an Kalamullah diturunkan dan bukan makhluk!” dan justru hal itu menghasilkan kesudahan yang baik.

Terus kalau kitab suci adalah fiksi?

Mbuhlah, aku yo ra paham.

9e4ec51a1f059f3195f0ee9ddb4f6409

Yutub

Selama ini saya mengamati bahwa target iklan-iklan adalah orang-orang yang usianya 23 tahun ke atas. Tipe usia yang kira-kira sudah punya duit.
 
Tapi beberapa hari terakhir saya baru sadar bahwa sebenarnya ada satu lagi target yang lebih potensial.
 
Yaitu anak-anak usia 2-10 tahun.
 
Asumsi ini saya dapatkan setelah mendapati perilaku yang tak biasa pada diri ponakan saya, Arjun. Usianya bulan Maret besok genap 3 tahun.
 
Ia sama seperti anak-anak balita yang lain, suka makan es krim. Terkadang ia akan merajuk pada saya atau ibunya. Minta diajak ke “gelato;” cafe es krim ala Italia yang mahal itu tuh. Tapi rajukannya biasanya selesai dengan pengalihan isu main “bego.”
 
“Bego” itu truk mainan. Aslinya dilafazkan back hoe, cuma kebanyakan kita menyebutnya “bego.”
 
Tapi beberapa hari terakhir rasanya permintaan es krimnya kok jadi tidak wajar. Kemarin siang ia ngamuk. Minta es krim di alpamart. Segala bujuk rayu dan pengalihan isu tidak mempan.
 
Ya, sudahlah.
 
Daripada melihat Arjun yang lucu dan pintar itu kena marah ibunya, terpaksa saya meladeni keinginannya.
 
Ya, saya tahu.
 
Terkadang tindakan saya ini salah. Berdasarkan tulisan-tulisan parenting di fanspage dokter anak, harusnya kita tidak menuruti semua keinginan anak. Apalagi kalau dia memakai cara ngamuk untuk menuntut orang-orang memenuhi keinginannya.
 
Tapi ya tahu sendirilah.
 
Saya antar ia ke alpamart. Saya wanti-wanti untuk cuma membeli satu es krim saja. Ia menolak. Ia acungkan lima jari ke muka saya. “Segini,” katanya.
 
“Oke,” kata saya. Saya berpikir bakal bisa membujuknya untuk membeli satu saja.
 
Ternyata pikiran saya meleset.
 
Begitu sampai alpamart ia langsung menuju kotak Walls terkutuk itu. Dan dengan tangan mungilnya ia ambil 5 paddlepop. Langsung!! Gak cuma itu, ia pun sudah bisa milih es yang rainbow!!
 
Tobyaat..
 
Lebih tobyaat lagi, sesampainya di rumah Arjun makan semua es krimnya itu sendirian.
 
“Gak boleh. Ndak belbagi,” katanya sambil mendekap es krimnya.
 
Saya kemudian berpikir darimana Arjun belajar bertingkah begitu?
 
Jawaban itu hadir saat saya melihatnya sedang main handphone ibunya. Biasanya ia cuma melihat mobil, truk, atau film tayo. Tapi saat itu ia sedang nonton “review es krim yang dilakukan anak-anak.”
 
Woo, lha ini akar masalahnya. Anak-anak di video itu saya lihat juga memborong paddlepop dan jenisnya juga rainbow. Es yang warna warni.
 
Woalah, bul Arjun niru yutub.
 
Seperti yang kita tahu bahwa anak-anak balita saat ini akrab sekali dengan gadget. Wabilkhusus nonton yutub. Dan behaviour anak-anak saat menonton yutub itu diulang-ulang. Dan kemudian menirukannya.
 
Tentu inilah salah satu alasan yang membuat viewer video “cuma makan es krim doang” bisa ditonton jutaan kali. Dan video yang begini tidak cuma ada satu lho, tapi banyak.
 
Jutaan kali Bos…!!
 
Bayangkan bila 50% saja anak-anak yang nonton itu lalu merengek-rengek minta es krim. Gak cuma satu lagi, tapi langsung mborong!
 
Maka kalau kita bisa ngiklan langsung pada anak-anak balita, mungkin hasilnya akan lebih powerfull. Karena “daya paksa” anak-anak ke orang tuanya umumnya lebih kuat dan lebih menghasilkan.
 
Saya tidak tahu apakah hal ini bisa dieksploitasi lebih lanjut. Dicoba dengan berbagai produk ataupun jasa. Mungkin Anda bisa mencobanya, atau barangkali sudah mencoba?
 
Mungkin juga banyak orang yang sudah tahu hal yang saya omongin di atas.
 
Ya, memang tidak ada yang baru dibawah kolong langit. Tapi, jujur saja, saya sendiri baru “ngeh” tadi siang.
 
Dan kalau Anda juga baru “ngeh” setelah membaca tulisan ini, lalu mencobanya dan berhasil memperoleh profit yang gede, naah, kudu bayar royalti ke ane tuh. 😀
 
Atau pengen konsultasi lebih lanjut gimana cara memanfaatkan behaviour anak-anak balita? Ya, kalau yang itu premium thoo.. Wakakaka 😀