Kampus yang Berpihak

Kampus yang Berpihak

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral. -Dante, dalam Inferno karangan Dan Brown-

Beberapa waktu lalu kita sama-sama mendengar, sebuah forum guru besar menyatakan dukungan kepada salah satu capres. Sebelumnya kita sudah sama-sama mengetahui, rektor universitas swasta yang dengan terang dan jelas menjadi tim sukses capres. Dan akhir-akhir ini ada berita pula soal universitas yang membantah memberikan dukungan pada capres. Universitas, kampus, harus netral. Walaupun sebenarnya hal itu merupakan paradoks.

Menyebut kampus netral namun disaat yang sama para “penghuni kampusnya” ramai-ramai menjadi tim sukses. Lantas kenapa tidak sekalian saja menyebut kampus berpihak?

Posisi kampus

Sebenarnya bagaimana harus memosisikan kampus dalam arena politik? Bicara hal ini maka kita perlu menengok kembali perjalanan sejarah bangsa ini. Perjuangan bangsa ini tak bisa dilepaskan dari para intelektual. Bahkan para intelektual, para mahasiswa inilah yang selalu terlibat aktif dalam melahirkan Indonesia. Setelah merdeka, peran kampus juga tak berhenti. Kampus tetap menjadi garda depan dalam mengusung perubahan. Jatuhnya rezim orde lama hingga orde baru tak dapat dipungkiri bahwa kampus memegang peranan penting.

Saat ini, kampus seakan gamang. Masa transisi demokrasi telah membuat perubahan besar dalam perpolitikan Indonesia, namun kampus seakan-akan berjalan ditempat. Kampus yang awalnya menjadi pendorong perubahan kini terkesan bingung menghadapi perubahan. Kampus cenderung “malu-malu kucing” dalam memainkan peran dalam perpolitikan nasional.

Perlukah kampus berpihak?

Keberpihakan dimulai dari sikap. Dan sikap muncul dari pemikiran. Kampus adalah melting pot ide. Tempat gagasan digodok dan dimatangkan sebelum di hidangkan dalam kebijakan. Selain itu kampus juga mata air pemikiran dan gagasan. Di kampuslah berbagai gagasan muncul, tumbuh dan berkembang. Kampus adalah tempat dimana setiap gagasan disemai dan menemukan nalar ilmiahnya.

Dan politik selalu bicara tentang public polcy yang merupakan muara antara ide dan kekuasaan. Sebuah ide hanya akan jadi angan semata bila tidak diimplementasikan. Dan sebuah implementasi kebijakan tanpa ide hanyalah sebuah kesia-siaan tanpa disain dan tujuan. Bisa jadi hanya iseng belaka. Coba-coba berhadiah layaknya undian.

Maka sejatinya keberpihakan pada seseorang karena adanya kesamaan ide dan gagasan bukanlah hal tabu. Bahkan hal itu bisa jadi malah sebuah keniscayaan. Asalkan yang dikedepankan adalah akal sehat dan logika ilmiah. Manusia selalu membutuhkan orang lain untuk merealisasikan cita-citanya. Tak bisa berbuat sendirian.

Ide yang hanya dinikmati sendiri adalah mabuk dalam ilusi. Sekadar merasakan kenikmatan trance semata. Gagasan yang mandul sikap dan tindakan adalah mimpi semata. Namun ide, cita-cita, ataupun gagasan yang mendorong terjadinya gerakan perubahan adalah sebuah sumber energi dan inspirasi yang tak pernah kering.

Bila aktor kampus tak mampu menunjukkan sikap dan keberpihakan, maka ada potensi kemungkinan bahwa ia telah kehilangan makna sebagai wadah dan tempat bersemainya gagasan. Lantas apa yang kita harapkan dari sebuah kampus yang miskin gagasan?

TP Nugroho, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM Yogyakarta

Bersama Gie di Pantai

Saya membayangkan sedang bersama Gie. Kami berdiri di tepi pantai, memandang ombak yang bergulung-gulung. Setahuku pantai adalah salah satu tempat favorit Gie, selain Pangrango tentunya. Baginya Pangrango adalah lambang keberanian yang selalu ia cintai.

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Begitulah ia melukiskan kecintaannya pada gunung itu.

Namun pantai adalah tempat ia pertama kali bertemu dengan keindahan alam. Tempat pertama ia habiskan keceriaan bersama sahabatnya, Han. Waktu itu mereka berlari berkejaran menerjang ombak.

Entah karena teringat dengan Han, atau entah karena apa, wajahnya terlihat muram. Aku bingung dibuatnya. Mau ku ajak ngobrol –mungkin tentang wanita, aku sungkan. Ia hanya memandang lurus ke depan, ke hamparan ombak yang tak henti-hentinya bergulung.

“Aku heran dengan mahasiswa sekarang,” katanya tiba-tiba. Seakan-akan ia bisa membaca pikiranku yang heran dengan sikap diamnya. Baca lebih lanjut

Mencari Format Gerakan Mahasiswa (baru)…

Usia saya baru 12 tahun ketika terjadi huru hara politik saat itu. Saya tidak tahu apa-apa. Saya baru tahu bahwa 1998 merupakan tahun penting ketika duduk dibangku SMP dan SMA. Itupun dari pelajaran sejarah.

Saya baru sadar bahwa kala itu Presiden Suharto akhirnya tumbang setelah puluhan tahun berkuasa. Dan pada tahun itulah sejarah Indonesia memasuki babak baru.

Setelah kuliah, 2006, saya mulai terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Hal itu membuat wawasan saya lebih terbuka ketika mencermati gerakan organisasi kemahasiswaan. Walaupun keterlibatan saya dalam organisasi kemahasiswaan kampus hanya berumur 4 tahun saja.

Maka dalam hal ini pun sebenarnya saya masih “mencari ” dan terus mencari format gerakan bagi organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bukan itu saja tapi juga mampu mendobrak kebuntuan.

Apa yang saya sampaikan mungkin belum sempurna, dan hanya berdasar pengalaman dangkal saja.

“…Seniman besar, entah dia pelukis, entah apa, entah pemimpin, entah panglima perang, adalah karena hidupnya disarati dan dilandasi pengalaman-pengalaman besar, intensif; perasaan, batin, atau badan. Tanpa pengalaman besar, kebesaran seseorang khayali semata: kebesarannya dibuat karena tipuan orang-orang mata duitan..”

Saya belumlah orang yang memiliki pengalaman besar. Saya hanya mencoba berpendapat, dan pendapat seseorang –berdasar teori sosiologi- ada tiga kemungkinan; diterima, ditolak, atau diterima dengan syarat.

Ketika demonstrasi terasa semakin tumpul…

Sebagai sebuah kekuatan politik, gerakan organisasi kemahasiswaan masih memiliki legitimasi moral yang kuat. Sayangnya, meskipun harapan tinggi masih diletakkan di pundak mahasiswa, akhir-akhir ini terasa ada kecenderungan gerakan politik mahasiswa kian melempem dalam menghadapai berbagai permasalahan riil bangsa saat ini.

Bahkan Amien Rais, ikon gerakan reformasi 1998, sempat melontarkan pernyataan bahwa gerakan mahasiswa yang dulu bersemangat kini seperti “mati suri.” Aksi demonstrasi yang dilakukan untuk kepentingan rakyat tak banyak digelar, dan mahasiswa lebih banyak dibelenggu kemewahan hidup akibat kapitalisme. Baca lebih lanjut

Pengasong Koran itu Seorang Mahasiswa, Kawan Saya

Saya mengenalnya sekitar tahun 2008. Sebut saja namanya Ratman. Tinggi sekitar 173 cm dan kulit nyahitam. Ia nampak seperti mahasiswa pada umumnya, dengan sepatu yang biasa, pakaian biasa, serta sikap pun biasa saja.

Ia mengambil jurusan yang berbeda dengan saya, tapi tetap dalam satu fakultas. Saya tidak begitu dekat dengan Ratman, dalam arti tidak setiap hari kami bisa mengobrol. Saya juga tidak tahu berapa saudaranya, dimana alamat rumahnya, siapa orang tuanya, dan hal-hal pribadi lainnya.

Tapi anehnya ia bisa tahu siapa ayah dan ibu saya serta tempat tinggal saya. Ia begitu mengenal dengan dekat pribadi ayah.

Awalnya saya mengira bahwa ia hanyalah seperti kebanyakan mahasiswa, yang kuliah, mengerjakan tugas atau hang out bersama teman-teman lainnya. Tapi penilaian saya berubah seketika. Ini terjadi saat saya melihatnya sebagai pengasong koran di perempatan lampu merah!

Ya, saya tidak salah lihat! Saya yakin betul itu Ratman. Dan tambah yakin ketika ia datang dan menyapa saya yang sedang menaiki sepeda motor dan menuggu lampu hijau.

“Dari kampus bro,” begitu sapanya.

Saya terheran-heran. Si Ratman yang saya jumpai sebagai mahasiswa biasa saja ternyata berusaha mencari nafkah dengan mengasong koran di perempatan Jombor, Sleman. Baca lebih lanjut

Mahasiswa (tanpa/penuh)* kesadaran

Tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita menyanyikan lagu anak sembari berlari dan bermain ayunan di Taman Kanak-Kanak (TK). Tempo hari kita tersenyum gembira memakai seragam merah-putih. Dan kemarin, seperti dalam mimpi saja, kita merayakan kelulusan. Bahkan seragam putih-abu-abu yang dipenuhi “prasasti” coretan pun masih tersimpan rapi dalam kamar kita.

Tak terasa, kini kita telah menyandang status: mahasiswa.

Tapi hanya sebatas itukah? Berganti status dan kartu identitas? Berganti seragam, dari putih-abu-abu menjadi pakaian bebas-rapi? Cukupkah?

Mahasiswa adalah proses pematangan intelektual. Sukarno menemukan geliat kebangsaannya semenjak duduk di bangku kuliah. Bahkan ia tak gentar dengan Rektornya (waktu itu orang Belanda) yang berusaha menghentikan aktivitas gerakan kebangsaan yang dilakoninya. Senada dengan Sukarno, Hatta pun menekuni gerakan Indische Vereeniging sejak awal kuliah, yang menjadi kawah candrimuka Hatta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan karena aktivitas politiknya, Hatta kemudian disidangkan di pengadilan Belanda pada Maret 1928. Namun ia tunjukkan keyakinan akan Indonesia Merdeka. Dalam pledoinya, Hatta berkata:

“Masa mudanya bukan bulan terang seperti masa mudanya putra bangsa yang merdeka. Pada masa mudanya mereka menderita dan memberikan berbagai pengorbanan. Tetapi, semuanya ini membina pikirannya dan karakternya dalam perjuangan untuk cita-cita yang mengubik dan memanggil. panggilan suara rakyat Indonesia yang banyak serasa terdengar dan menggembirakan mereka, dan bersama dengan rakyat banyak itu mereka mau berjuang.
….
Hanya satu yang dapat disebut tanah airku. ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.”

Akhirnya, kita mengenal Sukarno sekaligus Hatta sebagai orang yang mengantarkan Indonesia mengetuk pintu kemerdekaan. Baca lebih lanjut