Ivy

Ivy dalam cerita Batman adalah wanita ahli tanaman. Dari tanaman itu ia mampu membuat racun yang akhirnya menimbulkan kekacauan di Gotham.

Ivy selalu ditampilkan dengan baju warna hijau, rambut merah, dan saat di rumah ia akan berada di rumah kaca dengan latar belakang putih dan tanaman di sekelilingnya.

Saya tidak tahu apa hubungan antara Poison Ivy dengan Ivy Coffee. Atau memang sebenarnya tak ada hubungannya. Mungkin cuma saya saja, yang baru gandrung nonton Gotham the Series, melihat cafe itu mengingatkan pada rumah kaca Poison Ivy.

Ivy Coffe terletak di pinggir jalan, saya lupa nama jalannya. Kalau Anda tahu terminal condong catur, nah lurus ikuti jalan saja ke utara. Sampai nemu pertigaan yang kalau ke arah barat menuju Ponpes Budi Mulia, ikuti jalan ke utara. Lurus terus sampai nemu bangunan seperti rumah kaca.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, warna putih menjadi warna dominan Ivy Coffee. Bagian depannya adalah kaca bening, sehingga kita bisa melihat orang-orang yang sedang ngopi di dalamnya. Pun yang didalam bisa melihat keluar.

Di sana sini dihiasi tanaman-tanaman hijau dalam pot-pot kecil. Nah, yang menarik, di bagian terbukanya, dihiasi dengan lampu-lampu yang menggantung. Mirip-miriplah dengan yang ada di video klipnya John Legend yang duet sama Lindsey Stirling.

Begitulah, dengan kombinasi itu semua maka ngopi di Ivy Coffee saat senja hari, sambil menikmati pemandangan sawah, mendengarkan Perfect-nya Ed Sheeran, sembari ngobrol ngalor ngidul, bicara tentang tingkah anak-anak, adalah sebuah hal yang so romantic. Begitu menggoda dicoba berdua.

Lalu, soal kopinya.

Ya, soal kopi. Bagaimanapun juga Ivy ini adalah kedai kopi. Waktu saya berkunjung kesana, saya pesan sunda gulali. Biji kopi ini termasuk jenis kopi Arabica, tentu saja. Rasanya sedikit manis, disajikan dalam botol kecil. Kalau orang tidak tahu, bisa dikira lagi minum whisky. Untuk harga 25ribuan satu gelas kopi, saya kira sepadan. Memang tidak istimewa, tapi enak.

Tapi di era kekinian, bukankah mendapatkan spot foto yang menarik lebih penting dari segelas rasa kopi?

Apakah Tao Ming Tse Suka Minum Kopi?

Saya tidak pernah tahu di Taiwan ada kopi. Bagi saya Taiwan adalah seucil episode tentang Tao Ming Tse dan F4-nya. Membayangkan menjadi pria-pria tampan yang jadi rebutan gadis-gadis. Eh, laksana sinetron kita, malah jatuh cinta pada gadis desa sederhana.

Kisah Meteor Garden itulah yang menemani dewasa generasi -terutama kaum hawa- seusia saya. Nah, barisan F4 itu kini sudah memasuki usia 40 tahun. Namun konon kabarnya wajahnya masih mirip anak dua puluhan. Yah, semacam saya ini yang kadang dibilang baby face.

Tempo lalu saya berkesempatan mencicipi kopi asli dari Taiwan. (Tentu saja gratisan. Gitu aja kok ya harus ditanyakan tho) Dihidangkan dengan metode “tubruk.” Saya cicipi cita rasanya cenderung “light.” Ringan. Tak terlalu asam, juga tidak terlampau berat alias pahit.

Saya menikmatinya tanpa tambahan gula ataupun krimer. Benar-benar ingin menjajal rasa aslinya yang polos. Dan ternyata memang kopi jenis ini cocok untuk dinikmati mereka-mereka golongan yang ingin ngopi ringan-ringan saja. Cocok juga untuk para mualaf kopi agar tidak terlalu kaget dengan rasa pahit.

Katanya, kopi di Taiwan baru dibudiayakan sejak 30 tahun yang lalu. Sungguh terlalu telatnya. Ketinggalan jaman. Karena di Indonesia sendiri kopi sudah menjadi komoditi utama sejak 300 tahun yang lalu. Kemajuan kita dalam perkopian ternyata lebih dulu 10 kali lipat dari Taiwan.

Pengetahuan saya tentang kopi Taiwan tentu tak seberapa. Hanya mengandalkan hasil googling dan informasi disana sini. Kalau kamu ingin menjajal dan menjelajahi seluk beluk kopi Taiwan, baiknya merasakan sendiri. Pergilah kesana dan tujulah daerah Dongshan.

Dongshan ini katanya merupakan area dimana kopi jadi sajian utama di Taiwan. “Ia adalah sebuah jalan di pegunungan bagian tengah Taiwan, sepanjang jalan tersebut berjajar banyak sekali coffee shop sehingga disebut Dongshan Coffee Road.

Selain itu, Dongshan juga terkenal sebagai daerah tetirah utama di Taiwan, hawanya yang dingin dan panoramanya yang hijau membuat Dongshan menjadi tujuan orang-orang dari kota-kota di Taiwan yang ingin berlibur sejenak,” kata hasil ngutip yang sumbernya dirahasiakan.

Kembali pada pertanyaan diatas; Apakah Tao Ming Tse suka minum kopi?

Kalau boleh menebak; saya kira tidak.

Alasannya?

Yah, seperti kata ustadz Salim A. Fillah, bahwa minum kopi itu harus ditafakuri, dan saya kira Tao Ming Tse tidak perlu bertafakur, merenung dan membuktikan. Karena minum kopi, bagi orang seperti #treeett….sensor# adalah cara untuk membuktikan mana yang lebih pahit; kopi atau kisah cinta mereka.  😝

 

Cold Brew

Kalau caramu minum kopi dingin dengan jalan menuangkan kopi dalam gelas es batu, baiklah, itu cara yang simpel. Tidak rumit. Cocok diminum saat cuaca sedang panas-panasnya. Sambil naik motor, tangan yang satu memegang plastik isi es kopi dengan sedotan. Lalu meminumnya di lampu merah.
 
Okay. Tapi ada cara yang lebih baik. Lebih elegan, konon katanya begitu. Yah, jan-jane bahasa sederhananya; luweh larang. Nek ra dijajakke jelas mboros.
 
Yaitu dengan metode cold brew.
 
Cold brew ini adalah kopi dingin yang dibuat dengan cara “perendaman” selama minimal 8 jam.
 
Konon kabarnya, metode ini bisa menghindarkan kopi teroksidasi oleh suhu panas (dari air), karena itu cita rasa kopi yang diekstrasi pun menjadi lebih utuh dan menyeluruh.
 
Cold brew menggunakan faktor lamanya durasi/waktu ketimbang suhu panas untuk mengekstraksi kopi. Dan level gilingan yang umumnya dipakai dalam metode ini adalah medium-to-coarse.
 
Hasilnya adalah rasa kopi yang ringan, ada manis-manisnya, anyep, dan nyesss.
 
Konon kabarnya, alat untuk membuat cold brew sudah ditemukan tahun 1964 lalu oleh orang yang bernama Todd Simpson. Ya, tahun dimana Indonesia menjelang krisis politik. Di negeri barat sana, minum kopi cara begini ini sudah dikenal. Di negeri sini, dengan menjamurnya kedai-kedai kopi, kita, terutama saya, baru bisa menikmati cold brew. 53 tahun setelah ditemukan.
 
Kembali ke si Todd.
 
Ceritanya, si Todd ini memesan kopi di kedai kopi Guatemala. Nah, dia diberi kopi yang dingin dengan tambahan air mendidih di sampingnya.
 
“He tasted it, and he thought it was the best cup of coffee he ever had,’” kata anaknya menceritakan awal mula Todd mencicipi cold brew.
 
Jadi, kalau hidupmu anyep, agak pahit, tapi di sela-sela hari ada yang membuatmu merasa hidup terasa dikit manis-manisnya, maka kamu cocok sekali minum cold brew.
 
Seperti mantan yang tiba-tiba whatsApp, “Mas, gimana kabarnya?”
 
Anyep. Pait. Tapi rasane mak semriwing..

WhatsApp Image 2017-06-09 at 11.28.59

Geisha

Ini bukan tentang Geisha; orang yang yang terampil dalam seni tradisional Jepang seperti musik, tari, menyanyi, dan upacara minum teh. Sesosok wanita dengan bedak putih tebal, gincu merah menyala, sanggul besar dan mengenakan kimono. Dan sudah ada dalam tradisi Jepang selama lebih dari 400 tahun.
 
Gambaran kehidupan Geisha bisa dilihat dalam film Memoirs of Geisha. Film ini diangkat dari buku karya Arthur Golden. Ia menulis buku itu setelah mempelajari kehidupan seorang Geisah selama 10 tahunan.
 
Tapi ini bukan tentang itu.
 
Bukan pula tentang Geisha dari Indonesia. Grup band dengan vokalis berambut hitam lurus, bergingsul, berlesung pipit, dan bersuara berat memikat. Dulu lagu-lagunya seringkali saya putar untuk menemani bermain game Plans vs Zombie.
 
Tentu bukan tentang mereka.
 
Tapi ini soal kopi.
 
Ya, kopi geisha.
 
Konon kabarnya nama aslinya bukan Geisha, tapi Gesha. Mungkin karena “ilat jowo” lebih mudah menyebutnya sebagai geisha. Lebih enak di dengar.
 
Gesha adalah sebuah distrik kota di bagian barat Eithopia. Ya, Eithopia yang terkenal sebagai negara yang sering dilanda kelaparan itu. Pada awal abad ke-19 biji kopi ini mengalami perjalanan yang cukup jauh. Oleh para imigran dan saudagar, biji kopi Gesha dibawa ke Kosta Rika. Semenjak itulah perjalanan kopi Gesha berlanjut terus sampai mendiami wilayah Panama.
 
Tanaman kopi Geisha ini, dari berbagai info, memang punya khas. Ciri buahnya panjang, bodi ringan dan memiliki rasa bawaan madu plus jeruk yang kompleks. Harganya? Hemm.. konon kabarnya Panama Geisha ini termasuk jajaran kopi berharga mahal. Wajar sih, karena memang biji kopi ini langganan juara dalam ajang Specialty Coffe Association of Panama.
 
Malam itu saya mencoba Geisha, di Darat Coffe Lab. Lokasinya di Maguwo. Agak ndlesep. Dari ring road timur itu, yang ada patung orang memanah itu, masuk gang ke barat. Lurus ikuti jalan sampai nemu masjid.
 
Setelahnya ada belokan ke kiri, ikuti. Sekitar 50 meter ada rumah dengan pagar hitam dengan bangku-bangku dan lampu-lampu yang tergantung. Sebuah calon kedai kopi, yang kata si empunya, bakal di rilis abis lebaran.
 
Begitu masuk, seperti namanya, Darat Coffe Lab., langsung disuguhi dengan peralatan pembuat kopi macam-macam. Gelas-gelas kimia, biji-biji kopi mentah, katalog dan buku soal kopi dan deretan komik One Piece dan Naruto asli dari negerinya.
 
Saya kesana tentu bersama sang mastah Pecinta Kopi, dan pastinya tidak mbayar.
 
Memang geisha ini menjadi kopi yang sesuai namanya; penghibur.
 
Sebelum minum kopinya saja, kita sudah dihibur dengan aroma yang wangi. Baunya -walau kopi- tapi bisa ada aroma bunga. Warnanya jernih. Coklat muda, tidak terlalu tua.
 
Rasa asamnya lembut, terasa pula notes lemon. Yang menarik, setelah melewati kerongkongan pun di lidah masih sedikit terasa notes-nya.
 
Tentu saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut soal rasa dari geisha ini. Lidah saya tak bisa merasakan rasa dengan detil dan rinci. Bukan ahli icip-icip soalnya.
 
Yang saya tahu cuma kopi yang baik tak pernah menyakiti. Seperti kenangan lama yang datang tanpa menabur cuka pada luka lama.
 
“…Oh, yesterday came suddenly..
Why she had to go I don’t know she wouldn’t say
I said something wrong, now I long for yesterday…”
WhatsApp Image 2017-05-31 at 18.02.23

Menoreh(kan) Kopi

Menoreh(kan) Kopi

Petualangan mencari kopi selayaknya seperti petualangan Ninja Hattori -sebuah film kartun di masa kecil dahulu dengan lagu yang masih terngiang hingga kini: mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah.

Itulah yang terjadi malam itu, saat saya dan beberapa rekan mencoba mencari sebuah warung kopi yang berada di bukit Menoreh, Kulon Progo.

Berbekal Google Maps dan Global Pitakonan Sistem, warung kopi Menoreh Pak Rohmat menawarkan suasana adem, hijau, diselingi suara serangga dan tentu yang dicari: secangkir hangat robusta ditemani telo godog, dan gorengan.

Warung itu sederhana saja. Menjadi satu kompleks dengan rumah sang empunya. Begitu kami sampai di lokasi, Pak Rohmat langsung datang menyambut kami dengan ramah. Bertanya darimana sembari mengarahkan kami untuk menuju sebuah gazebo kecil yang terbuat dari kayu dan bambu dan cahaya lampu yang tak terlampau terang, di belakang rumahnya.

“Kalau pagi, di sebelah sana bisa bermain di air terjun, Mas,” kata Pak Rohmat sambil menunjuk sisi kanan gazebo itu.

“Oh, iyakah Pak? Bisa berenang juga?”

“Bisa, Mas. Airnya jernih. Bersih. Banyak juga kok bule yang berenang dan mandi di situ. Masih lahan milik saya itu Mas, jadi satu kompleks dengan kebun kopi,” kata Pak Rohmat.

Sayangnya saya berkunjung di malam hari, sehingga tak bisa melihatnya. Hanya terdengar suara gemericik air.

Namun, bukan itu yang penting. Yang penting adalah kopinya. Tapi ternyata saya ini tak bisa panjang lebar bicara tentang yang penting itu. Maklum saya hanyalah sekadar suka minum saja, tidak tahu detil soal mana yang robusta ataupun yang Arabica.

Maka, cukup aneh bukan?

Kami ini mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, hanya untuk minum minuman dengan rasa pahit? Sekali lagi; pahit. Sepahit kenangan bersama mantan (kalau punya… hahahaha…)

Ah, minum kopi mungkin sekadar pengingat bahwa yang pahit pun bisa dinikmati dengan penuh kekhusyukan.

Srupuuuuttt… aah…..