Prasangka Buruk Sama Teman

Suatu hari Pak Toro akan menghadiri acara pengajian di tempat Kiyai Ahmad. Ia janjian bersama temannya; Pak Aryo.

“Pokokmen aku nek ra diamfiri, ora menyang,” katanya.

“Yoh, tak amfiri. Tunggu pinggir dalan. Mengko nek wes cerak tak telpon. Suwe, tinggal,” begitu permintaan Pak Aryo.

“Yoh, siyap.”

Pak Toro pun segera bersiap-siap. Kurang lebih masih ada waktu sekitar 10 menit untuk temannya sampai di pinggir jalan dekat rumah Pak Toro, sehingga ia memutuskan untuk menunaikan sholat isya terlebih dahulu.

Namun saat sudah dapat dua rakaat, tiba-tiba hape yang ditaruh di depannya berbunyi. Dari namanya sudah terlihat bahwa yang menelpon adalah Pak Aryo.

Tanpa ragu Pak Toro langsung menyambar hapenya dan memutuskan untuk membatalkan sholatnya. “Piye?”

“Wes neng dalan, gek ndang.”

“Yoh,” jawab Pak Toro sambil mengambil baju dan tidak jadi sholat isya. “Mengko sholat isya neng lokasi wae,” begitu pikir Pak Toro.

Sesampainya di dalam mobil, Pak Toro pun bercerita bahwa ia tadi sedang sholat isya. Begitu Pak Aryo telpon ia langsung membatalkan sholatnya yang baru dapat dua rakaat.

“Loh, kepiye tho kui?” tanya Pak Aryo kaget. “Sholat kok dibatalke mergo telepon.”

“Ngene lho. Insya Allah, aku ngerti nek Gusti Allah kui pangerten. Lha nek kowe kie blas ra pangerten je. Coba nek mau ora tak angkat, lha yo nek wes jelas thok tinggal tho Booss….”

Begitu mendengarnya Pak Aryo dan yang lain pun tertawa. “Woaalaaah, sempruull…”

Itulah kelakuan para murid homeschooling yang bengal. Selalu mengutamakan prasangka baik pada Allah, dan mengedepankan prasangka buruk pada teman sendiri.