Kepemimpinan Bermakna dalam Film 12 Angry Men

Kepemimpinan Bermakna dalam Film 12 Angry Men

Berikut adalah kajian saya tentang kepemimpinan dalam film 12 Angry Men. Film ini adalah film lama yang bercerita tentang perdebatan 12 juri dalam memutuskan suatu perkara atas kasus pembunuhan. Selengkapnya saya uraikan dibawah ini.

Arti Kepemimpinan

Gary Yukl, dalam bukunya Kepemimpinan Dalam Organisasi, menerangkan beberapa definisi kepemipinan yang ia kutip dari beberapa ahli. (Yukl, 2001: 4) Kepemimpinan, menurut Hemphill dan Coons, adalah perilaku individu yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

D. Katz dan Kahn, menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin. Sedangkan Rauch dan Behling menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengarui aktivitas kelompok yang teroganisir untuk mencapai sasaran. Ada pula yang menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah kemampua individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi.

Yukl sendiri mengatakan bahwa tidak ada definisi paling benar mengenai kepemimpinan.[1] Menurutnya semua definisi merupakan masalah bagaimana pendapat itu berguna untuk meningkatkan pemahaman terhadap kepemimpinan efektif.

Namun yang perlu digarisbawahi dari semua definisi tersebut adalah, selalu ada proses pengaruh. Artinya inti dari kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dari individu kepada individu lain.

Kepemimpinan dalam 12 Angry Men

Film 12 Angry Men merupakan film tentang proses saling mempengaruhi. Secara singkat, film ini bercerita tentang 12 orang juri dalam sebuah persidangan. Sidang untuk menghukum tersangka berusia 18 tahun yang dituduh membunuh ayah kandungnya sendiri.

12 orang, yang semuanya pria, tidak saling kenal, berkumpul di dalam satu ruangan untuk memutuskan secara bulat. Awalnya 11 orang menyatakan bahwa tersangka bersalah, dan hanya ada 1 orang yang menyatakan tidak bersalah, yaitu juri ke-8. Pria ini menyatakan bahwa “tidak mudah bagiku untuk mengangkat tanganku dan mengirim seorang anak ke kursi listrik tanpa membicarakannya terlebih dahulu.”

Juri ke-8 mempunyai landasan etik dan moral yang kuat untuk tidak memutuskan sesuatu tanpa diketahui secara pasti kebenaran dan keadilan. Cerita berlanjut dengan perdebatan-perdebatan mengenai bukti-bukti dan kronologis kasus tersebut. Dalam film itu terlihat jelas perbedaan kepribadian masing-masing orang. Ada yang hanya mementingkan diri sendiri, ada tidak ambil pusing, dan ada yang ngotot dengan keyakinannya walaupun ada bukti-bukti baru yang tak dapat dibantah. Ada pula orang yang hanya mengikuti mayoritas.

Juri ke-8 berhasil menggunakan landasan moral yang ia yakini untuk mempengaruhi keputusan ke-11 orang lainnya. Sehingga pada akhir cerita keputusan yang diambil menyatakan bahwa tersangka tidak bersalah.

Seperti yang telah saya uraikan di bagian atas bahwa inti dari leadership adalah mempengaruhi. Dalam perdebatan 12 orang tersebut memang ada satu orang yang bertindak sebagai moderator. Namun dia bukanlah leader. Karena pengaruh yang ia berikan kalah kuat dari juri ke-8. Orang tersebut bertindak sebagai manajer. Mengatur jalannya dialog sesuai aturan yang berlaku.

Bennis dan Zaleznik menyebutkan bahwa kepemimpinan dan manajemen adalah berbeda secara kualitatif dan saling meniadakan. Sedangkan ahli lain berpendapat bahwa memimpin dan mengelola adalah proses yang berbeda, tetapi mereka tidak berasumsi bahwa pemimpin dan manajer merupakan jenis orang yang berbeda. Bennis dan Nanus dengan tegas menyatakan bahwa manajer adalah orang yang melakukan segala sesuatunya dengan baik dan pemimpin adalah orang yang melakukan hal dengan benar.[2]

Proses saling mempengarui tidak hanya dilakukan oleh juri ke-8, namun juga beberapa orang lainnya. Terlihat dalam film usaha mempengaruhi itu cukup kuat dilakukan oleh beberapa orang. Artinya ada proses tarik menarik pengaruh antara juri ke-8 dengan beberapa orang lainnya.

Pengaruh paling kuat adalah yang didasarkan atas keyakinan yang kuat. Keyakinan ini dipengaruhi oleh anchor seseorang. Anchor adalah sesuatu yang dipercaya oleh seorang individu sebagai andalan dalam memecahkan masalah-masalah kehidupannya. Juri ke-8 menurut saya mempunyai anchor virtues, yaitu nilai kebenaran. Virtues adalah prinsip-prinsip kehidupan yang kekal yang merupakan keniscayaan tak terbantahkan baik dalam kehidupan sosial maupun dalam bentuk hukum-hukum alam semesta[3].

Perdebatan dalam film tersebut tergambarkan proses saling mempengaruhi beberapa orang yang terlibat tidak mempunyai basis keyakinan yang kuat. Cara bicaranya memang keras dan terlihat meyakinkan namun argumen yang disampaikan jauh dari fakta dan nilai kebenaran.

Juri ke-8 mempunyai keraguan atas suatu kejadian, dan ia pertanyakan untuk mencari kebenaran. Satu per satu fakta-fakta dapat diungkap dan menghasilkan satu kesimpulan yang benar. Hal itu ia jabarkan dengan menggunakan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik. Kepribadiannya yang tenang dan bersahabat serta terbuka membuat beberapa orang menjadi tertarik dengan gagasan yang ia bawa dan terpengaruh dengannya.

Kepemimpinan membutuhkan proses dyadic, yaitu proses pengaruh timbal-balik antara pemimpin dengan orang lain. Teori ini menekankan bahwa seorang pemimpin perlu mengembangkan hubungan yang bekerjasama dan saling mempercayai dengan pengikut dan bagaimana mempengaruhi pengikut agar lebih termotivasi dan dengan senang hati melakukan apa yang dimaksud oleh pemimpin[4]. Dalam proses inilah seorang pemimpin memerlukan skill komunikasi interpersonal yang baik.

Proses leadership in action yang ditunjukkan oleh juri ke-8 dapat digambarkan dalam bagan berikut;

Kepemimpinan bermakna

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh juri ke-8 tidak hanya merupakan model kepemimpinan transformasional semata. Kepemimpinan transformasional disebut oleh Roger J. Givens menekankan pada aspek menginspirasi anak buah dengan nilai yang diyakini. Selengkapnya Roger J. Givens (2008) menyatakan bahwa;

“transformational leaders inspire followers to accomplish more by concentrating on the follower’s values and helping the follower align these values with the values of the organization.”

Kepemimpinan transformasional lebih menekankan pada memotivasi bawahan dalam proses mencapai tujuan pekerjaan melalui penyusunan visi, cita-cta dan nilai moral. Kepemimpinan transformasional lebih berdasar pada tipe-tipe reaksi spesifik dari bawahannya, dan bukan kepada karakteristik pemimpinnya. Kepemimpinan transformasional dapat merubah budaya bahkan lingkungan dari sebuah organisasi (Nikezic et al, 2012).

Kepemipinan yang ditunjukkan dalam film tersebut juga merupakan kepemimpinan bermakna. Marshal dan Molly G. Saskhin menyebutkan tentang kepemimpinan bermakna, yaitu;

“Terdapat bukti yang jelas bahwa kepemimpinan memang bermakna. Para pemimpin membantu mengurangi keraguan dan ketidakpastian dalam hidup kita. Mereka melakukannya lewat tindakan-tindakan konstruktif yang menggunakan kekuatan-kekuatan sosial yang kompleks untuk mencapai tujuan dan sasaran kongkret jangka panjang. Tetapi, mereka melakukan lebih dari itu: mereka membuat makna. Maksudnya, mereka memberikan alasan-alasan yang jelas dan positif untuk suatu tujuan, tindakan dan pencapaian mereka. Maka, satu alasan bahwa kepemimpinan menjadi bermakna ialah karena para pemimpimpin menambahkan kejelasan dan araha bagi kehidupan dan membuat kehidupan itu menjadi lebih berarti.[5]

 

Maka apabila melihat uraian dari Marhsal dan Molly G. Saskhin tersebut, juri ke-8 telah mampu membuat tindakan juri yang lain untuk mempunyai alasan yang jelas, serta bermakna dalam mempengaruhi kepribadian mereka. Karena terlihat dari film tersebut berubahnya kepribadian masing-masing orang. Ada juri yang dari orang yang hanya mengandalkan ego menjadi lebih respek terhadap orang lain. Dari orang yang tidak peduli menjadi lebih peduli dan empati.

Akhirnya film 12 Angry Men memberikan satu gambaran tentang leadership in action yang amat baik. Leadership yang berlandaskan pada nilai dan mampu mempengaruhi mayoritas. Leadership yang tidak hanya untuk kepentingan pribadi namun mengedepankan kebenaran.

 

 

Referensi:

Bagus Riyono. 2012. Motivasi Dengan Perspektif Psikologi Islam. Yogyakarta: Quality Publishing.

Marshall and Molly G. Saskhin. 2003. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Nikezic, S., S. Puric, dan J. Puric, 2012, Transcational and Transformational Leadership: Development Through Changes, International Journal for Quality Research Vol.6(3): 285-296.

Roger J. Givens. 2008. Transformational Leadership: The Impact on Organizational and Personal Outcomes. Emerging Leadership Journeys, Vol. 1 Iss. 1, 2008, pp. 4-24.

Yukl, G. 2001. Kepemipinan Dalam Organisasi. Jakarta: Indeks

 

[1] Dalam buku Kepemimpinan dalam organisasi, hal 22.

[2] Dalam Gary Yukl, 2001: 6-7

[3] Dalam buku Bagus Riyono, Motivasi Dengan Perspektif Psikologi Islami hal. 197

[4] Dalam Gery Yukl, 2001: 17

[5] Mashal dan Moll G. Saskhin dalam buku Prinsip-Prinsip Kepemimpinan hal. 9.

Kepemimpinan “Juragan” Kunci keberhasilan Pemkot

Pola kepemimpinan “juragan” walikota diakui sebagai kunci keberhasilan pemerintah kota  (pemkot) Yogya menjadi kota yang bersih. Pola kepemimpinan ini, walikota menempatkan diri sebagai kepala pelayanan yang responsif dan akomodatif atas kepentingan masyarakat. Ia bersifat otoriter terhadap birokrasi, tapi demokratis terhadap rakyat. Hasilnya, kota Yogya termasuk dalam pemkot yang bersih, dan hanya 3% dari seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh R. Widodo Putro, MM (Dosen ilmu pemerintahan STPMD-AMD) dalam Stadium General Musyawarah daerah KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) kota Yogya, di Gedung Pusat bahasa UIN Sunan kalijaga, Sabtu (18/6). Hadir pula sebagai narasumber Irsyad Thamrin, SH (Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta) serta Ardiyanto (DPRD Kota Yogya).

Widodo melanjutkan, bahwa kepemipinan Yogya tidak lepas dari budaya Jawa (agraris) yang mengutamakan suasana harmonis antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan alam dan pimpinan dengan rakyat. “Filosofis kepemimpinan di Yogya meliputi hamengku, hamangkulan, hamangkoni serta berbudi bawa laksana, ambeg adil para marta. Ungkapan ini merupakan gambaran kultur masyarakat yang paternalistik dan kepemimpinan yang kuat dan adil,” ujarnya. Baca lebih lanjut