Rumah Baru

rumah adalah sebuah tempat surga

rumah adalah sebuah tempat surga

*ini tulisan lama saya, namun ternyata belum saya upload di blog. Silahkan….:)

Rumah Baru
: untuk ruang yang disebut rumah.

Panas ! Panas sekali. Mungkin inilah rasanya ayam goreng atau pun kue-kue yang dikukus dalam oven. Huuff…Aku berjalan tergesa-gesa untuk segera tiba di ‘rumah’. Setelah berada dalam ruang kuliah yang menjelma menjadi oven selama 100 menit, aku ingin kembali pulang. Menyejukkan diri pada ruang 6 kali 3 meter.

Kawan,
Kalaulah kuliah, amanah atau apa pun itu kita anggap sebagai sebuah medan perjuangan, maka perjuangan sejauh apa pun harus punya tempat kembali. Rumah itulah tempat kembali kita. Rumah itulah oase dalam perjalanan panjang kita. Walaupun sebanarnya suhu udara di dalam rumah itu sama dengan suhu di luar rumah, tapi entah kenapa rumah selalu terasa menyejukkan. Walaupun keadaan yang ada di dalam rumah pun jauh dari unsur kerapian, selalu saja rumah terasa nyaman.

Kawan,
Tidaklah penting apakah rumah kita terbuat dari lantai emas atau karpet butut. Tidaklah penting apakah rumah kita itu memiliki Air Conditioner atau kipas angin. Bahkan tidak penting pula apakah rumah kita itu luas atau sempit. Karena pada dasarnya rumah hanyalah kisah tentang bagaimana kita menjadi. Maka sejatinya rumah bukanlah sekedar bangunan fisik saja, tetapi rumah ialah bangunan makna. Tidak hanya terdiri dari karpet, komputer, loker, stumpuk buku ataupun pajangan ‘rekor Indonesia’ semata, tetapi juga terdiri dari orang-orang dimana kita bergaul, bertukar pikiran, berinteraksi, bercanda bertengkar dan berbagi rasa bersama penghuni lainnya. Rumah ialah kepribadian kita. Dari rumahlah kita menggoreskan cerita tentang bagaimana kita membentuk diri.

Kawan,
Rumahlah tempat kita bermula dan tempat kita kembali. Separo perjalanan akan senantiasa kita habiskan di rumah. Maka haruslah timbul kesadaran dalam diri kita bahwa rumah mempunyai kekuatan tak ternilai. Layaknya mata air yang memberikan kita kesegaran dan kesejukan. Dan tahukah engkau, kawan, bahwa tidak ada yang lebih gersang dari hidup yang tak menemukan semangat dari rumah. Sungguh sangat menyedihkan bagi orang-orang yang mendapati rumahnya sebagai ‘rumah angker’. Rumah harus mampu memberikan sebuah alasan mengapa kita harus tetap hidup dan bergerak menuntaskan tugas-tugas kita. Kita harus menemukan itu di dalam rumah, karena percayalah kawan, selain di rumah kita tidak akan pernah menemukannya di tempat lain.

Kawan,
Hanya di rumahlah kita bisa jujur terhadap diri sendiri. Hanya di rumahlah kita menampilkan kita yang apa adanya. Karena sering kali kita menjaga image dan citra yang terkadang harus dibayar mahal pada saat berada di luar rumah. Maka nilai kejujuran kita diawali dari bagaimana kehadiran orang-orang yang ada di rumah itu sendiri. Sudah semestinya tak akan pernah ada rasa keterasingan di dalam rumah. Semua hadir sepenuh jiwa dan raga dengan penuh keberterimaan. Tak ada yang merasa ksesepian. Tawa adalah hiasan, dan kalupun ada pertengkaran kecil, itu hanyalah sebuah pajangan. Semua larut dalam nuansa kebersamaan dan keikhlasan. Di rumahlah kita harus merasa dekat dan menemukan hidup yang lebih nyata. Sebab ada kepedulian yang berbalas ketaatan. Ada pemberian yang menambah penghargaan. Dan ada kesabaran yang berbuah kesabaran pula.

Kawan,
Menemukan semangat hidup kembali dari rumah adalah sebuah keniscayaan. Sudah seharusnya rumah menjadi tempat kita ‘mencharge’ energi kita yang hilang. Rumahlah tempat kita menemukan cara untuk senantiasa bersyukur. Rumahlah yang membentuk kita, sekaligus kitalah yang membentuk rumah.

Ahhh, kawan…entah mengapa siang ini walaupun sudah berada di dalam rumah, masih saja tetap terasa panas. Kipas angin sudah dinyalakan, jendela-jendela pun telah dibuka. Tapi tetap saja terasa gerah. Ah, seandainya membentuk rumah itu semudah membentuk kata, maka kesejukan itu pun tanpa diundang akan datang menghampiri.

Semoga ada yang berkenan membelikan es krim dan bersama membentuk rumah itu menjadi ‘baiti jannati’.

Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega.
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian. (Subagyo Sastrowardoyo)

-Jumat, 26 maret 2010. Ruang kerja, ruang tidur, tempat merenung. 23.59 wib.dari berbagai sumber

Maaf, Pak! Aher yang Menang

kemenangan aher-demiz

JOGJA- Minggu, 24 Februari 2013, cuaca Yogya sedang dilanda mendung. Suasana jadi nampak murung. Saya memperkirakan akan turun hujan lebat. Entah siang atau sorenya. Oleh karena itulah, di hari libur ini saya yang biasa jalan-jalan lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Bukan tanpa alasan saya lebih memilih di rumah. Saya sudah “capek.” Sepekan ini kehujanan terus menerus. Tiap pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup.
Saya lalu menonton televisi setelah berjam-jam membaca buku di kamar, menonton proses pemilihan Gubernur Jawa Barat. Menjelang siang liputan di semua stasiun televisi menampilkan proses hitung cepat.

“Aher pasti menang,” gumam saya dalam hati. Waktu itu, sekitar jam 13an, hasil suara yang masuk baru 8.5%. Dan hitung cepat menampilkan kemenangan sementara untuk pasangan Rieke-Teten. Selisih sekitar 1,9% dari Aher-Dedi Mizwar.

“Yang menang Rieke!” kata Bapak begitu ia masuk ke rumah. Dilihat dari kaosnya yang nampak kotor mungkin bapak dari makam samping rumah. Atau dari membersihkan teras depan, atau dari ngobrol dengan tetangga di depan rumah. Entahlah.

“Aahh…jagomu nomor 4 tho? Yang dari PKS. Kalah itu, kena korupsi sapi sih,” lanjutnya.

Saya diam saja. Kasus suap daging impor yang menyeret Presiden PKS memang diprediksi banyak orang akan menurunkan popularitas partai berbasis kader tersebut. Saya sebenarnya ingin membalas perkataan Bapak saya dengan berbagai argument rasional. Bahwa baru kali ini saja PKS tersandung kasus korupsi. Itupun kasusnya penuh dengan kejanggalan dan baru satu orang saja yang jadi tersangka. Ingat, baru satu orang!

Saya ingin mengajukan berbagai macam data dan fakta. Perbandingan jumlah kepala daerah yang sudah jelas-jelas dinyatakan bersalah karena korupsi. Dalam hati saya berkata, “Pak, itu lho partai pengusung Rieke itu juga yang mengusung mantan Bupati Sleman yang beberapa tahun lalu jadi terdakwa korupsi dana buku.”

Namun saya hanya diam. Bagaimana mungkin saya hendak menyanggah perkataan Bapak saya? Hanya akan jadi “perang Batharayudha” di dalam rumah. Saya hanya menimpali dengan pernyataan ringan saja.

“Kita tunggu saja, Pak. Suara yang masuk saja baru 8,5%,” jawab saya.

Bapak tak mau kalah. Ia tak menggunakan analisis geopolitik atau analisis tipe pemilih, Bapak saya tidak bisa berpikir sejauh itu.
“Kalau awalnya sudah menang, ya nanti terus ya tetap menang,” begitulah cara berpikir Bapak. Sederhana saja walaupun sudah pasti tak selalu akurat.

Menanggapi itu saya hanya senyum-senyum saja. Sudahlah, biar waktu yang akan menyanggah keyakinan Bapak.

Sebenarnya pilihan Bapak pada Rieke tak didasari dengan pertimbangan yang rumit. Dari segi tipologi pemilih yang sering disampaikan para pengamat, bapak termasuk tipe pemilih tradisional. Yang memilih berdasarkan keyakinan semata. Berdasar loyalitas.
Rieke ia dukung karena dia calon yang diusung oleh partai yang dari dulu didukung bapak. Walaupun kalau saya melihat sebenarnya bapak tak fanatik pada partainya, tapi lebih pada sosok Bung Karno. Bahkan di rumah pun tergantung foto Bung Karno berukuran besar. Dan kebetulan salah satu putri Bung Karno menjadi ketua umum salah satu partai besar di Indoensia.

“Kemarin kan Jokowi melu (ikut) kampanye tho? Yo, uwes jelas iku,” lanjutnya dengan raut muka penuh keyakinan. Sepintas malah terlihat senyum meremehkan.

Saya yang mendengar itu lalu berpikir seberapa efektifkah magnet media darling Jokowi? Kalau benar Jokowi bisa signifikan menggaet banyak suara, maka pertarungan politik akan dominan pada citra semata? Ah, saya berpikir terlalu jauh. Atau mungkin itulah sifat orang yang menempuh pendidikan tinggi? Kadangkala suka berpikir terlampau rumit dan njlimet.

Hari itu selama kurang lebih tiga puluh menit saya otomatis menikmati ceramah bapak tentang pemilihan gubernur Jawa Barat. Dibumbui sedikit ledekannya tentang PKS.

Namun keadaan berbalik. Bapak tak lagi bisa berkomentar setelah quickcount perlahan-lahan menunjukkan presentase Aher-Dedy Mizwar yang merangkak naik. Bahkan melampaui 30% suara. Berdasrkan data yang dirilis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Aher-Demiz memperoleh 33,14% suara. Disusul Rieke-Teten 27,92% suara. Dibelakangnya ada Dede-Lex dengan 25,23% suara.

Saya senang sekali. Bukan saja terkait hasil quick count, tapi bisa mematahkan keyakinan Bapak yang daritadi ngotot. (Ah, jahat sekali ya saya. Bergembira diatas kesedihan Bapak sendiri..hehehe…piss )

“Tuuh, Pak. Aher tho yang menang. PKS!” kata saya sambil tersenyum lebar.

Bapak hanya tertawa. Memperlihatkan barisan giginya yang mulai tanggal.
“Alah, kuwi kan karena Aher sing apik. Ra melu keno kasus daging sapi,” jawabnya.
“Hadeuh, ada-ada saja Bapak ini. Tetap saja tidak mau mengakui kemenangan partai,” kata saya.
Saya hanya tersenyum. Lalu mematikan televisi setelah hasil akhir hampir dapat dipastikan. Hari sudah sore waktunya mandi. Perbedaan pandangan politik semacam ini hanyalah “senda gurau” semata bagi keluarga. Perbedaan pandangan ini tidak berpengaruh ke hal-hal lain.

Sambil menuju kamar mandi, saya berkata kepada bapak yang sedang duduk di kursi, “Maaf, Pak! Aher yang menang!”