Susu Coklat Hangat

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari segelas minuman

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Baik itu teh, kopi, atau susu. Kalau aku lebih suka susu coklat.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat.

Mulai dari pilihan suhu air. Ia akan tahu kapan waktunya menyajikan minuman yang panas; hingga membuat si peminum harus meniup-niupnya dulu. Ia juga tahu kapan menyajikan minuman yang tidak terlampau panas tapi juga tidak dingin; yang bisa diselesaikan dengan sekali dua kali teguk.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat.

Lalu dari takaran gula. Ia tahu seberapa pas takaran itu. Seberapa manis harusnya minuman yang ia sajikan. Tidak terlampau manis agar rasanya tidak hilang, namun juga tidak kurang agar tidak pahit atau hambar.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat.

Dari cara mengaduknya. Adukannya akan terlihat pada air dalam minuman yang ia sajikan. Membentuk pusaran yang mengalir halus atau beriak-riak tak beraturan. Kamu bisa melihat suasana hatinya hanya dari pusaran dari segelas minuman yang ia sajikan.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Yang tiba-tiba ada di atas meja makan setelah kamu mandi. Setiap pagi. Setiap hari. Tanpa pernah dirinci berapa pengeluarannya per hari.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Kalau aku; segelas susu coklat hangat.

Kamu, iya kamu, bisa membuat susu coklat hangat untukku sebaik buatan Ibu?

gelas

Untukmu; Aulia (bagian 2)

“Aku akan menghapus kenangan itu hingga lembar terakhir.”

Aulia,

Kalimat itu datang darinya. Tidak ditujukan padaku langsung, tapi aku tahu betul maknanya. Bukan berarti aku sok tahu. Tidak, Aulia. Aku tidaklah sok tahu atau ke ge-er an. Telah lama kau mengenalnya, dan aku tahu bahwa memang ada yang membebaninya, yaitu; masa lalu.

Yaitu; aku.

Tidakkah aku juga ingin menghapusnya; kenangan itu. Tidakkah aku juga ingin melupakannya, ia yang telah lama memutuskan untuk hidup dengan dunianya sendiri. Ah, Aulia, tahukah engkau bahwa aku telah mencobanya sekian tahun ini. Dan sampai detik ini aku gagal.

Sesekali tiap pagi, begitu aku bangun dari tidur masih saja kubisikkan namanya kepada dinding kamar. Kalau saja dinding itu bisa bicara tentu ia akan memarahiku dengan  kata yang sama persis kau katakan padaku, Aulia.

“Lupakanlah dia. Tak sadarkah kau telah menyia-nyiakan waktu dan tenaga hanya untuk seseorang yang bahkan tak lagi mau mengingatmu?” begitulah yang saban kali kau katakan padaku. Dengan muka memerah, bagai air dalam ceret yang direbus.

Aulia,

Maafkanlah aku. Ku katakan padamu bahwa deraan paling berat adalah cinta yang sulit ku katakan padanya. Dan di satu sisi, sesal paling pahit adalah melupakannya.

Kau tahu, Aulia, dalam drama film yang seringkali kita tonton ada saat dimana cinta adalah keyakinan untuk menunggu. Bahkan dalam satu cerita itu ada yang menunggu  hingga puluhan tahun. Kadang aku meyakinkan dalam diri akan ada satu titik waktu dimana aku dan dia kembali bertemu. Dalam sebuah momen yang aku sendiri bingung momen apa.

“Ah, itu hanya ada dalam film. Fiksi,” katamu. Hei, lupakah kau bahwa cerita fiksi pun diilhami dari cerita nyata kehidupan sehari-hari?

Ah, Aulia, tentu saja aku tak ingin memulai debat ini lagi. Di surat pertamaku telah ku katakan padamu bahwa aku telah merelakannya pergi. Aku telah bertekad membiarkan kenangan itu terbang seperti balon gas. Tapi tenyata sampai kini pandanganku pun tak jemu-jemu memandang balon itu menari di langit.

Aulia,

Tidak seperti dia, aku tak ingin membakar kenangan itu. Yang ku lakukan; hanya akan ku bingkai album pertemuan dan foto-foto buram tentangnya. Kelak, bila tua nanti mungkin cerita itu akan menjadi sebuah bahan canda yang menarik.

Sering ku katakan padamu, Aulia, bahwa tragedi di masa lalu akan menjadi sebuah parodi di masa mendatang.

 

demi cinta, demi api yang kusulutkan untuk abadi:
‘hai, aku merindukanmu!’

Februari, 6, 2014