Kisah Selembar Foto

kisah selembar foto

kisah selembar foto

Kisah Selembar Foto

Aku adalah selembar foto. Ya, hanya selembar saja. Seukuran kartu pos. Sebenarnya kalau boleh memilih, aku lebih memilih menjadi kamera saja. Ia bisa menjepret banyak hal. Menangkap semua pemandangan di dunia ini. Namun aku hanyalah hasil dari jepretannya. Aku cuma sekelumit saja dari jutaan pemandangan di dunia ini. Aku hanyalah tangkapan beberapa detik saja.

Namun aku sudah terlanjur menjadi selembar foto. Sebenarnya juga tak terlalu jelek.

Aku lahir dari hasil Si kamera menjempret senyum sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Duduk berdekatan sambil malu-malu, di sebuah rerumputan. Tak berangkulan memang, mereka hanya duduk bersila bersebelahan. Begitu saja. Di belakang mereka tampak anak-anak yang bermain kejar-kejaran.

Si kamera berhasil menjepret pada momen yang tepat. Senyum mereka tertangkap sangat manis. Entah karena efek cahaya yang kurang di senja hari, di pipi mereka nampak terlihat sedikit rona malu. Raut muka pada momen itulah yang menjadikanku istimewa.

Aku cuma selembar foto yang ku rasa istimewa. Aku ingat betul waktu aku lahir, Si laki-laki langsung menelpon si perempuan. Berkata bahwa si perempuan terlihat lebih gendut. Si perempuan ngambek. Sebel. Si laki-laki mesti berusaha keras membujuk bahwa ia hanya bercanda. Berkali-kali ia bilang bahwa sebenarnya si perempuan tidak gendut. Puluhan kali meminta maaf, menjanjikan akan memberi sebatang coklat dan es krim. Si perempuan tetap tak mau terima.

Si laki-laki bingung, menyesal dengan candaannya yang ternyata berbuah petaka.

Tak tahunya si perempuan juga cuma bercanda. Pura-pura ngambek. Si laki-laki lega. Kelegaan yang aneh. Ia mau marah karena dikerjai oleh si perempuan, tapi tak jadi. Sebel tapi senang. Jengkel tapi wajahnya senyum-senyum.

Ah, momen yang indah. Aku selalu suka tertawa sendiri ketika mengingatnya. Walaupun sebagai selembar foto kamu tak akan bisa melihat senyumku. Dan inilah penyesalanku kenapa aku tidak menjadi kamera. Kalau aku jadi kamera, aku bisa menjepret momen itu. Dan kamu bisa turut melihatnya. Kamu bisa ikut tertawa geli melihat tingkah dua sejoli ini.

Aku tahu betul bahwa si laki-laki mencintai si perempuan. Aku bisa melihatnya dalam kedalaman bola matanya yang hitam. Pandangan itu adalah mata yang memandang harapan. Selain itu aku bisa tahu karena tiap kali melihatku aku selalu mendengar ia menggumamkan sebuah doa. Doa untuk kebaikan mereka berdua, agar mereka bisa hidup bersama.

Aku dulu membayangkan bahwa aku akan dipigura. Dengan pigura sederhana saja, yang tepinya berupa kayu dicat warna hitam. Kacanya sebening embun. Digantung di dinding kamar si laki-laki. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Aku malah ditempel di tepi layar komputernya menggunakan selotip. Biar wajah si perempuan yang ada dalam diriku bisa memberikan semangat, katanya waktu itu padaku. Sebagai selembar foto aku terima saja diperlakukan seperti itu. Yah, lagipula aku tak bisa protes bahwa itu melanggar hak asasi peri-fotoan kan? Aku bahagia sudah bisa selalu menemaninya.

Kini aku meringkuk dengan sepi. Terselip diantara tumpukan buku-buku kuliah tua berdebu yang disimpan di laci bawah meja belajar. Aku ngeri berada disini. Gelap. Kadang terasa ada yang menggerayangi tubuhku. Aku takut. Aku takut kalau itu adalah rayap yang memakan tubuhku pelan-pelan. Aku takut itu adalah jamur yang bisa merusak gambarku. Aku takut tidak bisa dengan sempurna menampilkan wajah mereka berdua.

Ya, semenjak kejadian itu. Yang merupakan kejadian yang sangat memukul si laki-laki. Tepat di jantung hatinya. Berhari-hari ia memandangiku, bukan lagi dengan senyuman namun dengan tangis yang terisak-isak. Aku jadi ikut sedih. Walaupun aku tak bisa menampakkan kesedihanku padanya. Walau hanya untuk menunjukkan empatiku padanya, aku tidak mungkin mengubah wajah ceria si laki-laki dan si perempuan dalam diriku menjadi wajah sedih. Aku juga tidak mungkin tiba-tiba bernyayi untuk menghiburnya. Aku terlahir bisu.

Cerita yang ku dengar saat si laki-laki bicara sendiri pada diriku, bahwa ia patah hati. Si perempuan pada suatu ketika berkata bahwa ia telah mencintai laki-laki lain. Si laki-laki bingung. Menyesal. Setiap malam, selama berhari-hari (aku tak tahu berapa hari, sebagai selembar foto aku tak pernah diajari berhitung), ia selalu memandangiku. Dan tiap kali memandangku ia selalu menangis.

Aku jadi kasihan padanya. Ah, kalau saja aku bisa membawa si laki-laki kembali ke waktu dimana ia difoto ini, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanyalah selembar foto. Aku hanya bisa menyimpan beberapa detik momen. Sedangkan memori itu tersimpan dalam otak dan hati masing-masing orang. Dan bukankah memang kita tak bisa melawan takdir waktu. Tak bisa kembali ke masa lalu.

Akhirnya si laki-laki memutuskan untuk menyimpanku disini, terselip bersama tumpukan buku-buku tua. Aku ikhlas menerimanya. Mungkin ini hanyalah secuil hal yang bisa ku lakukan untuk si laki-laki. Menerima dengan lapang dada untuk dilupakan, agar ia tak lagi menangis saat melihatku. Aku benci melihatnya seperi itu.

Aku tak tahu bagaimana keadaanya kini. Aku juga tidak tahu sudah berapa lama. Apakah ia masih mengingatku? Aku tidak tahu. Apakah ia masih mengenang si perempuan dalam diriku? Tolong ceritakan padaku bila kamu mengetahuinya.

Kebimbangan terburuk adalah tidak tahu; apakah harus menunggu atau menyerah.”

Cinta Satu Jalan

sejarah cintaCinta Satu Jalan

Usiaku baru sembilan tahun ketika tamparan bapak mendarat di pipi ibuku. Aku ingat betul suara ‘plak!’ dan tangisan ibu yang tersedu malam itu. Suaranya parau. Ibu hanya menangis pelan tertahan. Namun ditengah malam yang sunyi itu, suara itu sudah cukup terdengar jelas.

Aku pun masih ingat alasan bapak yang berkata bahwa waktu ia secara tak sengaja menampar ibu.

“Omong kosong!” batinku. Dan dugaanku itupun diamini oleh keluargaku lainnya. Bagaimana mungkin tangan yang ‘tak sengaja’ bisa berayun demikian pas mendarat di pipi?  Aku tak pernah bisa mempercayainya! Namun ibu berbeda, dengan tangis yang ditahan ia tetap membenarkan perkataan bapak.

Walaupun kami muak dengan tingkah laku bapak, namun apa yang bisa kami lakukan kalau ibu tetap berksikeras menyatakan bahwa kejadian itu sebuah ketidaksengajaan?

Bukan yang pertama ini saja bapak bersikap kasar pada ibu. Dan bukan pertama kali jua Ibu membela bapak. Pernah suatu waktu bapak membanting gelas hanya karena kopi yang disajikan ibu terlalu panas. Dan ibu hanya bisa diam. Menangis. Dan herannya bapak tak pernah menunjukkan belas kasihannya atau bahkan rasa sayangnya pada istri yang telah dinikahinya bertahun-tahun itu. Kecuali ‘lips service’ saat keluarga sedang berkumpul.

Hingga detik ini, saat usiaku menginjak dua puluh tahunan, aku masih tak bisa melogikakan sikap ibu. Sikap mengalah ibu. Senyum ‘aneh’ ibu, pandangan matanya, saat aku didekapnya –yang selalu ia lakukan- sehabis bertengkar dengan bapak.

“Tidak apa-apa, Nak. Begitulah bapakmu. Kau pahami saja,” begitu jawab ibu tiap kali aku tanyakan apakah ibu tak muak dengan sikap bapak yang kasar.

Di suatu sore yang cerah, saat aku dan ibu hanya berdua saja di rumah Ibu pernah berkata bahwa ia tak mengerti apa itu cinta. Ibu tak akan terdorong mengatakannya bila aku tak memberondong ibu dengan pertanyaan apakah ibu mencintai bapak. “Ibumu ini tak mengerti hal-hal rumit semacam itu, Nak. Yang ibu tahu bahwa, ibu adalah seorang istri yang harus berbakti pada suaminya,” katanya. Matanya begitu teduh saat mengatakannya. Seperti sebuah samudera dalam yang tenang sekaligus menyimpan berbagai rahasia. Aku ingat mata itulah yang sejak kecil ku pandangi ketika beranjak tidur.

Bakti? apakah itu bentuk lain dari sebuah cinta? Apakah melayani seseorang yang secara resmi disebut pasangan suami istri adalah sebuah cinta?

Ah, bagiku cinta bukanlah sepeti itu. Cinta lebih mirip permen kapas yang terasa manis dan lembut. Cinta adalah sebuah kerelaan satu pasang manusia untuk saling berbagi apa saja. Namun yang selama ini ku lihat bukanlah seperti itu. Ibu memberikan segalanya buat Bapak, mengorbankan masa depan dan perasaannya, tapi semua itu tak berbalas cinta dan kasih sayang. Bapak tak pernah sekalipun menunjukkan “saling.” Kalaupun member ia hanya member kebencian.

Aku selalu bingung dengan sikap ibu. Dengan cinta yang ibu miliki. Hingga bertahun-tahun kemudian aku menemukan jawabannya.

***

Lima tahun berlalu. Tak terasa itulah rentang waktu yang ku lalui semenjak aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Pekerjaan adalah sebuah alasan yang tak lagi bisa disangkal oleh bapak dan ibu. Walaupun alasan sebenarnya adalah karena aku tak lagi betah tinggal di rumah. Tak lagi betah dengan sikap kasar bapak.

Aku ingin bebas.

Maka menujulah aku ke ibu kota. Tepat di hari kelulusanku. Ibu melepasku dengan uraian air mata, sedang bapak hanya bersikap dingin. Dan aku tak lagi peduli dengannya.

Ting…!

Hapeku berbunyi. Ada SMS masuk, dari Ibu.

“Pulang. Bapakmu sakitnya tambah parah.”

Aku menghela nafas. Memandang gedung-gedung yang menjulang dari jendela kantor. Haruskah aku pulang? Setelah lima tahun sejak meninggalkan rumah tak sekalipun ada rasa rindu pada rumah. Bagiku pulang adalah sebuah kata yang menggambarkan bahwa harus ada gerak kembali ke sebuah tempat yang disebut rumah. Dan rumah adalah sebuah tempat dimana kita bisa merasa aman, nyaman dan bahagia. Dan itulah masalahnya. Rumah tak lagi kuanggap sebagai rumah, karena ia tak lagi memenuhi persyaratan definisi itu. Maka tak ada kata pulang dalam hidupku selama ini.

Kalaupun harus rindu, aku hanya rindu pada ibuku. Pada teduh matanya. Pada kelembutan belaiannya. Itu saja.

Namun SMS itu menggetarkan ketetapan hatiku. Aku sudah tak peduli lagi dengan Bapak. Kenangan Bapak bagiku hanyalah berupa amarah. Berupa mimpi buruk yang ingin aku buru-buru terbangun.

(bersambung..)

Nb. Ada yang ingin melanjutkan….?? Email ke triyantopuspito@gmail.com yah…:)