Titik Balik Pangi

Pertemuan kembali saya dengan Pangi Syarwi dapat digambarkan seperti ketika kita sedang membolak-balik album foto lama. Kita perhatikan satu per satu foto-foto usang sembari menarik kembali ingatan kita tentang kejadian di foto itu. Kita coba raba dengan perlahan-lahan, kita menyusup ke dalam otak kita, mencari-cari sisa memori tentangnya.

Nah, secara ‘kebetulan’ –tanda petik, karena di dunia tak ada satu pun kejadian yang terjadi secara kebetulan- ada selipan foto lusuh. Dikanan kirinya telah terlihat jamur yang menggerogoti. Foto itu sudah kita lupakan. Bahkan kita tak pernah ingat -sebelum menemukan foto itu- bahwa kita pernah berfoto!

Begitulah kira-kira gambaran ingatan saya tentang Pangi Syarwi.

Saya pertama kali mengenalnya secara singkat –betul-betul secara singkat- tahun 2009 lalu. Dan semenjak pertemuan yang singkat itu, tak pernah sekalipun ada hubungan antara kami berdua. Tak ada SMS, atau bahkan sekadar komen di FB. Ingatan tentangnya telah terkubur dalam selama kurang lebih 3 tahun ini.

Maka pertemuan pada Rabu, 28 Maret 2012 kemarin menjadi begitu spesial. Ingatan saya tentangnya berkelindan dengan seruan dan orasi demonstransi menolak kenaikan harga BBM di depan kantor Pertamina Yogyakarta. Reuni dalam nuansa yang tepat, sebagai seorang aktifis KAMMI.

Namun saya tak hendak membahas tentang hal diatas. Biarlah itu menjadi perbincangan antar kami berdua, dan menjadi hal melakonlik dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari kami.

Yang ingin saya tulis adalah bukunya, Titik Balik Demokrasi. Buku yang berisi lima bab, terdiri dari 44 artikel ini merupakan kumpulan artikel yang berserakan di berbagai media massa, kemudian dikumpulkan jadi satu. Sumber-sumber tulisan berkisar antara tahun 2007 hingga 2011. Baca lebih lanjut

KAMMI Kembali Demo Tolak KenaikanHarga BBM, Serukan Revolusi Hitam

detiknews.com

DIY- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah DI Yogyakarta kembali berunjuk rasa mengecam rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. KAMMI menilai bahwa pemerintah telah tuli, karena tidak mendengar suara protes rakyat lewat unjuk rasa yang dilakukan terus menerus sepekan terakhir ini. Sebelumnya KAMMI juga telah berunjuk rasa saat wakil presiden Budiono datang ke Yogya beberapa waktu lalu.

Unjuk rasa yang bertajuk “Revolusi Hitam” ini digambarkan dengan massa yang berpakaian serba hitam. Revolusi Hitam diartikan sebagai perlunya revolusi dalam pengelolaan minyak yang sering diistilahkan sebagai emas hitam. Mereka juga membawa poster-poster berisikan penolakan kenaikan harga BBM dan berbagai kecaman atas rencana tersebut. Sekitar pukul 10.00 WIB massa berkumpul di bundaran UGM, selanjutnya mereka berkonvoi menuju Tugu Yogya. Lalu melakukan aksi simbolik dengan menuntun motor dari Tugu hingga kantor Pertamina.

Di sela-sela orasinya, Aza El Munadiyan koordinator umum unjuk rasa mengatakan bahwa pemerintah tak lagi mewakili rakyat kalau memaksakan kebijakan menaikkan harga BBM. “Bosan sudah rakyat mendengar alasan klise pemerintah tiap kali harga BBM naik, yaitu; melonjaknya harga minyak dunia. Sudah lebih dari sebelas kali semenjak orde baru harga BBM naik dan alasan yang dipakai selalu sama. Maka sebenarnya hal ini disebabkan oleh kelalaian pemerintah dalam mengelola energi. Pemerintah tak becus mengelola sumber daya energi Indonesia,” tegasnya.

Kenaikan harga BBM, lanjut Aza, hanya akan menimbulkan masalah baru. Kenaikan ini akan berakibat domino terhadap harga bahan pokok.

Akhirnya daya beli masyarakat pun turun karena pendapatan tetap dan menyebabkan menggelembungnya jumlah rakyat miskin. Pemerintah pun tak memberikan solusi jitu mengatasi dampak kenaikan harga BBM ini. “Solusi bantuan tunai tak akan menyelesaikan masalah, malah ada indikasi kuat bahwa mekanisme penyaluran bantuan tunai hanya dijadikan alat politis semata,” kata ketua departemen kebijakan publik KAMMI DIY ini. Baca lebih lanjut

Mahasiswa Tuding SBY Munafik

DIY, KAMMI- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah membohongi rakyat. Banyak kebijakan yang ia lakukan tak sesuai dengan janji-janji yang diucapkan. SBY malah banyak berkutat pada politik pencitraan serta drama politik yang menjemukkan. Maka sebenarnya SBY telah mengkhianati kepercayaan rakyat.

Hal itu disampaikan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saat berunjuk rasa, Kamis (20/10) yang diikuti oleh puluhan orang.

Peserta unjuk rasa berkumpul sekitar jam 10.00 pagi di depan gedung DPRD DIY, selanjutnya dengan dipimpin mobil sound mereka berjalan kaki hingga titik nol kilometer. Mereka membawa spanduk bertuliskan “SBY Bohong, SBY Ingkar Janji,” dan juga “Hentikan Kemunafikan SBY.”

Aza El Munadiyan, kepala departemen Kebijakan Publik KAMMI DIY, menyatakan bahwa SBY berbohong dalam berbagai bidang. Pertama, dalam hal jaminan kebebasan pers ternyata masih banyak pelanggaran. LBH Pers mencatat untuk tahun 2010 ada 66 kasus fisik dan non fisik yang terjadi dan telah menewaskan 4 orang.

Kedua, janji SBY untuk melindungi para TKI hanya pepesan kosong semata. Kasus pelecehan dan kekerasan para TKI masih terjadi di depan mata pemerintah. Bahkan pemerintah tak sanggup membela hukuman mati bagi Ruyati tempo lalu. Baca lebih lanjut

Usut Tuntas Semua Orang yang Diduga Terlibat Nazaruddin Gate

pernyataan sikap kammi

DIY, KAMMI- Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Yogyakarta menyatakan sikap atas kasus korupsi, terutama kasus Nazaruddin, yang diduga melibatkan sejumlah petinggi Partai Demokrat, pada Senin (15/8).

Ditemui di gedung DPRD DIY Kepala departemen Kebijakan Publik KAMMI DIY, Aza El Munadiyan, mengatakan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku kepala pemerintahan telah gagal memberantas korupsi. SBY hanya menebar janji palsu ketika mengatakan bahwa ia akan menjadi panglima dalam pemberantasan korupsi. Aza menilai bahwa kasus Nazaruddin telah “dikebiri.” Baca lebih lanjut

Mewujudkan Muslim Negarawan

Mencuatnya isu Negara Islam Indonesia (NII) beberapa waktu lalu, membuat ingatan publik kembali kepada perdebatan ideologi bangsa, antara: islam dan negara.

Perdebatan yang “seakan-akan” membuat dikotomi islam dengan negara.
Salah satu problem bangsa ini ialah minimnya jumlah negarawan. Banyak pejabat pemerintah tetapi sangat sedikit yang berjiwa negarawan. Dalam pengertian, orang yang mementingkan kepentingan negara, berjuang demi negara dan mengabdikan dirinya untuk negara. Baca lebih lanjut