Semedi

Dalam masyarakat Jawa, sepanjang sejarahnya dikenal sebuah kegiatan yang namanya semedi. Konon kabarnya sebelum menjadi penguasa Mataram, Penambahan Senopati melakukan semedi di muara sungai Parangkusumo.

Kalau sekarang batu yang menjadi tempat semedi itu dipagari. Tidak ada sungai disitu. Hanya ada hamparan pasir. Tapi kata guru saya dulu, kalau tidak salah ingat waktu kuliah praktek, bahwa lokasi itu sebenarnya adalah muara sungai. Nah, saat ini muara sungai itu bergeser ke arah barat karena faktor alam.

Semedi.

Bila orang bersemedi, kata Soemarsaid Moertono, maka dari dalam dirinya akan keluar tenaga, yang dalam pemikiran orang Jawa dianggap sebagai “gelombang panas,” yang senantiasa bertambah hebat menurut kadar keras atau tekunnya semadi yang dilakukan, dan akhirnya terasa sebagai gangguan dari alam.

Kalau dalam wayang bagian ini ditampilkan sebagai “goro-goro.”

Pada adegan itu, semadi yang sanagt keras dari si tokoh mengakibatkan gangguan dalam alam, yang lalu menarik perhatian para dewa. Hanya persetujuan, atau paling tidak campur tangan para dewa yang akan memulihkan alam kepada ketertibannya yang biasa.

Karena itu, sing sapa gede panyuwune, bakal katekan sedyane.

Kalau dalam mitos, semedi yang dilakukan Panembahan Senopati mengakibatkan binatang laut berhamburan dan bergeleparan di pantai. Air laut juga bergejolak, ombak menjadi besar menghantam pantai.

Ini karena semedi yang dilakukan Panembahan Senopati.

Gejolak laut yang luar biasa inilah yang memancing Ratu Kidul, penguasa dunia gaib Laut Selatan keluar dari laut dan mencari penyebab pergolakan atau hawa panas di dalam laut.

Dan kita semua tahu mitos itu, yang membuat Panembahan Senopati menjadi penguasa Mataram.

Angin Politik Jogja

Hari ini, Selasa (22/11), hujan disertai angin kencang melanda kawasan kota Jogja. Sehari sebelumnya, angin kencang telah menumbangkan pohon-pohon di sekitaran Gambiran, Semaki, dan kawasan lain yang tidak saya ketahui. Saya tahu daerah itu soalnya lewat situ semalam.

Pada musim pancaroba seperti ini memang kawasan kota Jogja adalah kawasan yang paling berpotensi diterjang angin puting beliung, dibandingkan kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kenapa? Begini penjelasannya berdasarkan kajian dosen meteorologi dan klimatologi, bahwa angin itu terjadi karena ada perbedaan tekanan. Angin mengalir dari kawasan yang bersuhu dingin [tekanan tinggi] ke kawasan yang bersuhu panas [tekanan rendah].

Alhamdulillah, saat Pak Hadori [dosen saya] menerangkan materi ini, saya pas masuk kelas dan tidak ketiduran.

Nah, kawasan kota Jogja adalah sebuah kawasan yang memiliki suhu udara lebih panas dibandingkan kawasan lainnya. Hal ini menyebabkan Kota Yogyakarta menjadi pusat tekanan yang menghisap masa udara dari arah sekitarnya. Maka angin kencang selalu mengarah ke situ.

Bila tingkat perbedaan suhu udaranya terlalu ekstrem, terjadi perubahan suhu secara drastis, maka angin puting beliung kemungkinan besar bisa terjadi. Daya rusak angin ini begitu besar, dalam kisah Naruto sendiri dikatakan bahwa elemen angin mempunyai daya rusak paling besar dibandingkan elemen air, api, petir, ataupun tanah.

Secara lebih lengkap begini penjelasan soal angin puting beliung ini.

Bahwa terjadinya puting beliung dimulai dengan fase tumbuh. Di dalam awan terjadi arus udara yang naik ke atas dengan tekanan yang cukup kuat. Pada fase ini proses terjadinya hujan belum turun karena titik-titik air serta kristal es masih tertahan oleh arus udara yang bergerak naik menuju puncak awan.

Selanjutnya masuk fase dewasa. Dalam fase ini, titik-titik air yang tidak lagi tertahan oleh udara akan naik menuju puncak awan. Hujan kemudian akan turun dan menimbulkan gaya gesek antara arus udara yang naik dan yang turun.

Pada fase ini, temperatur massa udara yang turun memiliki suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan udara disekelilingnya. Pada arus udara yang naik ataupun turun dapat timbul arus geser yang memuntir lalu membentuk pusaran.

Arus udara yang berputar semakin lama semakin cepat akan membentuk sebuah siklon yang “menjilat” bumi atau yang disebut pula dengan angin puting beliung. Angin puting beliung, dapat disertai dengan hujan yang deras dan membentuk pancaran air.

Terakhir adalah fase punah. Dalam masa punah, tidak ada massa udara yang naik namun massa udara akan meluas di seluruh awan. Pada akhirnya proses terjadinya awan mengalami kondensasi akan berhenti dan udara turun melemah sehingga pertumbuhan awan akan berakhir.

Nah, yang menarik ternyata angin puting beliung perpolitikan saat ini tidak mengalir kencang di Kota Jogja, yang bila dibandingkan dengan kabupaten lain di DIY, tentu suhunya lebih panas. Tapi entah kenapa angin politik di kota ini hanya sepoi-sepoi saja.

Kuatirnya angin sepoi-sepoi ini melenakan para pemilih, dan membuat mereka malah “leyeh-leyeh” dan malas untuk mencoblos.

Wagu yoben, jeneng e mung utak atik gathuk…

Tidak Ada yang Baru di Pilkada Kota Jogja

Tidak ada yang baru di pemilihan walikota Jogja kali ini. Dipastikan hanya ada dua pasang calon, dan keduanya adalah petahana. Tentu saja dengan pasangan yang berbeda. Pecah kongsi.

Mungkin sebagian besar orang ingin melihat wajah baru pemimpin kota Jogja. Upaya ini terlihat sejak munculnya Joint (Jogja Independent) beberapa waktu lalu. Namun faktanya gaungnya tak sekeras calon indendpen ibu kota. Dan akhirnya Joint pun kandas jauh sebelum pendaftaran calon dimulai.

Tidak ada kejutan di pemilihan walikota Jogja kali ini.

PKS dan Gerindra yang diharapkan mampu menjadi motor pemberi kejutan ternyata pada hari-hari terakhir malah memutuskan untuk merapat pada salah satu petahana. Padahal beberapa waktu lalu sempat muncul wacana kuat dari partai-partai ini untuk memunculkan tokoh ketiga. Tokoh yang diharapkan menjadi kuda hitam. Namun itu gagal tercapai.

Tidak ada kuda hitam kali ini. Tidak ada yang istimewa kali ini.

Masyarakat Kota Jogja kembali akan dihadapkan pada dua wajah yang telah diakrabi sejak tahun 2011.

Nah, sedikit usul agar lebih menarik. Apa yang bisa diperbuat calon walikota tersebut untuk menang?

Menurut saya ada dua jawaban; alasan dan tawaran.

Alasan untuk berbagai ketidakpuasan selama lima tahun ini. Jika ada keluhan, misalnya saja banyak protes bahwa Jogja makin macet, banyak ketidakpuasan, kedua calon ini mesti sama-sama menghadirkan alasan logis yang bisa diterima masyarakat. Karena keduanya sama-sama bagian dari kekuasaan lima tahun ini.

Bila itu bentuknya adalah keberhasilan maka saling bersaing untuk mengklaim. Bila itu ketidakberhasilan, maka saling bersaing juga untuk menjadi bahan wacana menjatuhkan lawannya.

Tawaran sesuatu yang baru. Apa yang baru dari dua wajah lama ini? Apa yang baru dan menjadi harapan agar Jogja makin nyaman huni? Apa ide segar agar masyarakat Jogja yang jumlah kelas menengahnya makin kritis ini bisa percaya dan mau mencoblos?

Bila tidak bisa atau tidak ada hal baru, saya menduga angka golput akan makin tinggi. Tahun 2011 saja, dengan tiga calon, angka golput mencapai kurang lebih 35%.

Jika tidak ada tawaran baru -walau datangnya dari wajah lama- apakah kita masih mengharapkan ada perubahan lebih nyaman dan istimewa di kota Jogja?

Sayang, tidak ada kejutan kali ini.

Eh, kenapa saya mengomentarinya, bukankah saya ini ber-KTP Sleman…

Senja

Senja

Senja terbaik bukanlah yang kamu nikmati di dekat pantai. Yang kamu lihat matahari pelan-pelan bagai tenggelam di perairan dan memancarkan cahayanya ke permukaan ombak. Bukan. Senja terbaik bukan seperti itu.

Pun senja terbaik bukanlah yang kamu nikmati di puncak bukit. Memang kamu berpayah-payah terlebih dahulu untuk mendakinya sambil menenteng kamera. Namun tetap saja itu bukanlah senja terbaik yang bisa kamu nikmati.

Senja terbaik adalah saat kamu pulang kerja atau kuliah. Dengan badan yang lelah, pikiran kalut sehabis proposal penelitian ditolak atau kena damprat juragan. Fisikmu payah, batinmu  gelisah. Dan kamu masih harus menempuh perjalanan yang panjang untuk ke rumah.

Di tengah jalan kamu mendapati lampu merah yang hitungan detiknya sampai tiga digit. Pun ditambah deretan mobil yang membuat jalanan makin sesak. Macet. Sesekali bunyi klakson membuat bising.

Di saat itulah kamu melihat semburat warna jingga. Senja datang. Di tengah suasana itulah kamu melihat matahari yang tak terlalu menyilaukan mata. Indah dipandang.

Kamu lalu tersenyum. Bersyukur atas keindahan senja yang tak dilihat oleh kebanyakan orang di jalanan. Bukan karena mereka tidak ingin, namun karena kebanyakan mereka luput. Terlalu sibuk dengan macetnya jalanan dan stress yang menimpa.

Dengan penuh ikhlas, lalu kamu nikmati suasana lelah dan macet itu bersama senja yang sama di belahan dunia mana pun.

Senja terbaik adalah yang kamu lihat dengan mata penuh syukur dan senyum ikhlas di saat situasi memaksamu untuk lupa dan sulit bersyukur atas hadirnya sang mentari saban hari.

senja

Cerita Kopi di Klinik Kopi

“Saya tidak menjual kopi, tapi cerita tentang kopi,” kata Pepeng saat saya pertama kali mengunjungi kliniknya.

Klinik Kopi, begitu Pepeng menamai tempat dia meracik seduhan kopi untuk para pecintanya. Terletak agak tersembunyi dari jalanan ramai. Bagi yang ingin mencoba seduhan kopinya, para pengunjung harus melewati jalan Affandi.

Bila ditempuh dari utara, Anda perlu melaju lagi sekitar lima puluh meter dari perempatan lampu merah ring road ada gang masuk ke kiri kecil. Tinggal lurus dan nanti di tikungan ada sebuah pagar tembok tinggi. Dari luar memang Klinik Kopi tidak tampak seperti cafe pada umumnya. Ia hanyalah sebuah pondok kecil di tengah hutan jati dalam kota. Suasana sejuk dan hening -bila malam hari akan ramai terdengar suara nyanyian serangga.

Klinik Kopi terletak di lantai dua pada bangunan yang cukup besar. Begitu naik tangga kecil maka saya mendapati sebuah ruangan serupa aula. Tanpa kursi dan meja layaknya restoran, tanpa karpet. Aula itu punya jendela-jendela di kanan kirinya, dengan lampu-lampu kecil yang dipasang pada sebuah papan segi empat. Para pengunjung biasanya pada lesehan, selonjoran atau kadang ada juga yang berbaring. Bebad, demokratis, asal tidak menggangu yang lain.

Saya tidak menemui satu pun pelayan yang datang menghampiri sambil membawakan daftar menu. Tidak. Begitu masuk saya harus antri agar dapat duduk di kursi lipat, di depan meja yang ada toples kaca berisi biji-biji kopi. Ada yang warnanya coklat tua, hitam, coklat muda. Masing-masing toples akan bertuliskan nama daerah dimana biji kopi itu diambil.

“Mau ngopi yang bagaimana, Mas? Lebih suka asam atau pahit?” tanya Pepeng. Usianya masih sangat muda, dengan kepala plontos dan celemek hitam, ia lebih cocok jadi pemain band. Di belakangnya ada papan dari triplek yang tertempel beberapa foto-foto saat dia berburu kopi di berbagai daerah.

“Emm…asam aja, karena hidup saya sudah pahit,” jawab saya.

Ia tertawa.

Pepeng selalu memulai pada setiap orang yang datang dengan bercerita tentang biji kopi yang akan ia buat jadi minuman. Darimana biji-biji yang terhidang itu di datangkan. Kalau kita betah ngorbol, maka ia terus akan bercerita panjang kali lbar tentang petualangannya bertemu para petani kopi. Tentang perjalanannya dari kaki gunung Merapi hingga jauh ke Papua.

“Banyak para petani kopi yang tidak tahu nilai kopi. Beberapa tempat saya lihat kopi dijemur di tengah jalan dan dibiarkan begitu saja. Sayang sekali. Saat saya ke sana, saya selalu menyempatkan diri untuk mendidik para petani kopi,” katanya.

Selain bercerita soal asal kopi, ia juga akan bercerita tentang macam-macam kopi. Dengan senang hati ia akan menjelaskan perbedaan biji kopi dari warna hingga rasanya. Sebuah hal yang tidak akan pernah kita dapatkan di cafe manapun, bahkan di warung kopi internasional berlogo wanita berambut panjang dengan latar hijau.

Saya rasa sepertinya Pepeng ini bukan penjual kopi, sebut saja ia adalah seorang pecinta kopi yang membuka warung kopi untuk membagikan apa yang ia punya tentang kopi.

Di Klinik Kopi saya lebih banyak mendengar cerita soal kopi. Minum kopi hanyalah sebagai tambahan saja, namun saya rasa yang membuat orang berdatangan ke Klinik Kopi adalah cerita-cerita itu. Kita bisa menikmati secangkir kopi darimana saja, tetapi tidak di sembarang tempat kita bisa menikmati cerita tentang kopi.

Ah, untuk mengakhiri tulisan ini saya jadi teringat ungkapan itu; kadangkala hidup itu seperti kopi: terasa pahit saat tak bisa menikmatinya.