Moge

Moge

Aksi Mas Joyo sungguh luar biasa. Menggunakan sepeda, ia berani menghadang pengendara moge yang berkonvoi untuk berhenti di lampu merah. Gak takut ditabrak, Mas Joyo mengingatkan kepada pengendara moge –yang dikawal polisi bermoge pula- sebuah pelajaran sekolah dasar, bahwa lampu hijau artinya jalan terus, kuning artinya kurangi kecepatan dan merah berarti berhenti. Ingat; berhenti, bukan tambah kecepatan!

Tak pelak aksi Mas Joyo ini kemudian mengundang simpati publik, terutama simpati publik dunia maya. Foto Mas Joyo dengan sepedanya menjadi viral, banyak diperbicangkan.

Banyak yang mendukung aksi Mas Joyo, dengan dalih bahwa netizen sudah muak dengan perilaku jalanan yang arogan, ugal-ugalan, tidak tertib, dan paling sebel adalah: bikin tambah macet, ditambah pula semena-mena melanggar peraturan. Dikawal polisi pula. Ibarat udah jatuh tertimpa tangga kejedot tembok, diolok-olok pula.

Nah, kalau mau lebih luas. Lebih lebar kali tinggi, maka ada maksud baik dibaliknya. Sebenarnya ada perasaan bahwa publik –banyak orang- sudah jengah dengan perilaku ketidakadilan di jalan raya. Jalan raya yang seharusnya menempatkan semua pengendara adil dan merata namun kenapa ada yang diistimewakan? Pun yang diistimewakan kebetulan bukan presiden, bukan pejabat dan bukan ambulans. Pun yang diistimewakan ternyata membuat sebal banyak pengguna jalan lain. Menjadi musuh bersama.

Namun kalau mau jujur, sebenarnya banyak juga tingkah kita yang seringkali tidak berkeadilan dan sejahtera dalam berkendara di jalan raya. Aksi Mas Joyo yang menjadi viral ini sebaiknya betul-betul menjadi momentum untuk membenahi tindakan pelanggaran jalan lainnya. Khususnya bagi saya pribadi, dan bagi jamaah pada umumnya.

Kita tahu bahwa tidak hanya moge lho yang berkonvoi dan dirasa menggangu.

Yah, kalau mau adil dan sejahtera, maka konvoi-konvoi lainnya juga sebaiknya bersikap sama: tertib lalu lintas.

Misalnya saja konvoi kampanye. Banyak lho, konvoi kampanye yang mengganggu ketertiban umum, melakukan pelanggaran lantas dengan knalpot yang diganti TOA sehingga suara satu motor bisa mengalahkan 100 motor lainnya. Pelanggaran lampu merah, tidak pakai helm, serta tidak pakai masker. Lihat saja konvoi suporter bola, konvoi manten, hingga konvoi anak SMA saat pengumuman kelulusan. Sudahkah tertib berlalu lintas? Kalau sudah ya bagus thoo. Sip.

Ketidakadilan jalan raya pun sebenarnya marak terjadi. Lihat saja berapa banyak bahu jalan yang beralih fungsi menjadi lahan parkir. Bukankah hal tersebut juga menjadi salah satu sebab kemacetan? Banyaknya toko-toko yang tidak menyediakan lahan parkir, sehingga memaksa “memakan” jalan. Di jalan raya sering saya dapati lajur sepeda tak bisa lagi dilewati karena tertutup badan mobil. Di perempatan lampu merah seringkali ruang tunggu sepeda menjadi ruang tunggu sepeda motor.

Ah, bicara keadilan dan penegakan hukum jalan raya saja sudah sedemikian banyak ya? Yah, moga aja kita tidak hanya fokus pada moge, tapi lebih dari itu, yaitu pada ketertiban umum di jalan raya oleh semua pengguna jalan.

Karena sikap arogan, semena-mena, pelanggaran lantas, pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapa pun. Bisa dilakukan oleh pengendara sepeda onthel maupun sepeda polygon, pengendara motor yang sudah lunas maupun yang masih kredit, pengedara mobil roda empat maupun roda tiga, dan bahkan bisa juga dilakukan oleh pengendara dengan seragam coklat bertuliskan: polisi.

Salam tertib di jalan raya, dari saya yang masih saja melanggar lampu bangjo saat pulang tengah malam. Abisnya sepi sih.

Jalan

Jalan

Jalan –dan jalanan- adalah sebuah harapan. Seringkali adalah rindu. Di jalan yang menghubungkan daerah satu dengan daerah lain, banyak orang menaruh rindu disitu, di jalan.

Ada pengertian jarak yang menarik, bahwa jarak dua macam. Pertama; jarak relatif, dan kedua; jarak absolut. Jarak relatif ialah jarak yang kita rasakan. Sedangkan jarak abslout adalah jarak sebenarnya, biasanya dihitung dalam satuan kilometer.

Di rutinitas mudik ini, jarak absolut terkalahkan dengan jarak relatif yang bercampur rindu. Tak peduli berapa jauhnya, berapapun biaya, walaupun harus antri berjam-jam. Orang akan tetap menempuh jarak dan melalui sebuah jalan yang kadangkala menjadi sangat berbahaya.

641 tewas di jalanan dan ribuan kasus kecelakaan lainnya. 641 merenggang nyawa sepanjang mudik tahun ini. Dan 628 keluarga tak mampu beridul fitri dengan senyum gembira.

641 bukanlah sebuah angka kecil. “Joker” yang menghebohkan beberapa waktu lalu, memberondong penonton bioskop, pun hanya membunuh tak sampai puluhan nyawa. Atau bahkan Ryan, korbannya hanya beberapa orang saja. (Walaupun tak baik juga menyebut korban secara angka, karena korban tetaplah korban. Apalagi korban tewas. Kesedihan yang muncul tetaplah sama)

Maka sejatinya jalanan adalah salah satu pembunuh terbesar di negeri ini. Dan ironisnya, setiap tahun itu terjadi. Pada momen ketika jalanan merupakan sebuah penghubung rindu.

Herannya, pemerintah seakan lalai menanggapi kejadian ini. Tak terlontar sepatah kata pun dari pemerintah, yang berkewajiban untuk menjamin keamanan rakyatnya. Infrastruktur jalan, dari marka hingga aspal yang tidak bolong, seharusnya sudah diperbaiki semenjak dulu. Jauh sebelum masyarakat berbondong-bondong mudik.

Sesungguhnya kita telah mempercayakan sebagian hak kita menggunakan jalan untuk diatur oleh pemerintah. Maka alangkah baiknya bila pengguna jalan juga menaati aturan yang telah dibuat untuk kebaikan bersama. Ingat bahwa bisa saja kita sudah berhati-hati, namun bila ternyata pengguna jalan lainnya “beringas” kita juga bisa turut menjadi korban.

Jalanan adalah penghubung dimana kerinduan tiap orang berkumpul. Artinya jalanan bukan milik “mbah” kita. Tapi ia milik semua orang. Dalam hal inilah kepetingan dan ego senantiasa berbenturan.

Salam jalanan,