Alexis

Darimana datangnya Alexis?

Dia berlari menyambut umpan Neymar dari tengah lapangan. Di kejar oleh dua pemain Madrid. Bola di kakinya seolah menempel.

Ia masih di luar kotak penalti, terlihat seolah-olah tetap menggiring bola. Namun tanpa diduga oleh pemain Madrid, setelah tiga sentuhan, ia lepaskan tendangan “loop.” Bahasa Jawanya “dicutik.”

Kiper tak mampu meraihnya, Varane cuma bisa melongo, dan yang terjadi lalu terjadi; salah satu gol indah dalam el Classico.

Darimana datangnya Alexis? Ia bertubuh tegap, kekar, dan wajahnya kok mirip sama guru ngaji saya.

Sebelum ia bermain untuk Barca, saya sudah tahu bahwa ia akan jadi salah satu pemain hebat dunia. Tidak ada yang meragukan hal itu. Alexis mengingatkan saya pada sosok Kazuhiro Hiramatsu dalam manga Shoot -manga yang selalu saya baca sebelum berlatih sepak bola. Sama-sama di posisi penyerang sayap, sama-sama punya kecepatan lari dan teknik driblling aduhai, dan sama-sama punya kecerdasan di atas rata-rata.

Saat bermain determinasinya selalu tinggi. Tidak seperti Messi yang kelihatan cuma ‘kluwar-kluwer’ tapi mematikan, Alexis lebih garang.

Kesalahan dia hanya satu; pindah ke Arsenal yang masih ada Arsene Wenger.

Saya selalu menganggap Arsen(e)al adalah kutukan. Pemain yang awalnya bersinar terang selalu saja kehilangan cahayanya. Hal ini berkali-kali terjadi. Tidak hanya Alexis, sebelumnya ada Rosicky, van Persie, dan juga Fabregas. Kini Alexis, dan yang serupa nasibnya; Ozil.

Konon kabarnya kini Alexis ingin pindah. Tapi tampaknya keinginan itu tak terwujud di bursa transfer lalu. Entah apa alasannya. Mungkin lobi-lobinya menemui jalan buntu.

Alexis, akan jadi apa dan lantas bagaimana setelah tidak diperpanjang kontraknya oleh Anis Baswedan?

 

Debat Jakarta

Akan ramai. Pilkada sebentar lagi, debat mulai digelar di televisi. Semua bersaing untuk mengkampanyekan ide. Program dan janji.

Saling sikut, saling serang antar calon. Hal ini wajar, dan itu bagus bagi perkembangan wacana kita.

Melihat sepintas, Agus berapi-api. Pidatonya berbeda style dengan ayahandanya yang kalem. Analisanya saya kira umum. Saya lihat referensinya menyebut-nyebut negara lain.

Basuki cenderung mengkampanyekan hal-hal yang sudah ia lakukan. Dan itu wajar, karena dia petahana. Pamer prestasi dan keberhasilan. Sah-sah saja. Siapa pun petahana harusnya juga begitu.

Anies, mempesona retorikanya. Sepintas segmen dua, punch line-nya menohok. “Ada ikan, ada kail tapi kalau gak ada kolam. Maka kami ingin memastikan ada kolamnya itu dulu,” katanya.

Tapi, semua analisa dan program yang disampikan Agus, Basuki, Anies bahkan Sandi dan Djarot sekalipun akan tetap Keok bila berhadapan dengan perkataan Ibu Silvy.

Saat Ibu Silvy sudah bicara, maka rontok semua alasan-alasan yang disampaikan yang lain. Tidak ada alasan yang akan didengar dan diperhatikan. Kenapa? Karena wanita selalu benar.