Tsunami

Bagaimana terjadinya tsunami?

Gampangnya, kamu membawa satu bak penuh berisi air. Nah, coba goyangkan bak itu. Maka terjadilah gelombang air didalam bak. Makin keras goyangannya, makin besar pula gelombang yang dihasilkan. Bahkan kadang bisa nyiprat ke raimu.

Ini disebut tsunami karena faktor gempa. Seismik. Nah, gempa ini penyebabnya karena tubrukan antar lempeng. Yang membuat bumi bergoyang. Kalau contoh diatas kan karena tanganmu yang menggoyang.

Atau bisa juga, kamu jatuhkan batu besar ke dalam bak. Cemplung! Kalau Lalu, bisa dipastikan, airnya muncrat. Makin besar batunya makin besar muncratnya.

Ini tsunami disebabkan benda yang jatuh ke lautan. Bisa disebabkan karena batu-batu yang diletuskan gunung api. Bisa juga karena ada meteor yang jatuh.

Hah??!! Meteor? Yang bener aja.

Atau bisa juga, kamu tiup airnya. Terjadi juga gelombang. Makin besar tiupanmu, makin besar pula gelombang yang dihasilkan.

Ini tsunami karena angin kencang. Badai. Angin terjadi karena perbedaan tekanan udara, bukan karena pemakan buah logia tipe angin.

Tsunami sebenarnya adalah gelombang biasa. Seperti ombak di pantai yang berkejaran dan dengan melihatnya saja, lantas bisa menjadikanmu dalam sekejap menjadi pujangga picisan.

Cuma, si tsunami ini ukurannya sangat besar dan disebut tsunami bila menerjang daratan. Kalau terjadinya di tengah lautan, bisa jadi tidak disebut sebagai tsunami. Sebut saja ombak ganas yang tingginya puluhan meter.

Kejadian tsunami di Banten dan Lampung memang tidak terprediksi. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba. Bahkan orang-orang banyak berkumpul di satu tempat saja tidak ada yang sadar kalau sebentar lagi bakalan diterjang gelombang.

Mengapa orang-orang tidak sadar?

Pertama, tidak ada gempa yang sebelumnya dirasakan. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi tsunami setelah sebelumnya ada gempa besar.

Kedua, waktunya malam hari. Orang-orang di pantai tidak melihat adanya ombak tinggi yang datang.

Menurut beberapa rilis media, tsunami ini masih diperkirakan disebabkan faktor gelombang tinggi karena cuaca dan erupsi gunung anak Krakatau. Bukan karena gempa bumi.

Setidaknya ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di selat Sunda ada anak Krakatau, yang dulu simboknya waktu meletus dahsyat. Letusannya dilaporkan terdengar hingga Kepulauan Mauritius yang berjarak 4.800 km dari lokasi, ngutip media.

“Anak Krakatau bagi kebanyakan orang hanyalah tontonan, dan batu pijar yang kerap dilontarkannya seolah kembang api tahun baru yang sama sekali tidak berbahaya. Sejarah kehancuran itu sudah terkubur di dalam ingatan masyarakat. […] Ingatan pendek dan kurangnya pengetahuan adalah musuh abadi kesiapsiagaan, “ hasil ngutip media juga.

Dan mari sudahi ribut-ribut soal azab ataukah musibah. Mari kita berdoa untuk para korban. Semoga segala dosa-dosa diampuni, dan amal ibadahnya diterima. Diberikan ketabahan dan kesabaran.
Sebaiknya gerombolan ‘c*****’ dan ‘k******’ bersatu dalam doa keselamatan untuk Indonesia. Sudahi dulu tugas buzzernya. Besok lagi.

Penulis,
Sarjana Geografi. Bukan buzzer yang belum dibayar.

Never leave history (you)

Never leave history (you)

Pagi yang redup ini, tanggal 17 Agustus 2015, Bung, sudah 70 tahun semenjak dulu engkau mengumandangkan Proklamasi bersama Hatta. Sudah 70 tahun, Bung! Sudah 70 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merdeka.

Sudah cukup lama ya? Walau dalam usiaku ini, masih saja baru seperti kemarin ikut perayaan 17an. Rasanya baru kemarin saya memenangi lomba bal-balan antar RT itu.

Aku buka-buka lagi buku tentangmu, Bung. Kumpulan pidato-pidatomu. Dan kudapati pada bagian saat kau berujar untuk jangan meninggalkan sejarah, never leave history.

“… Inilah sejarah perjuanganmu, inilah sejarah historymu. Pegang teguh kepada sejarahmu itu, -never leave your own history! Peganglah apa yang telah kita miliki sekarang yang adalah akumulasi daripada hasil semua perjuangan kita di masa lampau, kataku tadi. Dan kataku tadi, jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vakum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita!

Ada orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari sejarah, bahkan mau melepaskan kita dari sejarah itu. Itu tidak bisa! Mereka akan gagal! Sebab melepaskan sesuatu rakyat atau bangsa dari sejarahnya, adalah tidak mungkin. Nasional biologis tidak mungking, nasional psikologis tidak mungkin. Dan tidak mungkin pula karena engkau, hai rakyat, hai prajurit dari semua Angkatan Bersenjata, hai pejuang-pejuang progresif revolusioner, engkau tidak mau dipisahkan dari sejarahmu, sejarahmu sedniri, sejarah perjuanganmu sendiri!

…..

……. Aku hanya menunjuk jalan kepada engkau, selalu dengan engkau, tidak pernah tanpa engkau. Dengan engkau aku berdiri, tanpa engkau aku bukan apa-apa. Dengan engkau aku jaya, tanpa engkau aku gagal.

Jangan ragu-ragu, jangan bimbang! Mari berjalan terus melanjutkan Revolusi, di atas jalan yang aku tunjuk!

Ya Allah ya Rabbi, ridhoilah Revolusi Indonesia di bawah pimpinanku ini!”

Itu penutup pidatomu yang kau katakan pada 17 Agustus 1966 di Jakarta dengan judul Jas Merah (Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah) ya Bung.

Sayang, aku tak bisa menyaksikan live pidatomu yang konon menggelegar dan mempesona itu. Paling pol mentok hanya live via youtube. Yah, sudah lama republik ini tidak punya presiden yang pidatonya sekaliber dirimu. Tiap jaman berbeda-beda, mungkin yang dibutuhkan jaman ini bukan yang pandai orasi, tapi yang pandai memoles diri.

Diam-diam aku rindu padamu, Bung.

Tapi kenangan biarlah tetap jadi kenangan, ia indah karena sesekali dikenang, bukan ditinggalkan. Aku tak berharap engkau hadir kembali untuk menyelematkan Indonesia. Aku tak berharap engkau dipanggil menggunakan Edo tensei, seperti Hokage pertama hingga keempat untuk menyelamatkan dunia shinobi. Aku tak berharap itu, Bung.

Cukuplah aku merindukanmu, hari ini.

sukarno

Bola Ganteng Maksimal

Bola Ganteng Maksimal

“Peluang matang yang GANTENG MAKSIMAL dari Evan Dimas….”

Begitulah kata komentator pada pertandingan Sea Games U-23. Saya menyaksikan pertandingan itu lewat televisi saja, maklum tak cukup ongkos walau sekadar naik pesawat selama dua jam. Dan akhirnya saya mafhum bahwa kata-kata yang cukup aneh bin menggelitik itu adalah pesan sponsor.

Walaupun sedikit wagu dan jayus, namun saya rasa tak ada nada ragu dari komentator untuk menyebut Ganteng Maksimal dalam rentang waktu tertentu secara periodik.

Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari sejagad ini, karena itulah sepakbola selalu menarik perhatian para sponsor dan terutama bandar judi. Beberapa produk terkenal selalu rebutan mejeng pada even besar sepakbola. Semua even pun diadakan. Mulai pertandingan liga hingga dunia. Bahkan pertandingan tarkam pun jadi rebutan sponsor, dan bandar judi tentunya.

Dan tahukah Anda berapa jumlah uang yang berputar dari sepakbola?

Ambil contoh, katakanlah pemasukan FIFA –induk sepakbola dunia- sewaktu menyelenggarakan Piala Dunia di Brasil tahun lalu, FIFA mampu meraup £ 1,4 miliar atau sekitar Rp 28 triliun. Edan! Kalau ditulis itu sekitar 28.000.000.000.000, buat beli kerupuk bisa menenggelamkan Jogja dalam lautan kerupuk.

Maka tak heran bila ada yang mengatakan bila ingin sepak bola maju makan sepak bola harus bisa menjadi industri; Industri Sepak bola. Industri ini yang akan menopang dan memacu kreativitas dan kompetitif klub, pemain, bahkan negara untuk selalu mencetak pemain-pemain dan pertandingan hebat.

Semakin hebat klub yang dibangun maka akan semakin kaya. Ini sudah menjadi semacam rumus paten ekonomi sepakbola.

Sebut saja misalnya klub terkaya di dunia, yaitu Real Madrid yang punya kekayaan sebesar USD 3,26 milliar dollar. Berapa rupiahkah itu? Silahkan hitung sendiri. Mohon maaf, kalkulator saya tak mampu menampung nol-nya. Hasilnya; tak heran kan Real Madrid jadi klub yang ditakuti di dunia ini, bahkan hingga sempat mendapat julukan Los Galaticos –dari galaksi lain (pemainnya alien semua). Walaupun begitu yaa Madrid tetap aja gak juara tahun ini ya, kalah dari Barcelona yang hanya punya satu alien. Hehehe..Visca Barca!

So, apa pun itu dalam sepakbola karena sudah menjadi sebuah industri, harus ada nilai ekonomisnya. Jersey harus bisa dihitung nilai ekonomisnya. Tiket pertandingan, jadwal, suvenir, bahkan pemain –yang notabene adalah manusia- ada nilai ekonomi di dalamnya.

Alhasil, aksioma yang ada saat ini adalah bila ingin sepakbola berkembang dan maju jadikanlah sepakbola sebagai sebuah industri. Caranya adalah cabut subsidi APBN/D untuk sepakbola. Jual sepakbola dalam berbagai bentuk hak siar. Jual berbagai suvenirnya. Jual beli pemainnya untuk memperkuat tim, dan sebagainya.

Logika dasar seperti itu, kata dosen saya, adalah filosofi logika neoliberal. Mohon maaf bila saya keliru, mungkin waktu kuliah saya sedang terkantuk.

Jadi komentator yang menyelipkan frasa “ganteng maksimal” tadi, itu ternyata ada HARGANYA. Jangan sembarangan di ejek ya, mahal itu..

Salam olahraga,

Rajin (Malas) Antri

Rajin (Malas) Antri

Siapa bilang orang Indonesia itu pemalas?

Suatu hari saat saya terpaksa bangun pagi, padahal saya termasuk golongan bangsawan (bangsa tangi awan), saya melihat bahwa orang Indonesia itu rajin-rajin.

Di pagi hari itu, pagi-pagi sekali, dengan terpaksa saya mandi dan memakai pakaian rapi agar nanti foto ukuran 3×4 yang ada dalam dokumen administrasi kependudukan warga negara Indonesia saya bisa terlihat lebih cerah.

Setelah mandi saya mengendarai sepeda motor. Jalanan masih sepi dari anak-anak SD yang berangkat sekolah. Namun, di perempatan pinggir jalan, di sebuah pasar, saya lihat ibu-ibu sudah berjajar menjajakan dagangannya. Itu matahari belum sempurna naik.

Saya ngebut. Jalanan masih sepi, padahal biasanya saya tidak pernah ngebut. Kenapa saya ngebut? Bukan karena takut terlambat masuk kelas, tapi agar masih dapat jatah antrian. Ya, saya dapat informasi -bukan dari intel CIA- bahwa antrian kepengurusan dokumen yang saya maksud per hari hanya dibatasi 100 orang. Padahal peminatnya bisa lima kali lipat.

Sesampainya saya di lokasi, di tangga menuju pintu masuk, Masya Allah, ternyata sudah berbaris rapi puluhan orang di depan pintu. Saya lihat handphone, karena tidak punya jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Padahal kantor itu mulai buka jam 8 pagi! Lalu orang-orang yang antri duluan itu datang jam berapa??

Orang-orang yang berbaris, ada yang tua ada yang muda ada yang pekerja ada yang mahasiswa ada yang tampak seperti entrepenuer muda ada yang tampak seperti bos mafia, mengular seperti sedang main ular naga panjangnya.

Sempatkah mereka sarapan pagi? karena saya lihat ada seorang ibu muda sambil mengantri sambil menyuapi anaknya yang masih balita.

Ini..ini….apa masih mau dibilang orang Indonesia itu malas? Tidak kan. Mereka rela antri berjam-jam hanya untuk mengurus dokumen yang tak sampai 30 menit. Jadi, waktu lebih banyak dihabiskan untuk mengantri.

Nah, alangkah lebih baiknya bila rajinnya orang Indonesia ini tidak menjadi alasan malasnya berpikir yang bertugas membuat dokumen untuk mencari cara agar tidak banyak antrian. Semoga mereka tidak berpikir karena orang-orang itu rajin maka yang bertugas mengurus rakyat mah santai-santai saja.

Yah, jangan sampai mirip dengan alasan untuk membuat rakyat rajin maka naikkan saja harga BBM.

20 Mei: Antara Angka dan Makna

20 Mei: Antara Angka dan Makna

Tahun 1948 merupakan tahun yang berat bagi Republik Indonesia. Republik yang baru lahir ini di satu sisi tengah porak poranda menghadapi agresi militer Belanda dan di sisi lain ancaman disintegrasi mulai menguat.  Kondisi kritis itulah yang kemudian mengilhami Ki Hajar Dewantara dan Mr. Ali Sastroamidjojo untuk menjadikan sebuah momen penting dalam sejarah perjalanan bangsa sebagai ‘peringatan’.

Momen yang dapat digunakan sebagai gairah pemersatu kembali. Gairah kebangkitan dari keterpurukan. Gairah baru bagi bangsa yang tengah dilanda krisis dan ancaman perpecahan. Usul ini kemudian sampai di telinga Bung Hatta dan Bung Karno. Dan akhirnya disepakatilah momen kelahiran Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Ada banyak kotroversi atas penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang bebarengan dengan lahirnya Budi Utomo itu. Namun saya tak hendak masuk pada perdebatan tersebut. Fakta sejarah yang kita terima saat ini adalah tiap tanggal 20 Mei bangsa ini memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Angka tanpa makna

20 Mei bisa jadi hanyalah sebuah tanggal pada kalender semata. Sebagai salah satu bilangan dalam perhitungan satu tahun masehi. Tanpa ada makna di dalamnya, kita akan melangkahi 20 Mei seperti hari-hari biasa pada umumnya. Minus upacara ataupun politisi yang beriklan di televisi. Karena itulah yang amat penting adalah pemberian makna atas peristiwa yang telah terjadi.

Sebuah simbol akan mempunyai arti dalam benak orang saat simbol itu diberi makna. Diberi arti. Diberi ruh. Hari-hari peringatan pada dasarnya adalah upaya mengabadikan makna atas sebuah peristiwa sejarah. Kita peringati karena kita ingin mewariskan makna itu kepada generasi selanjutnya. Kita peringati karena ada tujuannya. Ada makna yang hendak disampaikan kepada khalayak. Ada pesan, dan ada sesuatu yang harus digairahkan kembali.

Oleh karena itulah, melihat dari latar belakangnya, Hari Kebangkitan Nasional kala itu digunakan sebagai dopping untuk kembali ‘menggairahkan’ persatuan Republik Indonesia. Namun selalu ada persoalan dalam setiap hari peringatan.

Pertama, seringkali peringatan yang kita lakukan hanya berlangsung seremonial semata. Sehingga ada orang yang menganggap bahwa berbagai upacara peringatan sebagai salah satu bentuk pemborosan anggaran. Terjadi degradasi makna karena berbagai upacara tak berkorelasi positif dengan perubahan perilaku.

Kedua, situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini sangat jauh berbeda saat peristiwa peringatan itu ditetapkan. Hal ini berakibat pada kurangnya ‘dramatisasi peristiwanya’. Kita lahir dalam sebuah situasi yang berbeda, sehingga penghayatan atas peringatan sebuah peristiwa pun berbeda. Efek emosional yang kita rasakan tidak se-emosional orang-orang saat peristiwa itu diputuskan untuk diperingati.

Tidak mungkin membawa situasi emosional sebuah peristiwa masa lalu pada saat ini. Walaupun kita bisa mendapatkan gambarannya dari film, atau buku sejarah, tapi tetap saja berbeda jauh dari orang yang mengalaminya secara langsung. Oleh karena itu, yang mungkin dilakukan adalah mewariskan ide dan gagasannya.

Mewariskan ide yang melahirkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, itulah yang perlu disampaikan. Bukan semata mewariskan protokoler upacaranya atau  menghafal tanggal dengan kaku. Sehebat-hebatnya sebuah peristiwa yang paling bermanfaat bagi khalayak adalam inspirasi yang ditimbulkannya.

Tanggal hanyalah sebuah bilangan, tapi kitalah yang memberi makna. Dari makna itu maka muncul inspirasi. Dari insprasi muncul harapan dan pemikiran. Pemikiran melahirkan perbuatan dan perbuatan menimbulkan perubahan.

Inspirasi lahir dari pemaknaan sebuah peristiwa. Itulah alasan tanggal 20 Mei masih substansial untuk dikenang, karena kita membutuhkan inspirasi untuk berbuat dan melakukan perubahan. Tanpa diberi makna, 20 Mei, hanyalah sebuah bilangan matematika semata.