Ilusi

Ilusi

Ilusi itu tipuan. Magic yang tampak ajaib hanyalah trik dan teknologi. Saat Om Deddy hilang dari peti mati, sebenarnya ada jalan keluar di dalamnya. Yang terhalang kamera. Penonton tidak melihatnya. Yang ia lihat adalah sang pesulap yang hilang.

Ilusi itu tidak nyata. Halusinasi. Bayangan. Dan kadang tipuan.

Saat berada di padang pasir yang luas dan yang ada hanya hamparan pasir semata. Dengan cuaca panas dan terik. Kita bisa melihat genangan air yang menyejukkan. Itu namanya fatamorgana. Tidak nyata. Hanya efek lingkungan semata. Ilusi itu kan pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan.

Semua orang suka ilusi. Rela membayar mahal untuk menontonya. Tidak percaya? Pergi saja ke pertunjukkan sulap. Apalagi tukang sulapnya dari luar negeri. Orang-orang berduyun-duyun untuk nonton. Menyaksikan ilusi dengan “gumun.” Padahal mereka tahu itu tipuan, Mereka senang ditipu.

Tukang ilusi tidak sama dengan tukang tipu. Tukang ilusi hanya menghibur. Sebagai pertunjukkan. Tukang tipu untuk menipu. Walaupun keduanya bisa jadi sama-sama dapat untung. Tukang ilusi memperoleh keuntungan dari keikhlasan penontonnya. Tukang tipu dapat untung tapi dibenci orang. Tukang ilusi juga punya sebutan yang agak keren; ilusionis. Tukang tipu dimanapun julukannya tidak keren.

Ilusi mempengaruhi tiga hal; logika, emosi, dan psikomotor. Contohnya ada orang yang berkhayal bisa terbang, ia berpikir ilmiah lalu membuat sayap. Akhirnya jadi pesawat. Begitulah. Saat nonton sulap pun logika, emosi dan psikomotor kita juga terpengaruh. Perasaan senang, lalu bergerak bertepuk tangan. Kalau perlu standing applause. Lalu berpikir, apa triknya.

Ilusi memberi kebahagiaan. Keceriaan. Saat nonton sulap anak-anak saja bisa tertawa senang. Kok bisa kelinci bisa keluar dari topi? Jadi pertanyaan yang tak bosan diulang-ulang. Penasaran. Heran dengan sesuatu yang terlihatnya mustahil.

Ilusi juga bisa bikin sedih. Iya, sedih. Saat pertunjukkan sudah selesai dan kita sadar bahwa harga tiketnya ternyata mahal. Duit habis hanya untuk show dua jam.

Hidup juga ada ilusi. Mungkin bukan ilusi tapi ilusif. Kata sifat.

Kadang kita menghadapi sesutau yang memperdayakan dalam hidup, itulah ilusif. Misalnya cinta. Kalau kita menghadapi cinta yang memperdayakan maka cinta itu jadi ilusif. Punya sifat ilusi. Kalau cinta juga hanya ada di angan-angan, itu juga ilusif.

Uang juga bisa jadi ilusif. Kalau uang itu tidak ada di dalam dompet tapi di dalam khayalan. Kalau uang dalam rekening ilusif tidak ya? Uangnya ada di bank, bukan nyata di dalam genggaman kita. Ah, pusing mikirnya.

Kita senang nonton ilusi di televisi, tapi saat ilusi ada dalam kehidupan sehari-hari kita senang tidak?

Ah, itu kan tergantung cara menikmatinya. Sama seperti minum kopi.

Ilusi Pertumbuhan

 Statistik bisa menipu. Angka-angka yang tertera dalam laporan tak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil. Rekor perekonomian yang ditorehkan Presiden SBY bisa jadi hanyalah sebatas angka, namun jauh dari peningkatan kesejahteraan riil masyarakat kecil. Berdasar data dalam tulisan Khudori, pegiat ekonomi politik Indonesia, didapatkan:

Pekan pertama IHSG menembus 4.000. Pekan kedua Februari suku bunga acuan (SBI) turun menjadi 5,75 persen, terendah sepanjang sejarah. Menurut BPS, pada 2011 ekonomi tumbuh 6,5 persen, inflasi bisa ditekan 3,64 persen, dan PDB mencapai Rp. 7.427 triliun. Jika PDB itu dibagi jumlah penduduk Indonesia, pendapatan per kapita penduduk Indonesia 2011 mencapai US$ 3.542. Pendapatan per kapita itu meningkat 17,7 persen dibanding pada 2011, atau naik 3,2 kali lipat dari 2004.

Arti dari angka itu ialah Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Bahkan dengan pertumbuhan ini, Indonesia berhasil duduk dalam kursi bergengsi G-20[2]. Bersama negara-negara maju lainnya.

Angka yang menipu

Tapi apakah angka itu bisa mewakili kondisi riil masyarakat Indonesia? Saya rasa tidak. Dilihat dari data tersebut,maka dikatakan bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai US$ 3.542. Angka yang cukup untuk hidup layak di Indonesia.

SBY boleh mengklaim angka kemiskinan terus menurun: dari 35,1 juta (2005) tinggal 31,02 juta jiwa (2010). Tapi, dengan garis kemiskinan Rp 210 ribu per orang per bulan, kualitas hidup seperti apa yang dijalani warga miskin itu? Baca lebih lanjut