Sepatu Bola Pertama

Kata guru saya, lokasi rumah yang baik itu bila dekat dengan masjid dan lapangan bola. Alhamdulillah, saya besar dengan kondisi itu. Dekat masjid, dekat lapangan bola, plus dekat kuburan.

Adanya lapangan bola tentu membuat anak laki-laki di desa saya hampir semuanya adalah pemain bola. Minimal para pemain kesebelasan persatuan sepak bola tingkat kecamatan. Walau cuma jadi pemain cadangan. Selamanya.

Saban sore, sejak masih duduk di sekolah dasar, saya dan teman-teman biasa bermain di lapangan. Itu sewaktu kami masih bandel-bandelnya, belum mengenal ngaji TPA di masjid.

Kami bermain bola dengan telanjang kaki. Kadang pakai bola karet, kadang pakai bola plastik. Dengan gawang yang terbuat dari jajaran formasi sandal jepit. Bermain tiga lawan tiga, atau kadang kalau pasa banyak; lima lawan empat.

Saya ingat betul pada sore itu, saat saya hanya bisa duduk sendiri di pinggir lapangan, sementara teman-teman yang lain asyik menendang bola kesana kemari. Musababnya cuma satu; saya tidak punya sepatu bola.

Ya, karena saya tidak punya sepatu, saya tidak boleh ikut permainan. Diskriminasi tenan. Tapi diskriminasi yang ada alasannya juga sih; bayangkan kaki telanjang bila berhadapan dengan “gigi-gigi” sepatu bola. Keinjak dikit saja, mak wuaaduuh rasanya nyut-nyutan.

Disitulah saya duduk memegang dua lutut sambil menahan air mata. Jadi begini pedihnya melihat teman yang berbahagia sedangkan kita hanya bisa menontonnya. Benar-benar sakit.

Tak tahan cuma jadi penonton, saya memutuskan untuk pulang.

“Kok sudah pulang?,” tanya Bapak saat saya sampai rumah. Ya, biasanya saya pulang menjelang magrib. Ini pulang diluar kebiasaan.

“Liyane do nganggo sepatu, aku ra nduwe sepatu,” jawab saya singkat sambil berjalan masuk kamar.

Saya tahu bahwa membeli sepatu bola, untuk orang tua saya pada masa-masa itu, relatif cukup mahal. Bukan berarti kami tidak punya uang, bukan. Uangnya ada, tinggal mau kerja atau tidak. Eh, maksudnya belum punya anggaran khusus untuk itu.

Saya tahu dan sadar betul hal itu. Maka saya jarang sekali meminta sesuatu sambil merengek-rengek. Bukan karena apa, cuma ancamannya ya malah bakal kena marah Bapak.

Tapi beberapa hari kemudian, saat saya pulang sekolah, tiba-tiba saja di atas meja belajar saya sudah ada sepatu bola baru.

Wow! Saya senang sekali. Langsung saya coba dan alhamdulillah, pas banget ukurannya.

Beberapa hari kemudian saya baru tahu bahwa sepatu itu adalah pemberian dari tetangga saya, yang sudah saya anggap sebagai om.

Waktu itu saya senang-senang saja, tidak peduli siapa yang membelikan, asalkan ada sepatu yang bisa membuat saya menekuni karir sebagai atlit sepak bola.

Namun kini, setelah tiga dasawarsa saya lalui, saya baru sadar satu hal; betapa orang tua akan melakukan segalanya untuk anaknya.

Termasuk “meminta” bantuan pada orang lain. Sama seperti yang ibu saya lakukan bertahun-tahun kemudian untuk membayar uang masuk kuliah untuk anaknya. Dan sama seperti yang akan kami lakukan untuk anak-anak kami, melakukan sampai batas usaha agar anak-anak bisa tumbuh dengan senyum bahagia di wajahnya.

Cekok

Seingat saya mungkin waktu itu usia saya masih TK. Bapak dan Ibu mengajak saya jalan-jalan ke kota. Saya bisa melihat gedung-gedung besar, toko-toko di sepanjang jalan mataram. Merasakan naik andong istimewa ku duduk di muka.

Tentu kenanangan itu akan terasa indah bila tidak diganggu satu kejadian yang pahit. Ya, ternyata motif utama Bapak dan Ibu mengajak saya jalan-jalan untuk “mencekok-i” saya.

Sewaktu kecil saya juga memasuki fase yang katanya hampir dialami oleh sebagian besar anak-anak balita. Yaitu fase susah makan. Di usia ini, kata konsultan di FB Spesialis Kesehatan Anak, biasanya anak sedang aktif-aktifnya. Pengennya main, usil, dan mulai yang paling bikin kesel orang tua; ngeyel.

Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya susah makan? Sudah masak capek-capek, eh tahu-tahu gak dimakan sama anaknya. Pun orang tua di sisi lain juga sadar bahwa kebutuhan gizi dan nutrisi untuk anak untuk masa pertumbuhannya hanya bisa didapatkan lewat makanan. Tidak ada yang lain.

Persoalan makin ribet pada saya karena sejak kecil saya sukanya cuma makanan yang serba goreng-gorengan. Jarang sekali makan sayur.

Sebagai orang dewasa saat ini, saya memahami kalau Bapak dan Ibu akhirnya memutuskan untuk memberikan “cekok” pada saya. Pagi agak siang itu saya disuruh memakai baju yang paling bagus dan sepatu.

“Cekok,” apa ya bahasa Indonesianya?, itu adalah memberikan jamu ke saya. Bukan diminumkan langsung pakai gelas, tapi dengan sapu tangan yang dicelupkan ke ramuan temulawak. Memang bahan ini diyakini dari jaman dahulu sangat efektif untuk menambah nafsu makan anak. Artinya bisa menyelesaikan persoalan saya yang susah makan.

Simbah tukang jamu mencelupkan sapu tangan, yang jelas tidak bakalan higienis, dan sudah dipakai sama pasien-pasien anak-anak sebelum saya, lalu Bapak memegang kepala saya. Dengan serta merta simbah itu menaruh sapu tangan pahit itu ke mulut saya.

Saya meronta. Tapi makin meronta, makin kencang pula simbah “nyekoki” saya. Pahit, sangat pahit. Setelahnya diberi minum jamu yang manis pun tidak mempan menghilangkan rasa pahitnya.

Tapi walau itu adalah kenangan “pahit” ya, memang merasakan sesuatu yang pahit, saya tetap menganggap itu sebagai kenangan berharga. Karena momen itu masih saya ingat sampai saat ini. Momen yang sudah berlalu berpuluh-puluh tahun lalu masih nyantol di kepala dengan jelas. Padahal banyak momen yang “lebih baru” tapi saya sendiri sudah lupa.

Beginilah Dulu Ibu Mengasuhku

Di tanganku, tergenggam foto ukuran kartu pos. Pinggirnya sudah berjamur. Namun gambarnya masih tampak jelas. Di foto itu ada aku, ibuku, dan satu orang anak tetangga yang dulu sering main kerumahku.

Aku tak bisa mengingat foto itu tahun berapa. Yang kutahu, bahwa di foto itu wajahku masih terlihat duduk di sekolah dasar.

Kami duduk di sebuah bangku yang cukup luas. Sebenarnya itu ranjang, yang ditaruh di luar rumah.

Ibu ada di belakangku. Aku nampang di depan. Sambil memegang mainan. Ibu sedang membuat kerajinan yang akan ia jual kembali ke esokan harinya. Anak satunya duduk di sepeda roda tiga sambil mendongak ke atas. Melihat kamera.

Aku sendiri hanya melihat kebawah. Tidak senyum. Rasanya waktu itu, aku memang tak begitu suka di foto.

Menurutku ibu adalah wanita luar biasa. Dan mungkin setiap ibu adalah wanita yang luar biasa. Hal luar biasa yang ibu lakukan padaku misalnya saja, yang sederhana, adalah menyiapkan susu sebelum aku berangkat sekolah.

Saban pagi, semenjak aku duduk di bangku TK selalu saja tersaji susu hangat di meja makan yang akan ku minum sebelum berangkat sekolah. Dan ibu tak memandang bahwa aku sudah dewasa atau masih anak-anak, susu itu selalu ada walaupun aku sudah duduk di perguruang tinggi. Mungkin bagi seorang ibu, segede apa pun anaknya akan tetap menjadi anak-anak dimata ibunya.

Kalau saja bisa dihitung, misalnya aku sekolah TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah, ehm, 5 tahun. Maka totalnya ada 18 tahun. (Duh, lama juga ya sekolah di Indonesia ini… 😀

Selama 18 tahun lebih ibuku selalu membuatkan aku susu coklat.

Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan ibuku untuk membekali anaknya ini menempuh pendidikan. Agar jadi anak pintar. Cerdas dan bisa membanggakan. Bukankah setiap orang tua ingin anaknya begitu bukan? Cerdas.

Itu yang bisa dilakukan ibuku, karena ia tak bisa mendampingiku belajar. Ya, karena ibuku hanya sekolah sampai kelas 2 SD saja. Maka ibuku termasuk dari sekiar 47ribu (data tahun 2014) orang yang masih buta huruf yang ada di Jogja.

Aku ingat, saban malam setiap ada PR dari sekolah, ibuku hanya bisa melihat. Saat aku bertanya padanya, ia selalu menggeleng. Tidak tahu. Aku yang mesti mencari-cari jawabannya sendiri. Kadang bisa bertanya pada ayah, tapi jarang ku lakukan.

Yang sangat ku sesali saat ini adalah bahwa dulu aku selalu merasa malu bila ibu mengambil raportku. Bukan karena aku malu mendapat ranking jelek, tidak. Jelas bukan itu. Tapi aku malu bila ibu mesti diminta untuk membaca dan menandatangai raportku. Aku malu bila guruku tahu bahwa ibuku hanya sekadar tanda tangan saja tak bisa.

Padahal seharusnya aku malah bangga pada ibu. Ibu yang buta huruf, bisa membesarkan anak yang nilainya yah, saat sekolah dasar sih biasanya juara kelas.

Begitulah salah satu fragmen hidupku tentang bagaimana ibu dulu mengasuhku. Mungkin pengasuhan yang ibuku lakukan tidak sesuai dengan teori-teori parenting masa kini.

Harusnya ibu mendampingi anak belajar, tapi itu tidak dilakukan ibuku.

Baiknya ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur, tapi itu tidak dilakukan ibuku. Baiknya ibu mendampingi anak bermain, tapi ibuku malah sibuk bekerja. Tapi ibuku tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang dalam membesarkanku.

Ibuku mungkin kurang pintar, tapi ia punya lebih cinta.

Saat ini tentu kondisinya berbeda. Sebagai orang tua yang lahir pada jaman lebih baik, tentu kita akan menerapkan pola asuh yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tua dahulu. Ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan untuk mengasuh anak dengan lebih baik.

Ada tantangan yang lebih besar di masa mendatang. Ada masalah-masalah yang lebih kompleks untuk menyiapkan anak-anak kita. Ada persoalan yang dulu tidak ada, misalnya saja gadget, dan kita harus mengahadapinya kini.

Maka menjadi orang tua saat ini, tentu berbeda dengan menjadi orang tua masa lalu.

Itulah kenapa orang tua adalah orang yang tidak pernah selesai belajar. Seperti yang dikatakan oleh Fauzil Adhim, pakar parenting, bahwa Parenting is a journey. Mengasuh mendidik anak merupakan perjalanan tiada henti, perjalanan yang meminta kesediaan untuk terus belajar dan berbenah.

Hari Pertama Sekolah

HARI PERTAMA SEKOLAH 

Mendiknas, konon kabarnya membuat himbauan agar para orang tua mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Himbauan yang bagus sekali. 

Saya jadi teringat berpuluh-puluh tahun yang lalu. (wes suwe tenan yaa.. jebule aku wes tuo). Saat saya untuk pertama kalinya mengenakan “seragam sekolah.” 

Waktu itu, kalau tak salah ingat, usia saya 6 tahun saat masuk Taman Kanak-Kanak. Dan itulah pertama kali saya “sekolah.” Maklum saya waktu itu tidak dimasukkan ke PAUD. Alasannya karena pada jaman saya kecil, PAUD belum bertebaran hingga pelosok RW, belum menjadi trend jaman. Saya termasuk terlambat masuk TK. Teman-teman seusia saya umumnya masuk TK selama 2 tahun. Saya sendiri -karena usianya sudah 6 tahun- TK cuma setahun saja. Lalu langsung SD. 

Sebelum masuk TK praktis saya cuma menghabiskan waktu di sekitar rumah saja. Cuma muter-muter di halaman. 

Rumah saya persis di belakang kuburan, mepet tembok. Jadi kalau dulu sudah ada Pokemon Go, saya mesti nyari Pokemon di samping rumah. Pokemon hantu. Langka.  

Saya seperti kebanyakan anak-anak, pada hari pertama sekolah saya juga diantar oleh Mamak. Digandeng tangannya, sambil terus diwanti-wanti, “Dieling-eling iki dalane. Bar lewat kene, terus lurus. Belokane ojo nganti lali.” 

Saya manggut-manggut. Memperhatikan betul. Kalau saya sampai lupa, bisa celaka. Bisa nyasar saat pulangnya nanti. Ya, karena bersama Mamak cuma perjalanan pergi, perjalanan pulang saya harus mengandalkan ingatan ancer-ancer. 

Dan itulah hari pertama saya sekolah. Pertama diantar oleh Mamak ke sekolah, untuk esoknya dan hari-hari selanjutnya; yah, berangkat TK dengan jalan sendiri. 

Seingat saya begitu.. 

Hari pertama sekolah, himabuan menteri itu bagus juga. Karena hari pertama sekolah inilah yang akan diingat selamanya oleh anak..

 

Bunda-Bunda itu Adalah Superheroes

Bunda-Bunda itu Adalah Superheroes

Di depan rumah saya sedang ada proyek jalan. Tampaknya proyek jalan ini bukan hanyas sebatas pengaspalan saja. Ada “beggo” yang stand by juga. Eh, beggo ini adalah lidah Jowo untuk menyebut Back Hoe ya. Jalan aspal dikeruk, lalu diberi besi-besi dan cor beton.

Banyak pekerja proyek jalan ini, sebagisan besar bapak-bapak namun diantaranya ternyata tak sedikit yang perempuan.

Sepintas saya lihat usia mereka sudah tak lagi muda. Mungkin lebih muda dari usia ibu saya, atau bahkan bisa jadi lebih tua. Saya juga tidak tahu. Bisa jadi wajah mereka Nampak lebih tua karena menanggung beban hidup dan beban pekerjaan yang begitu berat.

Wajah mereka tidak merah merona, tidak bersih dari jerawat, tidak bersih dari flek hitam. Wajah mereka kusam, keriput, cenderung hitam karena mereka tidak memakai krim wajah yang bisa melindungi dari sinar ultraviolet.

Ibu-ibu yang jobdescription adalah sebagai kuli itu tak segan bekerja bersama bapak-bapak lainnya. Mereka mengaduk semen, mengangkat batu, mengayak pasir. Sebuah pekerjaan yang saya saja jarang sekali melakukannya.

Melihat mereka saya haru. Haru sekali.

Merekalah pahlawan-pahlawan sebenarnya.

Mereka, ibu-ibu kuli itu, lebih kuat dari yang kita duga. Ibu-ibu itu bukanlah wanita lemah. Ada hati yang terbuat dari baja tertanam di dada mereka. Ada otot yang lebih kuat dari ototnya Gatot Kaca. Setiap hari mereka melawan panas. Kadang hujan. Melawan lelah. Melawan gengsi. Melawan malu. Melawan tatapan nyinyir.

When you’ve been fighting for it all your life
You’ve been struggling to make things right
That’s how a superhero learns to fly
(Every day, every hour
Turn the pain into power)

Selamat hari pahlawan para Bunda…Bunda tak hanya sekadar pahlawan, tapi juga super pahlawan. Superheroes.

Semoga bunda-bunda selalu diberikan kesehatan, dan keberkahan dalam rejeki. Amiin.

.

.

Nb. Masihkah kamu, hei kel, mengeluh hanya karena harus packing memotong-motong kardus?