Hujan Cinta

Aku sering berkata bahwa kadang kala cinta itu seperti hujan.

Sama halnya dengan hujan yang tak datang tiba-tiba,  pun cinta juga seperti itu.

Hujan awalnya adalah genangan air yang luas di permukaan bumi. Yang kemudian melayang-layang karena hangatnya matahari.

Lalu ia terbang tinggi. Naik hingga menjadi dingin. Kita melihatnya sembari rebahan di bawah pohon sebagai awan. Ia lalu menggumpal,  berat, dan akhirnya jatuh sebagai hujan.

Meneteskan air yang rintik-rintik membasahi jalanan, genteng rumahmu, dan juga bunga-bunga.

Cinta juga seperti itu. Ia tak datang dengan tiba-tiba.  Tapi ada proses bahwa cinta itu tumbuh dan berkembang dalam hati.

Sama halnya dengan hujan yang menghidupkan bunga-bunga, maka cinta juga seharusnya menghidupkan hati yang gersang.

Jadi, bila kita kehujanan itu artinya sedang mendapatkan guyuran cinta. Hehehe….

Merindukan hujan

merindukan hujanMerindukan hujan yang turun rintik-rintik yang menerpa wajah kita,

lalu kita saling pandang, tersenyum…

Merindukan hujan yang kita berlari-lari diterpanya….
Merindukan melihat hujan yang kita duduk berdua sambil berbincang ditemani coklat hangat…
Merindukan hujan yang kita menari-nari dibawahnya….

Merindukan hujan yang merahasiakan cinta pada rintiknya…
Merindukan hujan yang menghapus jejak-jejak kita yang ragu-ragu…
Merindukan hujan yang suaranya meredam kata yang tak terucap antara kita….
Merindukan hujan yang tak pernah bisa menguraikan kata-kata mutiara

Merindukan hujan yang tak mampu dikurung oleh beralinea sajak,

tapi mampu dirangkum oleh sejuknya tatapan bola matamu…

Merindukan hujan yang tak perlu kata-kata tapi tahu kapan ia membuat kita bahagia…
Merindukan hujan yang kita membiarkan anak2 kita bercipratan di selokan kecil depan rumah..

Merindukan hujan, yang mengetuk jendela hatimu…seakan-akan itu aku..

 

Januari 2013, saat hujan

Menikmati hujan antara kita

Hujan. Jatuh dengan rintiknya.

Menimpa genting, dedaunan, sampai tanah. Lalu ia mengalir diatasnya…

Apa yang hendak kita lakukan saat hujan?

duduk di bangku sembari melihat rintiknya. Atau kita bisa berlari-lari di tengahnya..

Membiarkan sejuknya menerpa wajah kita,..

 

Hujan, seperti juga kita, kadang sedikit nakal.

ia kadangkala menelusup dalam cangkir kopi dan mendinginkannya…

Namun hujan juga berbaik hati, ia lah yang turut menumbuhkan bungabunga…

 

Ah, hujan itu seperti kamu, mungkin.

Kadang deras, kadang rintik, bahkan kadang ngambek tak mau turun. Menggantung saja di langit..

 

Menikmati hujan, seperti menikmati hubungan antara kita..

Menikmati hujan antara kita.

Namaku Hujan

ImageNamaku hujan. Apa yang orang tahu tentangku? Mula-mula aku di udara tinggi, ringan, dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah dan kembali ke bumi.

Sebagian dari kalian, mengharapkan aku jatuh deras ke bumi. Sebagian lagi, enggan. Bahkan melihatku pun sebal.

Aku sangat senang bila turun ke bumi, kemudian ada segerombolan anak-anak yang berlari-lari menerjangku. Aku paling senang saat mereka berkejar-kejaran, sembari saling mencipratkan aku. Apalagi bila itu dilakukan sepulang sekolah. Ketika aku melihatnya dari awan, dengan baju merah putih mereka nampak seperti bendera-bendera kecil. Ceria sekali mereka, tak peduli dengan omelan ibu saat mereka pulang dengan basah kuyup.

Ah, menurutku kadang orang tua terlalu paranoid. Khawatir kena demam, sakit flu atau apa lah. Padahal bukan maksudku untuk menjadi penyebab sakit. Aku hanyalah ingin menceriakan wajah kanak-kanak itu, yang sumpek oleh pelajaran sekolah.  

Namaku hujan. Aku bingung dengan sikap manusia, macam kalian ini. Aku akan turun tiap tahun, dengan jadwal yang bisa diperkirakan. Aku benci bila kalian –manusia- mengkambinghitamkan aku. Kalian selalu menuduhku menjadi penyebab terjadinya bencana banjir, tanah longsor. Padahal kalian tahu bahwa aku akan turun tiap tahunnya, aku adalah peristiwa alam yang tetap hukumnya.

Bukan aku yang menjadi penyebab banjir. Kalian saja yang memenuhi jalur airku dengan sampah-sampah, atau membangun rumah yang seharusnya menjadi jalur air. Makanya aku terpaksa mencari jalan lain. Aku terpaksa menghindar dari ‘tembok-tembok’ yang kalian dirikan. Dan kalau itu meluap hingga menyentuh kaki kalian, kalian sebut itu sebagai banjir. Lantas apa salahku? Aku hanya mengalir saja, mengikuti perintah Tuhanku.

Begitulah kalian ini. Kadang mengharapkanku, namun dilain waktu seringkali menghujatku.
Namaku hujan. Sebagian dari kalian seringkali mengungkapkan kehadiranku dengan kata-kata indah. Ya, aku memang istimewa. Dan aku menikmati keistimewaanku itu. Dengan kehadiranku, aku bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang patah hati –yang seringkali kualami. Lihat saja, adegan film ataupun drama yang selalu berlatar belakangku saat perpisahan ataupun patah hati.

Contohnya sajak dibawah ini,

Tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
Payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu …
sembilu hujanmu …

Tapi dilain waktu, ada juga orang yang memahamiku sebagai air yang menumbuhkan cinta dalam hati. Penggambaran kerinduan menggunakan aku, pun tak luput dari daya kreasi beberapa diantara kalian. Aku suka dengan kalian yang menjadikanku sebagai perwujudan perasaan, terserah saja kalian mau mengartikan apa tentangku.

Ya, namaku hujan. Aku mengenal baik pohon, jalan, dan selokan – suaraku bisa dibeda-bedakan. kau akan mendengarku meski sudah kaututup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu.
Aku; hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan- menyihirmu. Agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

*sajak dan isi, disadur dari sajak-sajak hujan karya Sapardi Djoko Damono
Triyanto P. Nugroho,

Rahasia rindu dalam hujan: Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juni- Sapardi Djoko Damono

Adakah hujan di bulan Juni?

Indonesia yang mengenal dua musim ini –biasanya- mengenal musim hujan di bualn september-januari. Tapi mengapa dalam sajak sapardi disebu hujan pada bulan Juni? Bukankah di bulan itu hujan jarang turun? Kenapa tidak di bulan Desember saja, “gede-gede’ne sumber”.

"sapardi"

hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Hujan bulan juni menyimpan segudang rindu yang tertahan. Yang rahasia. Yang tak seorang pun tahu bahwa ia rindu. Ia tabah. Ia simpan rindunya, bahkan kepada orang yang paling disayangi sekalipun. Tak ia ungkapkan.

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Hujan bulan Juni mengantarkan kepergian seseorang. Kepergian yang sempat tertunda karena keraguan. Harus tetap pergi! Doa selalu menyertai, sambil memandang jalan yang ia lalui.

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Kerinduan. Itulah yang dirasakan. Hanya itu. Kerinduan terhadap seseorang yang telah pergi. Seseorang yang telah sekian lama dibesarkan dengan penuh kash sayang. Tak ada yang bisa diucapkan. Atau memang tak bisa.

Biarkan saja kerinduan ini terus ada. Terus ada dalam hati. Terus menyala dalam hati, untuk diberikan kepadanya.

*nb: terima kasih yang telah membuat videonya. sederhana, namun menyentuh. Salut!