Dosen, kotak dan batu

Alkisah, pada suatu ketika di sebuah perkuliahan seorang dosen datang sambil membawa sebuah kotak, batu-batu dengan ukuran agak besar, kerikil, dan pasir lembut.

Para mahasiswa terheran-heran. Tidak biasanya. Pada umumnya dosen membawa laptop ataupun diktat kuliah, ini malah membawa batu. “Dosennya aneh ya?” Bisik salah seorang mahasiswa kepada rekannya.

“Sstt…jangan keras-keras! Nanti kedengaran,” sahut kawannya.

“Baiklah saudara-saudara! Apa yang saya bawa ini?” Kata dosennya.

“Batu dan kotak, Pak!” Jawab para mahasiswa serempak.

“Ya, baiklah. Betul. Saya mau tanya pada kalian. Bagaimana caranya memasukkan batu-batu ini ke dalam kotak. Tidak boleh memasukkan semuanya sekaligus. Harus satu per satu. Dan tiap jenis harus dimasukkan terlebih dahulu,” tanya dosen itu sambil menunjuk kotak dan batu.

“Saya, Pak!”

“Ya, bagaimana?”

“Kotaknya dibuka terusbatu-batunya dimasukkan. Urut dari pasir ke batu besar.”

“Ya, tapi ketika pasir terlebih dahulu dimasukkan, maka kotak-kotak ini akan dipenuhi pasir terlebih dahulu. Dan batu besar tak akan mungkin muat lagi. ”

Para mahasiswa bingung dengan yang dimaksud oleh dosen itu. Melihat wajah para mahasiwa yang kebingungan, dosen itu lalu tersenyum.

“Pertama kita masukkan batu besar terlebih dahulu. Hingga tidak muat. Lalu kerikil kita masukkan, lihat ia masuk di celah-celahnya. Terakhir kita masukkan pasir lembut ini. Ia bisa mengisi ruang-ruang sempit di kecil,” terang dosen sambil memandang wajah terheran-heran mahasiswanya.

“Tahukah kalian apa maknanya? Batu, kerikil dan pasir ini ibarat tindakan kita dalam hidup. Dan kotak ini ibarat waktu yang diberikan Tuhan dalam hidup kita. Maka, wahai mahasiswaku, lakukanlah dalam hidup ini tindakan-tindakan besar terlebih dahulu, maka tindakan kecil dalam hidup akan menyesuaikan.”

Para mahasiswa mengangguk. Memahami perkataan dosennya.

***

Begitulah hidup. Tiap tindakan kita akan bernilai. Namun bila kita hanya melakukan tindakan remeh temeh dan kecil dalam hidup ini, maka kita tak akan ‘sempat’ melakukan tindakan besar.

Lakukanlah tindakan besar terlebih dahulu. Karena hidup cuma sekali dan tak bisa diulangi.

Fast Response

Fast. Cepat. Itulah era saat ini. Kecepatan adalah utama.

Hal-hal penting memang harus dilakukan dengan cepat. Sigap. Inilah mengapa pemilu lalu ‘lebih cepat lebih baik’ digunakan sebagai tagline kampanye. Yah, walaupun hasilnya kalah.

Cepat adalah salah satu ciri dari dunia usaha. Dunia usaha yang semakin berkembang pesat saat ini membutuhkan kecepatan untuk memenuhinya. Saya hari ini baru menyadari karena kehilangan sebuah peluang yang slowresponse.

Ceritanya, hape stupid saya agak ‘hang.’ Hape saya tidak bisa membaca kartu SIM yang ada. Solusinya sebenarnya mudah sih, tinggal copot baterai, copot SIM Card, lalu pasang lagi. Kurang dari semenit hal ini bisa dilakukan.

Namun karena saya menganggap hal ini tidak terlalu penting, akhirnya saya menundanya. Saya berpikir bahwa saat ini jarang orang menghubungi saya di nomor itu. Apabila ada sesuatu yang penting, kebanyakan orang dan kawan saya akan menghubungi nomor yang saya pasang di smartphone. Saya juga seringkali memasarkan nomor saya itu, bukan nomor lama.

Akhirnya penundaan ‘reset nomor’ itu saya biarkan berlarut. Hingga keesokan harinya, setelah saya sadar bahwa tulisan kartu SIM belum terpasang muncul di layar.

Begitu normal kembali, ternyata sudah ada banyak SMS yang masuk. Dan salah satunya adalah sebuah peluang. Namun peluang ini terlewat begitu saja karena saya terlambat mengkonfirmasi. Akhirmya melayang.

Begitulah, fast response amat penting dalam dunia yang serba cepat ini. Bukan semata soal menanggapi peluang, tapi juga bagaimana kita bertindak cepat dan akurat.

Sebagai contoh nilai utama kecepatan adalah meroketnya penjualan gadget, ataupun provider yang mampu menawarkan kecepatan lebih bagi para penggunanya.

Fast reaponse juga gambaran bahwa kita bukanlah orang yang ‘klemar-klemer.’ Atau ‘loading lama.’ Fast reaponse juga membuat orang yang berhubungan dengan kita lebih cepat mendapatkan kepastian. Lebih cepat mendapatkan kabar yang sebenarnya amat ditunggu.

Pernah meng-SMS orang namun tak kunjung berbalas?! Entah dengan alasan apa pun. Kesel? Jengkel?  Nah, begitulah kira-kira akibat sederhana dari slow response.

Hugo

Tiap orang di dunia yang besar ini mempunyai peran penting dalam menjalankan mekanisme ‘mesin’ kehidupan. Sekecil-kecilnya sebuah sekrup, ia tetap penting agar mekanisme dapat bergerak sempurna. Kesadaran ini tak datang dari sarjana filsafat, hanya dari seorang anak kecil yang tiap hari bergumul dengan mesin jam besar.

Ia adalah Hugo Cabret. Bocah biasa yang dilimpahi bakat mekanik luar biasa. Mungkin warisan dari bakat ayahnya.

Setelah sang ayah meninggal, ia terpaksa tinggal bersama pamannya -seorang pemabuk- di sebuah gedung jam besar di dalam stasiun kereta, Paris.

Tiap hari ia selalu mengawasi dan merawat mesin jam besar itu. Memastikan bahwa semua sekrup dan gerigi roda menjalankan fungsinya dengan utuh. Namun selain pekerjaan harian itu, ia punya misi khusus; memecahkan teka-teki sebuah ‘mesin’ yang ditinggalkan ayahnya. Sebuah mesin berbentuk manusia, dengan mekanisme rumit yang akhirnya diketahui bisa menggambar sendiri. Ia berpikir bahwa keberadaannya didunia ini untuk menyelesaikan misi ayahnya itu. Baca lebih lanjut

Lagi Bete? lakukan hal ini

Kadang kala setiap orang mengalami sebuah kebuntuan? Dunia akan terasa semakin sempit. Tak ada daya untuk bergerak. Kemalasan menjalari seluruh tubuh, mulai dari kaki hingga ubun-ubun.

Hidup terasa tak ada artinya lagi. Kawan terasa meninggalkan kita. Keluarga terasa hambar.

Pernahkah Anda berada dalam titik itu? Berada di titik nadir?

Nah, saya mempunyai beberapa saran yang berguna apabila kita dalam posisi semacam itu. Pertama, ialah melakukan kunjungan atau silaturahim. Pilihlah orang yang menurut Anda sudah bisa mencapai tahap sukses, yang bisa memberi Anda nasehat-nasehat berharga. Tak ada orang yang besar dengan sendirinya, pasti ia mempunyai orang-orang yang selalu memberi nasehat, saran bahkan kritikan. Dekatlah dengan tokoh-tokoh agama, yakinlah bahwa Anda hidup tak hanya untuk hari ini.

Kedua, bersyukurlah atas segala yang Anda miliki. Jangan berfokus pada apa yang Anda inginkan, tapi fokuslah pada apa yang ada di hadapan Anda. Banyak hal yang kita miliki namun terkadang kita lupa untuk mensyukurinya. Perhatikan baju Anda, motor atau mobil yang masih bisa Anda kendarai, bahkan yang paling penting; Anda masih memiliki waktu untuk hidup.

Ketiga, cobalah untuk berjalan-jalan. Tak perlu dengan biaya yang mahal. Anda bisa berkeliling kampung atau kota. Lihat pemandangan baru yang kadang sering kita lewatkan. Cobalah pergi ke lapangan atau taman, dan bila Anda melihat ada sekumpulan anak sedang bermain. Tak ada salahnya bila Anda turut serta. Baca lebih lanjut

Tidak bisa berenang? Ini akibatnya

Pria itu sekarang menginjak usia 24 tahun. Perawakan tubuhnya tidak jauh berbeda dengan puluhan tahun lalu; kurus. Kini baru saja ia selesai meraih gelar sarjana. Sebuah anugerah baginya, karena diberikan kesempatan Tuhan menghirup nafas hingga saat ini. Tak ada yang menyangka, bahkan termasuk kedua orang tuanya, bahwa ia pernah lolos dari maut.

Kejadian tersebut bermula saat ia duduk di kelas 3 SD. Sepulang sekolah ia bersama lima orang temannya berencana untuk berenang. Dengan menaiki sepeda, mereka lantas berangkat ke sebuah selokan yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumahnya. Selokan itu lebarnya sekitar 2 meter dengan kedalaman pada bagian tengah sekitar 1,5 meter. Bentuknya hampir sama dengan Selokan Mataram Yogya. Selokan itu sebenarnya difungsikan sebagai irigasi persawahan serta kebutuhan rumah tangga, seperti mencuci pakaian, mandi, dan sebagainya. Baca lebih lanjut