Mencari Format Gerakan Mahasiswa (baru)…

Usia saya baru 12 tahun ketika terjadi huru hara politik saat itu. Saya tidak tahu apa-apa. Saya baru tahu bahwa 1998 merupakan tahun penting ketika duduk dibangku SMP dan SMA. Itupun dari pelajaran sejarah.

Saya baru sadar bahwa kala itu Presiden Suharto akhirnya tumbang setelah puluhan tahun berkuasa. Dan pada tahun itulah sejarah Indonesia memasuki babak baru.

Setelah kuliah, 2006, saya mulai terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Hal itu membuat wawasan saya lebih terbuka ketika mencermati gerakan organisasi kemahasiswaan. Walaupun keterlibatan saya dalam organisasi kemahasiswaan kampus hanya berumur 4 tahun saja.

Maka dalam hal ini pun sebenarnya saya masih “mencari ” dan terus mencari format gerakan bagi organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bukan itu saja tapi juga mampu mendobrak kebuntuan.

Apa yang saya sampaikan mungkin belum sempurna, dan hanya berdasar pengalaman dangkal saja.

“…Seniman besar, entah dia pelukis, entah apa, entah pemimpin, entah panglima perang, adalah karena hidupnya disarati dan dilandasi pengalaman-pengalaman besar, intensif; perasaan, batin, atau badan. Tanpa pengalaman besar, kebesaran seseorang khayali semata: kebesarannya dibuat karena tipuan orang-orang mata duitan..”

Saya belumlah orang yang memiliki pengalaman besar. Saya hanya mencoba berpendapat, dan pendapat seseorang –berdasar teori sosiologi- ada tiga kemungkinan; diterima, ditolak, atau diterima dengan syarat.

Ketika demonstrasi terasa semakin tumpul…

Sebagai sebuah kekuatan politik, gerakan organisasi kemahasiswaan masih memiliki legitimasi moral yang kuat. Sayangnya, meskipun harapan tinggi masih diletakkan di pundak mahasiswa, akhir-akhir ini terasa ada kecenderungan gerakan politik mahasiswa kian melempem dalam menghadapai berbagai permasalahan riil bangsa saat ini.

Bahkan Amien Rais, ikon gerakan reformasi 1998, sempat melontarkan pernyataan bahwa gerakan mahasiswa yang dulu bersemangat kini seperti “mati suri.” Aksi demonstrasi yang dilakukan untuk kepentingan rakyat tak banyak digelar, dan mahasiswa lebih banyak dibelenggu kemewahan hidup akibat kapitalisme. Baca lebih lanjut

Dunia Berdetak Kencang

Sosialisme, kata Marx, bukan lahir dari mulut pujangga yang mau memperbahurui dunia, tapi suatu kejadian sejarah yang tak dapat dielakkan. Yang lahir akibat dari pertentangan dua kelas yang dilahirkan sejarah, yaitu; kelas borjuis dan kelas proletariat.

Tujuan sosialisme bukanlah membuat suatu kontruksi masyarakat dalam suatu sistem yang selesai bentuknya, melainkan menyelidiki suatu perkembangan sejarah yang menimbulkan dua kelas yang bertentangan, dan kemudian mempelajari timbulnya faktor itu dari pangkuan ekonomi masyarakat. Itulah yang akan dijadikan senjata untuk melenyapkan pertentangan itu.

Mungkin inilah yang terjadi dalam dunia ekonomi global saat ini. Suramnya ekonomi Eropa dan dunia menyebabkan demonstrasi mengalir deras. Bak banjir di musim kemarau.

Ribuan orang Amerika, yang sangat kapitalistik, mulai tumbuh kesadarannya. Mulai mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi. “99% kekayaan dinikmati oleh 1% jumlah penduduk,” begitu bunyi spanduk yang disuarakan. Mempertanyakan kecurangan swasta yang sedemikian besar. Negara-negara maju yang jarang terjadi demonstrasi -misalnya; Amerika, Israel, Yunani- mulai sesak oleh demonstran.

Tuntutan pun hampir seragam: meminta keadilan ekonomi, kesejahteraan, penyediaan lapangan kerja, dan juga menentang privatisasi. Ini sepertinya merupakan titik balik dari trend kapitalisme global; semangat privatisasi berlebihan, lunturnya peran publik, dan turunnya anggaran publik yang selama ini dipromosikan oleh Bank Dunia, IMF, WTO. Baca lebih lanjut

Gerakan Transformatif

"transformatif"

gerakan transformatif

Apa yang dilakukan Hatta ketika dibuang ke Digul? Ia membagi waktunya dengan membaca, belajar, bekerja di dapur menanak nasi dan sayuran, serta yang paling penting: mengajar! Waktu dipindahkan ke Banda Neira pun tetap sama. Ia mengajar anak Tjipto Mangunkoesomo.

Hatta, dan Syahrir yang bersamanya, selalu bersama dengan massa. Berjuang dengan berada langsung ditengah-tengah rakyat. dalam istilahnya, Hatta maupun Syahrir –juga pendiri bangsa lain-, adalah tranformator yang berada dalam tengah massa dan memimpin perubahan.

***

Berbeda dengan gerakan mahasiswa/pemuda saat ini. Kecenderungan yang kita dapati –minimal dalam berbagai berita media massa- ialah gerakan mahasiswa/pemuda jarang melibatkan rakyat dalam setiap aksinya. Para aktivis condong pada akses vertikal dan perubahan kebijakan semata. Lantas, kampus –dalam istilah Muh. Yunus- hanya menjadi menara gading. Baca lebih lanjut