Coco

Mungkin di berbagai kebudayaan di dunia ini ada satu keyakinan soal arwah orang yang telah meninggal. Bahwa ia akan kembali menemui keluarganya pada suatu waktu. Itulah yang menjadi latar di cerita film Coco. Baru kemarin saya menontonnya.

Apakah benar arwah orang yang telah meninggal kadang kala mengunjungi keluarganya?

Sebenarnya beberapa laku masyarakat yang dilakukan di tanah Jawa ini mengisyaratkan hal itu. Misalnya saja adanya tahlilan pada hari-hari tertentu. 7 hari, 40 hari, 100 hari hingga 1000 hari.

Mungkin ada yang gak percaya.

Tapi Rasulullah Saw ternyata menyebutkan bahwa ruh orang yang meninggal saban malam jumat datang ke rumah.

Saya kutip dari situs web islampos.com. Situs yang terpercaya dalam menukil berbagai dalil.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh orang mukmin datang setiap malam jumat pada langit dunia. Lalu mereka berdiri di depan pintu-pintu rumah mereka. Masing-masing mereka memanggil-manggil dengan suara yang memelas, ‘Wahai istriku (suamiku), anakku, keluargaku, dan kerabatku! Sayangilah kami dengan sesuatu, maka Allah akan merahmati kalian.

Ingatlah kami, jangan kalian lupakan! Sayangilah kami dalam keterasingan kami, minimnya kemampuan kami dan segala apa yang kami berada di dalamnya. Sesungguhnya kami berada dalam tempat yang terpencil, kesusahan yang yang panjang dan duka yang dalam.

Sayangilah kami, maka Allah akan menyayangi kalian. Jangan kalian kikir kepada kami dengan memberikan doa, shadaqah dan tasbih.

Semoga Allah memberikan rasa nyaman kepada kami, sebelum kalian sama seperti kami. Sungguh rugi! Sungguh menyesal! Wahai hamba Allah! Dengarkanlah ucapan kami, dan jangan lupakan kami.

Kalian tahu bahwa keutamaan yang berada di tangan kalian sekarang adalah keutamaan yang sebelumnya milik kami. Sementara kami tidak menafkahkannya untuk taat kepada Allah.

Kami tidak mau terhadap kebenaran, hingga ia menjadi musibah bagi kami. Manfaatnya diberikan kepada orang lain, sementara pertanggungjawaban dan siksanya diberikan kepada kami’.”

Rasulullah ketika menyampaikan hadis ini menangis sehingga membuat sahabat-sahabatnya ikut menangis. Dia hanya mengatakan bahwa ruh-ruh tersebut adalah saudara-saudara yang sebelumnya menikmati keindahan dunia. Saat sudah meninggal, mereka hanya menjadi debu padahal semasa hidupnya penuh dengan kenikmatan dan kegembiraan.

Dalam sebuah hadis lain, Nabi Saw juga berkata bahwa tidak ada seorang mayit di kuburannya kecuali seperti orang yang tenggelam yang minta pertolongan. Dia menanti kiriman doa dari anaknya, saudaranya atau temannya.

Ketika ia mendapatkannya maka ia sungguh bahagia mengalahkan kebahagiaan dunia seisinya. Namun, jika arwah-arwah tersebut tidak memperoleh apa-apa, maka arwah-arwah tersebut memperoleh kerugian dan kembali dengan berduka.

Dalam hadits di atas maka jelas sekali bahwa keluarga kita yang sudah meninggal meminta agar kita tidak melupakannya. Agar kita selalu mendoakannya.

Di bagian itulah latar cerita di film Coco.

Ya, saat menonton film itu, arwah para leluhur akan mendatangi rumah-rumah keluarganya setahun sekali. Namun mereka hanya bisa menyebrang dari alam kubur ke alam dunia hanya bila foto mereka di pajang di sebuah altar. Selain itu, dikatakan bahwa arwah akan hilang selama-lamanya apabila ia dilupakan oleh orang-orang.

Mungkin cukup sulit ya mengingat para leluhur kita sampai kakek-kakek-kakek buyut. Saya sendiri begitu. Ingatan keluarga yang ingat hanya mentok sampai Simbah, orang tua Bapak dan Ibu. Namun orang tuanya simbah, jelas saya tidak tahu. Apalagi simbah dari simbah dari simbah.

Oh, iya kalau di Arab sana, nama itu selalu ada bin atau binti siapa gitu. Terus bisa sampai panjang. Mungkin itu salah satu usaha untuk menjaga dan mengingat garis keturunan. Mengingat para leluhur.

Kalau di Indonesia, kan tidak. Nama ya nama aja. Nama bin atau binti cuma diperlukan saat akan menikah.

Menonton Coco mengingatkan saja kepada Bapak. Belum genap 100 hari Bapak pergi, kadang saya sudah lupa dengannya.

Dulu sebelum saya pulang ke rumah Bapak selalu menunggu di teras. Bahkan hingga larut malam. Ia tak akan tidur sebelum saya sampai rumah.

Apakah kelak kita ini masih akan dikenang oleh para keluarga kita? Maka benar bahwa anak adalah salah satu amal jariyah yang tak akan pernah terputus walau kita sudah tiada.

 

Logan

Pada akhirnya Logan pun harus kalah, dan menyerah pada takdir. Sebab, bagaimanapun juga, Logan tetaplah seorang manusia. Yang bisa tua, renta dan kelabu.

Karena Logan adalah manusia, maka dia juga terluka. Walau nantinya akan sembuh dengan sendirinya, tapi itu tak selamanya. Karena luka lalu menyadarkan Logan bahwa dia punya hati. Dia punya kasih kepada Charles ataupun Laura. Dan kasihnya membuat kisah dalam diri Laura. Dan sebuah kisah akan menjadi sejarah.

Itu yang menjadi sebab munculnya ungkapan bahwa sebenarnya manusia tak bisa mati, selama dia masih dikenang oleh manusia lainnya.

Logan dalam masa tua yang hampir putus asa dan masa depan yang hampir rampung, memilih untuk membukakan jalan bagi generasi selanjutnya.

Pada pertempuran terakhirnya, Logan harus menghadapi dirinya sendiri. Ini menjadi gambaran bahwa setiap orang yang akan mewariskan pada generasi, harus mampu mengalahkan dirinya sendiri. Egonya.

Dan akhirnya, Logan mengingatkan pada kita pada sajak itu, bahwa; “yang fana adalah jomblo, lirak lirik abadi…” eh, maksud saya, “..yang fana adalah waktu, kita abadi..”

Glass

Glass

Ini bukan tentang Hugh Glass yang memenangkan piala Oscar. Yang menang itu adalah Leonardo Di Caprio, setelah di PHP panitia bertahun-tahun.

Ini tentang Hugh Glass. Sosok yang bertahan hidup di tengah gempuran salju, ancaman pembunuhan, dan alam yang mematikan. Bagi yang sudah nonton film itu, The Revenant, maka akan tahu kisah Hugh Glass.

Ya, film ini hampir sama dengan In The Heart of The Sea, yang diperankan oleh Thor. Tawaran kisahnya saya kira serupa; kemampuan manusia untuk bertahan hidup di tengah kondisi alam yang mematikan. Kalau film yang terinspirasi dari kisah Moby Dick itu temanya bertahan di tengah lautan luas, kalau the Revenant temanya adalah hutan belantara yang bersalju.

Mungkin genre film ini lagi marak ya di Hollywood sana. Kisah serupa juga ada di film garapan Disney. Aduh, saya lupa judulnya.

Oke, kembali pada Hugh Glass.

Mister Glass dikisahkan adalah seorang pemburu kulit. Ia orang kepercayaan karena pengetahuannya tentang medan. Bukan kota Medan yang ada di ujung sana ya. Namun naas, Mister Glass ini kemudian diserang oleh beruang Grizlly yang buas. Beruang itu mencabik-cabik tubuhnya. Menggigit lehernya. Melempar tubuhnya. Mengejar Glass yang lari ke hutan. Dan kemudian beruang itu pecahkan saja Glass-nya, biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh.

Dan betul. Mister Glass mengaduh. Sakit. Nyaris tewas.

Saat itulah datang rombongan teman-temannya menolongnya. Namun ditengah tantangan alam yang bersalju sekaligus kejaran orang Indian yang haus darah, pilihan paling logis adalah membiarkan Glass terbaring lemah dan mati dengan tenang. Orang yang terluka, apalagi sekarat, hanyalah menjadi beban perjalanan. Itu yang dipikirkan oleh satu orang dari rombongan itu.

Akhirnya memang Glass ditinggalkan, ditemani oleh dua orang kawan dan anak laki-lakinya. Singkat cerita, kalau panjang silahkan kamu nonton sendiri aja, orang tadi membunuh anak laki-laki Glass, dan meningglkannya sendirian.

Nah, film ini berkisah tentang itu. Tentang upaya Glass bertahan hidup dengan tubuh penuh luka dan kondisi alam yang sungguh bisa mematikan. Dalam film itu juga ada adegan bagaimana Glass harus makan daging mentah untuk bertahan hidup, harus tidur di perut bangkai kuda untuk menahan dingin.

Lantas apa yang menyebabkan Glass mampu melakukannya? Mampu bertahan hidup disaat kebanyakan orang mungkin akan mati bila dihadapkan dengan kondisi yang sama?

Dendam.

Ya, dendamlah yang membuat Mister Glass bertekad untuk tetap hidup. Dendam kepada pembunuh putranya yang membuat Glass tak pernah puas walau telah selamat. Dan di akhir film itu kita tahu, bahwa Glass berhasil melampiaskan dendamnya. Membunuh si pembunuh.

Dendam dan cinta, mungkin adalah emosi yang paling besar mempengaruhi kehidupan manusia.

artisans-thumbnail-the-revenant_clean

5th Wave

5th Wave

Tidak ada yang spesial. Film tentang invasi alien ke bumi ini hanya menampilkan efek bencana yang dahsyat pada awal mula film.

Setelahnya; blas. Tidak ada yang istimewa.

Ceritanya, biasa aja. Cenderung membingungkan. Adegan action-nya, juga hanya begitu-begitu doang. Adegan dor-dor-annya juga cuma segitu.

Yah, film ini hanya menyisakan satu quote bagi saya, yaitu: “untuk memusnahkan manusia, hilangkan dahulu kemanusiaannya.”

Selesai.

Big Short

The Big Short

Kali ini Christian Bale bukanlah seorang milyader yang punya hobi menumpas kejahatan. Ia tak memakai mobil canggih dan kostum kelelawarnya. Ia bukan Batman.

Ia juga bukan anak angkat seorang penguasa Mesir -versi Hollywood. Yang ditakdirkan untuk membebaskan kaum Yahudi. Tidak. Kali ini Christian Bale bukanlah Moses. Kali ini ia tidak bisa membelah lautan.

Bale, hanyalah seorang bankir eksentrik yang resah dan putus asa menghadapi krisis ekonomi yang melanda Amerika tahun 2008.

Saya menonton film itu,; dimana Bale dan Brad Pitt memainkan drama yang merupakan “biografi” krisis 2008.

Bagi kamu yang suka melihat Bale berkelahi dengan para bandit, mungkin akan bosan saat menonton film ini. Sepanjang lebih dari satu jam, film ini hanya berisi; dialog tanya jawab dan ekspresi kepanikan. Tidak ada tembak menembak. Tidak ada mobil terbakar. Dan tidak ada bom meledak.

Hanya bicara, bicara, dan bicara.

Pun kalau kamu bukan mahasiswa ekonomi atau seorang pengamat atau seorang sok tahu, maka menonton Big Short hanya akan membuat kamu; bingung. Ora mudeng.

The Big Short adalah kisah keruntuhan bubble economic Amerika yang akhirnya membuat salah satu bank tertua yaitu Lehman Brothers; kolaps. Selanjutnya memicu krisis finansial tahun 2008. Menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan dan rumah. Juga beberapa negara berada di jurang kebangkrutan.

Negara!

Konon menurut beberapa analisis, krisis ini dipicu dari ambruknya harga properti dan krisis kredit macet atau lebih dikenal dengan subprime mortgage crisis. Dalam film ini, sepanjang alur cerita yang cepat, maju mundur, akan bertebaran istilah dunia investai dan perbankan, antara lain; leverage; Collateralized Debt Obligation; Credit Default Swap; Ranking AAA; dan istilah njlimet lainnya.

Paham kamu?

Tentu saja tidak kan? Saya yakin istilah ini tidak muncul saat ujian dasar-dasar ekonomi. Tidak pula muncul saat kamu mbribik cewek cantik. Maka tak heran bila kamu tak menghafalnya.

Praktis saya juga tak begitu memahami film itu. Yang saya saksikan saat menontonnya adalah wajah-wajah aktor dengan ekspresi panik, kalut, takut, gelisah. Ada juga yang culas dan licik.

Saya harus googling untuk sekadar “secuil” ingin tahu, apa yang sebenarnya dibahas film itu. Walaupun setelah itu hasilnya sama saja; gak mudeng.

Ah, iya, ada satu pernyataan menarik dalam film itu. Dikatakan oleh Mark, salah satu bankir, bahwa yang akan menjadi korban dalam kekacauan ini adalah orang-orang miskin, orang yang tak punya rumah, dan orang-orang kecil.

Dan itulah yang terjadi.

Sedang para bankir dan investor kaya? Ah, setelah krisis berlalu mereka akan kembali seperti semula.

Hingga kini setahu saya dunia masih mengenang bubble economic itu dan masih saja ada yang bermain dengannya. Entah.

Tontonlah. Tapi ingat; ini film yang butuh kecerdasan yang memadai, bukan sekadar menghibur.