Diisi Dulu, Baru Di-Rush

Ramai diberitakan dalam berbagai lini grup WhatsApp dan lini masa beranda Facebook, anjuran untuk melakukan gerakan rush money.

Apa itu rush money? Rush money, bukan rush hour, adalah menarik uang sebanyak-banyaknya dari bank. Gerakan rush money tak bisa dilepaskan dari kabar aksi besar-besaran yang akan dilaksanakan 25 November esok, karena memang begitulah penjelasan dari broadcast-an itu.

Menurut kabar burung, target gerakan rush money pada 25 November mendatang adalah menguras cadangan uang di bank sebesar Rp. 100 triliun. Untuk mencapai target tersebut, yang punya banyak uang dianjurkan menarik uangnya dibank sebesar Rp. 2 juta atau lebih. Pada bulan Mei saja, BI merilis bahwa jumlah uang yang beredar adalah Rp. 534,7 triliun.

Selama ini memang peredaran uang hanya sebatas dalam “catatan.” Uang berpindah dari satu data ke data yang lain. Dari rekening ke rekening. Uang yang beredar dan berpindah secara nyata, jumlahnya hanya sedikit sekali, walaupun sudah ditambah dengan uang yang “dihambur-hamburkan dan dilipatgandakan” Dimas Kanjeng.

Nah, rush money akan membuat kegoncangan di dalam dunia perbankan dan akhirnya bisa menimbulkan gejolak sosial, politik dan ekonomi. Bank akan kekurangan uang, sehingga menimbulkan gejolak ekonomi. Bank Indonesia (BI) akan kewalahan dan tidak mungkin mendistribusikan uang dalam jumlah banyak pada waktu bersamaan.

Karena itulah banyak yang bilang gerakan ini mengada-ada dan provokatif serta tidak bertanggung jawab. Entah siapa yang memulai ide untuk membuat broadcast beginian. Saya juga tidak tahu. Tapi di Indonesia ini konon kabarnya kecepatan broadcast hoax itu lebih cepat dari kecepatan cahaya. Dan sulit ditemukan sumbernya. Paling bila ditanya sumber, jawaban paling pol adalah; grup sebelah.

Saya sendiri sebenarnya menyambut baik seruan ini. Saya tentu sangat senang bila menarik uang dari ATM. Tapi apa mau dikata, jumlah uang saya di rekening salah satu bank, saldonya cuma sisa 6 ribu rupiah.

Mau di rush pakai jungkir balik, juga gak bakal bisa. Kecuali njenengan isi dulu saldonya, baru nanti saya ikut rush money.

Norek? Inboks ya!

Warung

Sebuah warung adalah sebuah tumpuan.

Dengan meja kayu yang sudah usang, piring dan gelas makan biasa, telur ceplok, tempe goreng, sayur sop, dan aneka gorengan tersaji diatasnya. Beberapa kursi kayu yang sempit, bila tak muat pengunjung, sebagian digelarkan tikar di trotoar. Tapi ia menawarkan sebuah kehangatan yang tulus. Bukan dibuat-buat untuk mendatangkan pelanggan. (Seperti SOP di restoran-restoran mahal. Keramahan itu memang tepat, bagus, tapi bisa jadi tidak berangkat dari ketulusan)

Di warung; kita bisa mendapati kehangatan layaknya seorang ibu yang menyajikan makan kepada putranya yang baru kembali merantau.

Warung adalah sebuah tumpuan. Bukan hanya tumpuan bagi penjualnya, tapi juga para pembelinya. Terutama bagi orang-orang berkantong menengah tipis. Ia adalah tumpuan untuk makan: sebuah kebutuhan fundamental bagi mahkluk hidup.

Warung kecil itu adalah salah satu bagian kecil yang bisa jadi akan tergulung makro ekonomi yang rumit. Saya tidak tahu apakah ibu dengan gigi yang telah ompong itu masuk dalam hitungan yang dipertimbangkan dalam dampak “jurang fiskal”? Saya juga tidak sempat bertanya apakah Ibu itu tahu tentang rencana redenominasi rupiah, yang akan memangkas 3 angka nol di setiap uang rupiah yang beredar.

Yang istimewa dari sebuah warung adalah sapaan ibunya, suasana di pinggir jalan yang menderu namun nyaman -apalagi di malam hari, menunya yang murah meriah dan juga mengenyangkan, serta keleluasaan berhutang dalam kondisi tertentu.

Warung adalah sebuah tumpuan. Dalam gempuran ekonomi kapitalistik, ia selalu bertahan. Bukan saja karena faktor harga semata, tapi juga nalar sosiologis.

Warung adalah sebuah harapan. Tentu saja anak keturunan penjual itu tak mau melihat anaknya meneruskan usahanya tersebut. Dari warung kecilnya ia selalu berusaha kelak anaknya jadi dokter, misalnya.

Warung adalah sebuah kaca; tempat kita melihat ke dalam diri sendiri. Apakah makan hanya untuk sekadar makan?

Salam warung,

Ilusi Pertumbuhan

 Statistik bisa menipu. Angka-angka yang tertera dalam laporan tak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil. Rekor perekonomian yang ditorehkan Presiden SBY bisa jadi hanyalah sebatas angka, namun jauh dari peningkatan kesejahteraan riil masyarakat kecil. Berdasar data dalam tulisan Khudori, pegiat ekonomi politik Indonesia, didapatkan:

Pekan pertama IHSG menembus 4.000. Pekan kedua Februari suku bunga acuan (SBI) turun menjadi 5,75 persen, terendah sepanjang sejarah. Menurut BPS, pada 2011 ekonomi tumbuh 6,5 persen, inflasi bisa ditekan 3,64 persen, dan PDB mencapai Rp. 7.427 triliun. Jika PDB itu dibagi jumlah penduduk Indonesia, pendapatan per kapita penduduk Indonesia 2011 mencapai US$ 3.542. Pendapatan per kapita itu meningkat 17,7 persen dibanding pada 2011, atau naik 3,2 kali lipat dari 2004.

Arti dari angka itu ialah Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Bahkan dengan pertumbuhan ini, Indonesia berhasil duduk dalam kursi bergengsi G-20[2]. Bersama negara-negara maju lainnya.

Angka yang menipu

Tapi apakah angka itu bisa mewakili kondisi riil masyarakat Indonesia? Saya rasa tidak. Dilihat dari data tersebut,maka dikatakan bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai US$ 3.542. Angka yang cukup untuk hidup layak di Indonesia.

SBY boleh mengklaim angka kemiskinan terus menurun: dari 35,1 juta (2005) tinggal 31,02 juta jiwa (2010). Tapi, dengan garis kemiskinan Rp 210 ribu per orang per bulan, kualitas hidup seperti apa yang dijalani warga miskin itu? Baca lebih lanjut