Glass

Glass

Ini bukan tentang Hugh Glass yang memenangkan piala Oscar. Yang menang itu adalah Leonardo Di Caprio, setelah di PHP panitia bertahun-tahun.

Ini tentang Hugh Glass. Sosok yang bertahan hidup di tengah gempuran salju, ancaman pembunuhan, dan alam yang mematikan. Bagi yang sudah nonton film itu, The Revenant, maka akan tahu kisah Hugh Glass.

Ya, film ini hampir sama dengan In The Heart of The Sea, yang diperankan oleh Thor. Tawaran kisahnya saya kira serupa; kemampuan manusia untuk bertahan hidup di tengah kondisi alam yang mematikan. Kalau film yang terinspirasi dari kisah Moby Dick itu temanya bertahan di tengah lautan luas, kalau the Revenant temanya adalah hutan belantara yang bersalju.

Mungkin genre film ini lagi marak ya di Hollywood sana. Kisah serupa juga ada di film garapan Disney. Aduh, saya lupa judulnya.

Oke, kembali pada Hugh Glass.

Mister Glass dikisahkan adalah seorang pemburu kulit. Ia orang kepercayaan karena pengetahuannya tentang medan. Bukan kota Medan yang ada di ujung sana ya. Namun naas, Mister Glass ini kemudian diserang oleh beruang Grizlly yang buas. Beruang itu mencabik-cabik tubuhnya. Menggigit lehernya. Melempar tubuhnya. Mengejar Glass yang lari ke hutan. Dan kemudian beruang itu pecahkan saja Glass-nya, biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh.

Dan betul. Mister Glass mengaduh. Sakit. Nyaris tewas.

Saat itulah datang rombongan teman-temannya menolongnya. Namun ditengah tantangan alam yang bersalju sekaligus kejaran orang Indian yang haus darah, pilihan paling logis adalah membiarkan Glass terbaring lemah dan mati dengan tenang. Orang yang terluka, apalagi sekarat, hanyalah menjadi beban perjalanan. Itu yang dipikirkan oleh satu orang dari rombongan itu.

Akhirnya memang Glass ditinggalkan, ditemani oleh dua orang kawan dan anak laki-lakinya. Singkat cerita, kalau panjang silahkan kamu nonton sendiri aja, orang tadi membunuh anak laki-laki Glass, dan meningglkannya sendirian.

Nah, film ini berkisah tentang itu. Tentang upaya Glass bertahan hidup dengan tubuh penuh luka dan kondisi alam yang sungguh bisa mematikan. Dalam film itu juga ada adegan bagaimana Glass harus makan daging mentah untuk bertahan hidup, harus tidur di perut bangkai kuda untuk menahan dingin.

Lantas apa yang menyebabkan Glass mampu melakukannya? Mampu bertahan hidup disaat kebanyakan orang mungkin akan mati bila dihadapkan dengan kondisi yang sama?

Dendam.

Ya, dendamlah yang membuat Mister Glass bertekad untuk tetap hidup. Dendam kepada pembunuh putranya yang membuat Glass tak pernah puas walau telah selamat. Dan di akhir film itu kita tahu, bahwa Glass berhasil melampiaskan dendamnya. Membunuh si pembunuh.

Dendam dan cinta, mungkin adalah emosi yang paling besar mempengaruhi kehidupan manusia.

artisans-thumbnail-the-revenant_clean

John Wick

John Wick

Hari ini aku nonton bioskop. Di bioskop yang oleh teman-teman namanya dibunyikan ex-ex-wan. Aku nonton film judulnya John Wick. Pemeran utamanya adalah Keanu Reeves. Tahu kan? Itu lho, cowok ganteng, gagah, stylish. Masih tidak tahu? Berarti kamu bukan cewek.

Filmnya berkisah tentang John Wick, yang diperankan oleh Keanu tadi. Ia seorang pembunuh bayaran yang memutuskan untuk pensiun dini.

Ia punya kekasih, tapi kekasihnya mati karena penyakit. Oleh kekasihnya, ia diwarisi seekor anjing untuk dirawat dan dicintai.

Singkat cerita, karena kalau panjang capek ngetiknya, John Wick ini bertemu dengan anak bos mafia. Anak bos mafia ini tertarik sama mobilnya, Mustang klasik yang bagus. John ditanya, mobilnya dijual berapa? John menjawab, mobilnya tidak untuk dijual.

Tapi, yah, dasar keturunan bos mafia. Orangnya songong dan menang sendiri. Ia tidak tahu bahwa John Wick adalah pembunuh. Maka dia dan beberapa anak buahnya mencuri mobil John Wick di rumahnya. John dipukuli dan anjingnya dibunuh.

Kumatlah penyakit lama John. Kambuh naluri membunuhnya.

Ia memutuskan untuk menghabisi si orang tadi, sekaligus akhirnya bapaknya juga ikut dihabisi. Filmnya akan banyak diisi dengan adegan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan. Dar..der..dar…der…dan bak…buk..bak…buk… Tembak, pukul, mati.

Di tengah cerita, saat John ditanya kenapa hanya karena sebuah mobil dan seekor anjing ia memutuskan untuk menghabisi banyak orang. John Wick menjawab, lebihnya aku artikan begini, “anjing itu adalah peninggalan istriku setelah ia meninggal. Anjing itu datang membawa harapan baru setelah kematian istriku. Setelah harapan itu muncul, ia -si anak songong tadi- dengan enteng membunuhnya. Maka sebenarnya urusan ini bukan soal mobil dan anjing tapi harapan yang direnggut.”

“Maka sebenarnya urusan ini bukan soal mobil dan anjing tapi harapan yang direnggut.”

Begitulah John Wick berkisah. Bukan soal mobil dan anjing, tapi soal harapan yang direnggut, lalu kemudian melahirkan dendam dan membangkitkan naluri hitam John Wick lagi.

John Wick.

Dendam 1001 Malam

Dendam 1001 Malam

“Cerita 1001 malam adalah sebuah kisah berlatar belakang dendam dan memaafkan,” kata Dr. Bagus Priyono pada suatu sesi kuliah.

Saya sendiri mengetahui cerita 1001 malam hanyalah sebatas kisah Alladdin dan Petualangan Sinbad. Asal usul munculnya cerita itu saya baru tahu setelah saya mendengar penjelasan Pak Bagus. (Ah, saya sendiri merasa setiap kali kuliah Pak Bagus itu bagaikan konsultasi psikologis. Sebagian besar yang ia sampaikan, tentang teori kepribadian, berhubungan dengan lika liku kehidupan pribadi)

Saya lalu mencari keterangan dari Google. Hasil browsing itu saya mendapat refernsi dari situs Wikipedia dan benar bahwa –berdasar info Wikipedia- asal usul cerita 1001 malam berlatar belakang sakit hati, dendam dan menghilangkannya.

Selengkapnya saya kutipkan.

Cerita “1001 malam” dimulai oleh seorang raja di Arabia bernama Shahriar yang terkejut melihat istrinya ternyata telah berselingkuh. Karena marah, ia membunuhnya. Ia lalu mulai berfikir bahwa semua wanita itu tidak setia, mudah tergoda laki-laki lain. Sang raja lalu memerintahkan pembantunya untuk membawakan seorang istri baru setiap malam, dan menjelang fajar ia menyuruh para pengawalnya untuk membunuhnya. Sampai akhirnya ada seorang wanita yang punya rencana jitu untuk meredam kegusaran sang raja. Ia adalah Scheherazade.

Pada malam hari ia mulai mendongengkan cerita-cerita yang begitu menarik tapi akhir ceritanya selalu menggantung dan bikin penasaran. Saking penasarannya Sang Raja tidak berani membunuhnya. Ia merasa harus mendengar kelanjutan ceritanya. Itu berlangsung 1001 malam lamanya. Cerita baru berakhir ketika akhirnya sang istri telah memberinya 3 anak dan membuktikan kesetiaannya pada sang raja.

Awalnya adalah sakit hati. Lalu muncul dendam bahwa setiap wanita itu tidak setia, yang berakibat pada tindakan istri baru setiap malam yang paginya dibunuh.

Adalah Scheherazade yang menceritakan sebuah kisah setiap malam. Yang akhirnya mampu meluruhkan dendam hati Sang Raja.

“Dendam adalah penyakit hati yang paling berbahaya,” kata Pak Bagus. “Ia tidak hanya akan berakibat pada diri sendiri tapi juga berdampak pada lingkungan dan orang lain.”

“Seperti Sang Raja yang perlu waktu 1001 malam untuk menghilangkan sakit hatinya, apabila tidak dikelola dan diselesaikan dengan baik, dendam juga dapat bertahan lama dalam diri seseorang. Dan hal itu tidak akan membuat kepribadian orang itu menjadi tenang dan stabil,” lanjutnya.

Mendengar kalimat Pak Bagus itu saya serasa ditusuk tepat di jantung hati. Jangan-jangan selama ini masih ada perasaan sakit hati yang terus menerus saya simpan.

Ah, saya jadi menunduk memandang ke dalam diri sendiri.