Selamat Ulang Tahun, Indonesia

Selamat Ulang Tahun, Indonesia.

Pagi hari, tanggal 17 Agustus, jam sepuluh, enam puluh sembilan tahun yang lalu. Di teras sebuah rumah jalan Pegangsaan Timur. Sehabis rapat semalam suntuk tanpa istirahat. Dengan kondisi lelah, berpayah, Bung Karno didampingi Hatta, membacakan proklamasi singkat. Momen puncak kemerdekaan bangsa dan sekaligus menandai lahirnya sebuah negara baru; Indonesia.

Dengan penuh kesederhanaan. Tanpa kembang api. Tanpa perayaan. Tanpa marching band. Hanya permainan solo WR Supratman, dan suara lirih Indonesia Raya.

Indonesia akhirnya lahir, setelah beratus tahun perjuangan yang berdarah-darah.

Enam puluh sembilan lalu, sehari setelahnya, 18 Agustus, dibuatlah undang-undang dasar. Undang-undang yang menjadi dasar, sekaligus landasan dan tujuan kenapa Indonesia mesti lahir. Dan untuk apa Indonesia ada.

Hari-hari ini kita akan disuguhi tentang Indonesia. Sebuah gambaran indah berupa sawah yang menghampar hijau. Aroma pedesaan yang indah, dengan sekelompok anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bendera merah putih. Lalu, sekelebat tampilan dari udara. Memotret hutan Indonesia yang hijau dan lebat dengan satwa liar. Persis seperti istilah zamrud khatulistiwa.

Ada pula ditampilkan seorang ibu yang menenun kain tradisional, anak-anak belajar tarian tardisional, bahan tambang yang sedang dieksploitasi, keindahan bawah laut dengan ikan warna warni, yang selalu diisi suara puisi indah.

Itulah gambaran Indonesia, dalam iklan televisi.

Indonesia.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Aku tetap mencintaimu.

Titik Balik Pangi

Pertemuan kembali saya dengan Pangi Syarwi dapat digambarkan seperti ketika kita sedang membolak-balik album foto lama. Kita perhatikan satu per satu foto-foto usang sembari menarik kembali ingatan kita tentang kejadian di foto itu. Kita coba raba dengan perlahan-lahan, kita menyusup ke dalam otak kita, mencari-cari sisa memori tentangnya.

Nah, secara ‘kebetulan’ –tanda petik, karena di dunia tak ada satu pun kejadian yang terjadi secara kebetulan- ada selipan foto lusuh. Dikanan kirinya telah terlihat jamur yang menggerogoti. Foto itu sudah kita lupakan. Bahkan kita tak pernah ingat -sebelum menemukan foto itu- bahwa kita pernah berfoto!

Begitulah kira-kira gambaran ingatan saya tentang Pangi Syarwi.

Saya pertama kali mengenalnya secara singkat –betul-betul secara singkat- tahun 2009 lalu. Dan semenjak pertemuan yang singkat itu, tak pernah sekalipun ada hubungan antara kami berdua. Tak ada SMS, atau bahkan sekadar komen di FB. Ingatan tentangnya telah terkubur dalam selama kurang lebih 3 tahun ini.

Maka pertemuan pada Rabu, 28 Maret 2012 kemarin menjadi begitu spesial. Ingatan saya tentangnya berkelindan dengan seruan dan orasi demonstransi menolak kenaikan harga BBM di depan kantor Pertamina Yogyakarta. Reuni dalam nuansa yang tepat, sebagai seorang aktifis KAMMI.

Namun saya tak hendak membahas tentang hal diatas. Biarlah itu menjadi perbincangan antar kami berdua, dan menjadi hal melakonlik dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari kami.

Yang ingin saya tulis adalah bukunya, Titik Balik Demokrasi. Buku yang berisi lima bab, terdiri dari 44 artikel ini merupakan kumpulan artikel yang berserakan di berbagai media massa, kemudian dikumpulkan jadi satu. Sumber-sumber tulisan berkisar antara tahun 2007 hingga 2011. Baca lebih lanjut