500 Days of Summer

Kita tahu film itu. Bukan tentang kisah cinta, begitu yang dikatakan narator pada awal film. Memang tidak semua kisah cinta adalah kisah cinta.
 
Tokoh utama adalah Tom, yang bekerja menjemukkan pada sebuah kantor. Lalu datanglah Summer Fin, yang mewarnai hari demi hari -hingga 500 hari- Tom. Di film itu kita bisa melihat keasyikan sebuah drama, mulai dari perkenalan hingga keakraban. Tapi tentu sebuah drama yang bagus mesti ada tragedi.
 
Summer menghilang. Tiba-tiba.
 
Meninggalkan hari-hari Tom yang hancur lebur. Kesenangan dan semangat yang sudah ia terus rasakan ketika awal mereka berdua saling berhubungan, akhirnya malah menjadi sebuah kehidupan yang tak ada artinya sama sekali untuk Tom.
 
Disaat itu, Tom juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan dia mulai ikut percaya dengan Summer kalau memang tak ada yang namanya cinta. Hal tersebut hanya ada di dalam film-film saja.
 
Ini bukan tentang kisah cinta, kata narator film itu. Dan memang ini tidak sebatas kisah cinta semata. Tapi ini tentang mengelola rasa.
 
Di akhir film, saat Tom mulai menerima apa yang terjadi dengan Summer, saat itulah dia menemukan cinta dalam diri wanita yang bernama Autumn. Meresapi apa yang dikatakan Mbak Raisa, “tak akan jera kupercaya cinta.”
 
Dan 500 Days of Summer adalah tentang mengelola rasa “menerima.” Tentang sebuah penerimaan. Tidak mudah untuk menerima; kalau yang diberikan adalah sakit hati, caci maki, bullyian, dan hal-hal menyakitkan lainnya.
 
Tidak mudah untuk menerima semua itu dan kemudian bisa menikmatinya dengan lapang dada. Selalu tidak mudah.
 
Maka foto ini bukanlah “a glass of wine,” ia adalah kopi yang diberi nama “500 days of summer.” Bisa di dapatkan di warung kopi kecil bernama BlackBone. Isinya terdiri dari kopi yang dicampur dengan daun mint, lemon, dan tempelan gula yang mengelilingi bibir gelasnya.
 
Meminumnya, seperti di ingatkan, bahwa “yang pahit, asam, dan anyep, selalu ada manis-manisnya bila dinikmati dengan penerimaan yang baik.” Itulah tafsir atas segelas kopi 500 Days of Summer.
 
Sudah jelas, saya menikmatinya dengan hati tenang, karena tidak perlu kuatir dengan tagihan pembayarannya. Paham kan maksudnya?
 
Maksudnya, itu saya bisa minum dengan tenang ya karena ada yang mbayari. Kalau tidak ada, ya pasti minumnya sambil gelisah. “Entek e piro yoo. Duh, cukup ora iki sing neng dompet…”
 
Ngono wae dadak tak cetakke lho…
whatsapp-image-2016-11-06-at-00-14-22

Glass

Glass

Ini bukan tentang Hugh Glass yang memenangkan piala Oscar. Yang menang itu adalah Leonardo Di Caprio, setelah di PHP panitia bertahun-tahun.

Ini tentang Hugh Glass. Sosok yang bertahan hidup di tengah gempuran salju, ancaman pembunuhan, dan alam yang mematikan. Bagi yang sudah nonton film itu, The Revenant, maka akan tahu kisah Hugh Glass.

Ya, film ini hampir sama dengan In The Heart of The Sea, yang diperankan oleh Thor. Tawaran kisahnya saya kira serupa; kemampuan manusia untuk bertahan hidup di tengah kondisi alam yang mematikan. Kalau film yang terinspirasi dari kisah Moby Dick itu temanya bertahan di tengah lautan luas, kalau the Revenant temanya adalah hutan belantara yang bersalju.

Mungkin genre film ini lagi marak ya di Hollywood sana. Kisah serupa juga ada di film garapan Disney. Aduh, saya lupa judulnya.

Oke, kembali pada Hugh Glass.

Mister Glass dikisahkan adalah seorang pemburu kulit. Ia orang kepercayaan karena pengetahuannya tentang medan. Bukan kota Medan yang ada di ujung sana ya. Namun naas, Mister Glass ini kemudian diserang oleh beruang Grizlly yang buas. Beruang itu mencabik-cabik tubuhnya. Menggigit lehernya. Melempar tubuhnya. Mengejar Glass yang lari ke hutan. Dan kemudian beruang itu pecahkan saja Glass-nya, biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh.

Dan betul. Mister Glass mengaduh. Sakit. Nyaris tewas.

Saat itulah datang rombongan teman-temannya menolongnya. Namun ditengah tantangan alam yang bersalju sekaligus kejaran orang Indian yang haus darah, pilihan paling logis adalah membiarkan Glass terbaring lemah dan mati dengan tenang. Orang yang terluka, apalagi sekarat, hanyalah menjadi beban perjalanan. Itu yang dipikirkan oleh satu orang dari rombongan itu.

Akhirnya memang Glass ditinggalkan, ditemani oleh dua orang kawan dan anak laki-lakinya. Singkat cerita, kalau panjang silahkan kamu nonton sendiri aja, orang tadi membunuh anak laki-laki Glass, dan meningglkannya sendirian.

Nah, film ini berkisah tentang itu. Tentang upaya Glass bertahan hidup dengan tubuh penuh luka dan kondisi alam yang sungguh bisa mematikan. Dalam film itu juga ada adegan bagaimana Glass harus makan daging mentah untuk bertahan hidup, harus tidur di perut bangkai kuda untuk menahan dingin.

Lantas apa yang menyebabkan Glass mampu melakukannya? Mampu bertahan hidup disaat kebanyakan orang mungkin akan mati bila dihadapkan dengan kondisi yang sama?

Dendam.

Ya, dendamlah yang membuat Mister Glass bertekad untuk tetap hidup. Dendam kepada pembunuh putranya yang membuat Glass tak pernah puas walau telah selamat. Dan di akhir film itu kita tahu, bahwa Glass berhasil melampiaskan dendamnya. Membunuh si pembunuh.

Dendam dan cinta, mungkin adalah emosi yang paling besar mempengaruhi kehidupan manusia.

artisans-thumbnail-the-revenant_clean

Meniti Tali

Meniti Tali

Aku tulis sajak cintaku ini
Karena tak bisa ku bisikkan kepadamu.
Rindu mengarungi senin, selasa, rabu
Dan seluruh minggu.
Menetes bagaikan air liur langit
Yang menjadi bintang-bintang.

(Rendra, 2003)

Seperti yang diungkapkan Rendra, bahwa rindu ini tak bisa kubisikkan padamu. Rindu ini mengarungi hari demi hari, berkecamuk dalam dada.

Setelah sekian lama, siapa yang bisa menyangka bahwa pada akhirnya aku akan sendirian disini? Menghadapi dilema kehidupan yang terus saja menerpa. Siapa yang menyangka aku akan menantang badai ini seorang diri?

Akhirnya aku tahu, bahwa aku seperti orang yang sedang meniti tali. Berada dalam bahaya yang ternyata hanya ku buat sendiri. Siapakah yang bisa menyangka baik ataupun buruk dari setitik peristiwa dalam perjalanan hidup seseorang? Ah, bukankah cinta masa lalu bukanlah hal yang mesti disesali untuk esok hari.

Ya, aku hanyalah seorang pria yang berjalan meniti tali.

Saat berada di atas tali itulah jantungku berdegup kencang. Aku tutup mataku, berusaha menghilangkan rasa takut. Ku penuhi yakinku dengan terus menghitung harapan agar bisa sampai di ujung tali, padamu.

Aku terus berjalan pada tali itu. Mengacuhkan rasa takut dan kuatir. Namun semakin ku paksa hati untuk menerima semua kenyataan ini, hasilnya malah makin jauh aku pada kebenaran yang mesti ku terima.

Tapi bukankah aku mesti harus tetap berjalan? Meniti tali ini dengan segenap jiwa. Melalui jalan ini yang mesti ku terima dengan lapang dada.

Aku mesti berjalan terus. Karena jika aku tak terus berjalan, aku justru akan terjatuh.

I have to keep walking
To keep me from falling down, yeah..

*tafsir sak karepe dewe dari lagu Man On a Wire – The Script.

Cek lagunya disini. https://www.youtube.com/watch?v=QV62YRpIeUA

Photograph

Mencintai kadang bisa menyakitkan, kau tahu itu. Namun bilamana dan bagaimana bila yang ku tahu hanya mencintai? Saat itu terasa sesak dan menyakitkan, maka aku hanya menegaskan diri bahwa itulah yang membuatku merasa hidup.

Maka kita akan mengenang cinta dalam selembar foto. Membuat memori kenangan itu hanya untuk kita. Hanya kita yang tahu dan mengerti. Dalam selembar foto dimana mata itu tak pernah tertutup. Dalam selembar foto dimana tak ada hati yang patah. Dan dalam selembar foto yang abadi.

Dan dalam selembar foto itu kau bisa membawanya kemana saja. Bisa kau simpan dalam kantong, atau kau selipkan dalam buku yang kau baca. Membuatmu selalu merasa dekat, hingga tak kan pernah kau merasa kesepian.

Dan bila suatu saat sesekali kau menyakitiku. Tak apa, itu hanyalah sebuah kata. Aku tetap tak akan membiarkanmu pergi. Tunggulah aku di rumah.

Di dalam selembar foto,

Dear, Aulia

Dear Aulia,

Dia, iya dia. Yang tiap postingan di media sosial selalu aku cermati. Aku kepo-in. Hanya sekadar untuk menuntaskan keingintahuanku: bagaimana keadaannya?

Aku selalu berteman dengan rindu yang cukup tertuntaskan hanya dengan mengetahui apa yang sedang dilakukannya kini. Tak berani aku bertegur sapa. Bukan karena aku pengecut tapi tak ingin aku membuka kembali ruang luka dalam hatinya.

Tahukah dia tentang tingkahku? Atau jangan-jangan dia juga sedang melakukan hal yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saja menghantuiku, Aulia.

Seringkali aku membayangkan: aku dan dia saling mencuri tahu. Aku dan dia berada dalam ruang yang berbeda dan hanya ada satu pintu. Masing-masing, aku dan dia, saling bergantian mengintip dari lubang kunci. Saling penasaran, saling memendam rindu dan harap, tanpa pernah ada diantara aku dan dia yang berani membuka pintu kembali.

Aku tak berani membuka pintu itu.