Tidak perlu judul

Tidak perlu judul
I.
Semua wanita itu pembohong.

Pada akhirnya aku menarik kesimpulan seperti itu. Setiap kali berhubungan dengan wanita, aku harus mulai hati-hati untuk tidak termakan bujuk rayunya. Mentup mata dari wajah sendu nan manjanya, yang terlihat tulus namun bisa jadi menyimpan bulus. Kata orang, hati seorang wanita itu tak bisa ditebak, banyak maunya, dan cenderung manipulatif. Aku setuju untuk soal itu.

Sudah banyak kisah memilukan yang terjadi di dunia hanya karena kebohongan wanita. Misalnya saja dalam kisah terjadinya Candi Prambanan. Sebuah komplek bangunan dengan ribuan candi indah yang terletak di Yogyakarta. Konon disalah satu candinya ada patung Roro Jonggrang yang telah dikutuk jadi batu.

Menurutku kisah itu adalah sebuah kisah tentang kebohongan wanita. Roro Jonggrang, yang mensyaratkan membangun seribu candi kepada Bandung Bondowoso yang hendak meminangnya. Dan karena suatu alasan -entah cinta, entah apa- Bandung pun menyanggupinya. Kalau memang itu karena cinta maka kadangkala cinta memang bisa membuat orang melakukan hal-hal di luar nalar.

Mengerahkan segala upaya, dengan bantuan jin dan manusia serta kekuatan ajaib, Bandung Bondowoso pun akhirnya hampir berhasil memenuhi syarat Roro Jonggrang. Seribu candi nyaris rampung sebelum matahari terbit.

Namun bukannya bahagia mengetahui bahwa syaratnya terpenuhi, Roro Jonggrang malah membuat siasat agar ayam jantan berkokok sebelum waktunya. Maka hancur berantakan usaha Bandung Bondowoso yang tinggal menyisakan satu buah candi saja agar genap seribu.

Itulah bukti kebohongan wanita. Sebuah syarat yang ia ajukan lalu ia khianati dengan taktik licik.

Aku berpikir seperti ini bukan tanpa sebab. Tak menggunakan ajian utak-atik gathuk, tapi dengan penelitian kualitatif yang ilmiah bercampur kelindan dengan tingkat emosional yang tingi dan menggunakan perspektif korban.
II.

Hahaha…..tak henti-hentinya aku tertawa saat mengenang pria itu. Pria yang telah lama ku bodohi. Entah bagaimana nasibnya sekarang, aku tak mau tahu. Esoklah saat aku butuh aku akan cari tahu. Sekarang aku tak lagi membutuhkannya. Aku sudah cukup bahagia bersama pria lain.

Aku ingin bercerita tentang pria itu, pria yang berhasil ku tipu dengan amat sukses. Ia bukan tipe pria yang menarik perhatian. Wajahnya pas-pasan, pun kantongnya juga punya nasib sama. Ia sosok yang cenderung pendiam. Tak banyak tingkah, namun satu hal yang akhirnya bisa ku manfaatkan darinya adalah; ia terlalu baik.

Semua pria itu bodoh. Apalagi pria yang baik hatinya. Semakin baik dan tulus seorang pria, maka semakin mudah untuk dibodohi. Betul kan? Mana ada orang pintar dan jahat yang gampang ditipu. Yang terjadi malah dialah sang penipu.
Kadangkala kebaikan seseorang bisa digunakan untuk hal-hal tertentu, sesuai tujuan yang baik atau tidak baik, dan bagaimana memanfaatkannya. Kebaikan itu aset, sumber daya, potensi, dan bagi wanita sepertiku, kebaikan pria itu merupakan celah menganga lebar yang bisa ku siasati.

Ya, aku bisa mendapatkan banyak hal hanya dengan memanfaatkan kebaikannya. Mulai dari smartphone, baju baru, hingga jalan-jalan gratis sepanjang aku mau.

Darimana dia mendapatkan uang untuk itu? Ah, mana mau aku tahu. Itu urusannya. Urusanku adalah keinginanku terpenuhi. Namun yang paling berharga yang bisa ku dapatkan darinya adalah; hatinya.

Hati yang ku genggam itulah keuntungan terbesarku. Hati itulah yang bisa ku lambungkan setinggi langit, dan sewaktu-waktu bisa kuhujamkan ke bumi. Hati itulah mainan yang paling seru dan mengasyikkan. Hati itulah yang membuatnya bisa memenuhi segala keinginanku. Peganglah hati seorang pria maka ia akan menjadi bodoh untuk dengan mudah ditipu.

Dan itulah yang ku lakukan.

III.

Aku muak sekali melihat kedua orang itu; yang satu tampak berpura-pura, yang satu amat bodoh. Rasanya aku ingin sekali mengusir mereka dari pandangan mataku. Sialnya saban senja mereka selalu duduk bersandingan di hadapanku. Yang wanita akan bercerita macam-macam, tentang ini itu, beli ini itu, ingin ini itu. Dan yang pria selalu saja cuma manggut-manggut, mengiyakan, dan diakhir setelah matahari benar-benar tenggelam, berjanji untuk memenuhinya.

Kalau saja aku bisa menjadi malaikat cinta, yang punya sayap mungil untuk terbang kemana pun, maka aku akan meletakkan ketulusan dan kejujuran di hati yang wanita dan pada yang pria akan ku kembalikan akal sehatnya.

Dus, aku cuma sebuah pohon.

IV.

“Ibu mau makan?” tanya seorang anak yang sedang makan dengan lahap.
“Tidak, untukmu saja. Ibu tidak lapar.”

V.

Langit malam dipenuhi bintang. Bagi yang punya mata hati, maka akan tampak rombongan malaikat berbondong-bondong turun dari langit untuk menyampaikan salam dari penduduk langit kepada seorang ibu.

Cahaya memendar dari sebuah rumah mungil ke segala penjuru. Tembus ke langit hingga memanggil malaikat-malaikat itu.

Cinta Anis, dan Dika: Pohon

Cinta Anis, dan Dika: Pohon

Gue lagi duduk di sebuah café sambil ditemani segelas cappucino hangat. Di luar hujan. Amat deras. Kata orang, hujan adalah teman sejati para jomblo. Berdua mereka membentuk harmoni yang indah. Bayangkan aja betapa indahnya seorang jomblo yang duduk sendirian di dekat jendela, di temani segelas kopi lalu di luar hujan mengguyur. Kalau direkam pasti sudah menjadi sebuah video klip yang bisa memenangkan Oscar berkali-kali untuk kategori tingkah konyol.

Hujan suka jomblo dan jomblo suka dengan hujan. Karena bagi jomblo hanya hujan yang mampu menyembunyikan dengan sempurna air mata dan suara isak tangis kesepian.

“Cinta itu kayak pohon!!!”

Entah darimana Bang Dika tiba-tiba datang. Sambil menaruh sebuah pot diatas meja. Gue bingung. Campur kaget. Campur heran. Campur terpukau. Campur cendol. Campur WOW sambil guling-guling.

“Ada apa nih, Bang? Kok tiba-tiba?” tanya gue.

“Lihat pot ini. Cinta itu harus kayak pot ini!,’ tegas Bang Dika sambil nunjuk-nunjuk pot berwarna coklat ukuran segayung itu. Gue lirik ke dalam pot itu. Isinya tanah yang masih basah seperti habis disiram.

Gue cuma melongo, kembar betul sama orang bego.

“Loe lihat pot ini. Didalamnya bibit tanaman. Nah, cinta itu harus tumbuh bersama. Loe mau ngambek, loe punya kebiasaan buruk, loe suka ngupil, loe bego, ciinta itu belum selesai saat menerima itu semua. Cinta juga harus menjadikan seseorang yang kita cintai menjadi lebih baik. Cinta harus membuat kamu untuk menjadikannya lebih baik,” terang Bang Dika berapi-api seperti petugas MLM yang sedang menemukan klien prospek besar.

“Diatara marah, ngambek, kesel, dan berkali-kali diingetin, kamu harus tumbuh menjadi lebih baik bersama pasanganmu.”

Gue manggut-manggut. Antara ngerti dengan takut jadi satu. Gue amati pot itu, mencoba memahami dan menyerap makna apa yang barusan dikatakan Bang Dika. Pot itu gue angkat. Gue pelototi tiap sentinya. Gue elus-elus. Gue icip-icip. Seakan-akan pot itu adalah barang paling berharga di dunia ini.

“Bang?” panggil gue.

Etdah, entah pake ilmu magic apa Bang Dika udah lenyap dari hadapan gue. Gue tengok kanan kiri, Cuma ada pelanggan café. Bang Dika lenyap. Bagaikan kena jurus Kuchiyose no Jutsu.

***

Cinta itu kayak pohon.

Mungkin itu yang gue lupa, bahwa cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Itu yang dikatakan Om Anis Matta dalam buku mungilnya “Serial Cinta.”

“Para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidupnya: memberi. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah ar. Kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu,” kata Om Anis.

“Apa itu juga yang menjadi rahasia hubugan awet dan bertahan lama ya, Om?”

“Iya, benar. Kamu pasti bosan mengobrol dengan seseorang yang hidupnya stagnan, dingin dan tidak dinamis. Para pecinta sejati menemukan gariah kehidupan dari perubahan-perubahan dinamis dalam kehidupan kekasih mereka. Seperti gairah kehidupan yang dirasakan seorang ibu ketika ia menyaksikan bayinya tumbuh menjadi anak, remaja lalu dewasa.”

“Iya juga sih, kan gak ada ceritanya tuh Ibu bosan lihat anaknya…hehehehe….”

“Yupks…dan penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan adalah sisi paling rasional dan realistis dari cinta. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Sebab disini cinta bukan sekadar gumpalan emosi di langit jiwa; yang mungkin meledak bagai halilintar, atau membanjiri bumi dengan hujan air mata. Disini cinta adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan jiwa, pikiran dan fisik sekaligus.”

Ya, gue sedikit ngerti sekarang. Bahwa cinta itu menumbuhkan, kayak pohon yang selalu tumbuh. Kalau cinta gak membuat kita menjadi lebih baik, maka gue saranin agar bertanya lagi; apa benar itu cinta?

Untukmu; Aulia (bagian 2)

“Aku akan menghapus kenangan itu hingga lembar terakhir.”

Aulia,

Kalimat itu datang darinya. Tidak ditujukan padaku langsung, tapi aku tahu betul maknanya. Bukan berarti aku sok tahu. Tidak, Aulia. Aku tidaklah sok tahu atau ke ge-er an. Telah lama kau mengenalnya, dan aku tahu bahwa memang ada yang membebaninya, yaitu; masa lalu.

Yaitu; aku.

Tidakkah aku juga ingin menghapusnya; kenangan itu. Tidakkah aku juga ingin melupakannya, ia yang telah lama memutuskan untuk hidup dengan dunianya sendiri. Ah, Aulia, tahukah engkau bahwa aku telah mencobanya sekian tahun ini. Dan sampai detik ini aku gagal.

Sesekali tiap pagi, begitu aku bangun dari tidur masih saja kubisikkan namanya kepada dinding kamar. Kalau saja dinding itu bisa bicara tentu ia akan memarahiku dengan  kata yang sama persis kau katakan padaku, Aulia.

“Lupakanlah dia. Tak sadarkah kau telah menyia-nyiakan waktu dan tenaga hanya untuk seseorang yang bahkan tak lagi mau mengingatmu?” begitulah yang saban kali kau katakan padaku. Dengan muka memerah, bagai air dalam ceret yang direbus.

Aulia,

Maafkanlah aku. Ku katakan padamu bahwa deraan paling berat adalah cinta yang sulit ku katakan padanya. Dan di satu sisi, sesal paling pahit adalah melupakannya.

Kau tahu, Aulia, dalam drama film yang seringkali kita tonton ada saat dimana cinta adalah keyakinan untuk menunggu. Bahkan dalam satu cerita itu ada yang menunggu  hingga puluhan tahun. Kadang aku meyakinkan dalam diri akan ada satu titik waktu dimana aku dan dia kembali bertemu. Dalam sebuah momen yang aku sendiri bingung momen apa.

“Ah, itu hanya ada dalam film. Fiksi,” katamu. Hei, lupakah kau bahwa cerita fiksi pun diilhami dari cerita nyata kehidupan sehari-hari?

Ah, Aulia, tentu saja aku tak ingin memulai debat ini lagi. Di surat pertamaku telah ku katakan padamu bahwa aku telah merelakannya pergi. Aku telah bertekad membiarkan kenangan itu terbang seperti balon gas. Tapi tenyata sampai kini pandanganku pun tak jemu-jemu memandang balon itu menari di langit.

Aulia,

Tidak seperti dia, aku tak ingin membakar kenangan itu. Yang ku lakukan; hanya akan ku bingkai album pertemuan dan foto-foto buram tentangnya. Kelak, bila tua nanti mungkin cerita itu akan menjadi sebuah bahan canda yang menarik.

Sering ku katakan padamu, Aulia, bahwa tragedi di masa lalu akan menjadi sebuah parodi di masa mendatang.

 

demi cinta, demi api yang kusulutkan untuk abadi:
‘hai, aku merindukanmu!’

Februari, 6, 2014

 

Surat Untukmu, Aulia

Surat Untukmu, Aulia

Aulia,

Surat cinta yang baik tidak meminta, tapi ia melepaskan. Begitulah aku mengutipnya dari Will, dalam film waiting for forever. Dan aku telah memutuskan untuk melepaskannya.

Aulia,

Kalau ada pujangga yang mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama, maka aku mengalaminya saat melihatnya. Melihat bulatnya bola matamu, chubby nya pipimu, dan juga manisnya senyumannya. Aku tahu bahwa aku telah memutuskan untuk mencintaimu seketika itu juga. Aku suka memandangi matanya. Sungguh membuatku luluh, apalagi saat ia merajuk.

Bodoh.

Tapi Aulia, bukankah saat jatuh cinta tak ada orang cerdas?

Aulia,

Aku seringkali memanggilnya dengan dua pertiga dari bagian namanya. Selalu, tiap kali aku mengiriminya pesan singkat, aku tulis namanya seperti itu; dengan huruf konsonan ganda dan satu tanda petik dibelakangnya.

(Kau tahu, aku mendapatkan panggilan itu setelah membaca satu novel, dan lucunya tokoh utama novel itu pun kehilangan pasangannya)

Oh, iya, dan seringkali aku menambahkan satu jenis bunga dibelakang namanya. Bunga kesukaannya. Itu pun ku ambil dari penggalan nama lengkapnya.

Suatu ketika aku dan dia membeli bibit pohon itu. Ia tanam di halaman depan kosnya. Saat bunga itu mekar, ia selalu bilang padaku. Ia foto, dan ia tunjukkan saat kami bertemu. Dan selalu, saat-saat seperti itu datang, aku selalu menggodanya; senyummu jauh lebih cantik dari bunga itu. Dan ia selau tersipu.

Saat masa liburan dan ia harus pulang dalam jangka waktu agak lama, ia titipkan bunga itu padaku. Dan rutin ku kabarkan padanya, kapan aku meyirami atau saat bunga mulai kuncup. Kini bunga itu telah tiada, seiring dengan kepergiannya.

Baca lebih lanjut

Kisah Selembar Foto

kisah selembar foto

kisah selembar foto

Kisah Selembar Foto

Aku adalah selembar foto. Ya, hanya selembar saja. Seukuran kartu pos. Sebenarnya kalau boleh memilih, aku lebih memilih menjadi kamera saja. Ia bisa menjepret banyak hal. Menangkap semua pemandangan di dunia ini. Namun aku hanyalah hasil dari jepretannya. Aku cuma sekelumit saja dari jutaan pemandangan di dunia ini. Aku hanyalah tangkapan beberapa detik saja.

Namun aku sudah terlanjur menjadi selembar foto. Sebenarnya juga tak terlalu jelek.

Aku lahir dari hasil Si kamera menjempret senyum sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Duduk berdekatan sambil malu-malu, di sebuah rerumputan. Tak berangkulan memang, mereka hanya duduk bersila bersebelahan. Begitu saja. Di belakang mereka tampak anak-anak yang bermain kejar-kejaran.

Si kamera berhasil menjepret pada momen yang tepat. Senyum mereka tertangkap sangat manis. Entah karena efek cahaya yang kurang di senja hari, di pipi mereka nampak terlihat sedikit rona malu. Raut muka pada momen itulah yang menjadikanku istimewa.

Aku cuma selembar foto yang ku rasa istimewa. Aku ingat betul waktu aku lahir, Si laki-laki langsung menelpon si perempuan. Berkata bahwa si perempuan terlihat lebih gendut. Si perempuan ngambek. Sebel. Si laki-laki mesti berusaha keras membujuk bahwa ia hanya bercanda. Berkali-kali ia bilang bahwa sebenarnya si perempuan tidak gendut. Puluhan kali meminta maaf, menjanjikan akan memberi sebatang coklat dan es krim. Si perempuan tetap tak mau terima.

Si laki-laki bingung, menyesal dengan candaannya yang ternyata berbuah petaka.

Tak tahunya si perempuan juga cuma bercanda. Pura-pura ngambek. Si laki-laki lega. Kelegaan yang aneh. Ia mau marah karena dikerjai oleh si perempuan, tapi tak jadi. Sebel tapi senang. Jengkel tapi wajahnya senyum-senyum.

Ah, momen yang indah. Aku selalu suka tertawa sendiri ketika mengingatnya. Walaupun sebagai selembar foto kamu tak akan bisa melihat senyumku. Dan inilah penyesalanku kenapa aku tidak menjadi kamera. Kalau aku jadi kamera, aku bisa menjepret momen itu. Dan kamu bisa turut melihatnya. Kamu bisa ikut tertawa geli melihat tingkah dua sejoli ini.

Aku tahu betul bahwa si laki-laki mencintai si perempuan. Aku bisa melihatnya dalam kedalaman bola matanya yang hitam. Pandangan itu adalah mata yang memandang harapan. Selain itu aku bisa tahu karena tiap kali melihatku aku selalu mendengar ia menggumamkan sebuah doa. Doa untuk kebaikan mereka berdua, agar mereka bisa hidup bersama.

Aku dulu membayangkan bahwa aku akan dipigura. Dengan pigura sederhana saja, yang tepinya berupa kayu dicat warna hitam. Kacanya sebening embun. Digantung di dinding kamar si laki-laki. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Aku malah ditempel di tepi layar komputernya menggunakan selotip. Biar wajah si perempuan yang ada dalam diriku bisa memberikan semangat, katanya waktu itu padaku. Sebagai selembar foto aku terima saja diperlakukan seperti itu. Yah, lagipula aku tak bisa protes bahwa itu melanggar hak asasi peri-fotoan kan? Aku bahagia sudah bisa selalu menemaninya.

Kini aku meringkuk dengan sepi. Terselip diantara tumpukan buku-buku kuliah tua berdebu yang disimpan di laci bawah meja belajar. Aku ngeri berada disini. Gelap. Kadang terasa ada yang menggerayangi tubuhku. Aku takut. Aku takut kalau itu adalah rayap yang memakan tubuhku pelan-pelan. Aku takut itu adalah jamur yang bisa merusak gambarku. Aku takut tidak bisa dengan sempurna menampilkan wajah mereka berdua.

Ya, semenjak kejadian itu. Yang merupakan kejadian yang sangat memukul si laki-laki. Tepat di jantung hatinya. Berhari-hari ia memandangiku, bukan lagi dengan senyuman namun dengan tangis yang terisak-isak. Aku jadi ikut sedih. Walaupun aku tak bisa menampakkan kesedihanku padanya. Walau hanya untuk menunjukkan empatiku padanya, aku tidak mungkin mengubah wajah ceria si laki-laki dan si perempuan dalam diriku menjadi wajah sedih. Aku juga tidak mungkin tiba-tiba bernyayi untuk menghiburnya. Aku terlahir bisu.

Cerita yang ku dengar saat si laki-laki bicara sendiri pada diriku, bahwa ia patah hati. Si perempuan pada suatu ketika berkata bahwa ia telah mencintai laki-laki lain. Si laki-laki bingung. Menyesal. Setiap malam, selama berhari-hari (aku tak tahu berapa hari, sebagai selembar foto aku tak pernah diajari berhitung), ia selalu memandangiku. Dan tiap kali memandangku ia selalu menangis.

Aku jadi kasihan padanya. Ah, kalau saja aku bisa membawa si laki-laki kembali ke waktu dimana ia difoto ini, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanyalah selembar foto. Aku hanya bisa menyimpan beberapa detik momen. Sedangkan memori itu tersimpan dalam otak dan hati masing-masing orang. Dan bukankah memang kita tak bisa melawan takdir waktu. Tak bisa kembali ke masa lalu.

Akhirnya si laki-laki memutuskan untuk menyimpanku disini, terselip bersama tumpukan buku-buku tua. Aku ikhlas menerimanya. Mungkin ini hanyalah secuil hal yang bisa ku lakukan untuk si laki-laki. Menerima dengan lapang dada untuk dilupakan, agar ia tak lagi menangis saat melihatku. Aku benci melihatnya seperi itu.

Aku tak tahu bagaimana keadaanya kini. Aku juga tidak tahu sudah berapa lama. Apakah ia masih mengingatku? Aku tidak tahu. Apakah ia masih mengenang si perempuan dalam diriku? Tolong ceritakan padaku bila kamu mengetahuinya.

Kebimbangan terburuk adalah tidak tahu; apakah harus menunggu atau menyerah.”