Nostalgia Bersama Ragnarok

Sudah beberapa hari ini saya kembali main game di hape. Game Ragnarok Mobile: Eternal Love.

Sudah ngantri sejak sebelum masa launching. Sebenarnya sudah ada rilis lebih dahulu game bertema Ragnarok ini. Cuma setelah baca-baca review, kayaknya kok gak rekomended. Yang paling di rekomendasikan cuma Eternal Love ini.

Ya, sudah. Bersabar. Nunggu rilis. Dan akhirnya beberapa hari yang lalu sudah rilis. Sudah bisa saya mainkan di hape.

Saya ingat waktu main game Ragnarok dulu adalah sewaktu SMA. Saya sekolah di SMA dekat jalan magelang. Sewaktu pulang sekolah, bersama teman, saya tinggal nyebrang jalan untuk main di game center.

Bermain game ini sebenarnya adalah cara saya untuk mengenang masa-masa SMA dulu. Masa-masa yang tidak pernah memikirkan tagihan bulanan, yang tahunya cuma main, latihan sepak bola, ngajar TPA, dan baca komik.

Bermain adalah tabiat manusia. Sejak jaman manusia purba hingga manusia modern dan amat sangat modern kelak, saya kira manusia tidak akan terlepas dari bermain. Dan industri game akan tetap ada.

Di Indonesia, data tahun 2018 menyatakan bahwa pertumbuhan industri game berkisar antara 25 – 30 persen setiap tahun. Lalu dari survei yang dilakukan pada tahun 2017, tercatat bahwa nilai industri game Indonesia mencapai kisaran 800 juta dollar AS.

Wow, angka yang cukup besar!

Game akan tetap ada. Perkembangan teknologi bakalan membuat game menjadi lebih canggih. Lebih riil. Dan, tentu saja, lebih asyik.

Sekali lagi, menurut saya, bermain adalah tabiat manusia.

Sewaktu bayi kita suka bermain. Di masa kanak-kanak dunianya adalah bermain. Dan saat dewasa, kita ingin sekali bisa bermain sesuka hati.

Katanya, orang dewasa yang bermain game dipercaya memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Bermain game bisa dikategorikan sebagai aktivitas relaksasai.

Peneliti lain, Allan Reiss dari Stanford Univeristy School of Medicine, menemukan bahwa terdapat pengaruh yang lebih besar pada otak ketika bermain game. Bagian otak yang menyangkut kesenangan dan ketergantungan menjadi lebih aktif.

Jadi, ternyata kesimpulannya main game itu bisa menjadi lebih bahagia. Karena itu untuk para istri, jangan usik kebahagiaan suami yang walau sebentar. Biarkanlah dia bermain game untuk sekadar “melupakan sebentar” beban tagihan dan biaya beli susu buat si kecil.

Wrap Drive

Sejak kecil saya selalu terkagum-kagum dengan benda-benda langit. Dulu saya membaca buku tentang sistem tata surya sampai berulang-ulang kali. Isinya tentang kondisi matahari, bahwa Jupiter adalah planet terbesar. Bahwa ada planet yang bila diletakkan dalam baskom air bisa mengambang karena sebagian besar terdiri dari gas helium. Planet apa itu, hayo..?

Membaca dan menonton film tentang keajaiban luar angkasa membuat saya ingin mendalaminya lebih lanjut. Sampai saat ini. Tapi tentu tidak mungkin untuk menjadi astronot, hanya memuaskan rasa ingin tahu saja.

Salah satu buku yang bagus tentang tema alam semesta adalah Kosmos, karangan Carl Sagan. Saya pernah melihat-lihat isinya. Ditulis dengan bahasa mudah dipahami, namun sayangnya belum bisa saya miliki. Akhir bulan bro..

Walau kuliah sebenarnya ada mata kuliah astronomi. Tapi mata kuliah ini tampaknya tak bisa menarik minat belajar saya. Hasilnya saya terpaksa mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. Yah, saya kira pembahasannya seputar planet-planet dan rahasia alam semesta, eh ternyata hitung-hitungan yang bikin pusyiiing.

Asyik rasanya membayangkan berjalan-jalan ke luar angkasa. Mengunjungi dan menyibak rahasia semesta yang amat sangat luas sekali, yang mungkin tidak akan pernah bisa terungkap semua rahasianya sepanjang sisa umur manusia.

Bagaimana tidak, jarak satu bintang terdekat dengan bumi, matahari, yaitu 149.600.000 km. Itu baru matahari yang saban hari menyinari kita. Bintang Proxima Centauri jaraknya 4,2 tahun cahaya. Jarak ini artinya jarak yang bisa ditempuh oleh kecepatan cahaya selama 4,2 tahun. Kecepatan cahaya itu sendiri 3 x 108 m/s. Dan tidak ada benda buatan manusia sampai saat ini yang secepat itu.

Mau pakai pesawat jet, bisa beribu-ribu tahun kemudian baru sampai. Nah, karena itulah manusia mustahil mengelilingi jagat raya kalau masih menggunakan teknologi “kecepatan.”

Salah satu teori agar kita bisa berpergian lebih cepat dari cahaya dijelaskan dalam salah satu adegan di komik Doraemon.

Jadi begini, kata Doraemon, misalkan saja kita menulis di selembar kertas dua titik dengan jarak tertentu. Katakanlah titik A dan titik B. Lalu tarik garis lurus yang menghubungkan dua titik itu. Itulah yang dinamakan jarak. Untuk berpindah dari titik A ke titik B kita harus menempuh jarak sepanjang garis yang menghubungkan keduanya. Ini cara konvensional.

Tapi ada cara yang lebih praktis, yaitu dengan melipat kertas itu dan menghubungkan titik A dan titik B. Maka dalam sekejap kita bisa berpindah. Apakah itu mungkin? Mungkin saja. Karena menurut teori Einstein, sebenarnya ruang dan waktu itu melengkung.

Bayangkan sebuah bola bowling yang ditaruh diatas kain yang dibentangkan. Nah, bola itu akan menghasilkan lengkungan pada kain kan, itulah ruang dan waktu yang melengkung.

Dari teori inilah modal kita bisa berpergian dalam sekejap. Seperti yang dikatakan ahli, “Jika Anda melihat persamaan Einstein, persamaan tersebut telah memberi pintu bagi kita, Einstein menunjukkan kepada kita dimana kita dapat menekuk dan melengkungkan ruang kosong sehingga Anda dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan apapun yang Anda suka di alam semesta,” katanya. “Ini secara teoritis mungkin.”

Warp Drive, adalah sebutannya. Dicetuskan oleh Miguel Alcubierre, salah satu fisikawan tekemuka dunia pada tahun 1994. Jenis teknologi ini memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan sepuluh kali lebih cepat dari kecepatan cahaya, tanpa benar-benar melanggar kaidah kecepatan cahaya.

Kalau Anda menonton serial Star Trex, Star Wars ataupun Guardian of Galaxy, maka akan mendapati pesawat-pesawat itu menggunakan “warp” untuk berpindah antar planet atau galaksi.

Apakah dengan teori ini kita bisa sedikit lebih memahami perjalanan Rasulullah Saw ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam? Saya tidak tahu.

Tapi bila teknologi ini benar-benar memungkinkan terwujud, pasti sangat menguntungkan bagi para pelaku bisnis online.

Bayangkan saja, saat konsumen sudah transfer, tiba-tiba mak wuuzzzz ada customer service dengan wajah manis dan senyum pepsodent menyerahkan paket. Tanpa perlu melaporkan resi. Tanpa perlu menerima komplain kenapa paket belum datang-datang.

Betul-betul super excellent service!

“There are many “absurd” theories that have become reality over the years of scientific research.  But for the near future, warp drive remains a dream,” kata NASA.

Buruh bakul madu wae mikir e ndakik-ndakik tekan planet Jupiter.. 😀

ENT-D-Warp-flash

1Q84

Saya mengenal Haruki Murakami lewat Maudy Ayunda. Ya, Maudy Ayunda yang itu. Yang bergigi kelinci, rambut hitam lurus, senyumnya menawan, sekolah di Oxford, suaranya saat menyanyikan lagu perahu kertas membuat terpesona dan memilih nomor dua waktu pilkada.

Saya mengenalnya sebagai seorang wanita yang lucu, penuh keceriaan, usil, kadang konyol namun manis. Itu saat saya melihatnya sebagai Kugy di film Perahu Kertas. Kalau lihat dari raut wajahnya, saya rasa mungkin karakter nyata dia tak jauh berbeda.

Perkenalan saya denngan Murakami bukan dalam arti saya ketemu Maudy, lalu dia bilang pada saya, “Mas, kenalin ini salah satu penulis favorit aku,” katanya. Bukan dalam arti begitu, saya cuma mengenal Murakami lewat postingan di IG Maudy. Waktu itu dia mengupload foto sedang membaca 1Q84, buku karangan Murakami. (Iya, saya follow akun IG-nya Maudy, terus kenapa?)

Sebagai fans yang baik dan benar, tentu saya penasaran. Kenapa Maudy membaca buku itu? Apa isinya? Apakah menarik?

Saya lalu mencari tahu buku-buku Murakami. Terutama 1Q84 itu. Namun saya tak lantas tertarik untuk membelinya. Bukan apa-apa, hanya saja ternyata buku itu terdiri dari tiga jilid. Duh, langsung beli tiga jilid cukup memberatkan di kantong.

Karena itulah buku pertama yang saya baca adalah Dengarlah Nyanyian Angin. Bukunya tipis. Isinya? Ternyata saya tidak begitu paham.

Membaca karya Murakami memang harus bersiap dengan membaca alur yang lambat, penuh simbol dan kadang -bagi saya- tidak jelas maksud ceritanya itu apa. Selanjutnya saya mencoba untuk membaca novelnya yang lebih tebal; Norwegian Wood. Dan dari membaca buku inilah kemudian saya menyukai lagu Norwegian Woodnya The Beatles.

Memang banyak karya Murakami yang mengambil judul dari lagu The Beatles. Selain Norwegian Wood itu ada juga cerpen yang berjudul Yesterday.

Setelah buku itu, saya membeli What I Talk About When I Talk About Running. Nah, di buku ini saya bisa mencerna tulisan Murakami dengan lebih enak. Buku ini bercerita tentang hobi Murakami mengikuti marathon. Tapi sebenarnya di buku itu Murakami berkisah tentang dirinya. Tentang keputusannya untuk menjadi seorang penulis novel. Tentang kehidupan dan berbagai pemikirannya. Yah, lebih mirip biografi mininya Murakami.

Yang berikutnya, sebelum memutuskan membaca Dunia Kafka, saya terlebih dahulu membaca cerpen Murakami yang bisa saya dapatkan via online. Salah satu cerpennya yang menarik menurut saya adalah Dia yang Sempurna. Saya baca di situs fiksi lotus.

Penerjemahannya sangat bagus. Inti ceritanya pun sebenarnya sederhana. Tentang seorang laki-laki yang melihat seorang wanita yang begitu sempurna di sebuah stasiun. Silahkan baca sendiri, bisa dicari di google, cerpen ini adalah sebuah kisah cinta yang muram dan penuh ironi.

Tapi memang, hampir sebagian besar karya Murakami adalah kisah cinta yang muram. Termasuk dalam 1Q84. Yang dibaca Maudy Ayunda sejak lama itu. Baru bisa saya selesaikan akhir-akhir ini. Tiga jilid.

Dan sepertinya ini adalah novel terakhir yang bisa saya baca dari Murakami, soalnya belum ada lagi bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bukan berarti saya tidak punya karyanya yang berbahasa Inggris, saya punya file Sputnik Sweetheart. Namun setelah membaca satu paragaraf, saya menyerah untuk melanjutkannya.

1Q84 sebenarnya adalah kisah cinta sederhana. Antara Tengo dan Aomame. Namun Murakami membuat kisah cinta yang sederhana itu sedemikian rumit, panjang dan melelahkan. Intinya adalah Tengo dan Aomame adalah dua orang yang jatuh cinta saat kecil, dan cinta itu memberikan harapan pada keduanya selama 20 tahun untuk saling mencari.

“Jika kamu dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati, bahkan untuk satu orang, itulah keselamatan dalam hidup. Meskipun kamu tidak dapat bersama dengannya,” kata Aomame yang dalam cerita itu harus melalui berbagai kerumitan, sampai harus tersesat kedalam dunia paralel yang mempunyai dua rembulan.

Novel ini memang panjang -hampir seribu halaman- dan berjalan lambat. Kalau kata Eka Kurniawan,1Q84 seperti mie rebus yang kelewat lama dimasak. Kematangan. Akhirnya malah lembek.

“Sebagai karya yang sangat panjang, itu seperti menonton pertunjukan orkestra selama beberapa jam. Di beberapa bagian, saya lebih senang jika bisa tidur,” katanya. “Kisah mengenai Aomame dan Tengo yang saling mencari, anggaplah sebagai bingkai yang menyedihkan, untuk ruang begitu banyak kisah yang berkelap-kelip di dalamnya. Bingkainya menjadi tidak penting..”

Tapi walau begitu, entah mengapa saya tertarik terus untuk membacanya. Menghabiskannya sampai halaman terakhir.

Oh, iya, menurut saya kutipan yang paling menarik datang dari Ushikawa, bukan tokoh utama, “Pengetahuan dan kemampuan hanyalah alat, bukan untuk dipamerkan..”

Jalan-Jalan

“Jalan-jalan yuk, Mas,” kata istri saya pagi itu.

Entah sudah berapa lama permintaan itu datang, tapi tak kunjung saya turuti. Entah mengapa saban hari libur, badan ini rasanya berat untuk bangkit dari kasur. Mata selalu ngantuk, dan kaki selalu pegal.

Sebenarnya saya ini bukannya tidak suka jalan-jalan. Zodiak saya Sagitarius. Konon katanya, orang zodiak yang lambangnya mahkluk mitos centaur ini, adalah tipe orang yang suka bertualang. Suka menjelajah dan pergi ke tempat-tempat baru. Sebut saja orang-orang Sagitarius yang merupakan penjelajah unggul. Misalnya saja Alexander the Great, yang bertualang sambil berperang menaklukkan dunia. Juga kakeknya Sam Witciky juga seorang petualang. Ia pergi sampai kutub dan menemukan Megatron.

Mereka semua adalah contoh orang-orang Sagitarius yang tepat. Bukankah begitu?

Oh, iya.. Sebelumnya apa kamu percaya bahwa orang-orang yang aku sebutkan tadi zodiaknya Sagitarius? Kalau gitu sama konyolnya juga dengan percaya pada ramalan zodiak.

Sekali lagi, saya sebenarnya suka jalan-jalan. Mengunjungi pantai dan berjalan-jalan sampai naik ke bukit. Menjelajah kedalaman hutan, dengan pemandu jalannya. Kalau tidak ya bisa nyasar.

Tapi entah mengapa, saya juga sulit menjelaskannya, bahwa saban pengen jalan gitu tiba-tiba rasa malas menggelayuti. Seperti pembisik jahat yang selalu berkata, “Tidak usah. Nanti capek. Tuh, lihat awan mendung, lho..”

Inilah bedebahnya malas. Malamnya sudah punya rencana ke hutan Mangrove, eh paginya cuma tidur di kasur sampai jelang dhuhur. Kalau malas itu berbentuk, ingin juga saya memukulinya sampai babak belur. Biar dia tahu bagaimana rasanya mengecewakan seorang istri.

Jalan-jalan saya adalah membaca dan tidur. Saya bisa berjalan-jalan ke Afghanistan dengan membaca tulisannya Agustinus Wibowo. Melihat hutan di pedalaman Papua lewat The Dusty Sneaker.

WhatsApp Image 2017-05-19 at 16.56.12.jpeg

Tapi saya juga tahu, bahwa membaca tak akan bisa menggantikan melihat langsung. Dan sialnya, membaca itu tak bisa disambi bicara. Karena itu kadang saya mengabaikan istri disamping saya hanya karena asyik membaca. Kata dia sih begitu.

Yang kadang membuat malas dari jalan-jalan sebenarnya adalah perjalanannya itu sendiri. Ah, andai ada pintu kemana saja punya Doraemon, tentu sangat mudah mengajak istri saya pergi ke penjuru tempat. Tentu saja itu hanyalah sebuah khayalan.

Membayangkan harus menempuh satu jam perjalanan naik motor, rasanya sudah lelah. Walaupun kata orang, inti dari travelling adalah perjalanan, bukan tempat tujuan. Menikmati jalan aspal, macet, naik bus, naik pesawat, berdesak-desakan, itulah inti dan maknanya travelling. Bukan tempat tujuannya.

Seperti beberapa waktu lalu, saat saya membaca sebuah berita. Ada paket wisata sarapan di puncak himalaya. Tanpa harus berpayah-payah mendaki. Jam sarapan kita sudah diantar ke puncaknya. Naik helikopter. Banyak yang berminat, tapi banyak juga sinis. “Kalau cuma tinggal turun dari helikopter, apa makna pendakian? Apa makna puncak?” kata yang lain.

Kembali ke permintaan istri saya diatas.

Sebenarnya dia pun tak minta travelling jauh-jauh amat. Tidak perlu ke Paris. Tidak perlu juga ke pantai tersembunyi di Gunung Kidul. Tidak perlu berfoto juga ke jurang Kanigoro.

“Muter-muter pakai motor saja sudah cukup kok. Asal kena angin,” katanya.

Duh, saya terharu mendengarnya..

WhatsApp Image 2017-05-19 at 16.56.26.jpeg

Germinal

screenshot_2017-01-08-13-29-50_1

Emile Zola tahu bagaimana rasanya menjadi buruh. Karena itu ia bisa bercerita dengan baik tentang kehidupan Etienne Lantier. Tentang pekerja tambang batu bara yang bangun sebelum matahari terbit, turun ke penambangan, dan baru pulang setelah matahari tenggelam. Tapi hasilnya tak pernah membuat perut kenyang.

Tapi kehidupan Etienne tak hanya soal itu. Pun soalremb masalah kesehatan karena menghirup debu tambang setiap hari, tentang bahaya yang begitu dekat dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa.

Zola, seorang pengarang Prancis menceritakan tentang Etienne dalam Germinal, terbit pertama tahun 1884.

Kisahnya tentang Etienne, seorang pemuda yang hampir putus asa. Datang ke sebuah tambang batu bara yang ada di distrik Montsou, Prancis. Ia lalu bertemu dengan keluarga Maheu yang telah bekerja sebagai pekerja tambah sampai beberapa generasi dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di tambang.

Awal-awal cerita berisi tentang gambaran kehidupan para pekerja tambang. Ditulis oleh Zola dengan gaya naturalis, kita bisa melihat dari lewat mata Etienne  betapa kerasnya pekerjaan mereka, bahayanya, dinamika masyarakat lingkungan pertambangan, dan gaya hidup buruh serta borjuis.

Awal memuncaknya konflik ketika ada kecelakaan tambang yang nyaris mematikan para pekerja. Juga karena “penyesuaian upah” yang merugikan. Tentu Etienne, yang dalam cerita sebagai anak muda tampan, berpendidikan, dan suka membaca, bersama Maheu mulai memprovokasi untuk memberontak.

Caranya; mogok. Mogok, kata Tan Malaka, adalah senjata tertajam kaum pekerja.

“Bersatulah kalian! Tambang batu bara ini milik kalian, milik kalian semua, yang sejak seabad yang lalu telah membayarnya dengan begitu banyak darah dan penderitaan..” kata Etienne.

Keberanian para pekerja untuk menuntut ameliorasi upah dianggap sebagai suatu pencapaian aspirasi yang tinggi oleh pihak La Compagnie, nama perusahaan itu. Tapi La Compagnie bergeming. Dengan dalih sedang berada dalam masa sulit, perusahaan bertekad tidak akan memenuhi tuntutan Etienne dan kawan-kawan.

“Perusahaan adalah pembawa kebahagiaan bagi pegawai-pegawainya, kalian semua keliru bila mengancamnya. Tahun ini perusahaan telah mengeluarkan dana sebesar 300.000 franc untuk membangun barak- barak pekerja, belum lagi masalah pensiun, jatah batubara, dan obatobatan yang diberikan olehnya …”

Pemogokan jalan terus. Walau dengan semangat dan harapan yang makin menipis. Sebuah kutipan menggambarkan dengan jelas bahwa menganggur dan lapar adalah kombinasi yang mengerikan bagi para pekerja.

“…Tetapi sekarang semua sumber keuangan sudah menipis, para penambang tidak memiliki uang lagi untuk menyokong pemogokan, dan kelaparan mulai datang mengancam … Sejak hari Sabtu, banyak keluarga pergi tidur tanpa makan malam. Menghadapi hari-hari menakutkan yang akan mereka lalui, tak sepatah keluhan pun terdengar …”

Apakah usaha Etienne berhasil?

Tampaknya bukan persoalan itu yang penting. Emile Zola hanya ingin menggambarkan usaha perubahan masyarakat yang dikehendaki oleh golongan tertentu untuk mendobrak sebuah hegemoni. Pertentangan antar kelas adalah tema utama dalam novel ini.

Seperti kata Tadie, Germinal adalah refleksi sosial tentang eksistensi kaum borjuis dan kaum proletar dalam struktur masyarakat Prancis. Ia juga mengatakan bahwa novel itu menggambarkan penderitaan kaum buruh yang pada saatnya akan meletuskan konflik pertentangan antara borjuis (kapital atau modal) dengan proletar (buruh dengan pekerjaannya).

Judul novel ini diambil dari nama bulan ketujuh dalam sistem penanggalan Republikan yang dipakai pasca Revolusi Prancis 1789 untuk menggantikan penanggalan Gregorian. Bulan itu mengacu pada awal musim semi (antara bulan Maret dan April). Bagi masyarakat Eropa, musim semi adalah penanda lahirnya kembali dunia, karena pada musim ini dedaunan yang sebelumnya menguning dan berguguran, bersemi kembali.

Germinal adalah metafora bagi sebuah kelahiran, kebangkitan dan revolusi. 

.

.

Sumber gambar seko golek neng google.