Saat Proklamasi

Saat Proklamasi

Dia baru terserang penyakit malaria ketika itu. Badannya panas. Tubuhnya letih. Pikirannya lelah. Jiwa dan raganya terkuras habis. Dan itu terjadi pada detik-detik yang sangat menentukan nasib sejarah bangsa ini.

“Babak terakhir dari perjuangan besar itu, untuk mana aku telah mempersembakan jiwa dan ragaku, sekarang telah selesai. Dan peristiwa itu tidak menimbulkan apa-apa. Aku tidak merasakan kegembiraa. Aku hanya letih. Sangat letih. Saat itu pukul empat pagi,” ujar Bung Karno dalam buku “Penyambung Lidah Rakyat.”

Peristiwa malam itu, dan esoknya, sungguh jauh dari bayanganya. Ia membayangkan bahwa kemerdekaan akan dirayakan dengan terompet, dengan paduan suara yang merdu, dengan para prajurit yang berbaris rapi. Namun hal itu tidak terjadi.

Peristiwa amat penting bagi kedaulatan sebuah bangsa dan negara itu hanya berlansung teramat sederhana.

Enam puluh delapan tahun sudah berlalu. Enam puluh delapan tahun sudah kita mengenang saat Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi. Sebuah naskah yang amat ringkas untuk sebuah pernyataan kemerdekaan. Yang diketik di selembar kertas biasa bukan disebuah perkamen berlapis emas, dan ditanda tangani dengan tinta pulpen biasa bukan dengan pena bulu angsa yang elegan.

Dengan upacara yang tak pernah disiapkan sebelumnya. Tanpa protocol. Di teras rumah Pegangsaan Timur itu, telah disiapkan pengeras suara. Bung Karno berdiri, sambil membawa naskah proklamasi. Seperti yang terlihat dalam foto; Bung Hatta berdiri di sampingnya.

Lalu terdengar suara Bung Karno, dengan pelan namun tegas membacakan teks singkat itu. Bendera dikibarkan. Di tiang yang berupa batang bambu panjang yang ditancapkan ke tanah beberapa saat sebelumnya. Bendera negara dibuat dengan dua potong kain;merah putih yang dijahit sendiri oleh Ibu Fatmawati.

Enam puluh delapan tahun sudah berlalu.

Sejenak kita membayangkan kembali peritiswa itu. Bahwa bangsa dengan perjuangan tiga ratus lima puluh tahun melawan penjajahan, lahir dengan sebuah upacara yang teramat sederhana. Bahwa bangsa kepulauan terbesar di dunia dengan sumber daya alam yang amat melimpah ini, berdaulat dengan amat sederhana. 

Bahwa merenungkan kembali peristiwa itu maka kita akan sedikit mengerti diri sendiri.

Bung Karno pun Pernah Menyontek Waktu Ujian

Menyontek, bagi sebagian orang, mungkin perbuatan memalukan. Indisipliner. Tapi tidak bagi Sukarno. Baginya hal ini bisa dimasukkan dalam istilah gotong royong.

Saya tak hendak mendeskreditkan Bung Karno. Ia adalah tokoh yang saya kagumi, bahkan saya punya satu poster dirinya dan saya tempel di ruang tamu keluarga. Saya hanya ingin menuliskan ini sebagai bagian cerita sisi lain Bung Karno, walaupun saya hanya menyuplik dari biografinya “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karangan Cindy Adams.

Berikut pengakuan nyontek Bung Karno saat ujian,

“Dalam ujian matematika, ku akui aku berbuat curang, meski hanya sedikit. Kami semua berbuat curang dengan berbagai cara. Ambillah misal menggambar konstruksi bangunan. Aku unggul dalam pelajaran ini. Selama ujian, sang dosen berjalan kesana kemari diantara meja-meja memperhatikan setiap orang.

 Begitu ia berada di bagian lain dari ruangan kelas membelakangai kami, salah seorang mahsasiswa terdekat berbisik, “ssstt, Karno, buatkan bagan untukku ya?” Aku bertukar kertas dengannya, lalu denga terburu-buru membuat gambar yang kedua, dan dengan cepat kuserahkan kembali kepadanya.

Kawan-kawanku membalasnya dalam pelajaran Kleinste Vierkanten ketika Profesor menuliskan tiga pertanyaan di papan tulis dan hanya memberi kami waktu 45 menit untuk mengerjakannya. Mereka meletakkan kertas ulangan di sudut bangku, sehingga aku dengan mudah menyalin jawabannya.

Tentu saja aku menyontek dari mahasiswa yang jago dalam matematika. Ini bukan disebut menyontek dalam arti yang sebenarnya. Di Indonesia, ini bisa dimasukkan dalam apa yang kami sebut kerja sama yang erat. Gotong Royong.”

***

Begitulah pengakuan Bung Karno. Yah, tak jauh berbeda dengan teknik dan metode menyontek siswa ataupun mahasiswa jaman sekarang. Saya juga heran, puluhan tahun lalu pun kenapa cara menyonteknya juga mirip ya? Baca lebih lanjut