Bung Hatta dan Kikir

Kikir dalam kamus bahasa Indonesia artinya; terlampau hemat memakai harta bendanya; pelit; loket; kedekut. Dalam pengertian sederhana, kikir bagi kebanykan orang ialah tidak mau mengeluarkan harta, tenaga, atau bahkan pikirannya untuk orang lain. Penyakit kikir inilah yang seringkali menghinggapi pejuang, aktivis, bahkan seorang pahlawan sekalipun.
Kita kadang kala senang sekali menghitung-hitung apa yang telah kita perbuat untuk orang lain. Mengingat-ingat kebaikan kita. Usaha kita. Keringat yang menetes. Kemudian kita mencari ganti ruginya dalam materi atau bahkan jabatan. Dalam uang hingga pujian.

Penyakit kikir merasuk seara halus dalam urat nadi, larut dalam aliran darah, dan mengalir bersama hembusan nafas setiap aktivis. Setiap pejuang. Setiap orang yang bekerja untuk kepentingan publik.

Kikir tersebut bukan berarti tidak mau mengulurkan tangan, tapi berubah bentuk menjadi lebih halus: mencari ganti rugi.
Bukan berarti kita haram menerima hak materi atau jabatan. Hanya saja orientasi awalnya ialah memberi terlebih dahulu. Mendapatkan itu urusan yang tidak pernah dipikirkan.

Untuk melawan kikir, maka kita harus siap berjuang dalam kesunyian. Tanpa blitz jepretan kamera. Tanpa gembar-gembor di talk show. Tanpa menghitung-hitung: apa yang kita dapatkan? Jabatan apa? Berapa keuntungan? Baca lebih lanjut

Sepotong episode Rahmi Hatta

Kisah hidup Rahmi HattaRosihan Anwar, wartawan senior Indonesia, menceritakan sebuah episode dalam rumah tangga Bung Hatta, pendiri republik ini.

Awal tahun 1950-an uang kertas Indonesia mengalami pengguntingan. Nilainya dipotong separo. Ny. Rahmi (istri Bung Hatta) waktu itu sedang menabung karena mau membeli sebuah mesin jahit. Dia kecewa karena pengguntingan uang itu. ia mengeluh kepada Bung Hatta kenapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang?

Hatta menjawab, “Yuke (panggilan Bung Hatta kepada istrinya), seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri dan mungkin akan memberitahu kawan-kawan dekat kalian. Itu tidak baik. Kepentingan negara tidak ada hubungan sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sesungguhnya saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita mencoba menabung lagi, ya?”

***

Begitulah sikap para pendiri republik ini. Bung Hatta, juga Bung-Bung lainnya, menempatkan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan pribadi. Nah, selanjutnya mari kita lihat polah para pewaris mereka. Aktor-aktor politik saat ini. Baca lebih lanjut