Ghost Fleet

Saya jadi tahu novel ini gara-gara pidatonya Prabs. Yang kemudian jadi perbincangan netizen yang budiman. Katanya, Indonesia bakalan punah tahun 2030.

Ucapan itu, tentu saja, memancing keributan. Memancing perdebatan dan yang sudah pasti; memancing pembullyan terhadap Prabs.

Kesalahan Prabs adalah menjadikan novel ini, yang notabene adalah karya fiksi, sebagai bahan rujukan, sebagai referensi. Itu yang membuatnya dibully.

Mosok ya menjadikan karya fiksi sebagai referensi. Membuat skripsi saja tidak boleh tuh pakai sumber yang fiksi.

Tapi sebenarnya wacana negara bubar itu sudah ada riset ilmiahnya. Sudah banyak fakta sejarahnya.

Ada buku judulnya “Why Nations Fail,” yang menyoroti penyebab negara gagal. Ada pula fakta sejarah yang mengungkap jatuhnya negara adikuasa, Uni Soviet. Bubarnya kekhalifahan islam.


Ada pula fakta bubarnya Majapahit.

Bubarnya Sriwijaya.

Dan kerajaan-kerajaan yang pernah besar di tanah nusantara ini.

Dan yang terjadi saat ini, di era modern kini, di depan mata kita, ada negara-negara di timur tengah yang terancam menjadi negara gagal. Sebut saja; Suriah, yang dilanda perang tak habis-habis. Yaman. Palestina, yang berusaha dihapus dari peta dunia oleh Israel.

Karena itu ancaman negara bubar itu sebenarnya sudah banyak buktinya sepanjang sejarah manusia.

Bila kita melihat dalam mengapa ‘negara punah’ ini ramai, sebenarnya hal itu bersumber dari sisi gelap Internet yang mencemaskan: orang hanya percaya kepada berita yang mereka suka. Tak ada lagi cerdik-cendikia.

“….hanya percaya kepada berita yang mereka suka. Mereka yang meragukan sebuah informasi bukan karena seharusnya mereka melakukannya, tapi karena tak suka pada informasinya. Dasarnya bisa macam-macam: pilihan politik, fanatisme agama, identitas, atau keberpihakan. Dalam hal ini, tulis Nichols, orang liberal maupun konservatif sama saja…”

Maka salah dan benar akan menempati posisi dibawah suka dan tidak suka. Dan begitulah tabiat manusia.

Kita tidak sedang mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran. Dan paling celaka dari hal ini adalah; kita menjadi semakin sulit untuk tahu, semakin sulit untuk menyadari, kekeliruan dan kesalahan yang ada dalam pendapat kita.

Bisa jadi banjirnya informasi di internet tidak membuat kita makin pandai dan bijak, namun malah makin terjebak dalam kungkungan kebodohan dan menjadi lebih beringas.

Dictator

Hampir genap sepuluh tahun saya menantikan terbitnya terjemahan buku Dictator. Buku ketiga dari kisah hidup Cicero.

Buku pertama berjudul Imperium, berkisah tentang perjuangan Cicero, seorang warga yang bukan berasal dari kalangan aristokrat, tapi mampu meraih kedudukan paling tinggi di Republik Romawi.

Buku kedua, Cospirata. Bercerita tentang konspirasi yang dilakukan musuh-musuh Cicero untuk menyingkirkan dan mengasingkannnya.

Dan seri terakhir, Dictator, adalah come backnya Cicero. Namun juga menjadi akhir cerita yang tragis.

Kita mungkin mengenal Cicero, sebagai seorang negawaran Republik Romawi, yang quote-nya sering dikutip oleh Karni Ilyas di sela acara ILC itu.

Cerita dalam buku karangan Robert Harris ini dengan gamblang memberikan gambaran kepada pembacanya bagaimana politik itu sebenarnya.

Politik bukan cuma sebuah seruan moral yang indah, namun juga intrik dan konspirasi yang licik, culas, dan pintar.

Misalnya saja di buku Conspirata, Cicero diusir dari tanah Romawi oleh seseorang yang dulu merupakan sekutunya. Lalu di buku Dictator, Pompeius, yang merupakan musuhnya dahulu, berkomplot dengan Cicero untuk menjatuhkan Caesar.

Caesar siapa? Tentu saja si Julius Caesar. Yang namanya abadi sebagai bulan Juli itu. Seperti kita tahu, Caesar yang merupakan tokoh besar sejarah itu, juga meraih kekuasaan dengan darah dan intrik.

Para senator yang tidak senang dengan kepemimpinan Caesar di Roma, dan ingin mengembalikan kembali Republik, mulai menyusun rencana untuk membunuhnya.

Dan pada tanggal 14 Maret 44 SM, saat Caesar datang ke rapat senat, ia didatangi oleh sekelompok senator yang sebagian besar diantaranya membawa belati.

Lalu menusuknya hingga tewas.

Hasil konspirasi yang dikenal sebagai “Ides of March” itu bukan mengembalikan Roma jadi Republik lagi, tapi malah menjerumuskan Roma ke dalam perang saudara baru.

Oktavianus kemudian berkuasa. Dan bergelar Augustus. Menjadi Kaisar Roma pertama sekaligus menghancurkan republik untuk selamanya.

Padahal Oktavianus ini muridnya Cicero. Sedang Cicero adalah orang yang sangat mendamba republik. Cicero ini membenci Caesar dan Oktavianus itu masih kerabat dari Caesar. Tapi, ya, semua itu luntur demi kepentingan politik.

Membaca kisah Cicero kita jadi paham mengapa dunia politik ini begitu dinamis. Ada yang dulu saling dukung, kini saling serang. Ada yang dulu saling berkawan, kini bermusuhan.

Salah? Tentu saja tidak.

Karena tujuan politik adalah meraih kekuasaan. Jadi cara yang dipakai bebas, boleh apa saja, yang penting tujuan tercapai. Tidak ada baik dan buruk, yang ada cuma seberapa efektif cara itu bisa mencapai tujuan. Ini berdasar teori politik barat.

Maka bila ada orang yang saling bersaing, lalu memunculkan -seperti kata guru saya- fitnah, ghibah dan namimah, ya mesti kita pahami itu bagian dari strateginya untuk meraih kekuasaan.

Dan itu sangat bisa dilakukan oleh semua aktor politik, baik dari golongan kanan mentok sampai kiri mentok.

Begitulah realitas politik.

Kuat

Sama-sama melawan Asosiasi Monster, namun para hero dalam Aosiasi Pahlawan tampaknya tak bakal bisa bersatu. Setiap hero punya kepentingan sendiri-sendiri. Punya tujuan masing-masing. Dan punya kepentingan yang berbeda, walau musuhnya sama.

Setiap hero, membuat faksi sendiri-sendiri, walau monster yang dihadapi sama-sama bernaung dalam satu organisasi.

Para hero level S saling tidak percaya. Karena mereka orang-orang yang terlalu kuat, ego menghalangi mereka untuk saling bekerja sama dengan harmonis. Setiap hero tidak mau berada dibawah kendali yang lain. Maunya berdiri di puncak.

Para hero level A dan B, digerakkan oleh petinggi Aosiasiasi Pahlawan. Dengan berbagai macam janji kenaikan kedudukan.

Fubuki, yang ingin membentuk satu faksi sendiri, mulai mengumpulkan hero level S. Diantaranya Genos, Silver Fang, King -manusia terkuat di bumi, namun sebenarnya paling lemah- dan idola kita semua; Saitama.

Di chapter ini, kita melihat berbagai macam karakter para hero. Mungkin di chapter-chapter berikutnya akan lebih banyak diulas. Namun yang tetap adalah Saitama.

Dengan keluguannya, ia tidak mempedulikan intrik politik yang ada di Aosiasi Pahlawan. Hidupnya bebas. Dia memang ingin jadi pahlawan terkenal, tapi dia tidak menjadi budak keinginannya itu.

Hidupnya bebas.

Ia dengan sesuka hati, tanpa harus menuruti perintah Asosiasi, turun langsung ke medan pertempuran.

Ia dengan sesuka hati bebas menghajar monster-monster, yang selalu keok hanya dengan satu pukulan.

Ia hanya tidak bisa melawan satu hal; rasa bosan karena terlalu kuat.

Maka sebenarnya Saitama mengajarkan bahwa bila kamu mau hidup bebas, merdeka, sesuka hatimu, sak karepmu dewe; jadilah orang kuat, baik secara fisik, duit, lebih-lebih kuat secara politik.

71

Giliran

Selama ini keseimbangan dunia dalam imaji manga One Piece ditentukan oleh tiga kekuatan besar; Pemerintah Dunia yang diwakili Angkatan Laut, Yonkou, dan Sichibukai.

Tapi diluar itu sebenarnya ada kekuatan besar yang mulai merongrong; Pasukan Revolusi dan Bajak Laut.

Nah, tampaknya keseimbangan dunia mulai goyah. Kekuatan yang sudah sekian lama mapan dan nyaman akan segera digoyang. Terutama oleh kemunculan kelompok dan aliansi Mugiwara dan Pasukan Revolusi yang sebentar lagi akan mendeklarasikan perang pada Pemerintah Dunia.

Setelah menunggu selama dua pekan, chapter 904 berisi kurang lebih cuma 13 panel. Sangat sedikit bila dibandingkan chapter sebelumnya dan membuat tidak puas.

Reverie tampaknya tidak akan berjalan dengan lancar dan damai. Indikasi kuat akan mulai muncul “perlawanan” dari kerajaan-kerajaan yang selama ini berada dibawah kekuasaan Pemerintah Dunia.

Kekuasaan itu dipergilirkan. Tidak ada yang kekuasaan yang absolut.

Menurut Ibnu Khaldun sebuah kekuasaan itu seperti mahkluk hidup. Ada siklus hidup dan mati. Ada lima tahapan, yaitu tahap konsolidasi, tahap tirani, tahap sejahtera, tahap kepuasan hati, tentram dan damai, serta tahap hidup boros/mewah dan berlebihan.

Bila sudah mencapai tahap kelima, menurut Ibnu Khaldun, maka akan memunculkan tiga generasi, yaitu; generasi pembangun, generasi penikmat dan generasi yang tidak memiliki hubungan emosional dengan kekuasaan.

Generasi ketiga ini, contohnya adalah Mugiwara Luffy dan kawan-kawan, dan mungkin para supernova, yang tidak peduli dengan Pemerintah Dunia namun tingkah dan aksinya secara langsung dan tidak langsung membuat kekuasaan pemerintah menjadi terganggu.

Nah, bila sudah mencapai generasi ketiga itulah kekuasaan hanya menghitung hari untuk diganti. Chapter 904 mengindikasikan hal itu, bahwa ke depan akan ada pertempuran yang dahsyat di dunia One Piece.

04

Dunia yang Muram

Dunia yang muram. Dunia yang penuh kesepian.

Beberapa karakter dalam dunia One Piece adalah orang-orang yang hidup dalam kemuraman dan kesepian.

Sebut saja Nico Robin, yang sejak kecil hingga besar diburu oleh pemerintah dunia gara-gara ingin mengetahui sejarah yang hilang. Ia hidup sendiri dan tidak punya teman, hingga diterima Luffy dan kelompoknya.

Lalu ada juga Portgas D. Ace, yang selalu dikatakan sebagai anak terkutuk.

Ada pula Sanji, yang dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri.

Ada Brook, yang harus mengarungi lautan bertahun-tahun karena hidup abadi berkat buah yomi-yomi dan berusaha untuk memenuhi janjinya.

Termasuk Luffy, si tokoh utama. Masa kecilnya juga harus dilalui dengan kehidupan yang penuh kemuraman. Ingat saat kisah dia bertemu dengan Ace dan Sabo. Setelah dia diselamatkan dan kemudian ditanya, “Kenapa kamu gak ngomong aja? Mau cari mati ya?”

“Kalau aku mengatakannya, maka kamu tidak mau berteman denganku. Dan itu lebih menyakitkan,” kata Luffy.

Silahkan cek satu demi satu. Ada banyak bertebaran karakter-karakter di cerita One Piece yang mengalami persoalan yang sama.

Ya, dunia yang muram. Dunia yang kesepian.

Cerita ini mungkin akrab bila kita rajin membaca tulisannya Murakami, yang selalu saja bercerita tentang hidup anak muda yang muram.

Mungkinkah ini ekspresi kehidupan masyarakat Jepang?

Saya tidak tahu dan tidak berani menyimpulkan demikian. Tapi katanya dibalik hiruk pikuk dan kemajuan yang dicapai Jepang, konon banyak orang-orang disana yang merasa kesepian.

Konon lho ya ini. Cuma ceritanya. Kuatir saya bila dibully oleh orang yang pernah tinggal di Jepang lalu membeberkan analisa soal utang negara Jepang.

Di tengah gemuruh era media sosial ini, kesepian bukan berarti hilang dan musnah. Justru makin bertambah-tambah. Medsos hanya menutupi namun tak mampu mengobati. Dunia yang ramai namun terasa hampa.

Inilah yang menjadi akar konflik hampir sebagian besar karakter One Piece. Menjadi “anchor” dalam pembentukan kepribadian mereka.

08