Belajar Sebelum Memimpin

Belajarlah sebelum menjadi pemimpin. Karena memimpin tak hanya soal kuasa, tapi juga soal kapasitas. Bukan soal memutuskan, tapi berdasar apa keputusan itu perlu dilakukan. Karena memimpin tak cuma soal retorika dan citra, namun juga isi kepala.

Seperti itulah pemimpin legendaris dari Bani Umayyah, yang namanya sama dengan kakeknya; Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz sudah menyukai ilmu sejak kecil. Bila anak kecil lebih sering terlihat menghabiskan waktu dengan bermain-main. Berkejar-kejaran di taman, Umar malah menghabiskan waktunya dengan mendatangi majelis ilmu dan menghadiri diskusi para ulama.

Tingginya ilmu Umar bin Abdul Aziz ini diungkapkan pula oleh Mujahid bin Jabar, salah seorang ulama besar yang telah menghafal al quran dari Ibnu Abbas selama tiga puluh tahun, ia berkata “Kami mendatangi Umar untuk mengajarkannya, dan kami tidak beranjak sampai kami belajar darinya.”

Bekal ilmu itulah yang membuat Umar bin Abdul Aziz menjadi mutiara yang indah kilaunya dalam sejarah Bani Umayyah. Umar sanggup membawa keadilan dan kesejahteraan hanya dalam waktu dua tahun, sebelum akhirnya ia wafat karena diracun. Kedalaman ilmunya ia gunakan untuk mengatur negara.

Belajarlah terlebih dahulu sebelum jadi pemimpin.

Inilah yang dipesankan sahabat Rasulullah Saw, ya, menjadi pemimpin berarti mengambil sebagian tanggung jawab umat. Banyak urusan yang harus dipenuhi, banyak hal yang mesti dipertimbangkan, yang tidak cukup diselesaikan dengan pencitraan saja tapi juga diperlukan kematangan analisis sebelum mengambil keputusan.

Ini soal keselamatan masyarakat. Banyak cerita kehancuran sebuah rezim hanya karena pemimpinnya bodoh dan gampang dibodohi. Dipimpin orang bodoh dapat berbahaya.

Bagi pemimpin, satu keputusan bisa berakibat luas serta punya sisi fatal. Maslahat atau mudharat.

Belajarlah sebelum jadi pemimpin. Ya, karena setiap urusan yang diserahkan bukan kepada ahlinya, kata Rasulullah Saw, maka tunggulah kehancurannya.

Pemimpin adalah urusan vital dalam bermsyarakat. Menjadinya pun jua harus punya ‘keahlian.’ Ilmu yang cukup. Bukan berarti semata gelar mentereng berjejer-jejer, tapi bisa jadi gelar adalah salah satu penanda. Tidak hanya gelar dari lembaga formal, tapi juga gelar non-formal di mata masyarakat atas pengetahuan kita menyelesaikan masalah.

“Belajarlah sebelum jadi pemimpin, karena setelah menjadi pemimpin, kau tidak akan punya waktu untuk belajar,” begitu yang dipesankan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.

Malulah pada Ibnu Abbas

 

belajar perlu ketekunanMalulah kita pada Abdullah bin Abbas yang rela menunggu di depan rumah seorang sahabat yang sedang tidur demi ilmu. “Saya merasa tertinggal jauh dalam perkara agama,” kata Abdullah bin Abbas.

“Jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya mengetahui tentang ilmu agama atau mengaku telah mendengar langsung dari Rasulullah saw. Maka saya akan menemuinya dan membuktikan kebenarannya. Dan saya telah mengetahui bahwa kebanyakan tentang ilmu terdapat di kaum Anshar. “

Setelah itu, saya pergi dan menemui beberapa sahabat ra. untuk menanyakan keberadaannya. Setelah saya bertanya dan mengetahui keberadannya. lalu saya mengunjungi rumahnya. Setelah saya tahu ternyata dia berada di dalam rumahnya dan sedang dalamkeadaan tertidur. Saya menghamparkan kain menunggu dia terbangun, sambil duduk di depan rumahnya hingga muka dan tubuh saya kotor oleh debu dan pasir.

Saya tidak peduli meski tubuh dan wajah saya kotor oleh debu dan saya akan tetap duduk di depan pintu rumahnya. Setelah sekian lama saya menunggu, akhirnya dia bangun, lalau saya bertanya tentang kebenaran dirinya dan memberitahu tentang maksud kedatangan saya kepadanya. Orang Anshar tersebut berkata, “Engkau adalah keponakan Rasulullah SAW,  kenapa engkau menyusahkan diri dengan tidak memanggilku.” Saya menjawab, “Saya sedang menuntut Ilmu, jadi sayalah yang wajib datang kepadamu”

Malulah kita pada Ibnu Abbas. Kita yang untuk mendatangi majelis ilmu saja dengan bermalas-malasan. Yang untuk membaca buku saja menunggu waktu ujian. Yang pelit membeli kitab tapi boros membeli pulsa. Malulah kita.

Menuntut ilmu itu harus dengan sungguh-sungguh, dan penuh ketekunan.

Sebaik-Baik Diantara Kalian

belajar membaca al quran

belajar membaca al quran

Sebaik-Baik Diantara Kalian

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Sehabis melaksanakan sholat magrib di masjid ini saya melihat beberapa orang lalu menuju serambi. Masjid yang terletak persis di pinggir jalan kaliurang ini memiliki dua bagian utama; serambi dan bagian dalam. Serambi itu berlantai keramik putih, sebuah tembok bercat putih pula dengan dua pintu bercat hijau mengapit di kedua sisinya memisahkan serambi masjid dengan ruang utama bagian dalam. Usia mereka, bapak-bapak yang kemudian saling berhadap-hadapan itu, tak lagi muda. Satu dua orang mungkin malah sudah mempunyai cucu.

Petang itu udara terasa begitu dingin, sehabis diguyur hujan semenjak ashar. Seorang bapak dengan kopiah hitam –kopiah ini lebih dikenal dengan peci, pecis dalam bahasa jawa, ciri muslim khas Indonesia- terlihat mengambil meja. Yang lain mengambil Al Quran. Namun ketika saya amati lebih teliti, tak semuanya memegang Al Quran, tiga orang masih memegang iqro’ –sebuah buku/modul dalam membaca Al Quran, biasanya untuk anak-anak.

“Iya, Mas. Masih belum lancar baca Quran. Ini belajar dulu,” ujar salah seorang yang saya sempat bertegur sapa dengan saya. Jadwalnya rutin, lanjutnya, sehabis magrib sampai isya untuk kalangan Bapak-Bapak saja. “Malu, Mas, kalau dicampur sama anak-anak. Bisa tidak kondusif belajarnya. Ini saja sudah telat belajar baca quran, semoga dapat pahala,” begitulah pengakuan salah seorang Bapak yang terlihat terbata-bata dalam membaca ayat Quran.

Membaca al Quran bagi seorang muslim adalah wajib. Orang yang belajar dan mengajarkannya adalah orang utama. Hal ini tertera dalam hadits riwayat Bukhari dari Utsman bin Affan, “Sesungguhnya orang yang paling utama antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Hal itulah –belajar dan mengajarkan Al Qur’an- yang membuat Abdirrahman As-Sulami rela melakoninya sejak zaman Ustman hingga masa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

***

Sorot matanya hangat. Wajahnya yang putih dengan warna hijau berpadu baju koko putih bersih mempertegas kesannya sebagai seorang guru ngaji. Jati, begitu ia dipanggil, bercerita sambil mengatur anak-anak usia tiga tahunan yang selalu menempel padanya.

“Kalau dimasjid ini biasa dipanggil Mas, bukan Ustadz,” katanya saat mengenal diri.

Sore itu Jati bertugas sendirian. Mengajar membaca Quran belasan anak-anak berusia tiga hingga sepuluh tahun. Karibnya sedang masuk kerja.

“Sejak tahun 2004 seingat saya. Yah, sejak masjid ini berdiri,” katanya sambil menunjukkan sebuah meja kayu ukuran 90 x 30 cm yang ditulisi tanggal pembelian di salah satusisinya. Dari awal ada TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di masjid ini, lanjutnya, meja ini sudah ada. Ia masih ingat dengan jelas bahwa ia yang waktu itu membelinya. “Yang nulis tanggal ini bukan saya, ini bukan tulisan saya.”

Sekitar delapan tahun lalu, pada awal masjid ini berdiri belum ada TPA bagi anak-anak, namun ketika memasuki bulan Ramadhan maka masjid pun mulai ramai. “Dari situlah kemudian saya dan teman-teman diminta oleh pengurus masjid untuk mengajar,” katanya.

“Awalnya ada sekitar tujuh sampai delapan pengajar, namun karena berjalannya waktu dan sudah beranjak dewasa maka satu per satu mereka disibukkan dengan pekerjaan. Dan sampai detik ini hanya dua sampai tiga orang yang masih bertahan. Itupun bergiliran tergantung jadwal masuk kerja,” ujar pria yang masih menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir ini.

Untuk belajar di masjid ini anak-anak tak perlu membayar alias gratis. Kebutuhan-kebutuhan pokok semuanya disediakan oleh pengurus masjid. “Anak-anak gratis (belajar di masjid tersebut), dan kami pun dari awal hingga sekarang juga tak digaji. Setiap lebaran memang ada hadiah dari pengurus, tapi tak ada gaji secara resmi. Kami ikhlas. Melihat anak-anak ini bisa membaca al-quran sudah lebih dari cukup bagi kami. Insya Allah pahalanya juga akan sampai pada kami,” katanya, lalu tercenung.

Jati tak tahu sampai kapan ia akan mengajar anak-anak itu. Pada akhirnya, pikirnya, bahwa kelak bisa jadi ia akan dibenturkan dengan realitas kebutuhan dunia kerja. “Bisa jadi kami terpaksa tak lagi punya waktu luang ketika disibukkan oleh pekerjaan. Lalu siapa yang akan menggantikan kami?” katanya.

Kisah-kisah diatas cukup menyajikan cerita tentang kesungguhan dalam berdakwah dan mengajar sekaligus belajar. Laku yang jauh dari popularitas, yang ketika membeli perlengkapan tak perlu disorot kamera infotainment. Yang ketika ada sumbangan tak perlu diiklankan.

Mereka berjuang dalam sunyi, dan tidak hanya satu tapi ada ribuan orang yang tak kita ketahui juga melakoninya. Merekalah, semoga, yang akan menjadi sebaik-baik diantara kalian.

 

Salam jadi baik,