Never leave history (you)

Never leave history (you)

Pagi yang redup ini, tanggal 17 Agustus 2015, Bung, sudah 70 tahun semenjak dulu engkau mengumandangkan Proklamasi bersama Hatta. Sudah 70 tahun, Bung! Sudah 70 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merdeka.

Sudah cukup lama ya? Walau dalam usiaku ini, masih saja baru seperti kemarin ikut perayaan 17an. Rasanya baru kemarin saya memenangi lomba bal-balan antar RT itu.

Aku buka-buka lagi buku tentangmu, Bung. Kumpulan pidato-pidatomu. Dan kudapati pada bagian saat kau berujar untuk jangan meninggalkan sejarah, never leave history.

“… Inilah sejarah perjuanganmu, inilah sejarah historymu. Pegang teguh kepada sejarahmu itu, -never leave your own history! Peganglah apa yang telah kita miliki sekarang yang adalah akumulasi daripada hasil semua perjuangan kita di masa lampau, kataku tadi. Dan kataku tadi, jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vakum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita!

Ada orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari sejarah, bahkan mau melepaskan kita dari sejarah itu. Itu tidak bisa! Mereka akan gagal! Sebab melepaskan sesuatu rakyat atau bangsa dari sejarahnya, adalah tidak mungkin. Nasional biologis tidak mungking, nasional psikologis tidak mungkin. Dan tidak mungkin pula karena engkau, hai rakyat, hai prajurit dari semua Angkatan Bersenjata, hai pejuang-pejuang progresif revolusioner, engkau tidak mau dipisahkan dari sejarahmu, sejarahmu sedniri, sejarah perjuanganmu sendiri!

…..

……. Aku hanya menunjuk jalan kepada engkau, selalu dengan engkau, tidak pernah tanpa engkau. Dengan engkau aku berdiri, tanpa engkau aku bukan apa-apa. Dengan engkau aku jaya, tanpa engkau aku gagal.

Jangan ragu-ragu, jangan bimbang! Mari berjalan terus melanjutkan Revolusi, di atas jalan yang aku tunjuk!

Ya Allah ya Rabbi, ridhoilah Revolusi Indonesia di bawah pimpinanku ini!”

Itu penutup pidatomu yang kau katakan pada 17 Agustus 1966 di Jakarta dengan judul Jas Merah (Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah) ya Bung.

Sayang, aku tak bisa menyaksikan live pidatomu yang konon menggelegar dan mempesona itu. Paling pol mentok hanya live via youtube. Yah, sudah lama republik ini tidak punya presiden yang pidatonya sekaliber dirimu. Tiap jaman berbeda-beda, mungkin yang dibutuhkan jaman ini bukan yang pandai orasi, tapi yang pandai memoles diri.

Diam-diam aku rindu padamu, Bung.

Tapi kenangan biarlah tetap jadi kenangan, ia indah karena sesekali dikenang, bukan ditinggalkan. Aku tak berharap engkau hadir kembali untuk menyelematkan Indonesia. Aku tak berharap engkau dipanggil menggunakan Edo tensei, seperti Hokage pertama hingga keempat untuk menyelamatkan dunia shinobi. Aku tak berharap itu, Bung.

Cukuplah aku merindukanmu, hari ini.

sukarno

Agustus ini

Agustus ini

 

Agustus ini;

kita mendengar rintihan dari rumah-rumah yang berdesak

tanpa ruang tamu bersofa, tanpa pagar besi

hanya ada tembok tak dicat

yang bercerita bab biaya sekolah yang mencekik

lantai tanahnya berkisah tentang si sakit yang tak ke rumah sakit

dan dapurnya berkata akan sembako yang melangit

 

Agustus ini;

kita seakan berjalan sepanjang lorong yang tak usai oleh keluh

menyangsingkan taman-taman kota yang asri

menyaksikan penjual krupuk yang bertahan diantara himpitan supermarket

 

agustus ini; dan bulan-bulan setelahnya

kita kembali ke kampungkampung

untuk menanam harapan

menampung benihbenih pinta: yang kelak akan kita wujudkan

menjadi kenyataan

 

Triyanto P. Nugroho

zuhrif hudaya