Bapak (lagi)

Beberapa waktu lalu saya pernah bermimpi tentang Bapak. Ia sedang terbaring terbaring di kasur yang biasa ia gunakan saat masih hidup.

Bapak memandang ke arah saya. Ia hanya memandang saya tanpa mengucap satu patah kata pun.

Hari ini, dalam perhitungan masehi, sudah dua tahun Bapak tiada.

Kematian, dalam budaya jawa, pada hakikatnya adalah mulih. Pulang ke asal. Dimaknai pulang karena memang kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir. Dunia ini fana, ia hanya tujuan sementara sebelum kita semua pulang kembali ke asal. Kembali pada Gusti Allah.

Dalam jurnal Makna Ritual Kematian Dalam Tradisi Islam Jawa, karangan Abdul Karim, disebutkan bahwa orang jawa memahami kehidupan dan kematian dalam filosofi:

“kawruhana sejatining urip ana jeruning alam donya/
bebasane mampir ngombe/
umpama manuk mabur/
lunga saka kurungan niki/
pundi pencokan benjang/awja kongsi kaleru/
njan sinanjan ora wurung ba/
cal mulih/
umpama lunga sesanja/
mulih mula mulanira.”

Artinya; ketahuilah sejatinya hidup, hidup di alam dunia, ibarat perumpamaan mampir minum, ibarat burung terbang, pergi dan kurungannya, di mana hinggapnya besok, jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang, saling bertandang, yang pasti bakal pulang, pulang ke asal mulanya.

Menurut saya hanya manusia yang mampu menghargai kematian dengan penuh takzim, bahkan hingga orang telah mati puluhan tahun. Dan itu ada di berbagai kebudayaan di seluruh dunia.

Dalam film besutan Disney-Pixar, Coco, ada satu hari dimana arwah orang yang sudah meninggal akan datang ke dunia, menemui anak cucunya. Itu selama anak cucunya masih mengingatnya. Arwahnya akan benar-benar hilang ketika tidak ada lagi keturunannya yang tahu tentang dirinya.

Dalam budaya Jawa juga ada ritual semacam itu. Ada upacara selamatan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, hingga seribu hari.

Upacara selamatan tiga hari, dalam jurnal yang sama, dikatakan memiliki arti memberi penghormatan pada nih yang meninggal. Orang Jawa berkeyakinan bahwa orang yang meninggal itu masih berada di dalam rumah. Ia sudah mulai berkeliaran mencari jalan untuk meninggalkan rumah.

Upacara selamatan hari ketujuh berarti melakukan penghormatan terhadap nih yang mulai akan ke luar rumah. Dalam selamatan selama tujuh hari dibacakan tahlil, yang berarti membaca kalimah la ilaha illa Allah, agar dosa-dosa orang yang telah meninggal diampuni oleh-Nya.

Upacara selamatan empat puluh hari (matangpuluh dina), dimaksudkan untuk memberi penghormatan nih yang sudah mulai ke luar dan pekarangan. Ruh sudah mulai bergerak menuju ke alam kubur.

Upacara seratus hari (nyatus dina), untuk memberikan penghormatan terhadap ruh yang sudah berada di alam kubur. Di alam kubur ini ruh masih sering pulang ke rumah keluarganya sampai upacara selamatan tahun pertama dan peringatan tahun ke dua.

Ruh baru tidak akan kembali ke rumah dan benar-benar meninggalkan keluarga setelah peringatan seribu hari. Karena itu yasinan biasanya terakhir kali dilaksanakan saat seribu hari. Dan setelah itu makam orang yang meninggal lantas diberi batu nisan.

Terkadang saya rindu dengan Bapak. Saya masih ingat betul suaranya yang parau saat memanggil nama saya hanya sekadar untuk membetulkan selimut.

Terkadang saya juga menyesal bahwa belum banyak hal yang bisa saya perbuat buat Bapak.

Desember (lagi)

Genap sudah saya menghabiskan waktu hidup hingga usia tigapuluhan di Desember ini.

Kurangi sepuluh tahun dari usia saya, Muhammad Al Fatih sudah berhasil menaklukkan Konstatinopel. Selisih sekitar satu dua tahun dari usia saya Haruki Murakami memutuskan untuk menutup barnya dan fokus untuk menulis novel, langkah yang kemudian melejitkan namanya dan membuatnya kaya raya.

Nadiem Makarim usianya cuma terpaut tiga tahun lebih tua dari saya, dan kini ia sudah jadi Menteri Pendidikan. Tapi ada juga beberapa kawan saya yang tidak mencapai usia saya namun takdir sudah menghendakinya untuk tiada. Saya kehilangan beberapa teman satu kelas sewaktu kuliah dulu -mereka meninggalkan dunia yang fana ini terlebih dahulu- yang seharusnya saat ini masih bisa ngopi-ngopi bareng.

Setiap orang tidak pernah tahu sampai kapan usianya bakal berhenti. Kebanyakan orang, termasuk saya, kemudian jadi benar-benar takut dan tidak siap saat usia itu selesai.

Tapi sebelum waktu itu datang, kebanyakan orang, termasuk saya, takut untuk menjadi tua. Kalau kata Nicky Stephani, kita enggan membayangkan diri menua, padahal, kita tahu bahwa pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi tua.

Menjadi tua adalah kemunduran, menjadi tua adalah kelemahan, dimana tubuh yang makin reot, makin bongkok, dan energi tak seganas sewaktu muda, begitulah kata orang-orang. Kita khawatir bahwa kelak kita tidak bisa apa-apa. Tidak bisa jalan-jalan yang jauh ataupun kulineran brutal karena keterbatasan aturan pemenuhan gizi tubuh.

Saat makin tua ini kita juga sadar dengan usia dan kemudian berdecak kagum pada prestasi anak-anak muda yang saya sebutkan diatas. Kita gumun di usia yang begitu muda mereka telah menorehkan banyak hal.

Kita memandang anak-anak muda dengan rasa kagum sekaligus iri; mengapa saat muda kita tidak bisa seperti mereka. Kita menyesali hari yang lalu dan berangan bisa kembali pada masa-masa muda.

Yang menakutkan dari menjadi tua, kata Nicky, adalah membayangkan diri sendiri menjadi tua dalam kerangka pikir yang menempatkan usia tua jauh dari kondisi kita saat ini. Imajinasi kita melanglang buana ke masa tua sedangkan pikiran kita terkungkung pada romantisme kemudaan yang menjadi standar masa kini.

Sebagian dari kita lantas kemudian menolak tua. Dalam arti fisik ataupun pikiran. Secara sederhana bisa dilihat dari iklan kosmetik yang selalu menjanjikan ‘terlihat sepuluh tahun lebih muda.’

Tapi selain itu, kini banyak kemajuan teknologi di bidang medis yang bisa meremajakan tubuh. Bahkan orang-orang super kaya di dunia ini sudah berpikir untuk membuat terobosan medis agar bisa hidup abadi.

Imaji itu tidak hanya ada di fiksi, bila kita membaca Homo Deusnya Yuval, maka orang-orang super kaya mulai berusaha mewujudkannya. Setahap demi setahap mereka yakin bahwa akan ada teknologi yang bisa membuat manusia tetap muda dan abadi.

Hidup abadi dan tetap muda adalah obsesi manusia sepanjang zaman.

Namun, alih-alih menerima ketuaan sebagai sebuah kutukan, Eddie Spencer dalam serial Jumanji, justru menyatakan bahwa usia tua adalah sebuah anugerah.

Hari ini saya menjadi lebih tua dari tahun kemarin. Dan tahun esok saya akan menjadi lebih tua dari tahun ini juga. Dan sejatinya kita semua juga mengalami hal yang sama.

Saya lalu melihat dan menyadari bahwa si kecil Zaza makin tumbuh besar. Ia sudah mulai berlari-larian dan mulai abot untuk digendong.

Lalu, saya juga sadar, bahwa di usia sekarang ini, ternyata saya masih belum berbuat apa-apa. Saya masih ‘bawang kopong’ sementara disisi lain Luffy sudah menjadi seorang Yonkou dan Naruto sudah menjadi Hokage di Konoha.

Saya juga sadar, yang membaca status ini pun kemudian cuma membaca saja. Urun like dan komen saja tidak mau, apalagi ngirim kado ke alamat rumah. Pancen payah kabeh.

Pilihan yang Tersisa Bagi PKS

Apa yang tersisa setelah Jokowi makan siang bareng Prabowo? Di akar rumput tetap saja menyisakan dua kelompok besar, yang mendukung dan yang menolak. Tapi pertanyaan lebih lanjut sebenarnya adalah apa yang terjadi setelah pertemuan itu pada partai koalisi Adil Makmur.

Kita tahu bahwa koalisi ini tidak sesolid yang digaungkan. Demokrat sudah menunjukkan gelagat tidak ‘betah.’ Begitupula PAN yang konon kabarnya dari lubuk hati terdalam sebagian elite-nya menginginkan bergabung dengan pemenang pilpres.

Gerindra?

Saya kira ada bisikan-bisikan agar partai ini bergabung saja. Dengan dalih demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang sempat memanas gara-gara persaingan pilpres yang begitu ketat. Tapi apakah bergabungnya Gerindra otomatis menghapus friksi di akar rumput?

Saya kira tidak otomatis begitu. Pada dasarnya dua kubu ini tidak terpaku pada sosok. Sosok hanyalah sarana agar mereka punya alasan untuk menyandarkan harapan dan cita-cita itu. Tapi ini pertarungan value.

Bagi sebagian pendukung Prabowo, terutama yang merupakan pendukung garis keras dan militan pada pilpres lalu, amat mudah untuk berpaling dari Prabowo saat ia menunjukkan gelagat ‘berkhianat.’ Pokoknya Prabowo harus sesuai dengan ego mereka. Yaitu pokoknya tidak Jokowi dan the ganks.

Inilah salah satu dilema yang bakal dihadapi Prabowo setelah pilpres berlalu. Saat ia menunjukkan gelagat ‘lembek’ saja maka pendukungnya langsung balik kanan.

Lebih gampang ya jadi PKS. Ya, partai yang mendapat tambahan suara hingga 3 juta ini posisinya hanya tersisa satu saja; oposisi. Tidak bisa yang lain.

Mau bergabung ke koalisi Jokowi jelas tidak bisa. Pertama, belum tentu partai koalisi bakalan menerima. Mungkin diajak wae ora. Kedua, sudah jelas pemilihnya bakalan langsung balik kanan. Karena banyak yang menilai sebenarnya kenaikan suara PKS ini akibat dari kelompok muslim non-parpol yang berbondong-bondong untuk aktif berpolitik.

Karena sudah jelas posisinya maka lebih mudah bagi PKS untuk memainkan perannya di panggung politik kini dan nanti. Ya, ia tinggal beroposisi seoposisi-oposisinya. Melawan semelawan-melawannya hingga pemilu 2024.

Fokus jadi oposisi yang baik dan benar, tidak perlu pusing dan ribut mengurus partai baru yang konon kabarnya bakalan ada di tahun ini itu.

Harus selalu diingat bahwa ada 40an persen suara yang tidak mendukung Jokowi yang masih bisa dieksploitasi. Bila PKS mampu mengeruk dengan brutal ceruk segmen ini, maka bisa jadi perolehan suaranya bakalan makin meningkat di pemilu mendatang.

Tapi ya mesti ingat juga, kalau PKS jadi satu-satunya oposisi maka ia akan melawan gerombolan besar. Gerombolan yang siap keroyokan untuk menenggalamkan. Karena, seperti kata guru saya, lebih dari separo urusan politik itu ada di tingkat elite.

Oleh karena itu, sangat logis dan gampang dipahami bila PKS terus mendorong Prabs dan Koalisi Adil Makmur untuk beroposisi. Karena untuk melawan akan lebih kuat bila ada temannya.

Cuma problemnya, partai koalisi kemarin masih mau diajak atau tidak, karena jangan-jangan nanti yang dapat ‘nangkanya’ ya PKS lagi. Soalnya selain PKS, partai yang lain suaranya pada turun.

Beginilah politik. Utak atik suara rakyat tiada akhir.

Segelas Teh yang Sentimentil

Gelas teh itu berdiri tegak diantara kaleng biskuit Monde, kacang goreng, Astor, dan tak lupa; tape ketan. Dibuat oleh ibu saya sebelum kami berangkat ke lapangan untuk sholat Id. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh ibu hampir setiap hari.

Teh, bagi kita, adalah minuman seluruh umat. Agak berbeda dengan kopi, budaya kita lebih senang menikmati teh di pagi hari. Lalu menyuguhkan teh saat ada tamu. Dan selalu, bahkan hampir wajib, harus ada teh dalam setiap acara, baik yang resmi maupun yang tidak resmi.

Saya yakin, bahwa setiap rumah tangga yang ada diseluruh Indonesia ini, selalu saja akan ada segelas teh setiap harinya.

Ibu punya kebiasaan untuk menyajikan teh hangat setiap pagi. Terkadang ia membuat tiga sampai empat gelas. Saya biasanya langsung ngembat satu gelas, Bapak satu, lalu sisanya bisa diminum penghuni rumah lainnya.

Sehabis sholat Id, biasanya Bapak akan duduk tenang di kursi. Menanti tamu yang berdatangan sambil menata kotak dan kaleng biskuit di atas meja. Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan betul kerapian. Maka bila ada kaleng biskuit yang posisinya tidak pas, tangannya mungkin gatel untuk langsung membetulkan.

Satu hal yang saya sukai dari Bapak adalah ia begitu mudah berteman. Karena itu biasanya di rumah, setiap hari raya, selalu penuh dengan kawan dan saudara yang berkunjung.

Sewaktu masih sehat tak jarang Bapaklah yang berkunjung kesana kemari. Ke rumah-rumah saudara dan kerabatnya. Terutama yang di desa.

Di tempat kelahiran Bapak itulah ia akan tampak ‘nggleleng.’ Setiap ketemu anak-anak pasti ada saja duit yang ia bagikan. Terkadang ia juga berikan duit itu pada simbah-simbah. Kalau tak ada duit, ia akan memberikan sebungkus rokok.

Namun setelah sakit, dan ia tak bisa lagi kemana-mana, maka ia cuma duduk di kursi. Ngobrol ngalor ngidul bersama orang-orang yang masih mau datang. Dan tak lupa, membagi-bagikan duit pada anak-anak yang dibawa orang tuanya bertamu.

Dan bila ia haus, segelas teh sudah siap di meja.

Ingatan dan kenangan terkadang adalah sebuah alasan kita melakukan sesuatu yang sangat tidak logis. Seperti segelas teh yang disajikan ibu di atas meja itu.

Teh itu memang bukan untuk siapa-siapa. Teh itu buat Bapak, walau sebenarnya Bapak sudah lama tiada. Sudah hampir dua tahun.

Maka dari sejak jadi teh panas hingga malam dan sudah berubah jadi dingin, teh itu tak berkurang sedikit pun. Tidak ada yang meminumnya.

Kalau dipikir-pikir mungkin itu adalah perbuatan yang sia-sia. Dari sudut pandang lain, kita bisa menilai bahwa teh itu jadi mubazir.

Atau bisa saja ada yang mengatakan itu sebagai sebuah sesajen; persembahan untuk orang mati.

Bila ada yang berkata begitu dihadapan saya, yah, saya cuma mau bilang, “Rasah kakean cangkem! Orang tua terkadang perlu melakukan sesuatu yang sentimentil seperti itu. Rasah ditafsiri aneh-aneh.”

Ya, tingkah laku sentimentil untuk mengingatkan kami bahwa sudah dua kali lebaran tanpa kehadiran Bapak.

WhatsApp Image 2019-06-11 at 16.45.50

Setelah Game of Throne berakhir.

Setelah Game of Throne berakhir.

Selama menonton serial game of throne ini, dua kali saya mesti menelan kekecewaan. Pertama, saat terbunuhnya Night King yang cuma dengan adegan “sak uprit” oleh Arya. Kedua, terbunuhnya Daenerys Targaryen oleh Jon Snow, yang juga cuma “walah, mung ngono kui thok.”

Kematian dua tokoh sentral itu tidak sehebat kiprah mereka. Tidak sebanding dengan jabatan mereka selalu peran antagonis yang punya kekuatan ajaib dan penunggang naga. Penonton mengharapkan pertempuran yang epic dan heroik, namun hal itu gagal disajikan.

Setelah tontonan perebutan kekuasaan ini berakhir, saya jadi makin sadar, pertama, bahwa kekuasaan adalah tabiat manusia. Kekuasaan datang untuk menggoda orang-orang agar memperebutkannya. Dan dengan cara apa saja.

Kadang terlihat kejam, tapi di mata kekuasaan, yang ada hanyalah berhasil atau gagal.

Pertaruangan Klan Lannister dengan Klan Baratheon adalah untuk merebut klaim atas tahta Iron Throne. Yang sudah seharusnya menjadi jatahnya Baratheon setelah meninggalnya King Robert. Namun, Lannister, yang sudah mencicipi manisnya kekuasaan terkena jeratnya.

Tabiat manusia pula bahwa ketika kekuasaan berhasil diraih, maka kekuasaan bakal menjeratnya. Dan membuatnya untuk selalu mempertahankannya.

Lalu ada Klan Stark yang ingin menuntut balas. Ada pula Targayen yang ingin mengklaim juga Iron Trhone. Dan banyak klan-klan lain yang akhirnya terlibat, saling berkelindan memicu konflik demi konflik.

Dalam Game of Throne, orang sebaik apa pun kadang bisa berubah menjadi kejam. Dan brutal. Begitu pula sebaliknya, orang sekejam apa pun bisa mempunyai sisi-sisi yang humanis.

Dalam politik memang kita tak bisa menilai baik dan buruk, kata dosen saya sewaktu saya kuliah dulu — walau tentu saja, saya tidak setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu.

Game of Throne adalah gambaran kehidupan perebutan kekuasaan di dunia nyata. Dan semua teori-teori yang ada di cerita itu, saya kira, betul-betul terjadi di kehidupan sehari-hari kita.

Wawasan dalam serial ini bisa menjadi tambahan referensi bagi kita dalam melihat konflik perebutan kekuasaan di dalam negara, atau bahkan di dalam partai politik sekalipun. Dengannya kita jadi dengan mudah memahami, alasan para aktor-aktor utama berbuat hal-hal yang kadang jauh dari logika dan kompas moral.

Kalau masih ada yang bersikap naif dalam memandang perebutan kekuasaan, maka semestinya kita mengingat kata Ygritte, “You know nothing, Jon Snow.”