Jalan-Jalan

“Jalan-jalan yuk, Mas,” kata istri saya pagi itu.

Entah sudah berapa lama permintaan itu datang, tapi tak kunjung saya turuti. Entah mengapa saban hari libur, badan ini rasanya berat untuk bangkit dari kasur. Mata selalu ngantuk, dan kaki selalu pegal.

Sebenarnya saya ini bukannya tidak suka jalan-jalan. Zodiak saya Sagitarius. Konon katanya, orang zodiak yang lambangnya mahkluk mitos centaur ini, adalah tipe orang yang suka bertualang. Suka menjelajah dan pergi ke tempat-tempat baru. Sebut saja orang-orang Sagitarius yang merupakan penjelajah unggul. Misalnya saja Alexander the Great, yang bertualang sambil berperang menaklukkan dunia. Juga kakeknya Sam Witciky juga seorang petualang. Ia pergi sampai kutub dan menemukan Megatron.

Mereka semua adalah contoh orang-orang Sagitarius yang tepat. Bukankah begitu?

Oh, iya.. Sebelumnya apa kamu percaya bahwa orang-orang yang aku sebutkan tadi zodiaknya Sagitarius? Kalau gitu sama konyolnya juga dengan percaya pada ramalan zodiak.

Sekali lagi, saya sebenarnya suka jalan-jalan. Mengunjungi pantai dan berjalan-jalan sampai naik ke bukit. Menjelajah kedalaman hutan, dengan pemandu jalannya. Kalau tidak ya bisa nyasar.

Tapi entah mengapa, saya juga sulit menjelaskannya, bahwa saban pengen jalan gitu tiba-tiba rasa malas menggelayuti. Seperti pembisik jahat yang selalu berkata, “Tidak usah. Nanti capek. Tuh, lihat awan mendung, lho..”

Inilah bedebahnya malas. Malamnya sudah punya rencana ke hutan Mangrove, eh paginya cuma tidur di kasur sampai jelang dhuhur. Kalau malas itu berbentuk, ingin juga saya memukulinya sampai babak belur. Biar dia tahu bagaimana rasanya mengecewakan seorang istri.

Jalan-jalan saya adalah membaca dan tidur. Saya bisa berjalan-jalan ke Afghanistan dengan membaca tulisannya Agustinus Wibowo. Melihat hutan di pedalaman Papua lewat The Dusty Sneaker.

WhatsApp Image 2017-05-19 at 16.56.12.jpeg

Tapi saya juga tahu, bahwa membaca tak akan bisa menggantikan melihat langsung. Dan sialnya, membaca itu tak bisa disambi bicara. Karena itu kadang saya mengabaikan istri disamping saya hanya karena asyik membaca. Kata dia sih begitu.

Yang kadang membuat malas dari jalan-jalan sebenarnya adalah perjalanannya itu sendiri. Ah, andai ada pintu kemana saja punya Doraemon, tentu sangat mudah mengajak istri saya pergi ke penjuru tempat. Tentu saja itu hanyalah sebuah khayalan.

Membayangkan harus menempuh satu jam perjalanan naik motor, rasanya sudah lelah. Walaupun kata orang, inti dari travelling adalah perjalanan, bukan tempat tujuan. Menikmati jalan aspal, macet, naik bus, naik pesawat, berdesak-desakan, itulah inti dan maknanya travelling. Bukan tempat tujuannya.

Seperti beberapa waktu lalu, saat saya membaca sebuah berita. Ada paket wisata sarapan di puncak himalaya. Tanpa harus berpayah-payah mendaki. Jam sarapan kita sudah diantar ke puncaknya. Naik helikopter. Banyak yang berminat, tapi banyak juga sinis. “Kalau cuma tinggal turun dari helikopter, apa makna pendakian? Apa makna puncak?” kata yang lain.

Kembali ke permintaan istri saya diatas.

Sebenarnya dia pun tak minta travelling jauh-jauh amat. Tidak perlu ke Paris. Tidak perlu juga ke pantai tersembunyi di Gunung Kidul. Tidak perlu berfoto juga ke jurang Kanigoro.

“Muter-muter pakai motor saja sudah cukup kok. Asal kena angin,” katanya.

Duh, saya terharu mendengarnya..

WhatsApp Image 2017-05-19 at 16.56.26.jpeg

1212

Sejak kelahirannya telah terjadi tanda-tanda awal yang menujukkan kenabian. Kelahirannya disambut suka cita alam semesta.

Empat belas balkon istana kekaisaran Persia dan padamnya api yang telah sekian lama disembah kaum Majusi. Berhala-berhala di sekitar Ka’bah juga berjatuhan dengan sendirinya. Dan dari dinding Ka’bah, kata Abdul Muthalib, terdengar suara, “Nabi terpilih telah lahir yang akan menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan aku dari beberapa patung berhala, serta memerintahkan untuk menyembah kepada Dzat Yang Merajai Alam ini.”

Dan yang paling fenomenal, dihancurkannya pasukan Abrahah oleh burung Ababil. Peristiwa ini  terjadi sekitar 50 hari sebelum kelahiran nabi dan peristiwa ini pula yang menjadi latar belakang penamaan tahun kelahiran nabi dengan tahun gajah.

Saat kelahirannya, burung-burung indah berterbangan diatas langit mekkah dan berkicau seolah memberi salam sejahtera kepada nabi akhir zaman.

Sebelum kelahirannya, Aminah merasakan tanda-tanda akan melahirkan secara tiba-tiba pada malam hari. Pada saat itu mertuanya Abdul Muthalib sedang pergi ke Masjidilharam. Sementara, Abdullah suaminya, sudah meninggal dunia. Kemudian, datang banyak wanita cantik. Ada 2 wanita yang jadi perhatian Aminah, mereka memberi salam dan menyebut dirinya Asiya (istri Raja Fir’aun) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.)

Setelah lahirnya, Abdul Muthalib membawanya dengan suka cita dan memboyongnya masuk kedalam Ka’bah dan berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian memberinya nama Muhammad.

Nabi dan Rasul akhir jaman.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Peringatan kelahiran Rasulullah Saw akan, sesuai tanggal masehi, akan jatuh pada tanggal 12-12.

Allahuma shalli ‘ala Muhammad….

Dua hari sebelum peringatan Maulid Rasulullah Saw, juga merupakan peringatan kelahiran anak manusia biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda keajaiban.

Nah, kamu, gak mau ngasih kado atau kode apa gitu ke akuh…?

Politik Tak Sebercanda Itu..

Dalam foto itu tampak Jonan sedang tidur terlelap di bangku kereta. Kelelahan setelah berhari-hari memantau Posko Angkutan Lebaran. Saat itu Jonan masih menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia.

Foto itu lalu viral. Publik memandangnya sebagai bukti kerja keras dan dedikasi Jonan. Bahkan salah satu media online sampai membuat caption pada foto itu, “Jonan tidur pulas tanpa melepas kaos kakinya. Dia tidur seakan tak peduli dengan image ‘dirut’ yang disandangnya.” [ https://www.merdeka.com/peristiwa/4-foto-pejabat-dan-aparat-sedang-tidur-ini-bikin-heboh.html ]

Tak pelak lagi, foto itu secara langsung atau tidak langsung, yang kemudian membawa Jonan menduduki kursi Menteri Perhubungan dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

Jokowi pun punya pesan khusus kepada Jonan. “Nanti Pak Jonan tidak hanya tidur di kereta, tapi juga di kapal sama pesawat,” ujar Jokowi. [https://www.merdeka.com/uang/presiden-jokowi-minta-jonan-tak-hanya-tidur-di-gerbong-kereta.html]

Dua tahun menjabat sebagai menteri ternyata Jonan punya banyak “catatan” di mata publik. Yang paling kentara tentu keputusan Jonan melarang Gojek dan aplikasi ride sharing online yang kemudian “direvisi” setelah Jokowi membuat pernyataan yang malah mendukung Gojek.

Selain itu Jonan juga berbeda pendapat soal kereta api cepat Jakarta-Bandung, dan terakhir adalah peristiwa kemacetan di pintu tol Brebes yang menelan korban meninggal 12 orang.

Belum sempat ada foto yang viral soal Jonan melaksanakan permintaan Jokowi untuk tidur di pesawat atau di kapal, karena catatan di atas, Jonan lalu di depak dari kursi menteri.

Saat Jonan diganti itu, ada satu nama baru yang duduk menjadi menteri; Arcandra Tahar.

Arcandra dipilih untuk menggantikan Sudirman Said sebagai Menteri ESDM. Sebelumnya Arcandra memang tak dikenal publik Indonesia, itu karena memang kiprahnya lebih banyak di Amerika.

Arcandra dipanggil “pulang” untuk membantu membenahi sektor energi di tanah airnya. Dan dia memenuhi panggilan mulia itu.

Namun Arcandra cuma menjabat menteri selama 20 hari saja. Status dwikewarganegaraannya mencuat dan menjadi polemik, yang akhirnya membuat Jokowi mesti memberhentikan Arcandra dengan hormat. 

Kini, Jonan dan Arcandra kembali lagi dalam kabinet. Dengan posisi yang berbeda, Jonan jadi menteri ESDM sedangkan Arcandra terpaksa turun pangkat jadi wakilnya.

Kenapa Arcandra diangkat lagi? Mungkin Anda akan bertanya seperti itu.

Saya juga tidak tahu jawabannya. Mungkin sebenarnya Jokowi ingin mengangkat Arcandra sebagai menteri, namun tentu saja hal itu akan tampak “wagu” di mata publik.

Lalu kenapa mesti Jonan yang jadi menteri? Bukankah dia jadi menhub saja diganti? Saya juga tidak tahu pasti jawabannya. Anda bisa menerka dan menafsirkan, namun yang pasti -meminjam istilah Nusron- hanya Jokowi sendiri yang tahu maksud dan alasannya.

Mari kita tunggu saja kiprah duet ini dalam mengelola energi dan sumber daya mineral Indonesia.

Namun melihat kondisi perpolitikan saat ini, saya jadi teringat ungkapan fenomenal Sujiwo Tejo itu. Tentu dengan revisi satu kata agar cocok dengan tulisan ini;

“… politik tak sebercanda itu…”

Pulau Run

Myristica Fragrans. Atau lebih mudah dikenal sebagai Pala. Tumbuhan berupa pohon ini adalah salah satu sebabnya datangnya penjajah Eropa di dumi nusantara.

Pala -yang diambil buahnya- adalah buah yang menjadi harta karun yang diperebutkan bangsa Eropa. Untuk memanen buah pala, dilakukan 7 sampai 9 tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tumbuhnya dapat mencapai 20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.

Bagi masyarakat Eropa yang hidup dalam empat musim, Pala adalah bumbu atau rempah-rempah yang sangat terkenal.Tanpa pala, orang Eropa tidak bisa makan daging dengan berbagai olahan yang lezat. Apalagi saat itu belum ada kulkas, daging yang disimpan lebih mudah membusuk dan rasanya tak karuan.

Nah, jika diberi pala, simpanan daging terasa lebih enak. Berkat pala, orang Eropa tetap bisa makan daging di musim dingin. Pala juga membuat nafas wangi.

Selain itu Pala juga berkhasiat untuk pengobatan. “Harganya selalu mahal, apalagi ketika dokter-dokter pada jaman itu mengklaim bahwa bola-bola aromatherapi yang terbuat dari pala adalah satu-satunya penawar untuk wabah yang menular kala itu. Penyakit yang diawali dengan bersin dan berakhir dengan kematian.

Pala adalah kemewahan yang diidamkan oleh bangsa Eropa pada abad ketujuh belas.

Sebenarnya saya tidak tahu buah pala. Dan bahkan belum pernah melihat pohonnya secara langsung. Maklum saya belum pernah ke pulau Banda.

Saya tertarik pada Pala karena membaca buku yang ditulis oleh Gile Milton, berjudul “Pulau Run.”

Buku ini menceritakan tentang perjalanan para pelaut Eropa, berhadapan dengan ganasnya lautan, untuk sampai di pulau yang tumbuh Pala, salah satunya adalah Pulau Run.

Pulau kecil yang di salah satu Kepulauan Banda. Namun di sepanjang pulau ini ditumbuhi pohon Pala. Ini yang membuat sebuah pulau kecil ini menjadi begitu berharga. Sehingga pernah ditukar dengan Manhattan, New York.

Kini Pala tak lagi menjadi komoditas yang berharga mahal. Pulau Run yang dahulu begitu terkenal seantero Eropa kini tak banyak yang tahu. Termasuk saya, yang baru tahu setelah membaca buku.

Bahkan Gile Milton pun menulis bahwa, “…tak seorang pun disini yang mengatahui apa pun tentang sejarah pulau mereka yang luar biasa…”

Pulau Run, sekali lagi Milton menulis, terdapat keajaiban yang menakjubkan disana. Bukan saja karena nilai historisnya, tapi juga karena pemandangan dari jendela Run sangat jauh lebih indah dari kaki langit Manhattan yang berkilau.

“Karena di tebing sana, tinggi di atas laut yang jernih, pohon pala yang ramping meletakkan skali lagi akarnya, berbunga setiap musim semi dan mengisi udara dengan wangi yang menakjubkan,’ tulisa Milton.

Yang jauh, kecil, terpencil, tak pasti, dan harus berhadapan dengan lautan ganas saja dilewati orang-orang Eropa hanya untuk Pala. Tentu aku juga bisa melewati hal itu, hanya untuk “anggukan kepalamu,” Dik…

Beres-Beres Rumah

Ini buku menarik. Temanya tidak penting; seputar beres-beres rumah.

Beres2 rumah..? Bukankah itu pekerjaan mudah yang setiap orang bisa melakukannya. Cuma kebanyakan orang malas aja.

Tapi semua setuju bukan? Bahwa beres2 rumah itu tidak perlu teori dan langsung praktek wae.

Tidak. Beres2 rumah atau kamar atau ruangan, ternyata tidak sesederhana yang kita kira. Minimal begitulah pemikiran Mbak Marie Kondo. Pengarang buku yang telah terjual 5 juta copy dan punya usaha “konsultan beres2 ruangan.”

Urusan beres2 rumah bagi orang Jepang memang bisa jadi rumit. Hadeuuh..

Tapi urusan ini ternyata berdampak pada kualitas hidup.

Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, kata Marie Kondo, gaya hidup dan perspektif kita akan berubah drastis. Kehidupan kita niscaya mengalami transformasi besar-besaran.

Merapikan rumah (ruangan) pada dasarnya adalah membereskan urusan dan masa lalu. Lalu dengannya masa depan bisa berubah dengan lebih cerah.

Kita bisa melihat dengan lebih jernih apa-apa saja yang kita butuhkan atau tidak butuhkan dalam hidup, pun apa-apa saja yang harus dan tidak perlu dilakukan.

“Seusai merapikan rumah, kehidupan Anda niscaya berubah secara dramatis. Bergitu Anda mencicipi sendiri bagaimana rasanya memiiki rumah yang betul-betul rapi, seisi dunia akan serasa gilang gemilang. Anda takkan pernah lalai sehingga kembali ke kebiasaan berantakan. Inilah yang saya sebut keajaiban berbenah. Dampaknya teramat dahsyat. Selain takkan acak-acakan lagi, Anda juga kaan mendapatkan awal baru dalam hidup Anda,” blaffing Marie Kondo dalam pendahuluan bukunya.

Okay..

Jadi mari kita bereskan rumah dan hati kita. Mulailah dengan membuang.

Membuang semua rasa iri dan dengki serta dendam. Membuang semua yang cuma pe-ha-pe.

Dimulai dengan membuang. Lalu merapikan ruangan di hati secara menyeluruh. Agar siap dimasuki oleh Mbak Raisa yang katanya baru putus cinta….

whatsapp-image-2016-10-02-at-19-31-26