Tangan Rasul

Diam-diam begini saya ini pernah jadi foto model. Tentu kamu boleh tidak percaya, namun faktanya saya seringkali diminta oleh teman saya. Seorang fotografer amatir untuk menjadi model.   

Tapi jangan kaget dulu. Saya seorang foto model itu benar, namun bukan berarti diri saya secara utuh. Ya, alias cuma telapak tangan saya saja yang jadi model.

Kenapa? Karena jari-jari saya ini kalau di foto dengan angle yang pas terlihat lentik. Cocok sekali untuk foto pura-pura pegang buku atau cangkir kopi.

Tapi ya saya tidak mau ngomong soal tangan saya. Buat apa? Tiga paragraf diatas cuma buat pembukaan. Walau tidak nyambung ya disambung-sambungkan saja.

Saya cuma menyambung postingan yang kemarin. Tentang mengenal Rasulullah Saw.

Nah, mari kita bayangkan kembali soal bagaimana dengan tangan Rasulullah Saw?

Menurut HR Bukhari, kedua telapak tangannya lebar, kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat; tetapi putih kemerah-merahan.

Rasulullah Saw ternyata dingin dan harum. Ini seperti yang dikatakan oleh Abu Juhaifah Radhiallâhu ‘anhu, “Aku pernah memegang tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian kuletakkan di wajahku, ternyata telapak tangannya lebih dingin daripada es dan lebih harum dari aroma kasturi.”

Hal senada juga disampaikan oleh Jabir bin Samurah ra. “Beliau pernah mengusap pipiku, kudapati tangannya terasa dingin dan aromanya sangat harum seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari keranjang tempat minyak wangi.”

Selain dingin dan harum, ternyata tangan Rasulullah Saw juga lembut. Ini persis seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik Ra. ”Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih lembut dibandingkan telapak tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dan aku juga belum  pernah mencium minyak wangi (misk) atau parfum apapun yang lebih harum dibandingkan aroma  Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.”

sumber: neng kene

 

Ngerti Rasul

“Kowe wes reti urung Rasul kie kaya ngopo?” kata guru saya suatu hari.

“Urung.”

“Lha, piye tho kowe kie! Piye sing iso ketemu, lha wong ngerti wae ora..”

Karena memang tidak boleh menggambar wajah Rasulullah SAW. Tidak boleh memotretnya, karena memang pada jaman itu belum ada smartphone, pun di buku-buku bergambar selalu saja sosok Rasulullah Saw hanya di ilustrasikan dengan tulisan nama beliau, maka kita hanya bisa membayangkan seperti apa kira-kira Rasulullah Saw itu.

Seperti apa ya?

Kalau Ali bin Abi Thalib mengatakan wajah Rasulullah Saw itu ibaratnya matahari dan bulan seakan beredar di wajah beliau.

“Belum pernah aku menyaksikan orang yang lebih baik dari Rasulullah; seakan-akan mentari berjalan  di wajah beliau. Dan belum pernah aku melihat orang yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah; seakan-akan bumi dilipat untuk beliau,” kata Abu Hurairoh. (HR Tirmidzi)

Kalau kata Ka’b bin Malik, “Apabila bergembira, wajahnya bercahaya, seakan-akan wajah beliau itu sepotong rembulan.” (HR Bukhari)

Maksud e piye ya? Mungkin maksudnya wajah Rasulullah Saw itu tampak bercahaya. Terang. Tidak muram, tidak terkesan suram. Sehingga “nyenengke” setiap orang yang memandangnya. Tentu saja ini cuma menurut saya. Mungkin lho ya..

Rasulullah Saw punya mata yang hitam pekat. Kedua bulu matanya memanjang tidak saling menempel. Terlihat indah sempurna. Rasululllah Saw lebih banyak memandang ke arah bawah dari pada ke atas. Memandang ke bumi daripada ke langit.

Dari sumber lain saya dapatkan informasi bahwa kepala dan jidat Rasulullah Saw itu lebar. Hidungnya mancung. Mulutnya lebar dan wangi. Gigi serinya renggang dan saat berbicara, tampak ada cahaya yang memancar keluar diantara kedua gigi serinya.

“Rambut Rasulullah lurus dan sedikit berombak,” kata Ali bin Abi Thalib. “Beliau tidak berperawakan gemuk dan tidak pula tampak terlalu berat, beliau berperawakan baik dan tegak. Warna kulit beliau cerah, mata beliau hitam dengan bulu mata yang panjang.

Sendi-sendi tulang beliau kuat dan dada beliau cukup kekar, demikian pula tangan dan kaki beliau. Badan beliau tidak berbulu tebal, tapi hanya bulu-bulu tipis dari dada ke bawah sampai di pusar beliau.

Jika beliau sedang berhadapan dengan seseorang, maka beliau akan mengarahkan wajah beliau ke orang tersebut (penuh perhatian). Diantara tulang belikat beliau “tanda” kenabian beliau. Beliau adalah orang yang paling baik hati, orang yang paling jujur, orang yang paling dirindukan dan sebaik-baik keturunan.

Siapa saja yang mendekati beliau akan langsung merasa hormat dan khidmat. Dan siapa yang bergaul dengan beliau akan langsung menghargai dan mencintainya. Saya belum pernah melihat orang lain seperti beliau.”

Saya garis bawahi kata Ali Ra, “..siapa yang bergaul dengan beliau akan langsung menghargai dan mencintainya.”

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad… Selamat menyambut Ramadhan…

.

.

Nb. Tentu saja sumber-sumber tulisan saya itu cuma bermodalkan buku atau hasil googling, yang sebisa mungkin saya ambil dari sumber web yang verified, bukan sumber primer seperti kitab hadits yang berbahasa arab. Lha piye, aku wae ra iso bahasa arab je.

Sumber: disini neng kene , lan kene 

Lebih Banyak Pegang Gadget Daripada Tangan Istri

Guyonan itu sangat tepat. Sudah tahu kan yang saya maksud?

Itu lho, guyonan yang mengatakan kalau sedang berjalan-jalan di mall sama istri, peganglah tangannya. Ini akan tampak romantis tapi juga bisa menghemat. Karena saat istri mau belok ke toko, kita bisa mengaturnya.

Tapi, itu hanya sekadar guyonan. Faktanya?

Setelah melalui berbagai rangkaian uji coba, riset dan observasi ternyata tak banyak pria yang menggandeng tangan istrinya saat jalan-jalan.

Perilaku kita saat ini, lebih banyak memegang gadget daripada tangan istri. Saya sendiri mungkin melakukannya. Bukan mungkin, tapi memang iya.

Kalau saya ingat-ingat, istri saya yang lebih sering menggandeng lengan saya saat kami jalan-jalan. Bukan telapak tangan, tapi di lengan. Sedang jari-jari saya sibuk membalas pesan-pesan WA atau sesekali ngecek update status di media sosial.

Bukannya saya tak suka menggandengnya. Tapi entah kenapa selalu ada dorongan untuk pegang gadget.

Padahal yang lebih perlu banyak dielus-elus itu kan tangan istri bukan?

Tangan yang selalu menyiapkan susu coklat tiap pagi. Tangan yang jadi kasar karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Pernah suatu waktu istri saya agak cemburu pada tangan saya. Katanya, telapak tangan saya halus banget serta punya jari-jari yang lentik dan cantik. Berkali-kali saya katakan padanya kalau jari ini adalah tanda bahwa saya jarang nyuci pakaian. Tidak pernah dipakai macul di sawah. Ia tertawa.

Saya lebih suka menggengam tangannya dengan cara saling menggengam telapak. Bukan dengan cara saling mengaitkan jari jemari. Bagi saya, cara tersebut terasa lebih kuat. Juga lebih mesra.

Katanya, memegang tangan istri itu bisa menggugurkan dosa. Katanya lho ini..

Ada sebuah hadits yang mengatakan demikian. Lengkapnya bunyinya adalah “Apabila seorang suami memanang istrinya dan istrinya memandang suaminya maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan rahmat (kasih sayang). Dan jika suami memegang tangan istrinya maka dosa keduanya akan berguguran dari celah jari-jarinya.”

Tentu ini jadi makin menambah alasan untuk lebih sering memegang tangan istri selain lebih mesra dan hemat. Eh, tapi setelah saya cek dan ricek lebih lanjut, ternyata status hadits di atas adalah hadits yang palsu. Walaupun isinya nampak bagus, tapi itu adalah hadits palsu. Walau sebenarnya tanpa itu pun menyenangkan istri tentu akan dinilai ibadah apabila diniatkan sebagai ibadah.

Kalau saya pikir-pikir kembali, mencoba hitung-hitung waktu dalam sehari, ternyata saya itu menghabiskan 11 jam lebih untuk pegang gadget. Termasuk dalam hitungan adalah laptop dan smartphone ya.

Rinciannya begini.

Dimulai dari bangun tidur, pertama langsung pegang hape. Cek dan ricek whatsApp dan notifikasi medsos. Habis 15 menit.

Lalu setelah sholat sambil dzikir. Total aja deh lima waktu, kira-kira habis 15 menit juga. (Eh, dzikiran sambil hape-an? Loh, gimana tho.. bahkan sambil nafas dan gerak aja kita harusnya diiringi dengan dzikirullah.. Hehehe.. wes wangun tho alasannya..)

Setelah itu pasa di kantor. Karena tuntutan pekerjaan harus pakai laptop, alhasil ngelus-ngelus dan nekan-nekan keyboard bisa menghabiskan waktu sampai 8 jam. Busyet deh..

Lalu pulang ke rumah. Istirahat sambil leyeh-leyeh. Yang dipegang? Ya, smartphone itu lagi. Terakhir saat mau tidur, 30 menit pasti di selipkan untuk nonton youtube. Tidak mau kalah sama anak-anak usia balita yang saban mau tidur di stelkan youtube sama ibunya.

Totalnya adalah 11 jam lebih 15 menit!

Bandingkan dengan jumlah jam untuk memegang tangan istri. Emm.. berapa menit?

Tentu ada banyak alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Tuntutan pekerjaan, atau yang lain. Ya, saya tahu. Bahkan setelah menulis ini pun saya yakin diri saya juga tak lantas bisa mengubah kebiasaan candu gadget ini kok.

Tapi minimal kita jadi tahu, bahwa ada tangan yang lebih layak untuk diperhatikan dengan lebih banyak waktu.

Ayahku Hebat

Barangkali setiap laki-laki di dunia ini selalu mendambakan dirinya menjadi seorang ayah yang hebat.

Menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Misalnya saja, saat anaknya takut gelap, lampu padam, ayah hadir untuk menenangkan hatinya. Saat ia takut untuk keluar rumah, bersama ayah semua rasanya aman tentram.

Ayah saya mungkin tidak hebat seperti super hero. Kalau ayah hebat adalah ayah yang tidak pernah membentak anaknya, maka ayah saya bukan seperti itu.

Ayah saya termasuk ayah yang galak. Suara yang keras sudah menjadi santapan setiap hari. Kadang hal-hal sepele dihadiahi oleh gertakan. Misalnya saja karena salah meletakkan handuk, tidak rapi, langsung saja gertakan muncul.

EIts, tapi tak cuma bentakan, tapi juga pukulan. Ya, sewaktu kecil ayah langganan banget memukul saya. Tiap kali ia emosi, tangannya selalu lincah menyasar pantat saya.

Tapi saya juga tahu bahwa ayah adalah orang yang sayang pada anak-anaknya. Dan rela melakukan hal apa saja untuk anaknya, bahkan kadang hal yang tidak rasional sekalipun. Dan itu pernah dilakukan ayah.

Dulu saat saya masih SD, saya sempat terjatuh karena bermain bola. Tidak ada cedera serius sebenarnya, hanya saja saat saya berjalan apabila dilihat dari belakang maka akan terlihat sedikit pincang.

Awalnya tidak ada yang tahu, dan saya pun tidak merasa kesakitan. Biasa saja. Hingga suatu hari saat saya berjalan ke kamar mandi, ayah melihat saya berjalan dengan agak pincang.

“Loh, sikilmu ngopo?” tanyanya.

“Rapopo kie, Pak,” jawab saya.

“Kok mlakune pincang ngono. Waduh, ndelok kene..”

Di lihatnya kaki saya. Ia usap-usap, diperhatikannya seperti dokter ahli. Setelah tak diketahui ada yang aneh, ia membiarkan saya masuk ke kamar mandi.

Ternyata ayah menganggap serius soal “cedera” saya itu.

Selang beberapa hari kemudian ia mengajak saya ke dokter untuk di rontgen apabila ada yang retak. Hasilnya? Nihil. Ya, karena memang kaki saya tidak retak. Dokter pun mengatakan tak ada yang salah, dan ia juga tak bisa menjawab kenapa jalan saya agak pincang.

Ayah saya tak menyerah. Dibawanya saya ke tukang pijat. Ke ahli akupuntur. Ke banyak macam pengobatan tradisional. Namun hasilnya tetap sama saja.

Melihat hasil yang tidak memuaskan itu, saya ingat ayah menangis malam-malam. Ia sesenggukan sambil mengelus-elus kaki kanan saya. Membuat saya terbangun namun saya tak ingin menganggunya. Saya teruskan pura-pura tidur hingga benar-benar tertidur.

Usaha terakhir ayah untuk menyembuhkan saya adalah usaha yang tidak rasional. Malam-malam saya diajaknya ke lapangan. Disuruhnya saya menunjukkan lokasi jatuh. Lalu ia keluarkan kembang mawar tujuh rupa dan menyan.

Ia nyalakan api dan membakar menyan sambil komat kamit.

Mungkin ia minta agar jin penunggu lapangan tidak mengganggu. Tidak membuat saya sakit. Mungkin dikiranya saya kualat. Dalam kultur masyarakat Jawa hal-hal semacam ini wajar dilakukan. Ayah saya memang tidak berpendidikan tinggi, pun tidak berilmu agama yang mumpuni, maka ia meyakini bahwa yang ia lakukan itu sah-sah saja. Semata demi kesembuhan anaknya.

Kini setelah puluhan tahun kemudian, saya baru sadar bahwa kaki saya sebenarnya normal-normal saja. “Pincangnya” saya disebabkan karena perbedaan beberapa senti panjang kaki. Dan itu masih wajar, yah seperti beda tinggi antara jari manis dan telunjuk. Saya masih bisa main bola. Bahkan saya membayangkan jadi seperti Hiro Ito yang kakinya juga panjang dikit sebelah.

Itulah salah satu tanda betapa besarnya kasih sayang ayah.

Tentu setiap ayah punya cerita masing-masing. Yang menjadi tanda betapa seberapa pun kurangnya kita menjadi ayah yang hebat -menurut pengertian umum dan para ahli- tapi tetap ada satu dua kisah yang menunjukkan bahwa kita adalah ayah hebat.

Kalau kita belum bisa menjadi ayah seperti yang diajarkan dalam buku-buku parenting, janganlah putus asa. Janganlah rendah diri.

Terus belajar saja.

Sembari menyaksikan betapa ajaib dan cepatnya anak-anak kita tumbuh dewasa.

“Cinta seorang Ayah kadang memang tak terlihat, tapi kita dapat merasakannya…”

Wrap Drive

Sejak kecil saya selalu terkagum-kagum dengan benda-benda langit. Dulu saya membaca buku tentang sistem tata surya sampai berulang-ulang kali. Isinya tentang kondisi matahari, bahwa Jupiter adalah planet terbesar. Bahwa ada planet yang bila diletakkan dalam baskom air bisa mengambang karena sebagian besar terdiri dari gas helium. Planet apa itu, hayo..?

Membaca dan menonton film tentang keajaiban luar angkasa membuat saya ingin mendalaminya lebih lanjut. Sampai saat ini. Tapi tentu tidak mungkin untuk menjadi astronot, hanya memuaskan rasa ingin tahu saja.

Salah satu buku yang bagus tentang tema alam semesta adalah Kosmos, karangan Carl Sagan. Saya pernah melihat-lihat isinya. Ditulis dengan bahasa mudah dipahami, namun sayangnya belum bisa saya miliki. Akhir bulan bro..

Walau kuliah sebenarnya ada mata kuliah astronomi. Tapi mata kuliah ini tampaknya tak bisa menarik minat belajar saya. Hasilnya saya terpaksa mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. Yah, saya kira pembahasannya seputar planet-planet dan rahasia alam semesta, eh ternyata hitung-hitungan yang bikin pusyiiing.

Asyik rasanya membayangkan berjalan-jalan ke luar angkasa. Mengunjungi dan menyibak rahasia semesta yang amat sangat luas sekali, yang mungkin tidak akan pernah bisa terungkap semua rahasianya sepanjang sisa umur manusia.

Bagaimana tidak, jarak satu bintang terdekat dengan bumi, matahari, yaitu 149.600.000 km. Itu baru matahari yang saban hari menyinari kita. Bintang Proxima Centauri jaraknya 4,2 tahun cahaya. Jarak ini artinya jarak yang bisa ditempuh oleh kecepatan cahaya selama 4,2 tahun. Kecepatan cahaya itu sendiri 3 x 108 m/s. Dan tidak ada benda buatan manusia sampai saat ini yang secepat itu.

Mau pakai pesawat jet, bisa beribu-ribu tahun kemudian baru sampai. Nah, karena itulah manusia mustahil mengelilingi jagat raya kalau masih menggunakan teknologi “kecepatan.”

Salah satu teori agar kita bisa berpergian lebih cepat dari cahaya dijelaskan dalam salah satu adegan di komik Doraemon.

Jadi begini, kata Doraemon, misalkan saja kita menulis di selembar kertas dua titik dengan jarak tertentu. Katakanlah titik A dan titik B. Lalu tarik garis lurus yang menghubungkan dua titik itu. Itulah yang dinamakan jarak. Untuk berpindah dari titik A ke titik B kita harus menempuh jarak sepanjang garis yang menghubungkan keduanya. Ini cara konvensional.

Tapi ada cara yang lebih praktis, yaitu dengan melipat kertas itu dan menghubungkan titik A dan titik B. Maka dalam sekejap kita bisa berpindah. Apakah itu mungkin? Mungkin saja. Karena menurut teori Einstein, sebenarnya ruang dan waktu itu melengkung.

Bayangkan sebuah bola bowling yang ditaruh diatas kain yang dibentangkan. Nah, bola itu akan menghasilkan lengkungan pada kain kan, itulah ruang dan waktu yang melengkung.

Dari teori inilah modal kita bisa berpergian dalam sekejap. Seperti yang dikatakan ahli, “Jika Anda melihat persamaan Einstein, persamaan tersebut telah memberi pintu bagi kita, Einstein menunjukkan kepada kita dimana kita dapat menekuk dan melengkungkan ruang kosong sehingga Anda dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan apapun yang Anda suka di alam semesta,” katanya. “Ini secara teoritis mungkin.”

Warp Drive, adalah sebutannya. Dicetuskan oleh Miguel Alcubierre, salah satu fisikawan tekemuka dunia pada tahun 1994. Jenis teknologi ini memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan sepuluh kali lebih cepat dari kecepatan cahaya, tanpa benar-benar melanggar kaidah kecepatan cahaya.

Kalau Anda menonton serial Star Trex, Star Wars ataupun Guardian of Galaxy, maka akan mendapati pesawat-pesawat itu menggunakan “warp” untuk berpindah antar planet atau galaksi.

Apakah dengan teori ini kita bisa sedikit lebih memahami perjalanan Rasulullah Saw ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam? Saya tidak tahu.

Tapi bila teknologi ini benar-benar memungkinkan terwujud, pasti sangat menguntungkan bagi para pelaku bisnis online.

Bayangkan saja, saat konsumen sudah transfer, tiba-tiba mak wuuzzzz ada customer service dengan wajah manis dan senyum pepsodent menyerahkan paket. Tanpa perlu melaporkan resi. Tanpa perlu menerima komplain kenapa paket belum datang-datang.

Betul-betul super excellent service!

“There are many “absurd” theories that have become reality over the years of scientific research.  But for the near future, warp drive remains a dream,” kata NASA.

Buruh bakul madu wae mikir e ndakik-ndakik tekan planet Jupiter.. 😀

ENT-D-Warp-flash