Cinta Rasul

“Kami biasa membuatkan makanan malam untuk Nabi Saw,” kata Abu Ayyub. “Setelah siap makanan itu, kami kirimkan kepada beliau. Jika sisa makanan itu dikembalikan kepada kami, maka aku dan ummu Ayyub berebut pada bekas tangan beliau, dan kami makan bersama sisa makanan itu untuk mendapatkan berkat beliau.
 
“Pada suatu malam kami mengantarkan makanan malam yang kami campuri dengan bawang merah dan bawang putih kepada beliau, tetapi ketika makanan itu dikembalikan oleh Rasulullah SAW kepada kami, aku tidak melihat adanya bekas tangan yang menyentuhnya.”
 
“Kemudian dengan rasa cemas aku datang menyanyakan,“Wahai Rasulullah, Engkau kembalikan makan malammu, tetapi aku tidak melhat adanya bekas tanganmu. Padahal setiap kali engkau mengembalikan makanan, aku dan ummu Ayyub selalu berebut pada bekas tanganmu, karena ingin mendapatkan berkat.“
 
Nabi SAW menjawab,“Aku temui pada makananmu itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat kepada Allah. Tetapi untuk kalian makan sajalah.“
 
“Lalu kami memakannya. Setelah itu kami tidak pernah lagi menaruh bawang merah atau bawang putih pada makanan beliau.”
 
Salah satu ibrah peristiwa ini, menurut Said Ramadhan al-Buthi, betapa besar cinta para sahabat kepada Rasulullah Saw. Semua ini menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah Saw tidak semata-mata mengikutinya. Bahkan mencintai Rasulullah saw itu merupakan asas dan dorongan untuk mengikutinya. Jika tidak ada cinta yang bergelora di dalam hati, niscaya tidak akan ada dorongan untuk mengiutinya.
 
Karena itu, lanjutnya, sesatlah orang yang beranggapan bahwa mencintai Rasulullah saw tidak memiliki arti lain kecuali dengan mengikuti dan meneladaninya dalam beramal. Mereka tidak menyadari bahwa seseorang tidak mungkin mau meneladani kalau tidak ada dorongan yang mendorongnya ke arah itu. Dan tidak ada dorongan yang mendorong untuk mengikuti kecuali rasa cinta yang bergelora di hati yang membangkitkan semangat dan perasaan.
 
Oleh sebab itu Rasululalh saw menjadikan bergeloranya hati dalam mencintai dirinya sebagai ukuran iman kepada Allah swt, dimana kecintaan ini mengalahkan rasa cinta kepada anak, orang tua dan semua manusia.
 
Ya Nabi Salam ’Alaika Ya Rasul Salam ’Alaika Ya Habib Salam ’Alaika Sholawatullah ’Alaika ..
 
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad…

Meniti Tali

Meniti Tali

Aku tulis sajak cintaku ini
Karena tak bisa ku bisikkan kepadamu.
Rindu mengarungi senin, selasa, rabu
Dan seluruh minggu.
Menetes bagaikan air liur langit
Yang menjadi bintang-bintang.

(Rendra, 2003)

Seperti yang diungkapkan Rendra, bahwa rindu ini tak bisa kubisikkan padamu. Rindu ini mengarungi hari demi hari, berkecamuk dalam dada.

Setelah sekian lama, siapa yang bisa menyangka bahwa pada akhirnya aku akan sendirian disini? Menghadapi dilema kehidupan yang terus saja menerpa. Siapa yang menyangka aku akan menantang badai ini seorang diri?

Akhirnya aku tahu, bahwa aku seperti orang yang sedang meniti tali. Berada dalam bahaya yang ternyata hanya ku buat sendiri. Siapakah yang bisa menyangka baik ataupun buruk dari setitik peristiwa dalam perjalanan hidup seseorang? Ah, bukankah cinta masa lalu bukanlah hal yang mesti disesali untuk esok hari.

Ya, aku hanyalah seorang pria yang berjalan meniti tali.

Saat berada di atas tali itulah jantungku berdegup kencang. Aku tutup mataku, berusaha menghilangkan rasa takut. Ku penuhi yakinku dengan terus menghitung harapan agar bisa sampai di ujung tali, padamu.

Aku terus berjalan pada tali itu. Mengacuhkan rasa takut dan kuatir. Namun semakin ku paksa hati untuk menerima semua kenyataan ini, hasilnya malah makin jauh aku pada kebenaran yang mesti ku terima.

Tapi bukankah aku mesti harus tetap berjalan? Meniti tali ini dengan segenap jiwa. Melalui jalan ini yang mesti ku terima dengan lapang dada.

Aku mesti berjalan terus. Karena jika aku tak terus berjalan, aku justru akan terjatuh.

I have to keep walking
To keep me from falling down, yeah..

*tafsir sak karepe dewe dari lagu Man On a Wire – The Script.

Cek lagunya disini. https://www.youtube.com/watch?v=QV62YRpIeUA

Photograph

Mencintai kadang bisa menyakitkan, kau tahu itu. Namun bilamana dan bagaimana bila yang ku tahu hanya mencintai? Saat itu terasa sesak dan menyakitkan, maka aku hanya menegaskan diri bahwa itulah yang membuatku merasa hidup.

Maka kita akan mengenang cinta dalam selembar foto. Membuat memori kenangan itu hanya untuk kita. Hanya kita yang tahu dan mengerti. Dalam selembar foto dimana mata itu tak pernah tertutup. Dalam selembar foto dimana tak ada hati yang patah. Dan dalam selembar foto yang abadi.

Dan dalam selembar foto itu kau bisa membawanya kemana saja. Bisa kau simpan dalam kantong, atau kau selipkan dalam buku yang kau baca. Membuatmu selalu merasa dekat, hingga tak kan pernah kau merasa kesepian.

Dan bila suatu saat sesekali kau menyakitiku. Tak apa, itu hanyalah sebuah kata. Aku tetap tak akan membiarkanmu pergi. Tunggulah aku di rumah.

Di dalam selembar foto,

Dear, Aulia

Dear Aulia,

Dia, iya dia. Yang tiap postingan di media sosial selalu aku cermati. Aku kepo-in. Hanya sekadar untuk menuntaskan keingintahuanku: bagaimana keadaannya?

Aku selalu berteman dengan rindu yang cukup tertuntaskan hanya dengan mengetahui apa yang sedang dilakukannya kini. Tak berani aku bertegur sapa. Bukan karena aku pengecut tapi tak ingin aku membuka kembali ruang luka dalam hatinya.

Tahukah dia tentang tingkahku? Atau jangan-jangan dia juga sedang melakukan hal yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saja menghantuiku, Aulia.

Seringkali aku membayangkan: aku dan dia saling mencuri tahu. Aku dan dia berada dalam ruang yang berbeda dan hanya ada satu pintu. Masing-masing, aku dan dia, saling bergantian mengintip dari lubang kunci. Saling penasaran, saling memendam rindu dan harap, tanpa pernah ada diantara aku dan dia yang berani membuka pintu kembali.

Aku tak berani membuka pintu itu.

Soal Cinta (lagi)

Soal Cinta (lagi)

Cinta bukanlah soal mencari. Karena ia bukanlah sesuatu yang mesti dicari. Bukan sesuatu yang hilang atau belum ditemukan.

Cinta sebenarnya sudah ada. Built-in dalam setiap diri manusia. Kita kan tidak mencari sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki bukan?

Cinta bukanlah soal terjatuh. Bukan seperti saat tiba-tiba kita terpeleset kulit pisang dan jatuh mak gedebuk. Bagaimana mungkin perkara serumit cinta bisa dimulai hanya karena terpeleset?

Cinta bukan soal patah atau putus atau retak. Karena sesungguhnya cinta tidak sebercanda main layang-layang.

Cinta adalah soal memutuskan.

Soal keputusan sadar dalam diri untuk mencintai siapa. Entah itu yang baru bertemu satu hari, satu tahun atau bahkan mencintai yang belum pernah bertemu.
Cinta adalah memutuskan. Memilih untuk menguasai hati dan pikiran dengan landasan keyakinan.